Cinta Tuan Alex

Cinta Tuan Alex
Bab 87


__ADS_3

Jakarta, Kediaman Alex.


Serra sudah menata kembali kamarnya menjadikannya miliknya sendiri. hanya ada dirinya, tentangnya saat ini.


Setelah bangun dari tidurnya, lalu Serra masuk ke kamar mandi untuk membersihkan seluruh tubuhnya, kemudian berdandan sangat cantik dan tentunya wangi untuk menyambut pagi cerah hari ini.


Serra langsung menuju kamar Thomas untuk pertama kalinya. biasanya dia akan menyuruh Thalia atau pelayan yang akan membangunkannya. saat di meja makan tidak menemukan Thomas. dan kata Bi sum memang Thomas akan selalu bangun sedikit siang. Serra baru mengetahui fakta tentang Thomas yang satu ini. karena dia selalu kebawah saat kedua anaknya sudah duduk manis dimeja makan.


" Apa aku yang sudah melewatkan banyak hal,untuk hal sekecil ini tentang Thomas saja aku tidak mengetahuinya.bahkan aku harus tau dari kepala pelayan di rumah ini" Gerutunya pada diri sendiri merasa jengkel.


" Thom " Serra memegang handle pintu kemudian dia mendorongnya dan langsung terbuka lebar.


" Sa... " Ucap Serra terhenti karena kondisi tubuh Thomas yang memprihatinkan.


Sekujur tubuh yang dipenuhi dengan keringat, kepalanya yang terus menggeleng, kakinya yang menendang tidak tentu arah, serta ucapan lirih yang tidak begitu terdengar jelas ditelinga Serra.


Serra mendekati tubuh Thomas, betapa kagetnya lagi dia, saat merasakan panas tubuhnya Thomas begitu terasa di kulit tangannya.


" Sayang " Serra mencoba membangunkan Thomas.


Serra membiarkan Thomas saat tangan yang menyentuh untuk membangunkannya di pegang kuat - kuat oleh Thomas. berharap dia bisa bangun dari mimpi buruknya, jika memang sedang bermimpi.


" Sayang " Panggil Serra lagi.


" Maafkan aku Tante Nora, Maafkan! jangan biarkan mereka membawaku pergi Tante. aku mohon Tante jangan biarkan mereka membawaku Tante Nora, Tolong maafkan aku, maaf kan Tante, tolong aku"


Deg


Begitu terasa lemas seluruh persendiannya, Serra terjatuh tersungkur dipinggir tempat tidur dengan tangan yang masih dipegang kuat oleh Thomas. Dengan jantung yang bergemuruh dan perasaan yang tidak tau seperti apa. sakit kah?, atau cemas kah? atau apalagi sampai dia sendiri tidak bisa mendeskripsikannya. wajah yang terasa begitu panas seolah merasakan sebuah tamparan keras.


" Apa yang sudah terjadi?, Kenapa Thomas begitu ketakutan?, Apa yang sudah dilakukannya? Apa hubungannya dengan Nora?, Siapa pula mereka dan akan dibawa kemana Thomas putra kesayangan dan kebanggaannya?" Begitu banyak pertanyaan didalam hatinya, Air matanya sedari tadi masih terjun bebas dengan deras membasahi kedua pipi merahnya.

__ADS_1


Hening


Hening


Serra masih terduduk disisi tempat tidur dengan penampilan yang sudah sangat kuyu. Dia merasakan ada pergerakan pada tangan yang dipegang kuat oleh Thomas.


Dia melirik keatas tempat tidur dan terlihat Thomas merasa heran ketika melihat ada tangan seseorang yang dengan nyata dipegangnya, dia hanya sekilas saja memperhatikannya.


" Tidak mungkin Tante Nora" Gumamnya lirih tapi masih bisa terdengar jelas ditelinga Serra dan Thomas belum menyadari kalau tangan yang dipegangnya nyata adalah tangan Serra, Mommy tercintanya.


Deg


" Mommy " Gumamnya dalam hati ketika menyadari siapa pemilik tangan cantik dan lentik yang masih dipegangnya erat saat dia merasakan hangat dari pegangan mommy nya. dan langsung saja dia bangun lalu turun dari tempat tidurnya kemudian dia berlutut dihadapan Mommy nya tanpa melepaskan tangan hangat yang sudah membesarkannya dan menyayanginya serta memeluknya disaat kesedihan datang melandanya.


" Maafkan aku mommy, aku sudah banyak mengecewakan Mommy, aku..." Thomas tidak mampu lagi berucap. kala merasakan lelehan air mata yang jatuh tepat di lengannya.


Serra menarik tangan Thomas membawanya kedalam pelukan hangat yang sering dilakukannya, yang mampu menenangkan jiwa yang nestapa.


" Tenang!, Tenanglah Abang. Ada Mommy yang akan menemani Abang melewati ini semua.


" Ini terjadi pasti karena kerapuhan ku?" Batin Serra menyalahkan dirinya sendiri.


Surabaya, Hotel X.


Thalia dan Alex sudah sampai di kamar Hotelnya. Thalia membuka Tas kecil yang selalu menemaninya. dia mengambil apa yang sudah dititipkan Mommy padanya.


" Dadd, ini ada titipan dari Mommy" Thalia duduk disampingnya dan menyodorkan amplop yang berwarna coklat.


Alex menerimanya dan langsung membukanya.


" Kata Mommy kalian sudah resmi berpisah"Ucap Thalia persis dengan yang diucapkan Mommy nya.

__ADS_1


" Tapi kalian akan menjadi Daddy, Mommy aku dan Abang sampai kapanpun" Thalia menyembunyikan wajah sendunya di balik lengan Alex.


Karena pasti tidak akan mudah untuk siapa pun berada diposisi Thalia. dia hanya bisa merelakan semuanya untuk tetap bisa menjadi utuh dengan kebahagiaan yang diciptakannya sendiri.


" Maaf kan Daddy Tha" Alex mengusap kepala Thalia dengan penuh kasih sayang.


" Its ok Dadd, semua hanya soal waktu saja"Ucapnya lagi menghibur dirinya sendiri dan terus mencoba untuk selalu bahagia.


Jakarta, Kantor Arthur.


Sejak kedatangan Alex ke kantornya beberapa waktu lalu. Arthur sudah mengubur semua kenangan indah bersama Nora jauh didasar lubuk hati yang paling terdalam. Arthur berusaha bangkit dari perasannya dengan caranya sendiri. walau tidak mudah tapi tetap hidup harus dijalaninya dengan baik dan benar.


Dirasakan butuh waktu untuk menepi lagi.


Arthur menerima tawaran dari kliennya untuk ikut kerja membantu mendesign pembangunan Hotelnya di Negara tetangga setelah membicarakannya dengan Riza.


Arthur sudah menyerahkan semua urusan pekerjaannya yang ada di Jakarta kepada Riza sepenuhnya.


" Aku harapkan kau akan menjadi pengusaha yang lebih sukses lagi Ri daripada aku"Ucap Arthur setelah menyelesaikan semua dokumen yang akan dibawanya.


" Tetap aku tidak akan bisa dengan mudah untuk lebih unggul daripada kau" Balas Riza merendah.


" Sebelum aku berangkat, aku akan menemui Ano dulu di Surabaya atau mungkin aku akan berangkat dari sana saja" Ucap Arthur.


" Nora?" Tanya Riza.


" Nora bukan siapa - siapa lagi bagiku. dia hanya ibu dari anak ku Anora. biarlah nanti Ano yang memberitahukan keberangkatan ku"Arthur merasa tidak punya hak atau apapun lagi terhadap Nora. selain hanya mantan istrinya saja.


" Baiklah jika sudah kuat dan yakin dengan pendirian mu. aku akan bekerja lebih keras lagi untuk memajukan usaha kita ini" Ucap Riza bersemangat tidak ingin mengecewakan sahabatnya itu apalagi ini usaha turun dari kedua orang tua angkatnya walau pernah mengalami kebangkrutan.


" Iya aku letakkan tangung jawabku dipundak mu untuk perusahaan kita" Arthur menepuk pundak Riza dengan kuat.

__ADS_1


" Terima kasih kau sudah percaya padaku sampai sejauh ini" Riza membungkukkan tubuhnya merasa terhormat atas apa yang dilakukan Arthur padanya. karena untuk sekarang Nora's Furnitur sudah berkembang pesat.


Arthur sengaja tidak mengganti nama perusahaannya atas permintaan Anora. dia ingin tetap ada ikatan antara dirinya dan Nora. tidak hilang begitu saja. mungkin saat ini dia perlu menjauh dari semuanya tapi siapa tau suatu saat nanti saat dirinya berdamai dengan semua masa lalunya dia akan kembali lagi ke tempatnya semula dan semestinya meski dengan status serta kondisi yang berbeda.


__ADS_2