
"Astaga!" teriak Felix saat pulang kerja petang itu.
Dia melihat Kimmy sedang berolahraga dengan mengangkat Baby Lingga menggunakan kedua telapak kakinya ke atas dan ke bawah. Si balita nampak tertawa-tawa senang dirinya diangkat ke atas lalu ke bawah dengan pelan. Ngeri-ngeri sedap, jangan ditiru.
"Apa sih, Mas?" tanya Kimmy. Terpaksa dia menghentikan kegiatannya.
"Itu kalo Lingga jatuh gimana?" ujar Felix.
"Ah, nggak! Jangan bilang gitu, aku jadi takut!" Kimmy mendekap Lingga yang terdiam ketika 'permainan mengasyikkan dan menegangkannya' berhenti.
"Sayang, kamu ... ah, ya walau udah expert, tapi jangan pakai di kaki, di lutut saja ... lagian dia sudah satu tahun ...." ujar Felix menggendong baby Lingga.
Tak disangka, baby Lingga menangis kala sang papa mengambilnya dari gendongan mama.
"Iya, iya Sayang, jangan lagi roller coaster dengan kaki Mama, ya?" kata Felix menjewer teliga baby Lingga dengan lembut.
"Iya, maap Mas Pelix ...."
"Papa ...." ralat Felix yang ingin dipanggil papa oleh istrinya.
"Iya, maap, Papa ...." ulang Kimmy.
"Iya, Mama ...."
"Yuk, Papa bikinin susu ya, Sayangnya Papa?" ujar Felix menenangkan baby Lingga.
"Mama siapin air hangat buat mandi Papa, ya?" tawar Kimmy.
Felix mengangguk. Dia membawa baby Lingga ke kamar. Bayi yang selalu dirindukannya setiap berangkat kerja. Walaupun setiap harinya baby Lingga aman bersama sang mertua, Bu Amy, tapi tetaplah naluri seorang ayah merindukan anak kesayangannya.
"Mik ... mik ...." ucapnya sepatah-patah. Kedua matanya masih agak basah karena tangis.
Felix mengambil sebuah botol dan menuang air hangat serta susu formula ke dalamnya, kemudian mengaduk dan memberikannya ke baby Lingga.
ASI Kimmy telah berhenti keluar saat dia mulai meninggalkan Lingga untuk bekerja. Hingga harus digantikan dengan susu sambung. Namun, tak masalah bagi Felix. Istrinya tetaplah seorang ibu yang baik.
"Ma ... Mama mertua pulang jam berapa tadi?"
"Sekitar jam empat, pas aku pulang, Sayang! Ada acara di tetangga malam nanti, jadi Papa menjemputnya agak awal."
Kimmy membawakan secangkir kopi panas untuk Felix.
__ADS_1
"Makasih, Sayang."
Kimmy mengambil baby Lingga dari gendongan Felix. Bayi itu jadi rebutan Papa-Mamanya malam itu. Kimmy menidurkan baby Lingga yang nampak sudah mengantuk.
Felix menyeruput kopinya, lalu membuka dasi yang hampir mencekik lehernya seharian. Dia melepas dasi dan kemejanya. Mengganti baju dengan celana pendek, bersiap untuk mandi. Sudah terlalu malam, memang. Namun, Felix tak sempat mandi di rumah Tuan Key saat lembur tadi.
"Sepertinya air sudah hangat, Pa!" desis Kimmy.
"Oh, ya."
Felix membersihkan dirinya di kamar mandi. Air hangat mampu membuat otot-ototnya yang kaku menjadi agak kendor, membuat rileks.
Dia keluar dari kamar mandi dengan berbalut bathrobe. Menggosok rambutnya yang basah, hal itu nampak seksi, menurut Kimmy, sih.
"Besok aku menjemput Nona Susan di rumah sakit. Dia akan pulang malam karena ada operasi pertama dan termasuk operasi besar," ujar Felix.
"Lho, sopir rumah nggak bisa jemput, kah?" tanya Kimmy. Piring yang dia bawa diisinya dengan nasi hangat dan lauk dan dia taruh di atas meja makan untuk suaminya.
"Sopir rumah kan mau antar Pak Anton ke luar kota untuk bertemu dengan sahabat lamanya?" sahut Felix duduk dengan bathrobe-nya.
"Oh iya. Ish, ganti dulu lah, Pa!"
Kimmy melongo, mencoba menerka apa yang akan diperbuat suaminya itu.
"Mau itu?" tanya Kimmy.
Felix menganggukkan kepala, cepat-cepat menghabiskan makannya, bersemangat. Kimmy beranjak ke belakang, ke kamar mandi lagi. Menghangatkan air.
"Pas," ujarnya dari belakang.
"Pas ... apa?" tanya Felix.
"Ya pas, pas Papa selesai makan, pas hangat lagi airnya. Mau mandi lagi, 'kan?" tanya Kimmy duduk terperanjat lalu memijat punggung suaminya yang tersedak mendengarnya.
***
Keesokan harinya.
"Di, dokter baru itu sangat ramah dan bisa mendekati Adele," tutur Nyonya Erry pada dokter Diana yang menjadi temannya di saat sekolah dulu.
"Dia memang dokter magang yang paling pandai dan manis selama aku bekerja di sini," sahut dokter Diana memberesi alat tensimeter yang baru saja dia gunakan.
__ADS_1
Ruangan VIP itu telah dibersihkan. Aroma pembersih lantai sesaat menghilangkan bau khas rumah sakit. Adele tidur lelap setelah dokter memeriksanya.
"Namanya ...." Nyonya Erry mencoba mengingat-ingat.
"Susan," jawab dokter Diana. "Dia juga akan ikut dalam tim operasi kita nanti."
Nyonya Erry kembali sayup, dia memegang tangan anaknya. Melupakan soal Susan dan teringat akan nyawa anaknya yang akan ditentukan hari ini. Dia memegang tangan anaknya dan tak mendengar ucapan permisi dari dokter Diana.
Saat terhimpit seperti itu, pasti orang akan mengingat akan Tuhannya. Nyonya Erry pun ingat bahwa dokter Susan pernah mengatakan sebuah kekuatan doa. Dia melepas pegangan tangan, lalu membuka tas dan mengeluarkan sebuah peralatan ibadah dan cepat-cepat ke sebuah musholla yang terletak di dalam rumah sakit karena sebentar lagi waktu habis.
Nyonya Erry menangis saat berdoa untuk kesembuhan anak pertamanya itu, berharap penuh dan pasrah pada-Nya. Dia merasa ringan saat menyerahkan semua pada Sang Pencipta.
Susan datang pagi itu. Dia membuka pintu ruangan dokter Putra setelah mengambil baju dokternya yang bersih dari loker. Susan memilih menyerahkan pada seorang penatu rumah sakit karena membawa seragam dokter takut membawa virus dari rumah sakit ke rumah. Beberapa dokter berlaku seperti Susan. Namun, ada juga yang membawa seragamnya pulang untuk dicuci di rumah.
Kemudian setelah menata meja dokter Putra yang masih dinas di luar kota, dia masuk ke ruangan dokter Diana.
"Selamat pagi, Bu Diana. Bagaimana kabar Anda hari ini?" sapa Susan dengan senyum lebar.
"Baik, Susan. Kamu siap untuk operasi siang ini?" tanya dokter Diana.
"Siap, Bu!" sahut Susan. Walau jantungnya berdegup kencang saat itu, tapi mau tak mau dia harus siap. Sebagai dokter, hal itu harus dia lakukan.
***
Hari itu juga.
Yoshua turun dari pesawat, mengedarkan pandang ke sekeliling. Menghirup udara di bandara serakusnya. Dia merasa berhak atas itu, karena tanah air itu miliknya dan udara yang dirasanya berbeda dari negeri lain, gratis dia dapatkan sebanyak dia mau.
Lelaki itu berjalan ke area Baggage Claim, dimana koper-koper akan diambil oleh pemiliknya. Seorang porter menawarkan diri untuk membawakan kopernya, tapi Yoshua menolak. Alasannya dia bisa membawanya sendiri karena hanya satu koper besar dan satu tas yang dia bawa.
Sesampainya di sana, Yoshua mendapatkan barang-barangnya dan membawa menggunakan sebuah troli untuk membawanya ke pangkalan taksi.
Yoshua mendapatkan taksi dengan sopir pria yang sangat ramah. Sepertinya dia berasal dari kota setempat.
"Ke Panti Asuhan Sayang Bunda jalan Mangga nomor sembilan, Pak!" pintanya, menyebut alamat yang sangat dia hapal.
"Baik," sahut sang sopir menjalankan taksinya.
******
__ADS_1