Cintai Aku!

Cintai Aku!
Bulan Madu?


__ADS_3

Mobil telah menaiki kapal Ferry menyeberang dari Pulau Ketapang ke pelabuhan Gilimanuk. Setelah makan malam, Felix dan Kimmy tak membuang kesempatan untuk keluar menikmati udara di atas dek kapal.


"Bos Pelix, aku mau seperti Taitenik!" teriak Kimmy saat melihat ke ujung kapal.


"Hus! Jangan aneh-aneh!" Pria berkacamata hitam, berkaus putih dengan kemeja bunga-bunga biru dan celana pendek hitam itu menatap teduhnya air laut yang berwarna biru jernih.


Tawa Kimmy terbawa angin kencang.


Felix mengambil foto-foto candid gadis di depannya dengan kamera yang dia bawa.


Angin terlalu kencang menerpa hingga Kimmy yang memakai celana pendek dan baju tanpa lengan pun kedinginan.


"Brrr ...." Gadis itu melipat tangan merinding.


Felix segera melepas kemejanya, lalu memakaikan ke tubuh Kimmy tanpa mengucap sepatah kata pun. Gadis itu memandang pria yang baru saja melindunginya. Merasakan perlindungan seorang kakak lelaki yang belum pernah dia rasakan, karena dia adalah anak pertama di keluarganya.


"M-makasih, Bos!" ucapnya gugup. Entah kenapa dia merasa ada yang berdesir saat berdiri di atas dek kapal dengan pria yang dia sadari selalu ada bersamanya, selalu membantunya.


"Kok aku merasa lain ya?" ucapnya polos saat beberapa waktu rasa itu tak juga menghilang. Masih menatap Felix yang gantian melipat tangannya, kedinginan.


"Lain, gimana?" tanya Felix menelisik, melirik ke arah Kimmy.


Kimmy mengangkat bahu.


"Gimana, jelaskan!" kejar Felix.


"Berdebar," ujar Kimmy.


"Di mana, di mana?" Felix mulai tersenyum.


"Di sini," tunjuk Kimmy ke dada. Gadis itu tak melepas pandangan dari Felix.


"Boleh kupegang?" tanya Felix.


"Nggak!" sahut Kimmy menutup dadanya dengan kemeja Felix.


"Mmm ... jelaskan spesifik!" ujar Felix lagi usai tertawa.


"Ini seperti saat aku menyukai adik kelasku dulu," ujar gadis itu.


Felix mendengus.


Huh, dia membicarakan pria lain di masa lalunya pada saat ambang romantis begini. Adik kelasnya, lagi? Eh, tapi setidaknya dia ada rasa untuk menyukaiku!

__ADS_1


"Berarti kamu menyukaiku?" tanya Felix membuang rasa kesalnya mendengar penuturan gadis itu barusan.


"Apa yang kamu semprotkan pada kemejamu, Bos? Hingga aku menyukaimu dalam waktu singkat?" tanya Kimmy mengendus-endus kemeja yang dia pakai itu dan membulatkan matanya.


"Kamu kira aku beli parfum dokter Boy Eike? Hey, itu karena perasaanmu sendiri ke aku! Bilang saja kamu menyukaiku. Sudah! Tak usah bawa-bawa parfum!" omel Felix.


Biasanya Kimmy tertawa, tapi kali ini dia merasa aneh. Pria di sebelahnya selain melindungi, juga berusaha untuk membuatnya senang, seperti saat di desa. Kimmy menatap daratan yang mulai menjauh dari kapal. Dia teringat pertemuannya dengan Felix hingga pengorbanan pria itu dari awal sampai saat ini.


Seperti saat menyelamatkan keluarganya. Bahkan saat itu mungkin Felix tak pernah menyukainya tapi menyingkirkan ego demi menyelamatkan Kimmy dari si juragan tua. Apa jadinya kalau tak ada Felix? Tentu saja dia tak berdiri di atas dek kapal mewah ini, memandang lautan dengan bebasnya.


Kimmy mendesah. Menyadari kepolosannya selama ini tak memandang pria itu.


Apa benar ya, aku menyukai Bos? Apa Bos Pelix juga punya rasa aneh seperti aku, ya? Kenapa dia memberiku syarat agar saling membiarkan untuk mencintai orang lain saat kita bersama? Tapi kenapa juga dia tak melepasku?


Lama dirinya termenung di atas kapal. Sementara Felix terus mengambil foto. Hingga tanda berhentinya kapal membuyarkan lamunan gadis itu. Tour leader mempersilakan mereka untuk turun dan masuk ke dalam mobil lagi karena mobil akan keluar dari kapal.


Mobil membawa mereka ke sebuah hotel berbintang lima pada jam enam pagi.


"Silakan menikmati layanan kami, Tuan dan Nyonya!" ujar pelayan hotel membukakan pintu kamar untuk mereka.


"B-Bos? Apa kita akan sekamar?" tanya Kimmy melihat Felix masuk ke kamar yang sama.


"Tentu saja! Dua tiket itu satu kamar! Kalau empat tiket, baru dua kamar!" kilahnya, lalu masuk ke kamar mandi.


Hari itu, mereka menikmati serangkaian perjalanan ke sebuah pura, berfoto-foto lagi. Kali ini Felix dan Kimmy ber-swafoto. Kamera hampir saja terjatuh jika tak ditangkap keduanya. Tak sengaja tangan mereka saling menggenggam. Mata mereka saling menatap. Lama.


"Si ...." Kimmy menggumam.


"Apa?" tanya Felix perlahan.


Dia mau bicara apa?


Wajah Kimmy bagai tomat, merona. Dia merasa sangat malu. Mengalihkan pandangannya dan menarik tangan dari genggaman Felix.


"Sinetron ...." ujar Kimmy melanjutkan ucapannya, tersipu.


"Dasar korban ikatan rafia!" ujar Felix.


"Bukan aku yang nonton!" sahut Kimmy.


"Siapa?"


"Mama!"

__ADS_1


"Alah, kamu ikut nonton juga kan?" tebak Felix.


"Nggak!" sahut Kimmy tak mau kalah.


Mereka berdebat lagi sepanjang jalan, hingga berakhir saat pemandu mengajak mereka untuk makan siang di lokasi.


Malam itu, Felix merebahkan diri di atas tempat tidur. Usia mandi, Kimmy pun berbaring berjauhan dengan pria yang sedang menonton televisi.


"Ternyata ... Bos Pelix yang suka sinetron!" ujar Kimmy ketika melihat si Aldebardebar terpampang di layar.


"Hey, aku memilihkannya untukmu!" tukas Felix.


"Ganti saja dengan film Korea!" sahut Kimmy mengambil remote, lalu menggantinya dengan channel film Korea.


Baru beberapa saat sampai pada adegan ciuman di layar. Hal itu membuat Kimmy gelisah, malu.


Kenapa juga nggak selesai-selesai ciumannya!


Kimmy menggerutu dalam hati. Dia memutar kepala ke samping, melihat Felix yang tenang menonton melipat tangan, tapi sebenarnya pun merasa gelisah.


Tambah lagi adegan semakin panas tanpa sensor. Seolah hotel ini memang menyediakan channel tanpa sensor untuk paket bulan madu.


Kimmy menggigit bibirnya. Sementara, Felix merasakan ada sesuatu yang kaku di bawah sana.


Duh, gimana iniii? Batin keduanya.


Bau minyak aromatherapy yang dikhususkan untuk pria dan wanita dewasa memenuhi ruangan, menambah rasa gelisah pasangan suami istri itu.


Giliran Felix yang melirik Kimmy yang sedikit maju ke depan, menutup wajahnya. Pria itu menelan saliva saat melihat bibir Kimmy.


Klik! Klik!


Kimmy mencoba mengganti channel. Keduanya merasa agak lemas. Namun, ternyata diganti channel, film barat yang makin panas terpampang di layar, juga semakin membuat mereka menegang. Internet yang terhubung seolah sengaja tak ada penyaring aman anak di kamar itu. Pasrah menonton saat remote tak bisa lagi dipencet, entah kenapa, masalah baterai atau teknis. Diketuk-ketuk pun tak bisa memindahkan channel.


Keduanya menjadi sangat tegang mendengar desahan dan erangan dari layar televisi. Mereka menelan saliva dengan susah payah.


******


Haha halu yak, tak usah protes ....


******


Stop plagiarisme!

__ADS_1


Melanggar hak cipta orang lain masuk dalam UU nomor 19 tahun 2002 pasal 72 ayat (1) yang berisi hukum pidana maksimal 7 tahun dan denda maksimal 5 Miliar Rupiah.


__ADS_2