
Suasana desa pagi itu membuat Felix serasa tak ingin beranjak untuk menunaikan tugasnya. Baru kali itu dia merasa tenang dan nyaman berada di tempat yang menenangkan dan menjadi bagian dark keluarga yang hangat penuh dengan keceriaan.
"Bang Felix, minggu depan ke sini lagi, ya? Ajari Raka pelajaran!" pinta anak kelas enam sekolah dasar itu. Sebentar lagi dia akan menginjak bangku sekolah menengah pertama, melalui tes kelulusan.
Jok belakang mobil Felix sudah dipenuhi dengan tiga nyawa, adik-adik Kimmy yang menebeng sampai jalan utama agar menaiki angkutan masing-masing ke sekolah, sementara Raka yang paling dekat sendiri sekolahnya, di pinggir jalan utama.
"Ya, tentu saja!" jawab Felix bersemangat.
"Bang Felix dan Kak Kimmy yang semangat ya bekerjanya? Mencetak-cetak ...." celetuk Rama, adik Kimmy setelah Vita.
Felix dan Kimmy saling berpandangan. Menyebut kata 'mencetak-cetak' dengan mengerutkan dahi dan tanpa suara.
"Mencetak apa, Ram?" tanya Kimmy menatapnya lewat spion depan.
"Ya nggak tau, pokoknya, bilangnya Papa seperti itu kerjaannya Kakak sama Abang!" sahut Rama dengan wajah polosnya.
Ketiga anak itu menunjukkan wajah lugu ala anak-anak desa.
Kimmy mengangkat bahunya, sementara Felix menjawab, "Mencetak tangan, telinga, hidung ... mungkin!" Terkekeh.
"Ohh, bikin manekin!" tebak Vita.
Kimmy menggelengkan kepala.
"Terserah kalian, lah!" Dia melirik sebal pada Felix dan pria itu menahan tawa.
Terdengar obrolan tentang manekin di jok belakang. Vita menjelaskan soal manekin dan kedua adiknya mendengarkan.
Ketiganya turun di pinggir jalan raya dan melanjutkan perjalanan ke sekolah mereka masing-masing. Vita naik angkot, sementara Rama naik bis dan Raka berjalan kaki. Tujuan mereka sama, yaitu sekolah.
Ada dua orang yang tujuannya sama, tapi memilih berpisah saat akan mendekati tujuan. Ya, mereka itu Felix dan Kimmy.
"Bos Pelix, aku turun di sini, nanti ketahuan Pak Bos Tuan dan Bos Nona kalau kita masuk barengan satu mobil!" ujarnya mengingatkan.
Tumben gadis ini pintar!
"Ya udah, turun!" perintah Felix memelankan mobil.
"Berhenti, Bos!" seru Kimmy.
"Kan udah kupelankan," sahut Felix.
"Bos, jangan bercanda!" seru Kimmy menggemaskan. Felix menahan tawa lalu menghentikan mobil, kemudian Kimmy turun dengan cepat.
Dia menyuruh Felix untuk segera masuk ke gerbang rumah mewah dengan mobil sementara dirinya sendiri berjalan dari depan gang.
Felix menurut saja. Dia pun belum ingin diketahui statusnya oleh tuan Key, agar tak mengganggu karirnya sebagai sekertaris pria itu.
*
__ADS_1
"Kimmy! Bagaimana liburan di desa?" sambut Bianca saat asistennya telah datang membawa dua tas khas, pink dan bunga-bunga yang sering dia bawa.
"Menyenangkan, Bos Nona! Apa Bos Nona dan Tuan Kin sehat?" balas Kimmy.
"Syukurlah. Kami sehat, kok! Oh ya, kita dapat undangan pesta pernikahan Laura dan Kak Mike besok siang! Kamu ikut, ya?" pinta Bianca memohon pada Kimmy.
"Ah, iya Bos Nona. Saya akan bantu menjaga Bos Kin!"
"Bagus!"
Bianca merasa senang sekali. Sahabatnya itu akan melepas masa lajangnya besok. Dia membiarkan Kimmy masuk ke kamarnya untuk meletakkan tas.
*
"Felix, kamu ingat Mike dan Laura, kan?" tanya Key di dalam mobil.
"Tentu saja, Tuan!"
"Mereka akan menikah!" ujar Key memberitahu.
"Selamat," jawab Felix.
"Mereka! Bukan aku!" tukas Key melotot. Pria di sebelahnya tiba-tiba menjadi seseorang yang konyol.
"Eeh, iya, Tuan. Maksud saya, selamat untuk mereka."
"Jadi, saya ikut, Tuan?" tanya Felix.
"Iya! Lalu siapa yang mengemudi kalau kamu nggak ikut? Kenapa kamu jadi cerewet, sih?" omel Key mendengar asistennya itu selalu berbicara setiap waktu sekarang.
"B-baik, Tuan."
Sepertinya aku mulai tertular keribetan gadis itu.
*
Siang harinya, mereka bersiap untuk berangkat ke pesta pernikahan Laura dan Mike.
"Kimmy, bersiaplah selagi Kin tidur."
Bianca menyuruh sang asisten yang sedang meletakkan Kin di dalam box bayi. Seorang perias sedang merias wajahnya.
"Begini saja, Bos Nona," jawab Kimmy merasa telah siap. Dia memakai celana pendek dengan kaus dan sepatu boot pendek seperti biasanya.
"Kimmy, dalam undangan tertera namamu," ujar Bianca.
"Iya, Bos Nona. Saya udah siap seperti ini," jawab Kimmy lagi.
"Bagaimana bisa kamu pakai baju seperti itu? Apa kamu tidak membaca undangan? Dress code untuk para tamu VIP diwajibkan memakai gaun ...."
__ADS_1
Wajah Kimmy memucat.
"Bos Nona, t-tapi saya nggak punya gaun .... Apa saya boleh di mobil saja?" tanya Kimmy menggaruk kepalanya.
"Laura akan menanyakanmu ...." Bianca mematut diri di cermin kemudian meraih kotak softlens-nya, memilih warna biru.
"Sari, apa kamu bawa gaun cadangan?" tanya Bianca pada gadis perias khususnya.
"Oh, ada, Nona. Kak Kimmy, ambil saja gaun di dalam koperku. Di kamar samping! Sekalian Kakak bisa berias di sana. Ada beberapa peralatan kosmetik juga ...." ujar perias itu pada Kimmy.
Kimmy mengangguk. Dia berjalan ke ruang sebelah, tempat dimana perias khusus biasa datang untuk meletakkan peralatannya jika ada acara khusus untuk Nona Bianca.
Kimmy melihat sebuah koper terbuka. Dia mengambil sebuah gaun pendek.
"Nah ini aja, aku pasti bisa jalan!" ujar Kimmy merentangkan baju yang dia ambil asal pendek itu.
Kimmy takut jika dia memakai dress panjang-panjang, akan jatuh terjerembab kalau kesulitan berjalan.
Dia mulai mengganti pakaiannya dengan baju itu. Lalu menengok kanan-kiri mencari peralatan rias. Gadis itu menemukannya di atas meja. Tak pernah dia merias diri.
Kimmy kebingungan dengan benda yang berwarna-warni itu.
"Ahh ... apa yang harus kulakukan dengan ini?" gumamnya.
Kimmy mulai memolesi wajah seperti sebuah gambar yang dia temukan di sebelah beauty kit.
Setelah beberapa saat selesai, dia keluar dari ruangan.
Felix memergokinya keluar ruangan itu. Dia mengerutkan dahi saat melihat gadis yang memakai dress seperti mayoret keluar dari ruang tukang rias Nonanya.
Pria itu menahan tawa melihat wajah Kimmy yang terlihat aneh.
"Hey, kamu mau pertunjukan sirkus di mana?" gelak Felix, membuat wajah Kimmy memerah karena malu. Baru kali itu dia menggunakan gaun, memilih sendiri. Apalagi memakai peralatan make-up.
Belum lagi sepatu boots yang dia pakai menambah kesan benar-benar dia akan memimpin parade drum band sekolah.
Felix melemparkan sebuah tongkat kayu yang tersandar di siku tembok pada Kimmy. Gadis itu dengan sigap menangkapnya.
"Itu, tongkat mayoretnya! Latihan dulu, sana!" ejek pria itu tertawa, seraya membenahi jas pestanya yang sedikit miring. Melewati gadis yang mengerucutkan bibirnya lalu mengembalikan tongkat itu ke tempat semula.
"Masa dibilang seperti maroret!" gerutunya kesal, mengamati pantulan diri di cermin besar di dalam ruangan yang terlihat dari luar.
******
Stop plagiarisme!
Melanggar hak cipta orang lain masuk dalam UU nomor 19 tahun 2002 pasal 72 ayat (1) yang berisi hukum pidana maksimal 7 tahun dan denda maksimal 5 Miliar Rupiah.
__ADS_1