
Bianca meraih ponselnya di atas meja, kemudian mengetik pesan pada chef Juno agar datang setiap hari. Tak lama, balasan dari sang chef begitu cepat mengiyakan keinginan Nona Bianca.
"Ah, chef itu memang ya, udah keren, rajin, fast respon lagi! Bener-bener, deh ah!" gumam Bianca.
Kin mengamati mommy-nya yang sedang bergumam itu. Bianca melirik ke arah Kin.
"Eh, balita Mommy yang lucu, jangan bilang ke Daddy, ya? Kalo Mom bilang chef itu keren! Bisa ngamuk, dia!" ujar Bianca pada anak lelakinya yang bengong lucu memperhatikan kata yang diucapkan Mommy. Tak paham juga si kecil itu. Hanya ocehan-ocehan kecil dari mulutnya.
"Sayang, udah disiapin air untuk mandi? Kita harus bersiap untuk undangan nanti sore. Jasku yang putih itu juga sudah siap, kan?"
"E-eh, s-sudah, sudah. Kenapa tiba-tiba nongol?" ujar Bianca terkaget.
"Lho, kenapa suami sendiri datang kok kaget banget? Kenapa Mommy, Kin?" gelak Key.
"Nen ... nen ...." sahut balita itu.
"Eh, aih!" seru Bianca.
Ini anak kenapa nyerap kata cepat banget ya?
Bianca menengok ke Key lalu ke Kin berulang kali dan cepat-cepat menutup mulut anak itu dengan ASI.
Kin menghisap ASI-nya dengan lahap karena dia memang ingin mengatakan '*****' yang diajari oleh beberapa pelayan, tapi dikira Bianca, balita itu mengoceh mengadu pada Daddy-nya dengan kata 'keren'.
Bianca tersenyum semanisnya pada Key yang terbengong melihat tingkahnya. Pria itu mengabaikan, karena memperhatikan waktu terus saja berputar. Dia melangkah memasuki kamar mandi kemudian bersiap diri untuk acara sore ini.
*
Kimmy sedang membersihkan ruangan Kin dengan vacuum cleaner setelah balita itu bermain di sana dan menebar beberapa sobekan kertas.
Dia lalu merapikan kamar itu dengan rajin, sambil menunggu tugas yang diberikan oleh Bos Nonanya.
Pintu kamar Kin terbuka dan Bianca telah masuk membawa selembar kertas yang berisi catatan belanja untuk Kimmy.
"Kimmy, ini catatan belanjanya, ya? Jangan sampai terlewat."
"Iya, Bos Nona. Siap!"
Kimmy memperhatikan penampilan atasannya dari atas ke bawah.
"Bos Nona terlihat sangat cantik! Dress berwarna putih dan pink itu sangat manis membalut tubuh anda!" puji Kimmy.
"Masa sih? Kimmy, ini pertemuan biasa dengan para pengusaha. Hanya makan-makan biasa, untuk keakraban saja. Andai tak belanja, kamu bisa ikut."
Mata Kimmy membulat sempurna. Tak pernah terbayang dia ikut pesta seperti itu. Selama Bos Nonanya hamil hingga Kin berusia satu tahun, baru kali ini Kimmy melihat Bianca ikut pesta.
"Maaf Kimmy, lain kali kami akan mengajakmu," janji Bianca.
Kimmy menganggukkan kepala.
"Oh ya, tadi Kin bisa bilang 'keren', lho!" tutur Bianca memberitahu Kimmy dengan mengangkat alisnya.
"Ah, pintarnya bos kecil!" puji Kimmy.
"Eh, bilang kerennya seperti gimana, Bos Nona?" tanya Kimmy penasaran.
"Nen ... nen, gitu. Setelah aku bilang pada Kin agar jangan bilang kalo chefnya keren. Ternyata anak itu cepat nyantol, ya! Hati-hati, Kimmy kalo bicara di depannya. Untung saja tadi Tuan Key tak paham!"
Bianca sedikit tergelak. Kimmy pun ikut tergelak. Dua-duanya tak paham.
"Hahaha, eh tapi keren kok jadi 'nen' ya, Bos Nona?" tanya Kimmy setelah tertawa.
"Mmm ... iya, juga, ya?" ujar Bianca meletakkan telunjuk ke dagunya dan menggeser bola mata ke kanan dan ke kiri.
Terdengar suara Key memanggil Bianca. Dia telah memakai jasnya dan menggendong Kin dengan kemeja yang senada.
"Aku tinggal dulu ya, Kimmy! Nanti kami terlambat datang! Jangan lupa lho belanjaannya! Felix akan menemanimu!" ujar Bianca sembari melangkah ke pintu, lalu menghilang di baliknya seiring anggukan Kimmy.
*
__ADS_1
"Felix, kali ini aku akan menyetir mobilku sendiri."
Key mengulurkan kunci kepada Felix agar memindahkan mobil Key dari garasi ke halaman rumah.
"Baik, Tuan."
"Felix, nanti antar Kimmy ke hipermarket, ya? Aku menyuruhnya untuk berbelanja. Tolonglah dia, belanjaannya akan banyak! Ini kartu kreditku, bawakan, nanti kamu bantu dia bayar di kasir," pesan Bianca pada Felix.
Felix membungkuk, menurut. Dia lalu menerima kartu itu.
"Baik, Nona."
Felix segera memutar tubuhnya, berjalan ke garasi untuk mengeluarkan mobil ferrari merah milik Key.
Kedua orang itu menunggu di ruang depan sambil membenahi baju mereka. Kin yang telah duduk di stroller, mengoceh saat melihat mereka.
*
Pasangan Key dan Bianca telah memasuki mobil bersama anaknya. Mereka melaju ke sebuah restoran mewah tempat para pengusaha makan bersama sore itu.
Sementara, Kimmy telah berganti pakaian dengan kaus putih dan celana pendek jeans-nya, membawa tas cangklong berwarna coklat kesukaannya. Dia tergesa menyisir dan menggerai rambutnya yang sedari tadi dikucir asal, membuat rambutnya bergelombang.
Tak lupa ia memasukkan catatan belanja dari Bos Nonanya ke dalam tas.
Felix menunggu di depan mobil.
"Lama amat sih!" omelnya saat Kimmy berlari mendekat.
Kimmy hanya diam lalu masuk ke dalam mobil, menyusul Felix yang sudah masuk setelah mengomel.
"Jalan!" serunya.
Felix melotot, "Kamu pikir aku sopir taksi?"
Kimmy menutup mulutnya, tertawa.
Mobil itu berjalan pelan, melewati portal yang terbuka lalu melaju ke jalan.
"Rusak!" jawab Felix berbohong.
Kimmy mengerucutkan bibir, tau bahwa pria itu membohonginya.
"Ya udah, aku yang akan menyanyi!" sahut Kimmy dan mulai berdendang.
"Babale ... babale ... babale mmph ...."
"Huusssh, pssssst!!!" seru Felix menempelkan telapak tangannya di mulut Kimmy.
Pria itu menyalakan tape, kemudian menyetel lagu berbahasa India.
Kimmy mendengus, dan akhirnya terdiam mendengarkan.
Akhirnya, dia diam juga! Denger tuh lagu India aca-aca, tak bisa kan kamu??
Mobil sampai di parkiran hipermarket. Setelah menempatkan mobilnya di posisi yang kosong dan nyaman, Felix keluar dari mobil, disusul oleh Kimmy.
Mereka berjalan beriringan. Kimmy menatap kagum pada sebuah supermarket raksasa di depannya. Dia menatap bangunan sambil mengimbangi kecepatan Felix berjalan. Kadang Kimmy berlari kecil untuk membarengi pria itu.
Begitu memasuki ruangan raksasa itu, Kimmy melongo. Banyak sekali rak-rak dan beragam bahan makanan basah maupun kering di sana. Sayuran basah, kering, buah, ikan segar, daging, semua tersedia. Lengkap.
"Bos! Besar banget ya!" teriaknya.
"Jangan norak!" sahut Felix.
"Gimana kalo aku ajak warga kampung kemari, ya?" celetuk Kimmy.
"Eh, kamu bercanda kan?" seru Felix melotot dan menyatukan kedua alisnya.
"Iya sih ...." ujar Kimmy tertawa.
__ADS_1
Felix mengambil sebuah trolley belanja. Lalu diserahkan pada Kimmy.
"Bawa ini untuk mengambil belanjaan Nona! Jangan bengong terus!" ujar Felix.
"Iya, Bos Pelix!"
Kimmy memegang trolley kemudian mengeluarkan catatan dari tasnya.
"Bos, daging di mana?" tanya Kimmy yang masih kebingungan dengan tempat itu.
"Lihat papan nama di setiap lorong rak! Itu sudah ada namanya!" ujar Felix.
"Ooh ...."
Kimmy mulai menjalankan trolley-nya lalu mengambil belanjaan. Kertas yang diberikan oleh Bianca memang hanya selembar, tapi banyak sekali barang yang ditulis di kertas itu. Hingga Kimmy kelelahan.
"Untung ada Bos Pelix yang membantuku!" ujar Kimmy menyenggol lengan pria berjas itu.
Felix memutar bola matanya. Dia pun sibuk mengambil dan membaca produk barang.
Sementara Kimmy kembali asyik berbelanja.
Usai mendapatkan semua barang di dalam daftar belanja, mereka berjalan ke kasir untuk membayar semua belanjaan itu.
Karena banyaknya barang, begitu lama mereka berdiri di kasir. Felix mendapat ide untuk sekalian berbelanja kebutuhan dapurnya. Mumpung ada Kimmy yang sepertinya sedang senang masuk ke hipermarket.
"Hey, ini kan masih banyak dihitung ...."
Kimmy mengangguk menatap Felix.
"... Nah, kamu belanjakan dapurku, ya? Untuk memenuhi kulkasku yang kosong. Malas aku kalau harus ke tukang sayur!"
Kimmy terlihat bingung.
"Maksud Bos Pelix, makanan kaleng atau apa?"
"Terserah, pokoknya buat isi kulkas!" ujar Felix.
"Lalu, ini?"
Kimmy menunjuk semua belanjaan Bos Nonanya.
"Aku yang menunggui, aku juga nanti yang akan bayar. Kamu mau bayar?" tanya Felix.
Kimmy menggelengkan kepala.
"Nah, jadi kamu yang belanjakan aku, ya? Nanti aku juga yang bayar."
"Oke ...." Kimmy mengangguk. Dia berjalan mengambil sebuah trolley lagi dan masuk lagi ke dalam.
*
Setelah setengah jam, akhirnya semua belanjaan Bianca selesai dihitung dan dimasukkan ke mobil oleh Felix. Dia masuk dan menunggu di kursi depan, memilih kursi yang bisa melihat semua kasir agar mengetahui sudah belumnya Kimmy belanja.
Sampai satu jam lamanya, tapi Kimmy belum juga keluar. Felix mulai menggerutu lagi.
"Perempuan kalau belanja, lamaa sekali."
Dengan tak sabar, Felix terpaksa beranjak dan masuk kembali mencari gadis itu. Dia mengitari semua bagian.
Felix mengelus dada saat melihat seorang gadis yang terdiam di pojokan antara rak kardus-kardus.
"Bos Pelix, aku bingung apa yang mau Bos Pelix beli ...." ujarnya memelas.
"Iya, bingung ya cari aku! Jangan duduk di atas trolley begitu!!" omel Felix.
******
__ADS_1
Stop plagiarisme!
Melanggar hak cipta orang lain masuk dalam UU nomor 19 tahun 2002 pasal 72 ayat (1) yang berisi hukum pidana maksimal 7 tahun dan denda maksimal 5 Miliar Rupiah.