
Bima mengantarkan Thalia sampai pintu gerbang rumahnya. karena ingin memberikan kejutan pada semua penghuninya. Dan Bima pun akan mencari waktu untuk membicarakan keseriusannya terhadap Anora.
" Terima kasih Bim, sudah mangantar ku sampai rumah".
" Sama-sama, nanti saya akan datang meminta mu pada mereka yang menjadi orang tua mu".
" Ok, Aku tunggu Bim ".
Anora pun keluar dari dalam mobil Bima, berjalan memasuki halaman rumah setelah pintu gerbangnya dibuka oleh penjaga.
Sedangkan Bima melajuka mobil nya meninggalkan kediaman Bos nya.
Anora berjalan menikmati aroma yang keluar dari setiap bunga yang sedang bermekaran yang dilewatinya.
Sampailah dia didepan pintu utama dan langsung mengetuk pintu.
Cklek
Pintu terbuka dari dalam yang memperlihatkan sosok wanita cantik dengan perut yang hampir meledak mengeluarkan isi nya.
" Mama... "
" Ano sayang... "
" Ma... Aku sangat rindu pada mu".
Ano memeluk erat tubuh Nora, dan menghujani dengan kecupan diseluruh wajah pucat Nora.
" Ano sayang, Mama juga rindu pada Ano"Nora menitikkan air matanya.
" Ma, perut Mama besar sekali. sudah mau melahirkan ya?"Ucap Ano sambil tersenyum ngeri melihat perut Mamanya.
" Ma, Ayo kita duduk saja disana"Tunjuk Ano pada sofa yang berada disampingnya. dan membawa Nora membantunya untuk duduk.
Kini keduanya duduk bersebelahan di atas sofa dengan saling bercengkrama, melepaskan rasa rindu mereka yang sudah lama terpendam.
Mereka saling menghapus air mata yang membasahi pipinya masing-masing.
" Mama sangat menantikan kedatangan mu berkumpul bersama kami. Maaf kan Mama yang sudah sangat menyakiti mu sehingga kamu pergi jauh dari Mama untuk waktu yang cukup lama".
" Tidak Ma, Mama tidak menyakiti ku sama sekali. itu merupakan pelajaran hidup yang harus aku lewati Ma. dan aku bersyukur dengan memiliki kalian. Papa sering bilang padaku, jika Mama dan Daddy selalu memantau perkembangan ku".
" Aku sudah baik-baik saja Ma sekarang. jadi mari kita berdamai saja dengan yang sudah terjadi. Karena mau bagaimana pun itu sudah terjadi dan sangat banyak yang bisa kita ambil hikmahnya".
" Kak Ano... "Teriak Thalia dengan suara nyaringnya.
Anora dan Nora pun menoleh melihat Thalia yang sedang berlari kearah mereka.
" Thalia... "Teriak Ano tidak kalah nyaring suaranya memanggil nama Thalia.
Thalia menghampiri Ano dan langsung menubruk kan tubuhnya, sampai Anora terhuyung pada bagian badan sofa.
" Aku sangat merindukan mu Kakak ku sayang. dan Kak Ano tahu, kita mau punya adik lagi Kak, yang sekarang ini Kak, yang sebentar lagi lahir itu laki-laki Kak"Ucap Thalia sambil mengusap terus perut Nora.
" Iya Tha sayang, Aku juga merindukanmu sangat dan Ale mana Ma, Tha?
__ADS_1
" Ini Kakak Ano, Ale nya sama Daddy".
" Dadd... Ale... "Sapa Ano berdiri dan mendekati Daddy dan Ale yang berdiri dihadapan mereka.
" Apa kabar Kakak Ano?"Tanya Alex sambil memeluk Ano.
" Seperti yang Daddy lihat, baik Dadd".
" Daddy senang mendengarnya sayang"Alex mencium pucuk kepala Ano penuh sayang.
Ano mengambil Ale dari tangan Daddy Alex. dan membawanya duduk bersama mereka.
Ale melihatnya dengan tatapan khas anak kecil,tapi untungnya Ale tidak takut dengan orang baru yang pertama dilihat dan ditemuinya.
" Ini Kakaknya Ale, namanya Kakak Anora"Ucap Ano memperkenalkan dirinya sendiri pada si kecil Aleysa.
" Tata... tata... tata No"
" Iya sayang Ale, Kakak Ano... ka-kak A-no"Ucap Ano lagi membuat semuanya tertawa melihat Ano begitu gemas dengan Ale. sampai-sampai pipi Ale habis diciumi oleh Ano.
" Tata No... "Teriak Ale sambil menangis karena kesal dicium terus oleh Ano.
Mereka tambah tertawa melihat Ale yang menangis karena ulah Anora.
Nora memeluk Alex yang duduk tepat disebelahnya.
" Aku sangat senang bisa berkumpul dengan mereka seperti ini Dadd, anak-anak kita"Nora menyandarkan kepalanya pada dada bidang Alex.
" Aku senang memiliki kalian dalam hidup ku"Alex mengelus lengan Nora dan memberikan kecupan pada pipinya.
Mereka masih berkumpul di ruang keluarga sampai jam makan malam tiba.
Baik Alex atau pun Nora tidak pernah melarang anak-anaknya berisik di meja makan, selama masih dalam batas yang wajar.
Nora berpamitan masuk kedakam kamar, karena sudah sangat lelah dengan perutnya. karena usia yang tidak lagi muda tapi masih sanggup dan bisa serta di anugerahi kesempatan memiliki anak lagi.
Kini hanya ada Ano dan Thalia. Ale dibawa Daddy Alex masuk kekamarnya bersama Nora.
" Kak sudah tidak masalah lagi jika aku bercerita dengan sengaja atau pun tidak tentang keluarga dari Mommy ku?".
" Tidak Tha, bicara dan berbagi lah dengan ku dalam hal apa pun. bukannya itu menjadi terasa ringan".
" Iya Kak, Oia Om Arthur bagaimana kabarnya?"
" Papa sangat baik, dia sudah akan menikah dengan Mommy Anya"Ano menaik turunkan sebelah alisnya dan menatap penuh arti pada Thalia.
" Mommy, Kak Ano manggil istrinya Om Arthur dengan sebutan Mommy?"
" Baru calon istri Tha, tapi semoga saja bisa jadi istri Papa".
Setelah menghabiskan makanannya, Anora dan Thalia beranjak dari meja makan, menuju kamar Thalia. karena seperti biasa atas permintaannya.
Anora sudah keluar dari kamar mandi dengan wajah dan tubuh yang segar. begitu juga dengan Thalia.
" Kak Ano sudah mengantuk?"
__ADS_1
Ano hanya menggeleng sambil menyisir rambutnya.
" Bicaralah kalau ada yang mau disampaikan!".
Thalia masih ragu untuk bercerita tentang dirinya.
" Ya sudah kalau kamu sudah merasa nyaman untuk berbicara, bicara saja. aku akan mendengarkan".
Thalia menunduk dan mengangguk bersaman.
" Sini Tha"Anora mengajak Thalia untuk berbaring ditempat tidur.
Thalia pun merebahkankan tubuhnya disamping Anora.
Hening
Hening
Thalia menoleh kearah Anora yang sedang memandangi langit-langit diatas mereka dan menatapnya.
" Aku sudah pernah mencium bibir seorang pria".
Anora menoneh dan menatap wajah Thalia dengan sangat intens.
" Kamu menyukainya? ".
" Sangat Kak, bahkan aku sudah jatuh hati padanya".
" Pasti pria itu akan sangat beruntung sudah dicintai oleh wanita sebaik dan secantik dirimu Tha".
Thalia melipat bibirnya ke dalam, kemudian menggigit bibir bawahnya seakan dia sedang berpikir keras.
" Apa aku harus berjuang Kak jika pria itu tidak mencintai ku?".
" Kalau memang pria itu layak untuk diperjuangkan kenapa tidak kamu mencobanya. tapi ingat kalau memang hasilnya tidak sesuai dengan usahamu, pasti kamu akan merasakan namanya patah hati".
" Sekarang saja aku sudah patah hati Kak".
" Bagaimana bisa, kamu saja belum mulai memperjuangkannya?".
" Aku sudah pernah menyatakan perasaanku, tapi pria itu menolak ku. karena pria itu sudah mencintai wanita lain".
" Jadi apa aku masih harus berjuang Kak?".
Anora menarik nafas dalam, mendengar pertanyaan Thalia.
" Itu kamu sangat tahu sekali jika kemungkinan sambil puluh persen kamu akan patah hati. karena sudah sangat jelas pria itu menolak mu. tapi jika kamu memang pantas untuk memperjuangkan pria itu, buatlah dia pria jatuh cinta padamu".
Sekarang Thalia yang menarik nafasnya dalam.
" Apa aku akan merasakan sakit hati seperti Kak Ano dulu?".
" Hemmmm..."
Ano bangun dari tidurnya, dan memposisikan dirinya duduk.
__ADS_1
" Bisa iya bisa juga tidak Tha".
" Setiap orang mempunyai pertahan diri yang berbeda. untuk kasusmu lebih mudah dimengerti dan diterima karena memang kamu sudah tahu kondisi sebelumnya dengan pria itu bicara jujur padamu. berbeda dengan kasusku, mereka dengan sengaja menyakiti ku tanpa aku ketahui. sehingga aku benar-benar terjatuh. aku tidak pernah mempersiapkan diri untuk apa pun kecuali untuk bahagia dan bahagia".