
Malam itu, Felix bisa tidur dengan nyenyak di sofa dan Kimmy tidur di dalam kamar. Gadis itu terlampau lelah mengerjakan pekerjaan-pekerjaan rumah di apartemen seharian.
Sedangkan Felix bisa tidur enak karena hari itu dia bebas dari Amoy dan merasa nyaman di rumah yang sudah rapi dan harum, dengan perut kenyang.
*
Keesokan hari pada hari Sabtu, Felix masih harus berangkat kerja. Ketika bangun, segalanya sudah siap.
Baju yang telah disiapkan di atas meja seterika, bau kepulan masakan yang sedap dari dapur, dan air yang hangat untuk dia mandi. Handuk-handuk pun telah berganti. Kamar mandi? Jangan ditanya. Kinclong maksimal.
Felix bangun dengan perasaan segar. Dia menggeliat, merenggangkan otot-otot tubuhnya. Memposisikan diri duduk dan mengelus tengkuk sambil menguap lebar.
Meski tidur di sofa, tapi tidurnya berkualitas.
"Bos Pelix, air hangat udah kusiapkan di dalam kamar mandi. Cepat digunakan!" teriak Kimmy dari dapur.
Terdengar suara panci yang digosok dan piring yang kesat, meyakinkan Felix bahwa gadis itu sedang mencuci peralatan dapur.
"Ya!" jawabnya masih dengan duduk dan menyangga dagu.
"Batrenya tak habis-habis sih gadis itu!" gumam Felix, berjalan menyambar handuk kimono warna merah maroon yang harum pewangi seterikaan.
"Bahkan handuk saja dia seterika!"
Felix menggelengkan kepala. Pria itu mengguyur tubuhnya dengan air hangat. Agak aneh terasa, tapi karena sudah disediakan, dia menghargainya.
Bau wangi sabun cair beraroma tea tree oil memenuhi dalam kamar mandi, seiring air hangat yang menguap saat diguyurkan ke tubuh.
Felix keluar dengan khas mengeringkan rambut yang basah beraroma shampo lelakinya.
Mengendus bau sayur daun ketela dan sambal, pria itu tak langsung memakai baju ganti, tapi malah duduk di kursi meja makan masih berbalut handuk kimono.
Kimmy melotot heran.
"Bos Pelix nggak ganti baju dulu?" tanyanya.
"Keburu lapar," jawab Felix menyendok sayur dan nasi yang mengepul.
Sudah terbayangkan semua itu masuk ke perutnya, pasti membuat hangat dan nyaman setelah sisa kemarin dia keluarkan di toilet tadi.
Kimmy hanya memutar bola matanya melihat kelakuan Felix. Dia membiarkan pria itu memakan sarapannya. Segelas susu tersedia juga di sampingnya.
Felix belum meminum susunya saat melirik ke ujung meja makan. Di sana telah ada mangkuk yang sendirian. Pria itu penasaran dengan isi mangkuk itu saat Kimmy masuk ke kamar mandi.
"Wah, ini sarapan gadis itu! Aneh sekali, bubur apa ini?" gumamnya.
Pria yang mulai iseng itu, menyendok sedikit lalu mencicipinya.
"Rasanya agak aneh! Huh, kenapa wanita aneh-aneh dengan makanannya? Udah menu beda, sangat sedikit pula!"
Felix mengangkat mangkuk itu dan mengamati seluruh bagiannya.
Kimmy masih belum mengguyur tubuhnya. Dia keluar dengan perasaan lega. Sepertinya habis buang hajat.
Dia lalu membawa cermin dan kuas kemudian duduk di depan mangkuk. Dahi Kimmy mengernyit saat melihat sendok di dalam mangkuknya.
__ADS_1
"Kamu itu sarapan apa? Aneh banget rasanya!" komentar Felix.
Kimmy mengembuskan napas, menemukan pelaku yang meletakkan sendok di dalam mangkuknya.
"Bos Pelix nyicipin?" tanya Kimmy mengangkat alis.
"Iya! Dasar wanita, sarapan pun bawa cermin!" omelnya.
Kimmy hanya diam, dengan santainya menyingkirkan sendok dan memasukkan kuas ke dalam mangkuk, lalu mengoleskan ke wajahnya.
Felix tersedak melihat itu dan segera meneguk habis susunya.
"Aaargh, sialan. Apa yang masuk dalam perutku?" omelnya sambil mengelus perutnya.
Kimmy masih bisa tertawa sebelum maskernya teraplikasi sempurna dan mengering.
"Eh, Bos Pelix, aku mau tau kenapa Bos terlihat ketakutan sekali pas waktu Amoy berada di rumah ini?"
Kimmy memulai bertanya dengan deretan gigi atas bawah yang menempel. Rasa dingin di wajah membuatnya nyaman.
"Dia itu agresif," jawab Felix singkat. Pria itu kembali menyendok sayur ke piringnya.
"Jadi Bos Pelix takut jadi bawa-bawa aku?" tanya Kimmy agak melotot.
"Aku bukan takut, bisa saja aku hadapi sendiri. Hanya takut ada orang yang salah paham, eh ...."
"Orang itu siapa?" tanya Kimmy hampir mau mengerutkan dahi tapi tak jadi mengingat cairan kental yang telah rata di wajahnya.
"Emm ... pedas sekali sambalnya!" seru Felix mengalihkan pembicaraan.
*
Felix mengelap mulut usai piringnya kosong, tandas tak bersisa, lalu beranjak mengambil baju ganti. Kimmy sudah menghafal apa yang akan dikenakan oleh pria itu.
Felix menyisir klimis rambutnya ke belakang. Dia mematut diri di cermin, memalingkan wajah. Agak lama dari biasanya.
"Apa aku terlihat tua?"
Tak biasanya dia perduli dengan hal itu. Pikiran itu buyar saat melihat jam di dinding. Dia harus segera berangkat kerja.
"Aku berangkat dulu ya!" pamit Felix.
"Hmm ...." jawab Kimmy sambil mencuci piring.
"Kenapa kamu ham hem ham hem?" tanya Felix.
"Aku baru pakai masker! Kalo banyak ngomong, nanti ... ah! Rusak kan?" keluh Kimmy kesal.
Felix menarik bibir ke belakang dan mengangkat alis. Dia segera menutup pintu dan meninggalkan ruangan itu sebelum amarah gadis itu meledak.
*
Gedung Sinar Group makin bersinar saat inovasi produk baru diluncurkan. Pasar mulai meminta pengiriman produk itu karena permintaan konsumen yang cukup besar, penasaran ingin mencoba hal baru.
"Weekend ini kita harus lembur, Felix!" ujar Key.
__ADS_1
Felix hanya mengangguk patuh. Kesetiaannya untuk siapa lagi kalo bukan untuk perusahaan ini? Pikirnya.
Lagian, di apartemen sudah ada yang menjaga, kan?
Jadilah seharian itu Felix bekerja penuh waktu hingga malam tiba.
"Jam setengah delapan malam, kamu boleh pulang, Felix!" ujar Key mengangkat tangan agar lengan bajunya terangkat sedikit untuk melihat jam di pergelangan tangannya karena melihat Felix gelisah.
"I-iya, Tuan. Baik!"
Key menggelengkan kepala melihat si asisten.
"Kamu udah mulai punya kekasih? Ini malam minggu dan kamu gelisah!" ujar Key.
"Bukan begitu, Tuan!" jawab Felix.
Tiba-tiba Felix teringat akan Kimmy yang ingin pulang ke desa.
"Oh, kukira kamu mulai punya gebetan," kata Key santai.
Ah, Tuan Key mulai memakai kata 'gebetan' segala!
"Saya pulang dulu, Tuan Key!"
Felix mengangkat tas kemudian membawa masuk ke mobil setelah Key mengijinkannya pulang.
Mobil melaju dengan kencang setelah keluar dari gerbang.
Key melirik secangkir kopi yang utuh, tak disentuh sedikitpun oleh pemiliknya.
"Pasti begitu pentingnya urusan Felix, hingga orang itu melupakan minumannya," desis Key.
*
Felix sampai lampu merah saat mengelus tenggorokannya yang terasa kering. Dia menyesali kenapa terburu-buru meninggalkan cangkir kopi yang telah diisi penuh oleh Hana tadi.
Pekerjaan mampu membuatnya lupa dengan kerongkongan.
Felix menatap ke sebuah cafe. Dia memiringkan bibirnya sedikit. Teringat akan tempat itu dimana pertama kali bertemu dengan Amoy. Malas sekali untuk mampir, tapi hanya cafe itu satu-satunya di pinggir jalan yang biasa dia lewati.
"Sebentar saja, hanya membasahi tenggorokan!" desisnya tak tahan lagi kehausan seperti orang puasa seharian.
Dia sedikit merasa bersalah membayangkan Kimmy sedang menunggunya. Namun sialnya, tak ada air untuk diminum sedikit pun di mobil saat itu.
Mobil terparkir sempurna di pinggir cafe. Felix bergegas masuk dan memesan segelas lemon, kemudian duduk di sudut. Satu-satunya tempat kosong.
Felix mulai mengeluarkan ponselnya saat seseorang menepuk pundaknya, membuat pria itu terperanjat.
******
Tebak siapa? Ayo tulis di kolom komentar .... *emot ngakak
******
Stop plagiarisme!
__ADS_1
Melanggar hak cipta orang lain masuk dalam UU nomor 19 tahun 2002 pasal 72 ayat (1) yang berisi hukum pidana maksimal 7 tahun dan denda maksimal 5 Miliar Rupiah.