Cintai Aku!

Cintai Aku!
Oalah, Yon.


__ADS_3

Tiga hari kemudian pasca operasi.


Yoshua menggerakkan tubuhnya yang tulang punggungnya dinyatakan retak itu sebisa mungkin. Di ruang VIP rumah sakit tulang terbesar itu dia berbaring ditunggui oleh Bu Anna.


"Tunggu pemulihan, Yosh. Kamu harus makan banyak. Lalu minum obatnya."


Bu Anna melarang setiap kali Yoshua ingin bangun. Tubuh Yoshua belum pulih benar. Dokter menyarankan agar dia istirahat total.


"Bu, aku harus menemui Susan."


Mata Yoshua menatap Bu Anna dari balik kacamatanya. Dia mendapatkan kacamata baru karena kemarin kacamatanya terlempar dan pecah saat melompat agar Susan jatuh di atas tubuhnya.


"Iya, tapi kondisimu seperti itu, Yosh. Bertahanlah dulu agar membaik. Susan sudah ditangani oleh dokter-dokter handal."


Pandangan Yoshua menerawang. Tiba-tiba dia teringat sesuatu. Cincin! Yoshua tak ingat di mana dia meletakkan kotak cincin itu. Baju yang dia kenakan pun telah berganti.


"Bu, Ibu lihat kotak cincin warna merah di sakuku kemarin waktu aku pingsan nggak, Bu?" tanya Yoshua penuh harap.


Namun, harapan itu nampaknya pudar. Wanita yang duduk di sebelahnya itu mengerutkan dahi dan menggelengkan kepala.


"Maaf, Yosh. Ibu nggak tau."


Lelaki muda itu hanya menghela napas. Rasa kecewa merayapi hati. Dia membelinya dengan uang yang dikumpulkan selama beberapa bulan. Tak hanya itu, cincin itu untuk perantara lamarannya. Namun, mau gimana lagi.


Yoshua hanya berpasrah jika cincin itu hilang. Mungkin memang belum waktunya.


***


"K-kenapa ini?!" jerit seorang pria paruh baya, bernama Jonathan menatap layar komputernya. Pagi itu dia baru saja pulang dan memeriksa perusahaan dari rumah.


Grafik penjualan menunjukkan nol. Hampir seratus persen perusahaan lain memutuskan kerjasama dengan perusahaan mereka. Saham pun anjlok. Keringat pria itu bercucuran. Tangan dan kakinya menjadi dingin. Dia mencoba untuk tenang, berpikir bahwa terjadi kesalahan pada layar komputernya.


"Ma, dimana Dion?"


"Entah, Pa. Dia belum pulang sejak kemarin."


Nyonya Erren menaruh secangkir teh di atas meja untuk suaminya. Meski kepulan asap dari teh menebarkan wangi, tapi pria itu bergeming tak menyentuhnya.


"Telepon dia, Ma!" bentak pria itu.


"I-iya, Pa. Papa kenapa sih?"

__ADS_1


"Cepat, Ma!"


Tak sabar pria itu ingin menanyakan tentang apa yang dia lihat di layar komputer pada anaknya. Anak satu-satunya yang dia titipi perusahaan.


Nyonya Erren mengambil ponselnya, tapi saat dia melakukan panggilan pada anaknya, tak juga diangkat. Wanita itu menghela napas kasar. Suaminya sedang panik, membuatnya juga ikut panik. Dia pun berlari keluar ruangan, menemui siapapun yang saat itu berada di rumah.


"Mbak. Mas Dion mana?"


Pelayan yang waktu itu ikut menghadang Key dan Felix nampak pucat. Namun, dia harus memberitahukan apa yang terjadi tiga hari yang lalu. Semua masih belum berani memberitahu tuan dan nyonya mereka. Keadaan rumah seperti baik-baik saja. Jadi, tak ada yang curiga.


"M-maaf, Nyonya. Mas Dion ditangkap polisi. Dia—"


Nyonya Erren yang mendengar itu, menjatuhkan ponselnya ke lantai dan mencengkeram lengan pelayan.


"Apa maksudmu!"


"Maaf, Nyonya. Mas Dion—"


Pembicaraan itu terhenti ketika tiba-tiba dua orang polisi dan satpam depan memasuki rumah dan menemui orang tua Dion.


"P-permisi, Nyonya. Para polisi ini ingin menemui Tuan dan Nyonya."


Wajah Nyonya Erren pucat. Dia tak mengikuti berita, karena ingin bersenang-senang dengan suaminya selama tiga hari kemarin. Namun, bukan senang yang dia dapatkan, ternyata pagi itu dia dihadapkan pada kenyataan yang mencengangkan. Anak lelaki yang dibangga-banggakan terbukti melakukan percobaan pemerkosaan pada seorang dokter muda bernama Susan di rumahnya dengan dalih mengobati ibu si pelaku menurut kesaksian korban. Lalu, karena terhimpit, dokter Susan melompat dari balkon. Dion terkena beberapa pasal, penipuan, percobaan pemerkosaan, penganiayaan, dan percobaan melarikan diri.


"Masa Dion melakukan kriminal seperti itu? Dia anak yang baik ...." protes Nyonya Erren pada kedua polisi. Sementara sang suami sudah terduduk dengan wajah yang sangat pucat, berkali meraup wajahnya.


"Anak Anda berurusan dengan Tuan Key Bajra, kakak korban sekaligus saksi dari peristiwa ini."


Dua pasang mata itu terbelalak mendengar nama yang disebut, dan dengan mudah menebak apa yang terjadi pada perusahaan mereka.


"A-apa benar T-tuan Key datang ke sini?"


Pria paruh baya itu menatap ke arah polisi itu tak percaya.


"Ya. Karena anak Anda berurusan dengan adik Tuan Key, maka dia datang mencari adiknya."


"Tuan Key? Siapa?" Nyonya Erren merasa pernah mendengar nama itu, tapi karena kesibukan sosialita membuatnya tak memperhatikan hubungan perusahaan suaminya.


"Pengusaha terkuat. Habislah kita, Ma."


Dengan lemas Tuan Jonathan terpaksa pasrah diakibatkan kelakuan anaknya. Sedangkan Nyonya Erren hanya termangu menyadari siapa dokter Susan.

__ADS_1


"Oalah, Yon ... Dion."


***


"Sampah! Kenapa keledai sepertimu ingin memperkosa adikku!"


Sebuah tendangan mengenai rahang Dion. Dia terkapar di sebuah ruangan yang hanya ada dirinya dan pria yang dikabarkan menjadi momok bagi para pengusaha jika berurusan buruk dengannya.


"S-saya tidak tahu kalau Su-susan itu adik Anda, T-tuan Key yang terhor—"


Dugh!


Kembali sebuah tendangan mengenai rahang kiri Dion. Serasa nyeri. Sepertinya tulang rahang itu meleset. Darah mengalir dari lubang hidungnya. Kedua matanya telah membiru dihantam berkali-kali oleh Key.


"Jawaban kriminal! Jika dia bukan adikku, kamu boleh semena-mena begitu!"


"T-tidak—"


"Tidak apa! Tidak salah??" Key melotot dengan tajam. "Anak bau kencur. Perusahaanmu baru naik satu peringkat ke atas, kan tahun lalu? Gayamu udah selangit!"


"Maaf ... maafkan saya, Tuan Key. Saya akan memperbai—"


Dugh!


"Apa perbaikan yang bisa kamu lakukan!! Lihat adikku sekarang trauma karena perbuatanmu!" Dengan geram Key mendepak dagu Dion lagi.


Hampir tak ada bagian tubuh Dion yang tak terkena tendangan Key. Dia sangat geram. Apa yang didapat Dion belum tentu bisa menggantikan rasa trauma Susan. Belum lagi lama pemulihan retak dan patah tulang di tubuh Susan.


"S-saya akan bertanggung jawab, Tuan."


Nada suara Key agak melunak mendekat ke telinga Dion. "Dengan apa kamu akan bertanggung jawab, eh?"


"S-saya mau menikahinya."


Agak yakin Dion bisa melunakkan hati Key dengan niatnya bertanggung jawab.


"Haha-haha! Apa katamu? Menikahi adikku? Kamu pikir kamu siapa, Hah? Andaikan acara pemerkosaanmu kemarin berhasil dan adikku mengandung anakmu, aku bersumpah akan membunuhmu sebelum kamu berniat menikahinya!"


Dion mendadak pucat. Dia tambah ketakutan mendengar kecaman dari Key. Terasa amarah Key meluap-luap lagi.


"Jangan harap kamu terlihat lagi!" ancam Key tepat di telinga Dion.

__ADS_1


******



__ADS_2