Cinta Tuan Alex

Cinta Tuan Alex
Bab 63


__ADS_3

" Mantan Istri " ucap Serra kaget mendengarnya. dia kira Arthur sama seperti dirinya yang akan terus mempertahankan rumah tangganya. mengingat Arthur begitu sangat mencintai Nora.


" Serra, Paman sudah dapat penerbangan ke Surabaya. Kita langsung ke bandara sekarang.


Ucap Paman Yoda. berpamitan dengan Riza dan Arthur.


" Iya Paman " Serra mengikuti Paman Yoda. tanpa keluar sepatah katapun untuk Riza dan Arthur. hanya sekali dia menoleh ke arah Arthur dengan tatapan yang sulit di pahami.


Surabaya


Thomas belum bisa mencerna betul apa yang sudah dilakukannya. dia duduk di dalam mobil dengan keadaan kacau.


" Ini semua salah Tante Nora " gumamnya meyakinkan diri. dia menarik nafas dalam - dalam lalu keluar dari mobil berjalan cepat menuju kamar rawat Thalia.


" Bim " ucap Thomas berusaha tenang dan duduk di sebelah Bima.


" Apa boleh, aku masuk menjenguk Thalia ?" Tanya Thomas.


" Masuklah ! " jawab Thomas dengan sedikit mengerutkan dahinya.


Thomas membuka pintu dan terlihat Thalia sudah tertidur. dengan wajah yang sudah tidak pucat lagi.


Sementara di rumah Alex dan Nora. Alex sudah menghubungi pihak rumah sakit untuk meminta bantuan dari beberapa team medis untuk mengecek keadaan Suster dan mengurusnya. Lalu setelah itu membawanya kerumah sakit untuk di mandikan dengan bersih.


Alex yang akan mengurus semuanya nanti setelah Jenazah selesai untuk di kirimkan ke rumah duka.


Nora sudah cukup tenang, Alex sudah Mengganti pakaiannya. dan sedang duduk di depan meja riasnya.


" Cinta, aku bawa makanan. Makanlah! calon bayi kita harus sehat dan kuat seperti Mamanya " ucap Alex membawa nampan yang berisi sayuran dan daging serta satu gelas hanya susu hamil dan beberapa potong buah - buahan.


" Kita kerumah duka sekarang. aku akan meminta maaf kepada mereka. selebihnya aku akan menyerahkan diri " ucap Nora memegang kuat tangan Alex.


" Iya, kita akan hadapi bersama apapun masalah yang kita hadapi. kamu harus percaya pada ku, pada cinta kita " ucap Alex meyakinkan Nora.


Beberapa jam sudah di lewati Serra dan Paman untuk bisa sampai di rumah sakit.


Bima masih dengan setia menunggu di luar kamar rawat Thalia.


" Bim, bagaimana keadaan putri ku ?" Tanya Nora langsung menghampiri Bima.


Bima langsung berdiri. " Sudah melewati masa kritisnya Bu, hanya menunggu pemulihannya saja.


" Pak Yoda " sapa Bima menjabat tangan Paman Yoda.


" Tuan Thomas ada di dalam menemani Thalia " ucap Bima lagi.


Serra sungguh sangat kecewa tak menemukan Alex di sana. dia langsung masuk untuk melihat ke dua anaknya.


" Mom... " Thomas menghambur ke pelukan Serra memeluknya dengan erat.


Serra mengusap punggung Thomas.

__ADS_1


" Maaf aku tidak menjaga Thalia " ucapnya lagi.


" Ini bukan salah Abang " Serra membesar kan hati anaknya.


" Ini semua karena Tante Nora " ucap Serra mengepalkan tanyanya.


Deg


Thomas mengingat kejadian yang belum lama ini terjadi saat Serra menyebut nama Nora.


Thomas tak merespon apapun atas perkataan Serra.


Serra menciumi wajah Thalia.


" Tha, Ini Mommy " Ucap Serra sendu.


Sementara di luar ruangan Paman Yoda mengajak Bima untuk minum kopi di cafetaria yang ada di rumah sakit.


" Apa Alex datang kesini " Tanya Paman Yoda sambil mengaduk kopi hitamnya.


" Iya, Pak Alex sudah datang dari tadi tapi setaleh memastikan darah untuk Non Thalia. Pak Alex langsung pulang " jawab Bima.


" Mereka sudah tinggal bersama " tanya Paman Yoda lagi.


" Iya " jawab Bima cepat.


Bima tak bisa menceritakan semua yang di tanyakan Paman Yoda padanya tentang kehidupan Bosnya.


Jakarta, Kantor Arthur.


Arthur duduk termenung di depan layar monitor besarnya.


" Apa kamu bahagia " Tanya Arthur dalam hati.


Drrrttt


Drrrttt


" Ano " ucap Arthur setelah menerima panggilan telponnya.


" Pa, aku besok ke tempat Papa " ucap Ano dari sebrang telpon.


" Kenapa tidak ke Surabaya " tanya Arthur hati-hati.


" Untuk beberapa minggu ini aku nggak mau Pa. aku tak ingin melihat mereka " ucap Ano jujur.


" Seharusnya kebahagiaan itu milik kita Pa " Ucap Ano lagi.


Arthur mendengar suara Ano yang mulai serak dan agak berat seperti menahan tangisannya.


" Datang lah besok! " ucap Arthur agar tidak tambah membuat hati Ano terluka.

__ADS_1


" Iya Pa, udah dulu ya Pa, Ano kerja lagi " ucap Ano langsung mematikan telponnya setalah memberitahu pada Arthur.


Surabaya, Kediaman Alex.


Alex dan Nora akan mendatangi rumah sakit tempat Suster yang merawatnya bekerja. mereka akan mengikuti mobil jenazah dari belakang sampai rumah duka.


Alex yakin tak mungkin Nora melakukan ini.


Dia berharap keluarga korban atau keluarga susternya tidak akan membawa ke jalur hukum. dan sebagai imbalannya dia akan menanggung semua kebutuhan keluarganya.


Saat di dalam mobil Alex menarik tangan Nora dan menggenggamnya erat. sesekali mengusap perutnya.


" Semuanya akan baik - baik " ucap Alex mencoba menenangkan hati Nora sekaligus dirinya. dia juga tidak tau kejadian naas apalagi saat mereka bertemu keluarga korban.


Nora hanya mengangguk mengiyakan.


" Aku ingin mengembalikan mu pada keluarga mu, tapi bagaimana " batinnya sambil menatap Alex.


Biar lah dia sendiri yang menderita akibat perbuatannya sendiri. jangan menghukum Alex yang masih mempunyai keluarga utuh.


Tidak seperti dirinya, Ano bahkan sudah sangat tak ingin melihatnya.


Hampir memakan waktu dua jam mobil rombongan sudah hampir sampai di rumah duka. karena jalanan yang sempit maka semua mobil di parkir si salah satu tempat warga yang mempunyai lahan cukup luas.


Para tetangga berbondong - bondong ingin melihat siapa yang ada di mobil ambulance. tapi sayang mereka tak dapat melihatnya karena sudah ada di dalam keranda. karena Suster tinggal di daerah padat penduduk jadi seperti ini.


Teman Suster Nur, menunjukkan arah rumah dukanya.


Nurly nama suster yang sudah merawat, menemani dan menjaga Nora selama ini.


Nora sudah sangat pasrah bila nanti dia akan diapakan seperti apa oleh mereka. karena pulang dalam keadaan tidak bernyawa dan dia sendiri pelakunya.


" Cinta " Alex menarik tangan Nora. membawanya kepinggir jalanan.


" Biarkan aku yang bicara, cukup aku yang berbicara, serahkan semuanya pada ku " ucap Alex yang mulai merasakan hawa tak enak menjelang mau sampai ke rumah duka.


" Iya " hanya itu yang Nora ucapkan.


Terlihatlah satu keluarga yang sedang berada di teras rumah untuk memulai kegiatan pagi mereka.


Suster Nurly masih memiliki kedua orang tua dan satu adik perempuan. kehidupannya bisa di bilang sederhana. Orang tua laki - lakinya pensiunan PNS. jadi sebagian besar mereka bisa seperti ini dari penghasilan suster Nur.


" Wandi ada apa ? ko bawa temannya banyak begini " tanya Bapaknya suster Nur.


Wandi merupakan teman kerja Nurly di rumah sakit yang sama.


" Ini Pak saya kesini mau ... "


Ucapan Wandi terjeda karena keranda nya sudah sampai di rumah orang tuanya Nur.


" Maksudnya apa Wan ? ini siapa ?? " tunjuk Bapak suster Nur pada kerandanya.

__ADS_1


Wandi meneteskan air matanya sambil menunduk


" Suster Nurly Pak " jawab Wandi lirih.


__ADS_2