
Satu bulan kemudian.
Sesuai dengan rencana Awal, Arthur membawa Nora dan Ano untuk tinggal di Jakarta. Menempati Apartemen yang di hadiahkan padanya.
Riza lebih memilih tinggal dengan para pegawai yang lainnya. karena rumah yang menjadi satu dengan pembuatan Furnitur sangat layak sekali untuk di tinggali. Dan untuk mempermudah dalam pengawasannya.
Meski Nora sempat bersikeras untuk tidak ikut pindah ke Apartemen. Namun Ano yang jadi pertimbangan utamanya.
Nora sempet merasa kecewa dengan keputusan Arthur untuk lebih memilih tinggal di Jakarta ketimbang di Surabaya.
Selain alasan Alex tentunya. yang paling membuatnya sedih karena rumah yang mereka tempati merupakan rumah yang di bangun oleh kedua nya dari nol.
Setelah kejadian di dalam mobil waktu itu, Nora berusaha untuk berdamai dengan kesalahannya. Meski tak mudah untuk melakukannya. tapi Nora bertekad akan memperbaiki semuanya dan akan berusaha lebih keras lagi untuk menghindar dari Alex.
Sebelum kesalahan yang lebih fatal lagi terjadi lebih baik dari sekarang Nora membentengi diri dan hatinya.
Sampai Nora mengganti nomer ponselnya supaya Alex tidak menghubunginya lagi. Dan bisa di bilang cukup berhasil karena tak ada satu nomor pun yang tak di kenalnya menelpon ataupun mengirim pesan.
Apartemen yang mereka tempati memang sangat luas. terdapat dua kamar tidur dan tiga kamar mandi. dapur dan ruang makan yang menjadi satu tanpa di sekat membuat sedikit ada kesan luas pada area dapurnya. Dan sudah di fasilitasi lengkap. mereka hanya perlu membawa diri saja. ada satu ruangan lagi yang bisa di jadikan ruang kerja oleh Arthur meskipun kecil tapi cukup untuk menyimpan keperluan kantornya.
Nora sedang berada di dalam kamarnya. Memasukkan semua pakaian yang di bawanya kedalam lemari. setelah selesai Nora berjalan kearah dapur untuk mempersiapkan makan malamnya. dan menunggu kedatangan suami serta anaknya.
__ADS_1
Waktu sudah menunjukan pukul 19.20. Tapi Arthur dan Ano belum menampakkan batang hidungnya sama sekali. Nora menghubungi nomor Arthur dan Ano tapi tidak ada satupun yang diangkat. " Pada kemana ya " ucapnya pada diri sendiri sambil jalan kesana - kemari.
Terdengar seseorang sedang memasukkan nomor password di depan pintu. Nora menjadi was - was takutnya bukan Arthur ataupun Ano yang datang. tapi bagaiman bisa ada yang datang ? sementara hanya mereka bertiga yang tau password apartemen nya.
Tak berselang lama terlihatlah penampakkan Arthur dan Ano yang pulang bersamaan.
" Surprise " Ucap keduanya setelah masuk ke dalam.
Ano meletakkan Kue tart dan bunga mawar putih di atas meja yang sudah di siapkan Arthur untuk Nora.
Nora merentangkan kedua tangannya untuk memeluk dua orang yang sangat di cintai dan di sayangnya.
" Peluk !!! ". Mereka pun berpelukan melepaskan rasa yang mereka miliki satu sama lain.
" Happy Anniversary Nora " Arthur memberikan seikat bunga mawar putih. dan memeluk tubuh Nora.
" Terima kasih sudah menemaniku hingga di titik ini "
" Terima kasih sudah menjadi Ibu yang baik untuk anak kita "
" Terima kasih sudah menjadi istri yang hebat untuk ku "
__ADS_1
" Teruslah bertahan berdiri di samping ku, menemani setiap langkah ku "
" Aku tanpa mu tidak ada dan tidak akan seperti ini "
Nora semakin tak kuasa untuk menahan air matanya. setiap ucapan yang keluar dari mulut Arthur seperti ribuan pisau belati yang menyayat hatinya. Dadanya terasa sungguh sangat sesak bagai terhimpit batu besar mengingat kesalahan yang sudah di buatnya.
" Maaf kan Aku, Mas "
" Ampuni Aku, Mas "
Akhirnya Nora bisa mengucapkan kata maaf kepada Arthur. Maaf yang di maksud Nora karena sudah berkhianat dengan hati, pikiran dan tubuhnya.
" Hei, Hei" ucap Arthur mengusap air mata Nora dan mengecup kedua kelopak matanya.
" Kau tak pernah salah "
" Justru Aku yang harus meminta maaf dan mohon ampun pada mu "
" Sebagai suami Aku sadar, jauh dari kata sempurna "
Suasana menjadi lautan air mata. Ano pun ikut menangis yang sejak tadi Mendengarkan dan melihat kedua orang tuanya seperti itu.
__ADS_1
Ano merasa paling beruntung memiliki kedua orang tua yang super hebat dan begitu baiknya. Ano ikut memeluk mereka dengan air mata yang masih berderai.