Cintai Aku!

Cintai Aku!
Pertemuan


__ADS_3

Pagi itu Felix bersiap berangkat kerja dimulai dengan kekesalan. Kimmy telah menyiapkan makan pagi, tapi tak disentuh sama sekali. Lalu tiba-tiba saja, gadis itu saja sudah menyiapkan bekal dengan wadah supperware di atas meja. Wadah plastik itu dia temukan di lemari dapur. Ternyata asisten pria itu hobi juga koleksi benda-benda plastik tersebut.


"Awas ya, kalo kamu menghilangkan tutupnya!" ujar Felix mengingatkan.


"Iya, Bos! jawab Kimmy dengan mulut agak tertutup saat mulai mengambil sebuah mangkuk sayur dan toples untuk wadah makanan.


Kimmy memilih wadah itu karena ada tutupnya untuk melindungi. Daripada mangkuk kaca yang ada di kardus, tak ada tutupnya. Sedangkan si asisten pria itu tak memiliki tudung saji.


Felix berangkat kerja. Kimmy mengantarnya sampai ke depan pintu.


"Sudah, cukup sampai sini kamu mengantarku! Nanti anak-anak ketakutan melihat wajahmu itu! Hantu di pagi hari!" kata Felix mengerutkan dahi.


"Iya, iya ...." sahut Kimmy masih dengan mulut agak tertutup.


Bam!


Pintu ditutup.


Felix berjalan ke parkiran, mendengus.


"Huh, lagian kenapa juga gadis itu pakai-pakai masker? Ganjen!" omelnya.


*


"Ah, kayaknya udah cukup setengah jam aku memakai masker! Mandi dulu, deh!" ujar Kimmy.


Gadis itu masuk ke kamar mandi, kemudian bersiul karena bahagia. Baru kali ini dia merasakan akan bertemu dengan cowok.


Kimmy yang polos selama ini, tak pernah sekalipun berani melakukan pertemuan atau hanya naksir dengan seorang pria. Dia tak pernah memandang pria mana pun. Namun, setelah berada di dalam apartemen terus, dia merasa bosan dan menemukan gambaran pria sesuai kriteria. Seperti artis pujaannya, Tom Cruise pas muda.


"Ah, ini Jodi mirip Tom Krus blasteran sama Min Ho."


Kimmy memulai perawatan tubuhnya. Memakai lulur yang dia temukan di tempat yang tak lazim.


"Bos Pelix ini cemilannya lulur ber-scrub ya? Masa Lulur disimpan di lemari es gini! Aku pakai aja, lah!"


Kimmy mulai mengoleskan lulur itu ke badannya. Alhasil dingin rasanya.


*


Felix telah berada di kantor usai menjemput tuan-tuannya. Dia masuk ke ruang kerja dan mulai mengerjakan tugas. Serius. Namun yang di layar ternyata kadang akun media sosialnya, kadang pekerjaan.


Sampai siang, Felix seperti gelisah, mondar-mandir di ruang atas, kemudian ke bawah. Dia masuk ke sebuah ruangan yang di situ banyak karyawan wanita.


"Ehm!"


Felix berdehem meminta perhatian. Kalo begitu, biasanya semua karyawan akan kembali ke meja kerja masing-masing dan menghentikan kegiatannya sejenak demi mendengarkan apa yang disampaikan sang asisten.


"Kalian, para karyawati, tolong jawab pertanyaanku."


Semua terdiam mendengarkan, bahkan ada yang ketakutan. Kalimat itu nadanya semacam introgasi maling. Beberapa berpikir bahwa ada kejadian pencurian di kantor.


"Jika ada yang tahu, jawab saja!" bentak Felix.


Semua makin takut. Pria itu menghela napas sebentar. Membenahi jasnya. Lalu memulai pertanyaan.


"Menu apa yang kalian suka saat berkencan?" tanya Felix membuat semua terbengong dengan pertanyaan itu.


Semua saling berpandangan bingung. Alhasil, mulut mereka menjawab semua.


"Tongseng!"


"Ayam panggang!"


"Seblak!"


"Mie!"


"Sate!"


"Bakso!"


"Steak!"


"Iga bakar!"


"Nasi goreng!"

__ADS_1


"Soto!"


"Mie ayam pangsit pakai sayur banyak!"


"Siomay agak pedas, pakai telur, nggak pakai pare!"


Semua karyawati yang berjumlah dua belas orang itu menjawab semua, bersamaan dengan jawaban berbeda. Ricuh sesaat jadinya.


Felix memijat pangkal hidungnya.


"Susah ... susah .... Sudah, susah penuturan kalian!"


Mereka malah seperti memesan makanan di warung!


Felix berbalik lagi tanpa ekspresi ke ruangannya. Meninggalkan para karyawati yang masih kebingungan itu. Sebagian lega, lalu melanjutkan pekerjaan, sebagian lagi mulai bertanya-tanya satu sama lain mulai mengobrolkan yang ditanyakan sekertaris itu, hingga entah kemana obrolan mereka.


Di dalam ruangan, Felix mulai mengerjakan lagi pekerjaannya seraya sesekali memencet akunnya media sosialnya di layar. Tak fokus, sampai kadang Key menggertaknya karena melamun.


"Kurang??" tanya Key membuyarkan lamunan sekertarisnya.


"A-apanya, Tuan Key?" tanya Felix gugup.


"Aku tadi tanya apa?" Alis mata key naik semua. Matanya melotot.


Duh, apa ya? Aku tidak fokus pada pertanyaannya. Sepertinya dia menanyakan masalah pekerjaan.


"I-iya, kurang."


"Felix! Kamu ini dikasih setengah miliar kenapa masih kurang?? Kamu punya utang pada rentenir??" tanya Key mengerutkan dahi. Prihatin pada sekertarisnya itu jika benar dugaannya.


"Eh, errr ... tidak, tidak, Tuan! Tentu bonus dari Tuan sangat banyak buat saya!" sanggah Felix.


"Lalu kenapa kamu melamun? Seperti terbebani sesuatu!" ujar Key.


"Saya tidak apa-apa, Tuan! Benar!"


Felix menunjukkan dua jarinya, tanda sumpah.


"Huh, ya sudah. Lanjutkan pekerjaanmu!"


Felix melanjutkan pekerjaan dengan menepis semua pikiran galaunya. Dia pasrah saja.


*


Kimmy mematut diri di depan cermin. Dia memakai kaus putih dan topi dengan jeans belelnya, sapuan bedak sedikit tanpa lipstik. Polos. Sesuai dengan karakternya.


"Setidaknya aku bisa leluasa bergerak!" gumamnya, membayangkan sesuatu yang buruk bisa saja terjadi saat pertemuan dengan Jodi.


"Ahh ... namanya Jodi, apa dia benar jomlo ditinggal mati?" gumamnya lagi.


Dia bergerak cepat melirik ke jam dinding berwarna oranye di tembok, atas televisi.


"Jam empat sore, satu jam lagi."


Kimmy tak kuasa menahan rasa grogi. Perutnya mulas membayangkan ini adalah kencan pertamanya dengan seorang pria. Berkali-kali dia memegangi perut. Lalu masuk ke toilet tanpa ada hasil. Sepertinya memang kena sindrom nervous.


Jam bergerak cepat. Tak selambat ketika menunggu seseorang yang tak diharapkan. Ini terasa begitu cepat.


Kimmy membaca pesan di akun media sosialnya. Pria itu juga sudah bersiap dari tempat kerja.


"Aih, dia pria pekerja. Cocok!" ujarnya.


Kimmy membalas dengan kata-kata yang manis. Semanis madu.


*


Sore itu, cuaca sangat tidak mendukung untuk berkencan sebenarnya. Titik air gerimis mulai membasahi rerumputan dan jalanan beraspal. Namun, janji tetaplah janji. Kimmy tetap memesan ojek online untuk berangkat ke cafe yang dimaksud.


Untunglah sampai di cafe, gerimis berubah menjadi hujan.


Kimmy mengibaskan tangan lentik ke bajunya. Dia membenahi ikatan rambutnya, lalu masuk ke dalam ruangan yang sepi itu. Hanya ada beberapa pasangan di sana. Banyak meja yang kosong, jadi Kimmy bisa memilih meja mana yang nyaman.


Gadis itu mengedarkan pandang. Matanya menatap ke meja kosong nomor tiga belas.


"Katanya angka sial, tapi tempatnya bagus. Cocok untuk mojok! Ah, mau apa sih mojok-mojok!" desis Kimmy.


Dia berjalan ke meja itu dan duduk, meletakkan tas kecilnya. Mengeluarkan benda pipih kesayangan lalu mengetikkan pesan di chat.

__ADS_1


[Nanti di meja nomor 13, ya?]


Kirim!


Kimmy tinggal menunggu Jodi, seraya meminta pelayan untuk menunggu.


Jantung Kimmy berdebar-debar. Sama seperti yang dirasakan Felix. Pria itu mulai menjalankan mobilnya dari rumah Tuan Key, pelan. Sambil komat-kamit berdoa, semoga tak ada hal yang memalukan dari mulutnya. Begitu simple doanya. Setidaknya tak menunjukkan sisi grogi, dan seperti yang biasa dibicarakan saat chatting. Lancar, humoris, romantis.


Sepertinya malaikat mempertimbangkan doanya untuk dikabulkan Tuhan.


Sampai di cafe, dia berjalan pelan mendekati pintu dengan degup jantung yang makin menjadi saja. Felix menarik napas dalam-dalam kemudian mengembuskannya perlahan.


"Oh, iya, satu lagi doaku. Semoga dia tak terkejut melihat wajahku tak sama dengan foto profil!"


Doa susulan Felix.


Dia masuk mencoba memantapkan diri, karena sesaat pria itu berniat berbalik untuk pulang.


"Masuk! Kamu pria sejati, Felix! Semongko!" gumamnya menyemangati diri.


Felix memegang handle pintu dan mendorongnya, mantap sampai tak melihat tulisan 'pull/tarik'.


Dia mengamati nomor-nomor di atas meja.


"Ah, itu!"


Felix melangkah pelan mendekati seorang gadis yang memunggunginya.


"Hai," sapa Felix dan terbelalak saat melihat siapa yang duduk di kursi.


"Lho?" Keduanya menunjuk.


"Kamu! Kenapa kamu bisa ada di sini?" Hilang dan terlupalah degup jantung yang tak menentu, berganti dengan degup jantung kesal.


"Aku janjian dengan seseorang di meja nomor tiga belas!" sambung Felix tanpa menunggu kata-kata Kimmy.


"Aku juga, Bos!" sahut Kimmy tak kalah seru.


"Minggir! Cari meja lain!" usir Felix.


"Huh, iya! Iya!" Kimmy mengambil tas dan ponselnya, kemudian berpindah ke meja nomor dua belas.


Dia duduk sambil mencibirkan bibir ke pria yang sudah duduk manis mengira teman kencannya belum datang.


Kimmy mengetik lagi di chat.


[Maaf, keliru, harusnya di meja nomor dua belas.]


Kirim!


Kimmy menunggu sambil meletakkan ponselnya, melipat tangan dan mengedarkan pandang.


Tiba-tiba pria menyebalkan itu kembali berdiri di sampingnya.


"Minggir! Ternyata seharusnya nomor dua belas!" ujarnya mendorong-dorong bahu Kimmy.


Gadis itu kembali mengerucutkan bibirnya dan berpindah ke meja semula.


Dia mengetik pesan kembali bahwa meja nomor tiga belas yang benar, sebentar kemudian, Felix mengusirnya lagi.


Kimmy kesal sekali hingga memutuskan untuk tak berpindah dan meletakkan ponselnya. Menunggu pria dengan visual seperti di akun Jodi datang.


"Kenapa kamu tidak pindah? Nanti aku dikira sudah punya gandengan! Huh!"


Kimmy bergeming. Dia tetap melipat tangan dan duduk mengamati pintu. Tiba-tiba ponselnya berkedip.


Dia membuka pesan.


[Aku tunggu di meja nomor tiga belas. Kalo sudah sampai, jangan terkejut. Ada seorang gelandangan yang kuajak masuk dan duduk di depanku, karena kasihan melihatnya kelaparan.]


Kimmy membacanya. Berpikir. Kemudian merasa bingung tapi kemudian lagi ... kesal.


******


Stop plagiarisme!


Melanggar hak cipta orang lain masuk dalam UU nomor 19 tahun 2002 pasal 72 ayat (1) yang berisi hukum pidana maksimal 7 tahun dan denda maksimal 5 Miliar Rupiah.

__ADS_1


__ADS_2