
Amoy meneguk jus lemonnya banyak-banyak setelah sandwich yang dia pegang habis tak bersisa.
Tiba-tiba sebuah ide terbersit di benaknya. Amoy mengambil ponsel dari tas, kemudian mengarahkan kamera pada dirinya sendiri, berpose secantik mungkin.
Cekrek!
Amoy tersenyum sendiri saat melihat foto dirinya terlihat sangat menarik dengan fitur mempercantik diri.
Tuk ... tuk ... tuk!
Diketiknya pesan untuk Felix, beserta foto yang baru saja dia ambil di cafe tempat mereka bertemu pertama kalinya.
Terkirim!
Amoy kemudian menghabiskan waktu di cafe itu sambil menunggu balasan dari Felix.
*
Ting!
Sebuah pesan masuk ke ponsel Felix. Pria yang sedang mengamati layar komputer itu menatap ke layar ponselnya, lalu membuka pesan.
[Hai, aku berada di cafe lho!]
"Hmm ...."
Felix mengamati foto itu kemudian meletakkan ponselnya kembali di atas meja. Mencoba untuk tak perduli. Namun, pekerjaan pun tak juga selesai karena sempat terbersit semua tentang gadis yang bernama Amoy itu.
Felix menggelengkan kepalanya sendiri, mengenyahkan pikiran tentang si wartawan berita, tentang ucapan rasa suka gadis itu terhadapnya, tentang kesan pertama kali mereka bertemu. Kenapa dia langsung terbuka pada Amoy.
Pria itu meraih ponselnya lagi dan membalas pesan si gadis yang masih tertegun, kesal di dalam cafe.
*
Ting!
Amoy terlonjak saat melihat ke layar ponsel. Hampir saja ia tertidur di dalam cafe jika ponsel itu tak berbunyi. Gadis itu melihat siapa yang mengiriminya pesan.
Rasa kesalnya berubah menjadi senyuman saat melihat nama Felix di layar.
[Lalu?]
Raut wajah Amoy berubah masam membaca satu kata yang dikirimkan oleh pria itu. Namun, seolah watak haus berita itu bagai sudah mendarah daging pada dirinya, termasuk dalam hal cinta. Dia malah makin penasaran dengan Felix.
[Bisakah kita bertemu lagi? Aku kangen.]
Kirim!
Kembali lagi ke kejadian semula. Pria itu tak kunjung membalas pesannya.
Amoy pun bosan di tempat itu. Melambaikan tangan pada pelayan kemudian membayar semua makanan dan minuman. Setelah selesai, dia beranjak membawa tasnya lalu bergegas masuk kembali ke mobil. Mencari sebuah berita baru.
__ADS_1
Ponsel kembali berdering.
Gadis itu dengan tak sabar meraih ponsel tapi kemudian mengerutkan dahi melihat ke layar. Sang pemimpin redaksi meneleponnya.
"Apa lagi ...." keluh Amoy. Tak ayal, diangkatnya juga panggilan si bos.
"Halo, Pak!"
"Amoy! Sebentar lagi asisten Tuan Key Bajra dari perusahaan Sinar Group akan keluar gedung, para wartawan sedang berkumpul di sana! Mereka menunggu untuk mencari informasi langsung tentang produk baru dari perusahaan mereka! Cepat kamu pergi ke sana! Jangan loyo! Bawa berita bagus!"
Klik.
Telepon ditutup sebelum Amoy menjawabnya.
Fyuh!
Amoy sedikit mengembuskan napas, mencoba mengatur emosi. Dia mempercepat laju mobilnya ke arah gedung yang dimaksud.
Mobil tua itu berjalan lambat saat melewati sebuah gedung terbesar di kota. Logo SG berkilauan. Para wartawan memang sedang berkumpul di depan dan ... beberapa orang sedang keluar dari gedung untuk memberikan informasi.
Amoy segera memarkir mobil, menunjukkan kartu identitas pada satpam kemudian berlari membawa atribut perekamnya.
Gadis itu menyeruak di kerumunan para wartawan dan terhenyak melihat siapa yang berada di depannya, sedang memberikan klarifikasi terkait produk elektronik terbaru yang akan diluncurkan di pasar.
"Fe-Felix?" gumamnya.
Amoy pun lupa akan tugasnya. Hanya termangu menatap pria yang nampak bertambah keren itu.
"Hah?"
Amoy mengedipkan mata, tersadar saat semua orang telah meninggalkan pelataran gedung. Dia menatap ke dalam kemudian bola matanya bergulir ke atas, membacanya nama gedung itu lagi walau sudah jelas tadi di matanya.
"Ah, sial. Aku tak mendapatkan sedikit berita pun!" gumamnya tersadar, tapi tak lama dia tersenyum.
"Felix ... Felix ... Felix ...."
Dia menggumamkan kata itu tiga kali sambil menghentakkan kaki.
"Katanya jika memanggil orang tiga kali dengan menghentakkan kaki, orang itu akan muncul!" ujarnya konyol.
Namun, hal absurd itu tak mungkin seratus persen akan terjadi. Amoy hanya sedang dilanda perasaan senang mengetahui dimana Felix bekerja.
Sekarang dia merencanakan sesuatu. Gadis itu masuk ke mobilnya dan menunggu. Ya, satu-satunya jalan mencari tahu adalah menguntit.
Seorang wartawan akan mempertaruhkan nyawa hanya demi sebuah berita. Amoy berpikir bahwa dia tak hanya akan mendapatkan Felix, tapi juga berita semua hal tentang perusahaan atau ... keluarga pemilik perusahaan yang tak diketahui publik.
Hingga sore hari, saat Amoy terkantuk-kantuk menunggui pria idamannya, muncullah pria itu dengan seorang yang sepertinya sangat terkenal itu, Key Bajra.
"Ah, Tuan Key keren sekali. Bahkan lebih keren daripada yang terlihat di media!" gumam Amoy memuji, tapi kemudian dia fokus lagi pada Felix.
Dia mulai mengikuti mobil itu hingga melintas ke rumah elit Key.
__ADS_1
"Felix! Apa kamu tidak merasa diikuti mobil tua tadi?" tanya Key saat memasuki rumah dengan mengedarkan pandang ke luar gerbang.
"Sepertinya, iya. Coba saya cek, Tuan!"
Key mengangguk, kemudian masuk ke rumah. Sementara itu, Felix mengambil pistol dan membawanya ke depan gerbang. Dia tak melihat sebuah mobil pun yang mencurigakan.
Felix kembali masuk.
Amoy tertawa dengan senang saat pria itu tidak menemukan mobilnya di samping tembok minimarket ujung jalan.
"Pasti akan kutangkap kau, Felix!"
Amoy kembali menunggunya.
*
"Wah, Bos masuk tipi!" sambut Kimmy saat melihat ke layar televisi di ruang kerja.
Felix berwajah datar dan tak mengucap apapun, tapi tetap saja merasa hebat mendengar sambutan Kimmy. Pria itu menatap ke layar juga di balik kacamata hitamnya.
Tiba-tiba wajahnya pias seketika melihat seseorang yang dia kenal tertangkap di layar dengan wajah melongo.
"I-itu ... Amoy!" desis Felix.
"Siapa, Bos Pelix?" tanya Kimmy.
"Eh, bukan siapa-siapa ...." jawab Felix. Namun, dia tetap merasa gelisah.
"Hmm ...." Kimmy hanya mengangkat alis dan menatap ke layar televisi lagi.
"Eh, Bos Pelix, besok Sabtu aku ...."
"Kamu tidur lagi di apartemenku, ya! Kalau bisa malam ini!" sahut Felix memotong ucapan Kimmy.
Dia merasa harap-harap cemas jika si Amoy akan menemukan apartemennya.
"Jumat malam ini?" tanya Kimmy.
"Iya! Kamu bisa bilang pada Nona Bianca mau pergi ke desa. Bukankah katamu waktu itu dia bilang akan memberimu banyak waktu lagi untuk berkunjung ke desa?" bisik Felix mendesak, dia sangat takut jika malam itu juga Amoy menemukan apartemennya.
Kimmy mengangguk pelan. Memang itu yang mau ditanyakan pada Felix. Namun, pria itu malah sudah memberi jawaban tanpa ditanya.
Felix pikir, jika ditemani oleh Kimmy yang sudah dikenal, akan membantu kalau-kalau si Amoy itu mendadak merayu satpam dan mengetuk pintu apartemennya. Karakter Amoy adalah wanita yang nekat.
Dalam hal pekerjaan, Felix adalah orang yang berani, hebat, tapi kalau dalam hal wanita, apalagi dia agresif, jangan ditanya. Felix bukan ahlinya.
******
Stop plagiarisme!
Melanggar hak cipta orang lain masuk dalam UU nomor 19 tahun 2002 pasal 72 ayat (1) yang berisi hukum pidana maksimal 7 tahun dan denda maksimal 5 Miliar Rupiah.
__ADS_1