Cintai Aku!

Cintai Aku!
Persiapan


__ADS_3

Bulan ini adalah bulan yang penuh kesibukan bagi Susan. Mempersiapkan acara wisuda agar berjalan dengan lancar. Saat berjalan pulang, seseorang membunyikan klakson.


"Susan, aku antar, ya?"


Ozkan mengemudi mobilnya melewati Susan yang sedang berjalan membawa satu kotak berisi persiapan wisuda.


"Eh, Ozkan. Aku ..."


"Ayolah, kamu sudah bekerja keras hari ini untuk mempersiapkan wisuda kamu, 'kan?" ujar Ozkan membukakan pintu mobil.


"Mm ... baiklah," sahut Susan. Dia memasuki mobil Ozkan, kemudian memasang sabuk pengaman.


"Kamu pasti lapar. Kita mampir ke cafe di jalan Simon lima, menunya enak, kok! Aku traktir ya, anggap aja sebagai ucapan selamat atas wisuda kamu," ujar Ozkan.


"Tapi aku belum wisuda ...." kilah Susan.


"Susan, baiklah. Ini bukan traktiran wisuda tapi persiapan wisuda," ujar Ozkan.


"Hmm, baiklah."


Susan mengalah. Tak disangkal, memang dia merasa sangat lapar dan haus di siang yang begitu terik itu.


Ozkan tersenyum lebar. Dia memacu mobilnya ke sebuah cafe di jalan Simon lima. Lelaki itu memarkir kendaraannya, lalu keluar dan membukakan pintu mobil untuk Susan.


Gadis itu sedikit merasa tersanjung, tapi tak merubah perasaannya pada Ozkan.


Cafe nampak agak sepi saat itu. Mereka berdua tiba di depannya.


"Yuk, masuk Susan. Kita duduk di sebelah jendela, ya?" ajak Ozkan.


Susan hanya mengangguk, menuruti lelaki itu. Mereka pun duduk di tempat yang dimaksud oleh Ozkan. Dari tempat duduk itu, bisa terlihat suasana luar dari jendela.


Pelayan cafe mendatangi mereka dan memberikan menu pada keduanya.


"Makan apa, Susan?" tanya Ozkan dengan lembut.


"Aku mau ... Thai chicken wing dan apple juice," pinta Susan seraya menutup lembaran menu.


"Oke," ujar Ozkan. Dia menyebutkan nama menu yang ingin dia pesan pada pelayan, lalu pelayan mengangguk dan masuk ke dapur.


"Gimana suasana cafe ini, pernah ke sini?" tanya Ozkan berniat memulai perbincangan dengan Susan.


"Mm ... asyik juga," sahut Susan melepas kacamata karena sedikit ada buram di sudutnya.


Ozkan menatap gadis yang melepas kacamatanya itu dengan takjub. Susan nampak begitu cantik saat tanpa kacamata. Hingga bola mata Ozkan tak mau bergeser sedikit pun saat melihat keindahan di depan matanya.


"Cantik ...." gumamnya pelan.


Susan kembali memakai alat bantu penglihatan itu lalu melihat Ozkan nampak salah tingkah.

__ADS_1


"Kenapa, Ozkan?" tanya Susan.


"Mm ... Nggak, nggak apa-apa," sahut Ozkan. Wajahnya memerah karena malu.


Susan mendesah perlahan, menunggu pesanan sambil menatap ke luar. Nampaknya awan mendung mulai berarak mendekat.


"Sepertinya akan hujan," ujar Ozkan.


"Iya," jawab Susan singkat. Sayang, Ozkan tak mampu menciptakan suasana hangat seperti yang selalu diciptakan oleh Yoshua.


Acara makan siang itu menjadi terasa sangat biasa bagi Susan. Hanya bunyi hujan yang menemani makan mereka.


Hingga sebuah sepeda motor yang diparkir di sebelah kaca, tempat dimana mereka duduk, menarik perhatian Susan.


"Yoshua ..." gumam Susan pelan. Namun, wajah semringahnya terlihat berubah menjadi kecewa saat melihat Yoshua turun bersama seorang gadis.


"A-antar aku pulang," pinta Susan meletakkan sendok dan garpunya di atas piring yang masih tersisa sedikit ayam dan nasi."


Ozkan sedikit terkejut mendengar ajakan Susan. Dia mengedarkan pandang ke sekeliling dan menyadari adanya Yoshua dan Chika di sana. Belum sempat menyapa keduanya, Susan telah berlari keluar dan masuk ke dalam mobil Ozkan.


*


Keluarga besar Key telah bersiap untuk pergi ke Singapura. Beberapa koper besar telah disiapkan di kamar.


"Alahmak, banyak sekali bawaannya?" ujar Key melihat koper-koper itu.


Pak Anton keluar dengan semringah membawa dua koper besar.


"Itu, apa lagi ...." ujar Key menepuk jidatnya.


"Ini koper satunya untuk tempat pakaian kotor," sahut Pak Anton meringis.


"Mau dikotori seperti apa sih, bajunya?" ujar Key.


"Alah, sudahlah. Biar saja Papa bawa sebanyak apapun. Kan kita bawa pesawat pribadi."


Bianca menengahi.


"Hmm ya sudah. Asal nggak satu rumah dibawa," ujar Key.


*


Sementara itu di rumah Bu Sinta dan Pak Danu, mereka sedang meredam amarah Brian.


"Ya ... iya, kamu boleh ikut, tapi buat surat ijinmu sendiri," ujar Bu Sinta.


"Mama ini gimana? Ya ketahuan lah, kalo aku buat sendiri!" omel Brian.


"Nah, berarti Mama yang ikut. Kamu di rumah sama Papa," ujar Bu Sinta.

__ADS_1


"Lho, Papa juga mau ikut ...." protes Pak Danu.


"Papa kan kerja??" ujar Bu Sinta.


"Kan bisa libur??" sahut Pak Danu tak mau kalah.


Bu Sinta memutar bola matanya. Mengalah. Akhirnya dua lelaki itu ikut juga.


*


"Mas, udah aku packing persiapan wisata kita," ujar Kimmy.


Felix yang sedang menggendong baby Lingga, pasrah saja dengan apa yang disiapkan istrinya karena memang wanita itu tahu benar apa yang harus dibawa.


"Sini, aku gendong Lingga," ujar Kimmy mengulurkan tangannya.


Felix menciumi anak lelakinya itu lalu menyerahkan ke istrinya.


Tiga buah koper telah siap di depan ruang tamu.


*


Keesokan harinya saat bersiap, koper-koper telah berjejer di halaman rumah. Key menghitung banyaknya koper itu.


"Ya Tuhan ... Apa mereka tak tahu kalo kita akan berada di Singapura hanya satu hari??" ujarnya menepuk jidat karena rentetan pekerjaan setelah acara wisuda Susan telah menanti.


******


Stop plagiarisme!


Melanggar hak cipta orang lain masuk dalam UU nomor 19 tahun 2002 pasal 72 ayat (1) yang berisi hukum pidana maksimal 7 tahun dan denda maksimal 5 Miliar Rupiah.


******


Maap yes update lama banget, karena othor baru bikin kue-kue kering. Jangan pada minta ya? Wekekek .... Ini visual Yoshua, Susan dan Ozkan kalo nggak sesuai dengan imajinasi kalian. Monmaap yaa ....


Yoshua




Susan



Ozkan


__ADS_1


__ADS_2