
Makasih banyak yang udah like dan vote, terlebih komentar-komentar baik kalian membuatku semangat, semoga Tuhan membalas kebaikan kalian semua ya kesayangan ....
******
"Kyaaaa!!!" teriak Kimmy tepat di telinga Felix yang sedang berupaya memindahkan kaki gadis yang menindihnya itu ke tempat tidur dengan hati-hati.
Akhirnya, niat hati-hati itu jadi kekesalan karena telinganya yang sakit.
"Huh! Apa sih? Siapa yang menindih, siapa yang teriak?" ujar Felix. Dia menyingkirkan kaki mulus Kimmy dengan kasar.
"Kenapa Bos Pelix membongkar bentengku!" Bola mata Kimmy beredar ke bawah, melihat bantal dan gulingnya berserakan di sana. Lalu berlanjut bergulir ke tubuhnya, memeriksa kelengkapan organ tubuh.
"Hey, jangan asal nyablak. Lihat dulu siapa yang melintasi batas! Kamu tadi berada di kawasanku, kan!" balas Felix sengit. Pria itu mengendus sesuatu yang tak enak di kaos.
"Dasar kerbau! Udah tidurnya berantakan, tambah lagi ilernya menganak sungai!" tambah Felix, mengibaskan telapak tangan, tak tahan dengan baunya.
Wajah Kimmy memerah.
"Maap, Bos Pelix! Aku tak tau gaya tidurku sendiri."
Kimmy menunduk dan menutup tubuhnya dengan selimut.
"Makanya, kalau tidur sering-sering bangun, biar tau posisi! Dasar gadis aneh! Sudah! Aku mau mandi dan berangkat kerja! Cutiku hanya sehari kemarin saja!" ujar pria itu. Sebenarnya dia merasa kedinginan, tapi kewajiban juga harus dilaksanakan.
"B-baik, Bos! Aku siapkan air hangat, ya?"
"Ya sana!"
Pagi itu, Kimmy bergegas menyiapkan air hangat untuk Felix. Sementara pria itu mengikutinya dan mengambil handuk dari jemuran.
Kimmy masuk ke dapur lalu mengisi panci dengan air jernih dari dalam sebuah ember besar. Kemudian dia menyalakan kompor tungku untuk menjerang air. Felix memperhatikan semua yang dilakukan gadis itu. Dia begitu cekatan mengerjakan pekerjaan rumah tangga.
Felix mengambil sebuah bangku kecil, memilih untuk duduk di depan tungku yang hangat, menghangatkan tubuhnya yang kedinginan. Dia mulai memikirkan sesuatu.
"Kita buat perjanjian," ujarnya tiba-tiba mencetuskan ide.
"Apa, Bos?"
Kimmy sedang menghaluskan bumbu untuk membuat nasi goreng, menengok ke arahnya.
"Pertama, kita boleh menjadi suami istri, tapi jangan sampai ketahuan orang lain."
Pria itu mengacungkan jari telunjuk, kemudian disusul jemari lainnya.
"Kedua, urusan cinta, kita boleh menjalani sendiri-sendiri. Kamu boleh mencintai orang lain, begitu juga aku."
"Trus?" tanya Kimmy yang masih memasak.
"Selama menikah, mengakulah sebagai adik sepupu jika ada temanku yang datang, ya?"
Tiga jari Felix seperti menunjukkan finish.
"Memangnya kita menikah sampai kapan?" tanya Kimmy dengan mata membulat.
Felix menghela napas, "Entahlah."
Pikirannya menerawang kembali ke kisah lama Tuan dan Nonanya. Cinta karena terbiasa.
__ADS_1
Wah, tidak!
"Hanya itu?" tanya Kimmy seraya memasukkan bumbu ke dalam minyak panas di dalam wajan. Baunya langsung harum menyebar, membuat pikiran Felix pun ikut buyar.
Pria itu mengendusnya, "Harum sekali."
"Bos? Hanya itu?" ulang Kimmy.
"Iya! Jika ada yang lain, boleh menyusul."
Felix menunjukkan jari kelingkingnya ke Kimmy.
"Baiklah!"
Kimmy menyambut jari kelingking itu sebentar, kemudian melanjutkan masaknya.
Felix kemudian masuk ke kamar mandi setelah air menuang air mendidih ke dalam ember besar. Lima belas menit di dalam kamar mandi, pria itu berteriak.
"Aaaaargh!"
Kimmy langsung berlari ke kamar mandi. Semua anggota keluarga sudah bangun saat itu.
"Kenapa, Bos Pelix??" tanya Kimmy menggedor pintu kamar mandi.
"Jangan bilang Bos terpeleset dan jatuh terbentur!"
Felix menggeram di dalam kamar mandi. Sementara Kimmy terus menggedor pintunya.
"Jawab Bos! Masih sadar kah??"
"Kimmy kenapa?" tanya Bu Amy dan Pak Luki.
Ceklek.
Pintu kamar mandi terbuka dengan seorang pria yang hanya memakai handuk dengan cuek.
"Ah, Kimmy! Tutup suamimu itu!"
Bu Amy berbalik dengan cepat. Kimmy menatap ke dada pria itu.
"Kotak-kotak," gumamnya lalu menutup matanya.
"Apa katamu??" tanya Felix.
"Eh, nggak, Bos. Lupakan. Bos kenapa tadi berteriak dan hanya pakai handuk??" tanya Kimmy menunduk masih menutup matanya.
"Hey, bajuku jatuh dan basah semua! Sial sekali!" jawab Felix masih di depan pintu.
"Tutup dulu pintunya! Aku ambilkan baju!" teriak Kimmy.
"Jangan bilang kamu akan meminjam baju papamu!" bisik Felix.
Kimmy mendesah.
"Iya, tentu saja baju Papaku akan sobek jika kamu pakai, Bos!"
Gadis itu bergegas melangkah ke kamar, mencari pakaiannya yang besar.
__ADS_1
"Nah, ini saja, lebih baik bajuku yang molor daripada mengorbankan baju Papa," gumam Kimmy.
"Ini, Bos!"
Kimmy menyerahkan baju itu sembari menutup matanya saat Felix membuka pintu kamar mandi.
"Sini, cepat. Aku bisa terlambat menjemput Tuan Key. Habis ini aku masih harus mampir ke apartemen."
"Iya, Bos. Iya ...."
Felix membawa masuk baju itu dan merentangkannya di dalam kamar mandi.
"Baju apa ini? Ah, sudahlah pakai saja, daripada menyita banyak waktu, aku bisa terlambat!
Sebentar kemudian, Felix keluar memakai baju yang diberikan oleh Kimmy lalu keluar memanasi mobilnya.
"Pagi, Tuan Felix!" sapa tetangga depan menahan senyum.
"Pagi, Bu."
Felix menjawab sapaannya. Tetangga itu terlihat terburu masuk ke rumahnya.
Pria itu mengerutkan dahi lalu masuk ke dalam rumah. Di dalam, para adik Kimmy sudah antre ke kamar mandi. Mereka pun juga akan berangkat ke sekolah. Meski masih sangat pagi, ternyata anak-anak itu semangat bangun.
"Bang Felix, udah mandi?" sapa Raka, adik bontot Kimmy. Dia mengangkat alis melihat baju yang dikenakan kakak iparnya itu.
"Udah, Raka."
Felix tak memperhatikan cara Raka memandangnya. Dia hanya ingin bergelut dengan waktu.
"Bos, makan dulu," kata Kimmy menata meja makan. Nasi goreng ayam yang hangat sudah tersedia di atas meja. Kimmy sedikit melirik pria itu. Baju yang dia berikan dipakai juga. Kimmy menahan tawa. Namun, mau bagaimana lagi, hanya baju itu yang paling besar. Pria itu pun tak mau meminjam barang milik mertuanya.
"Ya," jawab Felix lalu duduk di kursi.
Dia segera menghabiskan makan pagi yang diambilkan oleh Kimmy.
"Aku berangkat dulu!" pamit Felix usai sarapan.
"Oh ya, aku bilang ke Papa dan Mama dulu."
Felix telah bersiap di ruang tamu. Kedua orang tua itu menatap Felix dari atas ke bawah dengan geli.
Seorang pria muda gagah memakai baju ketat warna pink bergambar kelinci, terlihat sebagian perutnya. Masih dengan celana pendek Kimmy yang jadi celana mini sewaktu dipakai Felix.
"Papa, Mama, aku berangkat dulu, ya?" pamit Felix.
"Cium tangan!" desis Kimmy.
Felix mencium tangan keduanya.
"Hati-hati, Felix! Nanti pulang ke sini jangan lupa bawa baju yang banyak, ya?" gelak mereka.
Sayang gelak keduanya membuat Felix terperanjat. Bukan karena baju yang dipakai, melainkan kata pulang ke rumah itu.
"Aku harus pulang ke sini lagi??" gumamnya tak percaya.
******
__ADS_1
Stop plagiarisme!
Melanggar hak cipta orang lain masuk dalam UU nomor 19 tahun 2002 pasal 72 ayat (1) yang berisi hukum pidana maksimal 7 tahun dan denda maksimal 5 Miliar Rupiah.