Cintai Aku!

Cintai Aku!
Hamil?


__ADS_3

Hai kesayangan-kesayanganku .... Aku geleng-geleng kepala deh sama kalian. Kemarin ada yang jatuh tersungkur, tapi hampir dari kalian semua malah gembira ria. Hahaha, aku juga gembira ding!


******


Bianca berteriak menyebut nama asisten kesayangannya itu. Dia menyuruh pelayan untuk memberi Kimmy bau-bau menyengat supaya dia tersadar.


"Ambilkan ponselku!" Saking paniknya, Bianca menyuruh pelayan tanpa kata 'tolong' seperti biasanya. Si pelayan pun tak mempermasalahkan di saat situasi seperti itu. Dia segera melaksanakan perintah nonanya.


Kin pun menangis bingung melihat keributan itu. Makin menambah perasaan kacau.


"Ssst ... Nggak apa-apa, Sayang. Tante Kimmy capek ...." ujar Bianca menenangkan balita yang menangis itu.


Seorang pelayan tergopoh-gopoh saat membawakan ponsel ke tangan nonanya. Bianca mengambil ponsel, lalu memencet nomor dokter Gerry.


Lama tak terhubung, lalu dia mengulanginya lagi sambil berbicara pada para pelayan.


"Bawa Kimmy ke kamarnya!" teriak Bianca.


Para pelayan mengangguk, lalu membawa Kimmy dengan membopongnya ke kamar, dibantu oleh satpam.


"Halo, dokter! Bisa datang segera ke rumah?" ujar Bianca langsung pada saat dokter Gerry menjawab panggilannya.


"Bisa, bisa, Nona!" Dia memandang daftar pasien yang datang, memutuskan untuk menyerahkan pada asistennya karena merasa ada sesuatu yang urgent di rumah Tuan Key. Apalagi mendengar suara tangis tuan kecil. Situasinya tak nyaman didengar.


"Cepat, ya!" pesan Bianca, lalu menutup panggilan.


"I- ...."


Tut ... tut ... tut!


Sambungan telah terputus sebelum sang dokter menjawabnya. Pria itu mengganti jas putih khas dokternya dan menggantung di lemari. Dia mengambil tas berisi peralatan medis dan kunci mobil setelah berpesan pada asisten, lalu bergegas ke mobil untuk menuju ke rumah Nona Bianca.


*


Setibanya dokter di rumah, para pelayan menyambutnya lalu membawa pria itu masuk ke kamar Kimmy.


"Dok, ini Kimmy tiba-tiba jatuh, pingsan. Udah sadar sih, tapi kenapa, ya?" berondong Bianca saat dokter tiba di kamar.


Kimmy yang sedang mengerjapkan mata terlihat pucat dan lemas.


Dokter Gerry memberi kalimat yang menenangkan kecemasan Bianca sebagai orang yang bertanggung jawab atas Kimmy di rumah itu.


"Nona Bianca tenang dulu. Sebentar, saya periksa dulu, ya?"


Dia mengeluarkan tensimeter, kemudian memeriksa denyut nadi dan tekanan darah Kimmy.


"Agak sedikit menurun tekanan darahnya. Apa Anda sering anemia? Atau sedang datang bulan?" tanya dokter Gerry pada Kimmy.


Kimmy menggelengkan kepala. Dia sedang mengingat sesuatu, melirik ke kalender di atas meja.

__ADS_1


"Bulan ini, saya belum datang bulan, Dok!" ujar Kimmy lirih, lalu terbelalak sendiri dengan jawabannya.


"Jangan-jangan ...." lanjut Kimmy sendiri, memegangi perutnya.


"Apa, Kimmy!" ujar Bianca. Kin telah berpindah tangan ke seorang pelayan.


Kimmy tak tahu apakah harus bahagia atau takut. Bahagia karena perkiraannya akan memiliki bayi, tapi takut karena nonanya belum tahu semua ini. Wajahnya malah jadi pucat pasi.


"Ambilkan teh panas!" seru Bianca pada pelayan, mendahului perintah dokter yang sedang memeriksa Kimmy.


"Eh, maaf, Dok! Saya biasa jadi petugas P3K pas sekolah dulu! Kalo ada yang pingsan, langsung saya kasih teh panas! Dia seperti mau pingsan lagi!" ujar Bianca pada dokter.


Dokter Gerry mengangguk-angguk. Maklum. Kemudian, dia menganalisa kembali apa yang terjadi pada Kimmy.


Karena dia bukan dokter kandungan, maka dia tak membawa alat tes kehamilan.


"Apa kita tidak coba mengetes kehamilan?" tanya dokter, entah pada siapa.


"Dokter! Mana mungkin? Kenapa bilang gitu?" Bianca bingung sendiri.


"Nona Kimmy bilang kalau dia belum datang bulan," ujar dokter karena melihat gelagat Kimmy memegang perutnya. Sementara Bianca menepis prasangka yang terbersit.


Namun, Bianca akhirnya memutuskan untuk membuktikan bahwa dokter salah. Dia masih menyimpan beberapa alat tes kehamilan dan kadaluarsanya masih lama.


"Oke, Dok! Aku ambilkan satu, ya? Satu saja, kan? Sepuluh pun ada kalau mau pembuktian dan pasti tidak seperti yang anda katakan," ujar Bianca yakin.


Dia segera berlari tergesa masuk ke kamarnya, mengambil satu alat tes kehamilan di lemari pakaian, lalu memberikan pada Kimmy atas anjuran dokter Gerry.


"Hamil gimana, orang punya suami saja belum!" kelakar Bianca tertawa menonjok lengan dokter Gerry.


Pria itu tambah bingung.


"Mungkin salah analisa, dokter!" tebak Bianca seraya menunggu hasil alat itu.


"Dia bilang sendiri, Nona. Kalau bulan ini terlambat datang bulan. Apa salahnya kita coba? Tambah lagi, dia setuju untuk mengecek," sahut dokter. Dia pun heran kenapa Kimmy dengan penasaran membawa alat itu ke kamar mandi. Jika dia tak pernah melakukannya, dia pasti menolak.


Bianca terkekeh sambil menggelengkan kepala melihat dua orang aneh di matanya.


Kimmy berdebar membawa alat itu ke kamar mandi. Dia menutup mulutnya saat melihat dua garis di alat itu, tapi mau gimana lagi? Dia harus bilang, kan? Kimmy lalu membawanya ke depan dokter.


Dokter Gerry mengamati alat itu, memecah keyakinan Bianca yang jujur saja dag dig dug menunggu. Dia merasa bertanggung jawab atas gadis itu. Jika terjadi apa-apa, maka habislah Bianca di hadapan semua orang, terutama keluarganya.


"Nah, iya. Nona Kimmy mengandung."


Sontak semua yang ada di ruangan itu menutup mulut mereka dengan kedua telapak tangan. Tak percaya.


Hina?


Hamil di luar nikah?

__ADS_1


Gadis nggak bener?


Bermacam-macam dalam pikiran mereka.


"Dokter pasti salah!" ujar Bianca menarik alat pendekteksi kehamilan itu lalu mengamati garis pink semu merah yang terlihat dua itu.


"Ini kalian prank aku, kan?" tanya Bianca tertawa.


Dokter Gerry hanya terdiam. Kebingungan, karena dia merasa tidak mengerjai nona Bianca.


"Ini hari ulang tahun Kin, tapi kenapa aku yang di-prank?" ulang Bianca.


"Bos Nona ...." panggil Kimmy lirih.


"Bilang, Kimmy! Bahwa ini tidak benar!" ujar Bianca berteriak.


"I-ini, b-benar, Bos Nona!" ujar Kimmy jujur.


Seketika suara tertahan semua orang di dalam kamar menutup mulut mereka. Bianca pun tak kuasa menahan air mata, kecewa.


"Taruh di mana mukaku ...." desisnya pelan.


"Tak kusangka dia polos tapi ternyata ... memalukan!" gumam Bianca.


"Maap, Bos Nona ...." kata Kimmy perlahan. Suaranya tercekat, ingin mengatakan hal yang sebenarnya tapi dia melihat bos nonanya sedang kecewa.


"Sudahlah!" Bianca menepis tangan Kimmy.


Gadis itu merasa sedih.


"Dokter, anda boleh pulang! Aku mau bicara dengan Kimmy."


"B-baik, Nona. Permisi."


Dokter Gerry segera permisi dari situasi itu. Tak enak rasanya berada dalam situasi yang tegang. Urusan intern rumah tangga. Setelah keluar ruangan, dia merasa agak lega.


"Semua, kakak pelayan! Keluar!" teriak Bianca. Kesal, kecewa, dan sedih. Itulah yang dirasakan wanita beranak satu itu. Dia sebagai wanita, mampu menjaga kehormatannya selama ini, sampai menikah, bahkan beberapa bulan setelah menikah, tapi kali ini? Asisten yang disayang-sayang, malah mencemari nama baiknya. Tak menjaga kehormatannya sebagai seorang gadis.


Semua pelayan langsung lari terbirit-birit. Baru kali ini mereka melihat nonanya marah. Kemarahannya luar biasa.


Sekarang, di dalam kamar itu hanya ada Bianca dan Kimmy.


Kimmy tertunduk menghadapi Bos Nonanya. Matanya seperti menyala kemerahan. Ngeri.


"Kimmy! Katakan, siapa yang melakukan ini padamu!" tanya Bianca lagi.


"Atau ... kamu diperkosa?" Bianca menyadari hal itu, memelankan suaranya.


"Mas ... Pelix."

__ADS_1


Kimmy menjawab sambil tertunduk.


"A-apa!!!"


__ADS_2