
Chef Juno mengambil apron warna putihnya sendiri kemudian memakai dengan keren, membuat dua pria itu melengos, melipat kedua tangan mereka, tapi dalam hati mereka gemas juga pada pria itu.
Kenapa juga aku dapatnya gambar kucing biru ini! Key melirik ke apronnya. Namun, tak dihiraukannya lagi.
Ketiga orang itu menunggu pelajaran pertama.
"Hari ini saya pikir kita akan membuat masakan yang simple saja, Tuan-tuan dan Nona."
Chef Juno terlihat gugup memberi arahan dengan menghadapi wajah garang kedua pria itu. Chef sampai tak memperhatikan Kin yang berceloteh di dalam dapur memanggilnya untuk melakukan atraksi seperti kemarin, tapi sepertinya tak mungkin melakukan sirkus hari ini.
"Kita akan membuat tumis kangkung. Kangkung sudah disiapkan dalam bentuk irisan, Tuan-tuan dan Nona. Sekarang kita buat bumbunya. Mari ikuti saya."
Mereka bergegas berebut pisau saat Chef mulai memegang pisau. Berebut bawang merah saat sang chef mulai memegang bawang merah. Saat chef mengupas dan mengirisnya tipis hanya beberapa detik, mulailah ketiganya kesulitan. Sang chef sudah mulai menggeprek bawang putih tanpa kesulitan mengupas, karena terkelupas dengan sendirinya lalu mencacah benda putih kecil itu.
"Ce-cepat sekali!" ujar Key melihat aksi pria itu. Dia masih berusaha mengupas kulit bawang merah.
Tak jauh darinya, Bianca pun masih melakukan hal yang sama.
Apalagi Felix, dia mengupas bawang seperti mengupas apel. Hasilnya bocel-bocel.
Felix mengusap air mata yang membendung.
"Kok menangis? Cemen! Kamu itu kenapa, melankolis sekali sih hidupmu itu, Felix!" gertak Key mendesis.
Felix tetap pada kesibukan dengan matanya.
"Kamu kesulitan mengupas bawang atau ada masalah lain? Sudah kubilang kan! Kalo ada masalah, kamu bilang! Jangan malah melampiaskan ikut kursus masak begini!" bisik Key.
"Tuan, saya bukan menangis karena itu semua."
"Kenapa mewek?" tanya Key.
"Karena bawang merah ini. Galak sekali!" ujar Felix menghapus air mata. Hampir dia menyerah kalau tak ingat pria pesaing itu.
Key membulatkan mulut. Dia melanjutkan kegiatan melucuti si bawang merah. Mereka masih berkutat di bebawangan sampai sang Chef menunggu mereka lama untuk melakukan langkah selanjutnya.
Kimmy menarik napas sesak melihat ketiga bos itu. Gatal rasa tangannya ingin mengupaskan bawang untuk mereka, tapi jika dia memegang pisau, apa yang akan terjadi dengan Kin, bahaya jika dekat-dekat balita yang sedang mengembangkan rasa ingin tahunya itu.
Chef mendekati Kimmy dan mengajaknya bicara sambil menunggu ketiga 'murid'nya.
"Tuan kecil baru makan, ya?" tanya Chef Juno pada Kin.
Bukan Kin yang menjawab, malah Kimmy yang mengangguk, wajahnya memerah. Pria itu bagai selebgram yang muncul nyata di hadapannya.
Deg ... deg ... deg!
Gadis itu tak mampu berkata apa-apa selain hanya tersenyum, tersipu saat Chef Juno menggoda Kin. Yang digoda siapa, yang malu siapa.
Brak! Tak! Tak! Tak!
"Sudah, Chef!"
Teriakan Felix mengagetkan semua yang di dapur. Key dan Bianca melongok ke depan meja Felix. Duo bawang hancur lebur tak beraturan bentuknya.
Chef Juno menghentikan kegiatan menggoda si balita. Dia mendekati Felix.
"Tuan, ini belum ada nilai estetik- ...."
"Tak perlu indah-indah, yang penting rasa! Rasa!" Felix menekankan kata 'rasa'.
Baru kali ini semua orang melihat Felix terlihat membara semangatnya.
__ADS_1
Sementara, Key melongo melihat Felix, tak sengaja pisau mengenai jarinya.
"Aw!!"
Darah mengucur dari jari Key. Bianca pun panik dan segera mengambilkan plester untuk pria itu. Sayang, mereka masih saja berperang dingin.
Bianca mengulurkan plester dengan mulut manyun dan Key menerimanya tak kalah cemberut juga. Key membalut lukanya sendiri. Entah berapa kali Key terkena pisau sehingga Bianca terpaksa membawakan kotak P3K ke dapur.
Alhasil, selama mengiris bumbu, kelima jari di tangan kiri Key masing-masing dibalut dengan plester.
Mereka melanjutkan acara memasak. Kompor terpaksa disediakan agak berjauhan agar tak bertubrukan satu sama lain.
Chef Juno mendekati Nona Bianca untuk mengecek kesulitan apa yang dialami, tapi sebelum dia bicara, Tuan Key telah memanggil untuk mendekat padanya.
"Chef, sini, ini gimana?" tanya Key mencoba menarik perhatian lelaki itu.
"Oh, ya."
Chef Juno mendekat ke Key dan melihat caranya. Lama sekali Key menahan pria itu, hingga Bianca kesal. Dia pun ingin menanyakan sesuatu perihal masakannya seperti yang sebelum-sebelumnya.
Sebelum kedua pria itu ikut kursus, dia leluasa untuk bertanya. Namun, sekarang seperti tak memiliki celah untuk itu. Dua pria itu lebih bawel bertanya ini-itu.
"Chef!"
Bianca mengangkat tangannya tinggi-tinggi.
"Ya, Nona!"
Baru akan beranjak mendekat, Key menarik lengan pria itu lagi agar menemaninya.
Bianca mengerucutkan mulutnya dan menghentakkan kaki ke lantai.
"Ugh! Ini keburu airnya menyusut!"
Belum lagi Kin yang menangis saat ingin melihat atraksi seperti kemarin. Chef Juno menyempatkan untuk menghibur Kin dengan memasang kangkung di kedua telinga berlagak menjadi kambing.
"Mbeeek ... Mbeeek ...."
Kin tertawa, begitu juga Kimmy.
Melihat itu, Felix memannggil Chef Juno.
"Chef, sini!"
Felix sekarang menahan Chef agar berada di sampingnya, dengan menanyai berbagai pertanyaan tak masuk akal.
"Siapa penemu kangkung pertama kali, Chef?" tanya Felix.
"Errr ...." Chef terlihat bingung.
"Lord Boden Powel," jawabnya asal.
Semua orang memandang sang chef, heran dengan jawaban itu. Chef pun meringis.
"Emm ... Dia menemukan kangkung pertama kali saat berkemah. Bukan bayam, bukan kubis, bukan pula wortel. Maksud saya, Tuan .... Bercanda."
Pria itu mencoba mengeluarkan guyonan dengan menunjukkan dua jarinya tanda victory atau peace. Hanya Kimmy yang tertawa karena guyonan Chef garing.
Felix mendengus, dia kira si chef serius menjawab pertanyaannya.
Sementara, Bianca menahan tawa. Dia lalu ingin menanyakan masakannya. Sedari tadi belum mendapat kesempatan untuk bertanya.
__ADS_1
"Chef, aku belum ...." Ucapan Bianca terpotong oleh Key yang mengangkat tangannya, menarik perhatian Chef duluan.
"Lihat! Ini punyaku sudah matang kan, Chef! Pasti rasanya pas! Coba diicip dulu, Chef!" teriak Key.
Chef Juno terpaksa mendahulukan Key. Pria itu bersorak saat sang chef mengacungkan ibu jari saat mencicip masakannya.
Bianca berkecak pinggang dan mencibir. "Ya iyalah, orang ditahan terus di sono!"
"Chef, punyaku!" ujar Felix tak mau kalah.
Kali ini sang chef mendekati Felix.
"Agak hambar sedikit, kurang asin ya, Tuan! Pakai feel ...."
Felix menyambar garam dan menaburkannya dari atas seperti seorang chef.
"Chef, aku ...." Ucapan Bianca dipotong lagi.
"Yuk sekarang masakan yang lain, Chef!" teriak Key.
"Sebentar, Tuan. Saya lihat masakan Nona Bianca dulu," jawab chef Juno, membuat senyum kemenangan di wajah Bianca.
Sekarang Key yang mencibir.
Chef Juno mengangguk-angguk saat mencicipi masakan Bianca. Wanita itu terlihat sangat puas.
Kedua pria berkecak pinggang.
Chef harus berbesar hati melakukan pengajaran yang kedua. Membuat ikan goreng.
Masih seperti yang pertama, kali ini lebih heboh karena mereka memegang ikan. Lebih banyak plester bagi jari Key. Disusul oleh Felix.
Kimmy menonton acara kursus seperti pertandingan sepak bola, dan chef Juno sebagai bolanya. Diperebutkan semua orang.
Akhirnya, ikan berhasil mereka goreng dengan bumbu yang pas. Mereka nampak puas.
Tiba saat Chef Juno kembali ke restoran. Dia terlihat lega sekali saat berpamitan pada keempat orang itu.
"Seru sekali, ya? Besok aku akan ikut kursus lagi, Chef!" ujar Key.
"Saya juga!" ujar Felix.
Bianca mendesah pelan.
Wajah Chef Juno seharusnya semringah karena para muridnya bersemangat. Namun, mendengar itu kali ini dia pucat.
"Baik, Tuan-tuan. Namun, sepertinya besok akan ada yang menggantikan saya. Namanya Chef Ira."
Chef Juno membungkuk tanda permintaan maaf.
Wajah gembira kedua pria itu nampak jelas.
"Oh, baiklah tak masalah. Istriku akan menurut, lebih baik jika chef wanita itu datang seterusnya, Chef!" ujar Key, diiringi pelototan Bianca.
"Baik, Tuan Key! Saya mohon diri dulu!"
Dengan wajah ceria karena bebas tugas, Chef Juno melangkah ke mobilnya, meninggalkan keempat orang itu di depan pintu rumah.
******
Stop plagiarisme!
__ADS_1
Melanggar hak cipta orang lain masuk dalam UU nomor 19 tahun 2002 pasal 72 ayat (1) yang berisi hukum pidana maksimal 7 tahun dan denda maksimal 5 Miliar Rupiah.