
Tak terasa waktu berlalu begitu cepatnya. Drama ibu hamil yang naik turun emosi dan permintaannya dituruti begitu saja oleh dua suami.
Saat ini, istri-istri mereka menginjak usia tujuh bulan kehamilan. Masing-masing mengadakan upacara mitoni sendiri-sendiri di kediamannya sendiri.
Pergelaran yang agak mewah diadakan oleh Key untuk meminta doa keselamatan bagi sang bayi. Satu saja peliput berita yang terpilih untuk melakukan siaran langsung prosesi nujuh bulanan itu. Dari sungkeman, siraman sampai memecah kendi. Kin bersorak saat kendi terpecah. Baginya, sang nenek sedang bermain pecah air.
"Mau ecah ail!" pintanya.
(Mau pecah air!)
Akhirnya para pelayan pun menyediakan kantong-kantong plastik berisi air dan digantungkan ke seutas tali untuk dipecahi oleh Kin. Balita itu begitu bahagia memukuli kantong-kantong berisi air itu. Kadang air mengguyur wajahnya. Dia tergelak. Ini serasa mitoni dengan hiburan lomba agustusan.
Sedangkan acara mitoni di rumah Felix dan Kimmy diadakan secara sederhana. Itu permintaan si ibu hamil, dia tak terbiasa ditonton banyak orang. Hanya doa orang-orang sekitar dengan keluarga.
"Selamat ya, Pak Felix dan Bu Felix, semoga bayinya lahir sehat dan lancar sampai persalinan," ucap beberapa tetangga yang hadir.
Keluarga Kimmy pun datang meramaikan acara mitoni. Walaupun sederhana, tapi yang hadir pun banyak sekali. Tetangga Kimmy yang dari desa juga ikut datang untuk mendoakan. Mereka sampai menyewa dua bis sedang untuk mendatangi rumah mereka. Tetangga desa mengagumi rumah Kimmy di perumahan baru.
Secara mewah atau sederhana, semua sama saja tujuannya, tradisi untuk mendoakan calon jabang bayi agar terlahir normal, lancar serta dijauhkan dari berbagai kekurangan dan berbagai bahaya.
"Semoga anak kita terlahir sehat dan normal, ya Mas?" ujar Kimmy mengelus perutnya yang sudah membuncit besar.
Bobot badannya naik satu kilo setiap bulannya. Namun, Felix malah makin senang. Entah kenapa ibu hamilnya itu malah makin mempesona meski banyak jerawat yang mendiami wajahnya selama hamil.
"Iya, kita semua mengamini doa itu."
Felix mengecup kening istrinya. Dia mencoba mengerti betapa berat rasanya membawa bayi di dalam perut kemana-mana. Pernah Felix mencoba mengikat dua kilo beras di perut. Baru beberapa jam capek juga rasanya.
Lah itu, istrinya mau sembilan bulan tanpa ditaruh bawaannya. Apa nggak pegel?
Hingga Felix yang mengalah untuk mengerjakan hampir semua pekerjaan rumah, padahal Kimmy pun masih bisa melakukannya. Namun, pria itu merasa sayang kalau istrinya kelelahan hingga berpengaruh pada kehamilannya.
Padahal lagi, ibu hamil pun harus bergerak untuk kelancaran persalinan.
"Kata bu dokter, aku harus sering berjalan-jalan," ujar Kimmy.
"Nanti capek," sahut Felix.
"Nggak akan capek, ya dikira-kira jalannya, cuma memutari perumahan, nggak sampai jalan ke rumah di desa ...." kata Kimmy.
Felix melotot. "Jangan bercanda!"
"Ya sudah, ayo jalan-jalan pagi," ajak Felix akhirnya.
Kimmy tersenyum.
"Tapi nanti kalau capek kupinjamkan kursi roda di klinik depan jalan, ya?" kelakar Felix.
"Aaah ...."
*
Kedua ibu hamil itu berbeda, tapi seirama saat berbelanja.
"Mas, mau beli perlengkapan bayi. Kan udah boleh ...." rengek Kimmy saat tujuh bulan kehamilannya itu.
__ADS_1
"Boleh."
Felix tersenyum menutup korannya hari libur itu. Dia beranjak lalu memeluk Kimmy dari belakang.
"Mau perlengkapan bayi yang warna apa?" tanya Felix pada Kimmy. Hembusan napasnya terasa di belakang telinga.
"Bayi apa, Mas?" jawab Kimmy kehilangan konsentrasi saat merasakan kegelian di telinganya.
"Bayi manusia, lah! Gimana sih, Dek?" gerutu Felix, menatap ke wajah Kimmy yang bersemu merah.
"Eh, maksudku bayinya berjenis kelamin apa?" ralat Kimmy.
Felix memutar bola matanya.
"Kita pilih yang bisex aja, Mas."
Kening Felix langsung berkerut dan matanya melotot.
"Bisex? Maksudmu wanita pria?" tanya Felix heran. Rasa-rasanya belum pernah dia mendengar istilah itu dalam dunia peranakan manusia.
"Emm ... yang itu lho, bisa dipakai bayi laki maupun bayi perempuan ..." jelas Kimmy.
Felix mengangguk-angguk saja.
Mereka kemudian berangkat ke pasar. Kala itu pasar agak ramai karena hari libur. Mereka masuk ke sebuah toko perlengkapan bayi. Kimmy memegangi baju-baju bayi yang lucu. Seorang pelayan toko mendatanginya.
"Selamat pagi, Nyonya. Mau cari baju bayi? Cowok apa cewek, Nyonya?" tanya si pelayan.
Kimmy tersenyum.
"Weladalah ...." Si pelayan bergumam mengelus dadanya.
"Apa, Mbak? Saya cari yang itu lho, bisa dipakai bayi lelaki maupun perempuan ..." terang Kimmy.
Sang pelayan toko yang tadinya kaget, menjadi tenang, seolah mendapatkan pencerahan. Dia menahan senyum.
"Maksudnya, unisex?" ujar si pelayan meralat istilah yang dipakai Kimmy.
"Iya ... Nah, itu."
Kimmy menjentikkan jarinya, diikuti tepukan jidat oleh Felix.
Ya Tuhan, istriku ....
Pelayan tersenyum dikulum. Dia mengarahkan keduanya untuk masuk ke stand baju bayi newborn.
"Silakan ke sini, Tuan, Nyonya. Anda berdua bisa memilih baju bayi yang ada di tumpukan maupun di gantungan baju. Bisa dipilih yang unisex di sebelah kanan."
"Baik, Mbak. Makasih," ujar Kimmy.
Kimmy segera memilih beberapa baju di tumpukan dan tiga kotak jumper bayi, beberapa jumpsuit, baju kutung, kaus dalam bayi dan lain-lain. Semua berwarna biru, kuning dan hijau bergambar kartun hewan atau buah lucu.
"Murah-murah!" seru Felix melihat harga yang tertera.
"Iya, di pasar berkualitas dan murah!" sahut Kimmy.
__ADS_1
Felix memilih gendongan berwarna coklat.
"Dek, ini bagus kan untuk jalan-jalan ke mall?" tanya Felix memamerkan apa yang dipilihnya. Kemarin dia melihat seorang bapak menggendong balitanya dan berjalan sendiri di pinggir jalan.
Mungkin seperti itulah bayangan dia menjadi seorang ayah. Ayah yang keren, mau menggendong bayinya jalan-jalan.
"Kalau ada, baju yang couple sama ayahnya, Dek!" ujar Felix.
Kimmy tersenyum. "Sepertinya yang heboh cari baju bayi bukan aku ..." gumamnya pelan.
Tak berapa lama, Kimmy mengambil sepasang kostum couple. Lalu merentangkan di depan Felix.
Felix mendengus. "Masa aku harus couple-an pakai baju mermaid itu??"
Kimmy menahan tawanya. Mereka bahagia sekali memasukkan baju-baju ke keranjang belanja. Sampai tak terasa tiga kantong besar belanjaan baju bayi penuh dibawa ke depan kasir.
"Habis ini masih beli roller," ujar Kimmy sat menunggu semua belanjaan dihitung dan dikemas oleh kasir.
"Roller?" ulang Felix kembali curiga akan istilah Kimmy.
"Kereta dorongan bayi itu lho, Mas!" ujar Kimmy.
"Stroller!" ujar Felix.
"Ah, iya!" sahut Kimmy.
Roller? Memangnya dia mau sepatu rodaan?
"Semuanya total dua juta tiga puluh ribu rupiah, Nyonya," ujar sang kasir saat melihat totalan belanjaan Kimmy. Kertas struk belanjaan pun lama berhenti sepanjang kereta api.
Kimmy mengeluarkan sejumlah uang pada sang kasir.
"Makasih, Mbak."
Kimmy menerima uang kembalian dari kasir.
"Sama-sama, Nyonya. Semoga selalu puas dengan produk dan pelayanan kami."
"Puas sekali, Mbak. Mari."
"Biar dibantu karyawan kami membawakan belanjaan, Nyonya."
"Oh, makasih sekali!"
"Sama-sama, Nyonya. Itu bagian dari pelayanan kami," sahut sang kasir.
Dua orang karyawan dengan sigap membawakan dan menatakan belanjaan di dalam mobil Felix.
Kemudian setelah meletakkan belanjaan di mobil dan berterima kasih, mereka melanjutkan belanja lagi, mencari stroller yang diinginkan Kimmy.
******
Stop plagiarisme!
Melanggar hak cipta orang lain masuk dalam UU nomor 19 tahun 2002 pasal 72 ayat (1) yang berisi hukum pidana maksimal 7 tahun dan denda maksimal 5 Miliar Rupiah.
__ADS_1