
"Iya, dok! Belum ...." jawab Bianca saat dokter Gerry menanyainya seperti yang ditanyakan ke Kimmy.
Bianca melengos saat melihat wajah Felix. Entahlah, moodnya begitu hancur saat menatap muka asisten pria itu. Seperti harga diri sebagai wanita diinjak-injak. Padahal bukan dia yang menjalani.
Dokter menepuk jidat.
"Nona sebaiknya besok pagi anda cek, saran saya," ujar dokter Gerry seraya mengemasi peralatan medisnya, serta memberi beberapa vitamin seperti yang diberikan untuk Kimmy.
Key sudah semringah mendengarnya. Satu anak sangat membahagiakan, apalagi dua!
Sementara Bianca terlihat biasa saja. Mungkin karena dia kesal kalau bebarengan dengan Kimmy.
Dokter permisi pulang diantar kembali oleh Felix.
"Dia mau apa?" tanya Bianca pada Key.
"Tadi kusuruh menjemput dokter, karena mobil dokter macet ...." jelas Key. Pria itu tak bisa mendustai diri bahwa dia pun sangat membutuhkan Felix. Asisten yang menjadi 'sebagian' nyawanya.
"Ugh, pengen kubejek-bejek mukanya!" seru Bianca kesal. Mengepalkan tangan kanan lalu dipukul-pukulkan ke telapak tangan kirinya.
"Kita dengar dulu penjelasannya ...." jawab Key. Ketegasannya seketika tak berlaku untuk Felix.
Kenapa aku sesayang ini dengan pria itu? Haish ....
"Yang penting, aku besok tak sabar ingin melihat alat pendeteksi kehamilan itu bekerja!" ujar Key bersemangat.
Sebuah ketukan pintu mengagetkan para pelayan.
Malam itu pukul sembilan. Felix baru saja beranjak. Siapa yang diperbolehkan datang memasuki rumah tuan?
Seorang pelayan mengetuk pintu kamar majikannya, seolah sangat penting.
Key membukanya dan melongokkan kepala. "Ada apa?"
"Kimmy datang, Tuan!" ujarnya cepat.
Key mengerutkan dahi, mengangguk lalu menutup pintu.
"Siapa?" tanya Bianca tak kalah penasaran.
"Kimmy ...." jawab Key singkat, memakai jubah hitamnya, menutup piyama.
Bianca mendengus, melipat tangan. Namun, merasa ada yang penting.
"Sepertinya ini sangat penting, hingga dia datang semalam ini. Pasti berkaitan dengan kehamilannya karena Felix!" tebak Key.
"Sepakat!" sahut Bianca.
Bianca bersikeras menemui Kimmy saat tubuhnya masih lemah.
"Sayang, kamu tiduran saja! Biar aku yang menghadapinya!" sergah Key.
"Tidak! Aku juga ingin tahu!" ujar Bianca.
Akhirnya, Key memapahnya keluar. Sampai di ruang tamu, mereka terperanjat.
"Si-siapa mereka??" desis Bianca memegang tangan Key.
__ADS_1
Di ruang tamu telah ada beberapa orang bersama Kimmy. Mereka memakai baju yang terbaik di dalam lemari mereka untuk menemui tuan besar itu.
"Pak Bos Tuan, Bos Nona, perkenalkan, ini papa saya, Pak Luki. Sebelahnya adalah Pak lurah, Pak RW, Pak RT, Pak mantri ...."
Kenapa bawa-bawa mantri segala?
Key dan Bianca terbelalak melihat kedatangan beberapa orang yang rata-rata pria paruh baya berusia lima puluhan tahun yang sedang menatap kagum pada mereka. Sebelumnya kekaguman itu terpencar pada rumah sebesar sawah mereka.
"Silakan, Pak Lurah!" ujar Kimmy.
"Eh ... anu, itu ...." Pria itu menepuk jidatnya hingga peci hitam yang dikenakan agak naik memperlihatkan kening lebarnya.
Bahkan sekelas pak lurah pun gugup saat bertemu dengan tuan Key.
"Maap, Pak Bos Tuan, sepertinya pak Lurah herpes!" ujar Kimmy.
Key bergidik mendengar nama penyakit kulit itu.
"Nerpes ...." sahut Bianca pada Key.
"Oh ... Nervous ...." kata Key lega.
"Lanjut pak RW ...." ujar Kimmy.
"Pak, Bu, eh, Tuan, Nyonyah .... Begini, tak berbasa-basi lagi, intinya kami datang untuk menerangkan bahwa mas Felix sama mbak Kimmy ini sejatinya telah menikah," ujarnya memejamkan mata agar tak tak grogi seperti pak Lurah.
Bianca seketika seolah berhenti bernapas. Dia menutup mulutnya, terbelalak lagi tambah lebar. Tak percaya dengan apa yang dikatakan oleh pria itu. Tangannya meremmas tangan Key lebih kencang. Begitu pun Key. Selama ini Felix tak pernah mengatakan sedikit pun tentang pernikahan. Malah yang dia tahu si Felix itu begitu kesalnya pada Kimmy. Sudah seperti Anying dan Kunying.
Mereka sangat terkejut kemudian kedua insan itu saling berciuman ... eh, berpandangan.
"I-ini beneran?" tanya Bianca menoleh pada para tamunya.
"Kapan menikah?" ujar Bianca lirih.
Dia ingin mengamuk lagi karena tak diberi tahu dan masih kebingungan dengan apa yang disampaikan oleh pria paruh baya itu. Namun, diurungkan niatnya.
"Satu tahun yang lalu." Kali ini Pak RT menyahut. Sepertinya tak ingin menyia-nyiakan kesempatan untuk menjawab istri pengusaha nomor satu itu.
"What???"
Sepasang suami-istri itu megap-megap.
"Pak Bos Tuan, Bos Nona, apa anda berdua belum percaya? Saya akan bawa lagi petugas KUA dan capil untuk datang ...."
"Cukup! Cukup Kimmy, cukup!" potong Key melambaikan tangan.
Para pelayan mengelus dada. Mereka semua mengintip di balik pintu. Tak pernah sekepo ini sebelumnya. Meskipun mereka sempat kaget, tapi lega juga karena kenyataannya tak seburuk penilaian awal pada Kimmy.
"Ini ada apa?" Pak Anton datang dari kamarnya.
Key menceritakan ulang apa yang dia dengar dari bapak-bapak itu.
"Ooh, jadi begitu? Maaf sebelumnya, saya kira kalian ini bermain tak senonoh di belakang kami," ujar Pak Anton lega.
"Ya, kami ke sini untuk meluruskan permasalahan. Saya mendidik anak saya sebaik mungkin, Pak. Jadi, saya pun berusaha datang kemari agar tidak terjadi kesalahpahaman."
Pak Luki berbicara pada Pak Anton.
__ADS_1
Mereka mengangguk-angguk. Paham sekarang.
Pak Luki pun menceritakan perihal pernikahan dadakan pada mereka bertiga. Kenapa pernikahan itu dilakukan tanpa undangan.
"Ya Tuhan, Kimmy ...." Emosi Bianca naik turun. Sekarang dia menangis karena kasihan pada nasib Kimmy saat itu.
Felix datang, melihat ada sebuah mobil pengangkut lalu tergesa berlari ke dalam, melihat apa yang terjadi.
"Mas ...." Kimmy begitu senang melihat suaminya datang.
"Felix, Kimmy, dan kalian semua ... maafkan kami," ujar Key mewakili istri dan seluruh penghuni rumah yang menuduh mereka berbuat tak baik.
"Oh, kalian sudah mengetahui semua?" tanya Felix.
Semua di ruangan mengangguk.
Felix memeluk istrinya dengan senang. Tak ada lagi yang perlu ditutup-tutupi sekarang.
"I-itu, kenapa bawa mobil satpol PP?" tanya Felix setelah melepas pelukannya.
"Eh, tadi terburu ke sini. Pick up bang Saleh dipakai ke kota. Nggak ada mobil satu pun di desa. Cuma ada satu mobil itu di kelurahan. Ya ... pakai itu lah. Kalo nunggu taksi keburu lama."
Kimmy menjelaskan panjang lebar.
"Ampun deh, ini seperti tahanan perangkat desa!" ujar Felix tertawa. Disusul oleh yang lain.
Pelayan membawakan beberapa minuman dengan gelas tinggi dengan beberapa cemilan hangat.
Akhirnya mereka bisa tertawa lepas karena masalah telah selesai.
*
Sementara itu, di rumah Kimmy.
Vita melihat lampu di kamar Raka masih menyala. Dengan penasaran dia berjalan mendekati kamar adiknya dan membuka sedikit untuk mengintip anak lelaki itu sudah tidur atau belum.
Dia masih duduk di kursi belajarnya. Vita mendekati lagi, melihat apa yang dikerjakan Raka.
"Lagi apa, Ka?"
"Ngerjakan tugas, Kak!"
"Ooh ... bagus gambar garudanya! Persis sekali dengan aslinya!" puji Vita.
"Iya dong! Rakaaa ...." jawabnya bangga.
"Nanti kalo udah selesai, buruan tidur, ya?" pesan Vita.
Gadis itu keluar dari kamar.
"Kan aku jiplak dari ini!" gumam Raka mengangkat dua buku nikah milik kakak pertamanya itu dengan girang.
******
Gimana dong menurut kalian apa ceritaku berbelit-belit dan membosankan?
******
__ADS_1
Stop plagiarisme!
Melanggar hak cipta orang lain masuk dalam UU nomor 19 tahun 2002 pasal 72 ayat (1) yang berisi hukum pidana maksimal 7 tahun dan denda maksimal 5 Miliar Rupiah.