
Apartemen Arthur.
Waktu sudah menunjukkan pukul 21.20. Thomas mendatangi Apartemen Arthur. untuk meluapkan emosi yang sedang memuncak di dadanya.
Dor
Dor
Mereka yang masih terjaga kaget mendengar pintu apartemennya di gedor seperti itu.
" Siapa yang menggedor pintu malam - malam begini ???" tanya Arthur melihat ke arah Nora dan Ano bersamaan.
Mereka berdua hanya mengangkat kedua pundak mereka karena memang tidak mengetahuinya.
Gedoran nya semakin kencang dan mereka mendengar suara yang di kenalnya.
" Tante Nora, Buka pintunya " pinta Thomas sambil masih menggedor pintu.
" Itukan Thomas !!!, " Ucapnya serentak.
" Cepat Mas buka pintunya. siapa tau dia kenapa - kenapa ???" ucap Nora meminta Arthur untuk segera membuka pintunya. padahal Nora belum tau saja kalau Thomas akan membuat masalah untuk nya.
Arthur membuka pintunya. terlihat Thomas sudah menangis dengan penampilan yang acak - acakan.
Nora tiba - tiba merasa sulit bernafas ketika melihat keadaan Thomas yang seperti sekarang ini. " Ini pasti karena salah ku " batinnya.
Arthur mendekati Thomas dan memegang kedua pundaknya.
" Ayo masuk " ucap Arthur pada Thomas.
Thomas menatap tajam ke arah Nora. dia melepaskan kedua tangan Arthur yang ada di pundaknya. lalu mendekat ke arah Nora.
Secara reflek Nora mundur beberapa langkah ke belakang karena melihat Thomas yang berjalan ke arahnya.
Arthur dan Ano merasa heran pada Thomas dan Nora. Ada masalah apa mereka berdua sampai Thomas memperlihatkan sorot mata yang sangat marah dan penuh amarah pada Nora.
" Kenapa Tante Nora begitu jahat pada kami ?? apa salah kelurga ku ?? ucap Thomas datar.
" Tunggu Thom, apa yang sudah Mama ku lakukan sampai kau seperti ini ?? " tanya Ano penasaran.
" Kenapa Tante Nora tega banget sama Mommy aku ??? Apa yang Tante cari dari Deddy ku ???" ucap Thomas pelan tapi menusuk.
Nora sudah mengeluarkan air matanya. dia harus menghadapi ini semua seorang diri. "kuatkan lah aku " gumamnya dalam hati.
" Maksudnya apa Thom kau bicara seperti itu tentang istri ku ??? Tanya Arthur dengan suara lantang.
__ADS_1
" Daddy ??? Alex maksudnya , apa ini Thom ?? tanya Arthur membalik tubuh Thomas agar menjadi berhadapan dengan nya.
Thomas tak menggubris apa yang di tanyakan Arthur dan Ano padanya. dia hanya menatap tajam penuh kebencian pada Nora. Karena kesal melihat Nora yang tak kunjung bersuara. Thomas mendapati Arthur dan berbicara dengan nada yang cukup tinggi.
" Kenapa nggak Om Arthur tanya kan langsung sama Istri Om???. dari tadi aku yang nanya Istri Om hanya diam saja " ucap Thomas menunjuk wajah Nora dan menatap nyalang padanya.
" Aku menjalin kasih dengan Alex " ucap Nora menatap wajah Ano dan Arthur bergantian.
" Mama " ucap Ano tak percaya dengan apa yang di dengarnya.
" Nora " ucap Arthur menatap intens wajahnya.
" Maaf kan Aku " ucap Nora tertuju pada Arthur dan Ano.
" Maaf kan Tante Thom, tapi hubungan kami sudah berakhir. Tante sudah meminta padanya untuk kembali pada kalian. sungguh Tante tak bohong " ucap Nora memegang dadanya yang terasa sesak.
Ano menatap wanita didepannya dengan dengan penuh tanda tanya. sungguh tak ingin percaya tapi Mama nya sendiri sudah mengakuinya.
" Tapi Daddy tak pernah kembali Tan. Daddy semakin jauh dari Mommy. sebagai anak aku harus berbuat apa untuk memperbaiki keadaan ini ??? " tanya Thomas berani mendekat lebih dekat lagi pada Nora.
" Bahkan Daddy akan berpisah dengan Mommy, dengan aku dan Thalia. itu semua karena Tante jahat " ucap Arthur histeris.
" Mama Mu sudah nyakitin kami " ucap Arthur pada Ano yang diam mematung dan menunjuk ke arah Nora.
" Maaf Tante sungguh sangat tidak berguna bagi kami " ucap Thomas sedikit mendorong tubuh Nora. sayang nya tubuh Nora dalam posisi tidak siap dan tidak seimbang menjadikannya limbung dan jatuh terduduk di lantai dengan cukup keras.
" Darah Ma, darah " ucap Ano sangat panik. melihat darah si sekitar tempat terjatuhnya Nora dan membantu Nora untuk berdiri dan mendudukkannya di kursi.
" Kita ke rumah sakit Pa " Ajak Ano melihat Arthur yang masih duduk di tempatnya. tapi tak merespon sama sekali.
" Pa, Tolongin Aku Pa. kita bawa Mama kerumah sakit sekarang. Mama mengeluarkan darah Pa " ucap Ano dengan suara yang sedikit lebih tinggi.
" Iya Ayo " Arthur bangkit dengan cepat dan mengambil kunci mobil di dalam kamar. dan membantu Ano membopong Nora.
Sepanjang perjalanan ke rumah sakit tak ada yang berbicara. mereka terlalu shock dengan kenyataan yang memukul telak tepat di bagian terdalam hati mereka.
Beberapa saat sudah berlalu. Nora sudah berada di ruang IGD berbaring di tempat tidur pasien. dengan seorang dokter yang sedang memeriksanya.
" Kalau boleh tau bagian posisi Ibu terjatuh ??? tanya Dokter.
" Terduduk, Dokter " jawab Ano mewakili Nora karena dari tadi dia hanya menatap dengan tatapan yang kosong.
" Karena saya melihat Mama sudah dalam posisi terduduk di lantai dan mengeluarkan darah " lanjut Ano lagi.
Arthur masih terdiam seribu bahasa. dia hanya melihat dan mendengar interaksi orang - orang yang ada di hadapannya.
__ADS_1
" Baiklah di tunggu ya " ucap Dokter.
Dokter meminta perawat untuk membawa Nora ke bagian kandungan untuk mengecek keadaan calon bayinya.
" Mau di bawa kemana Mama saya Sus ?? tanya Ano.
" Ke bagian bersalin, tadi Dokter bilangnya seperti itu " ucap Suter.
Ano tak ingin menebak apa pun biarlah terjadi kalaupun harus terjadi.
Dua orang suster memindahkan tubuh Nora ke kursi roda. lalu mengantarkan ke bagian bersalin.
Setalah sampai disana Nora kembali berbaring di tempat tidur pasien. ada Bu Bidan yang tugas jaga Malam langsung mengecek keadaan Nora.
" Maaf ya Bu, Permisi " ucap Bu Bidan ramah.
Bu Bidan menyingkap pakaian atas Nora. terlihat lah bagian perut. kemudian Bu Bidan mengoleskan Gel ke atas perutnya dan menggeser - geser kan alatnya yang tersambung ke layar monitor di depannya.
" Calon bayi nya sehat, baik, Normal tidak ada apa - apa. walupun mengalami benturan " Ucap Bu Bidan menjelaskan.
" Usia kehamilannya sudah berjalan enam Minggu. selamat ya Bu ?? " ucap Bu Bidan lagi dan mengusap lengan Nora.
" Malam ini Ibu harus menginap di sini. besok baru di periksa lagi sama dokter kandungannya " ucap Bu Bidan Lagi.
" Saya Permisi " Bu Bidan keluar dari ruangannya.
" Terima kasih Bu Bidan " ucap Ano.
Ano masih mencerna setiap kata dan kalimat yang diucapkan Bu Bidan.
" Hamil, Kandungan, Calon bayi, sudah enam minggu. Itu artinya aku akan mempunyai seorang adik " guman Ano dalam hati.
Setiap perkataan dan penjelasan Bu Bidan bisa di dengar dengan baik dan jelas oleh Arthur yang sudah berdiri di dekat pintu.
" Calon bayi ku, Alex. Bukan !!!. Itu calon bayi ku". gumam Arthur dalam hati sambil mengusap air matanya.
Ano sungguh tak tega melihat Papa nya. Cobaan pernikahan mereka begitu berat. begitu juga dengan mereka yang sudah terlibat dalam situasi ini.
Arthur menarik kursi yang ada di sebuah Ano. Kemudian dia meletakkan di dekat kepala Nora. dia duduk dan mengusap kepala Nora.
Nora melihat ada tangan yang sedang mengusap kepalanya. Dia menatap wajah Arthur dengan penuh penyesalan.
" Kamu harus sembuh, harus sehat, harus kuat untuk calon bayi kita dan untuk Aku dan Ano " ucap Arthur menekan rasa sakit, kecewa, di khianati dan menekan egonya sebagai kepala rumah tangga.
" Kita akan kembali ke Surabaya secepatnya. Kita lupakan semua yang terjadi disini dan menguburnya dalam - dalam ". ucap Arthur sambil menghapus air mata Nora.
__ADS_1
" Maaf kan aku, ampuni aku " ucap Nora memeluk Arthur.