Cinta Tuan Alex

Cinta Tuan Alex
Bab 76


__ADS_3

" Masuk Paman, aku masih berkemas " Ajak Ano pada Paman Yoda.


" Iya sayang santai saja kita masih ada waktu" Ucap Paman Yoda yang membuat bulu kuduk Anora merinding.


Ano menutup pintu apartemennya lagi.


" Duduk Paman, aku buatkan kopi untuk Paman " ucap Ano menawarkan diri dan hendak pergi ke dapur. tapi sayang langkahnya sudah terhenti karena Paman Yoda.


" Tidak perlu repot-repot. aku sudah minum kopi tadi. jadi ini sudah cukup " Ucap Paman Yoda menolaknya sambil menunjuk ke arah botol air mineral.


" Baiklah Paman, Aku tinggal ya hanya lima menit lagi aku selesai " Ucap Ano meninggalkan Paman Yoda dan masuk kembali ke kamarnya melanjutkan berkemas nya.


Sementara Paman Yoda langsung duduk di sofa dengan menghilangkan kakinya.


Setelah semuanya masuk kedalam koper dan tasnya. Ano keluar menemui Paman Yoda dengan menyeret koper dan tasnya.


" Selesai " Ucap Ano duduk di sofa berhadapan dengan Paman Yoda.


Paman Yoda hanya tersenyum melihat tingkah Ano yang menggemaskan menurut nya.


" Sini sayang " Paman Yoda menepuk kedua pahanya mengajak Ano untuk duduk disana.


" Ish Paman ada - ada saja " Ucap Ano malu-malu.


" Ya sudah aku yang kesana " Paman Yoda langsung berada disampingnya.


" Tiba - tiba suasana jadi agak horor gini" Ucapnya Ano tapi dalam hati tak berani dia katakan langsung.


" Kenapa mau menggelengkan kepala lagi? " Tanya Paman Yoda sok tau menebak apa yang akan dilakukan Ano.


" Mana ? nggak kan " Bantah Ano cepat.


Paman Yoda memegang kedua tangan Ano dan menciumnya bergantian.


" Aku pasti akan sangat merindukan mu" Ucap Paman Yoda dengan serius dan mengikis jarak antara mereka.


" Paman .. " Ucap Ano ketika Bibirnya Paman Yoda sudah berada di batang lehernya yang mulus.


Paman Yoda membenamkan seluruh wajahnya pada ceruk leher Anora. menempelkan bibirnya dengan sempurna di kulit leher Ano. Membuatnya basah dengan jilatan lidahnya.


" Eugh " Ano begitu terbuai dengan setiap sentuhan yang di berikan Paman Yoda. sensasi yang membuatnya mengikuti irama permainan Paman Yoda.


Kantor Arthur.

__ADS_1


Riza sedang menandatangani beberapa dokumen yang baru di bawa pegawainya. Terlihat Arthur yang baru saja masuk keruangan nya sambil membawa dua gelas kopi panas kesukaan mereka dan meletakan satu gelas di meja kerja Riza dan satu gelas lagi dia bawa ke meja kerjanya.


" Ano jadi kan ke Surabaya ?" Tanya Riza.


" Jadi, tapi mungkin langsung berangkat. karena diantar Pak Yoda " Jawab Arthur datar.


" Pak Yoda " Ucap Riza memastikan lagi apa yang di dengarnya tidak salah.


" Hem " Ucap Arthur singkat sambil menyeruput kopinya.


" Tidak salah " Tanya Riza lagi


" Tidak " Jawab Arthur.


Riza menatap aneh pada Arthur dengan menautkan kedua alisnya.


" Kenapa kau melihat ku seperti itu?" Tanya Arthur sambil melemparkan kertas yang sudah di remasnya.


Riza hanya mengangkat kedua bahunya.


Kediaman Alex.


" Daddy, kenapa bisa seperti ini?"Tanya Thalia.


" Iya Dadd, nanti setelah Daddy makan. Obatnya jangan lupa di minum ya " Ucap Thalia mengingatkan.


" Iya sayang " Balas Alex mengusap lengan Thalia. dan memejamkan kedua matanya karena memang kedua matanya sudah terasa berat sekali ingin tidur.


Thalia membiarkan Alex untuk tidur lagi. dan langsung keluar dari kamarnya. karena kasihan pada Daddy nya hampir tidak tidur semalaman karena alasan yang sudah di buat Alex agar Thalia tidak curiga padanya.


Setelah Thalia keluar dari dalam kamar. Alex kembali membuka kedua matanya. pikirannya dipenuhi dengan begitu banyak pertanyaan yang ingin dia tanyakan pada Thomas setalah dia melihat sendiri pengakuan Thomas lewat tidurnya.


Satu sisi Thomas anak kandungnya yang sangat dia banggakan dan sayangi. satu sisi lagi perempuan yang sangat di cintanya terlebih sedang mengandung calon bayinya. keduanya seperti dua belah mata pisau. yang tetap bisa melukainya.


" Apa yang harus aku lakukan ?" Tanyanya pada sendiri sambil memejamkan kedua matanya. mencoba untuk tertidur lagi.


Apartemen Arthur.


Kegilaan Paman Arthur disambut baik oleh Ano yang baru pertama kali melakukan dan merasakan hal indah seperti ini. sentuhan - sentuhan langsung pada kulitnya terasa begitu sangat membakar gairahnya sehingga tak membutuhkan waktu lama untuk bisa mengeksplor apa saja yang ada pada tubuh Ano.


" Sayang " Arthur mengecup sisi sensitive nya Ano. desiran darah dalam darahnya terasa begitu nyata. merasakan sapuan lidahnya Paman Yoda di atas kedua gunungnya secara bergantian.


" Paman ja ... " Ucapan Ano terjeda dengan bibirnya Paman Yoda yang sudah berada di bibirnya. kembali merasakan Saliva nya masing - masing, bermain di langit-langitnya, menghisap dan mengecup berkali - kali sehingga Ano merasakan kebas pada bibirnya.

__ADS_1


Tangan Paman Yoda mencoba terjun kebawah melewati perut rata Ano yang sangat putih dan mulus dan sayang kalau hanya dilewati tanpa mencicipinya terlebih dahulu.


Ano yang terkulai lemas di atas sofa membuat pergerakan Paman Yoda tanpa halangan dan rintangan berjalan sesuai dengan yang diinginkannya. dengan kedua tangan Paman Yoda yang masih bertengger di puncak gunungnya dan sesekali di barengi dengan remasan yang sangat kuat. rasa sakit dan nikmat datang secara bersamaan.


" Apa kamu menyukainya ?" Pertanyaan bodoh Paman Yoda di sela - sela kegiatan panas mereka. yang membuat pipi Ano merona di wajah cantik dan begitu tersipu malu.


Kalau Ano tidak menyukainya mana mungkin membiarkan Paman Yoda sudah hampir sejuah ini dalam mengeksplor apa saja yang ada pada tubuhnya.


Lidah Paman Yoda sudah berhasil membuat basah area perut Ano dan sekitarnya. tangan Nora meremas atas kemeja yang dipakai Paman Yoda. sehingga kepala Paman Yoda berada tetap di bagian paling sensitive yang ada pada tubuh Ano yang masih terbungkus rapi tidak seperti pembungkus gunungnya sudah dibuat berantakan oleh tangan, lidah serta mulut Paman Yoda.


Paman Yoda mencoba untuk menyentuhnya dengan dagunya. dan tercium aroma yang sangat khas yang membuat orang bisa lepas kendali karenanya.


" Akh Anora " Gumam Pada Yoda menempelkan bibirnya di atas permukaan yang sudah terlihat sangat basah.


Kediaman Alex.


Setelah bisa tidur untuk beberapa jam, Alex merasakan enteng di seluruh tubuhnya. tidak seperti awal dia merasakan tubuh yang sangat tidak enak.


Sekarang Dia harus berbicara pada Thomas terlebih dahulu untuk bisa melanjutkan langkah apa yang akan diambilnya.


" Aku senang wajah Daddy sudah tidak pucat lagi " Ucap Thalia yang datang bersamaan dengan Thomas mereka duduk di tempat tidur dekat Alex.


" Iya Sayang. Deddy sudah sehat " Balas Alex yang hendak akan berdiri.


" Daddy mau ngapain ?" Tanya Thalia khawatir Daddy nya akan sakit lagi.


" Nggak sayang Daddy hanya ingin ngobrol berdua dengan Thomas bisa? " Izinnya pada Thalia.


" Biak lah Daddy, Abang jagain Daddy ya jangan di buat sakit lagi Daddy nya " Ucap Thalia meninggalkan kedua laki - laki tampan yang berbeda usia.


Alex menutup pintu dan menguncinya agar tidak mengganggu pembicaraan mereka.


"Apa yang ingin Daddy bicarakan dengan ku?"Tanya Thomas yang sudah duduk di kursi.


" Daddy ingin tahu cerita tentang Suster yang merawat Nora !" Ucap Alex menatap tajam kedua mata Thomas.


" Apa maksud Daddy?, aku tidak mengerti" Ucap Thomas berusaha mengatur nafasnya agar tidak mencurigakan Daddy nya.


" Jangan pura - pura lagi Thom, Daddy sudah tau kenapa setiap malam kamu selalu mengunci kamar mu ?" Ucap Alex yang sudah sangat pasti tau kemana arah pembicaraan mereka nanti.


" Baiklah kalau Daddy sudah tau. Apa yang akan Daddy lakukan pada ku? Daddy akan lebih membela ku apa perempuan sialan itu" Tanya Thomas seolah menantang Alex untuk bisa memilih dirinya atau Nora.


Mendengar apa yang di katakan Thomas, Alex hanya menatapnya dengan tidak percaya putra nya akan menjadi seperti ini.

__ADS_1


__ADS_2