
Wajah Dion masih nampak pucat. Dia mondar-mandir di lorong rumah sakit. Ingin rasanya amblas saja ke bumi. Namun, rasa penasaran masih saja menghantuinya.
Lima belas menit kemudian, dia melihat Tante Erry keluar dengan Susan.
"Makasih, dokter Susan! Karena Anda, saya jadi tenang menghadapi semua proses operasi Adele."
Susan hanya mengangguk, lalu melirik sedikit pada Dion yang masih ternganga memperhatikan mereka.
"Eh, Mas Dion!" panggil Tante Erry.
Susan baru akan berpamitan pergi saat itu, tapi Bu Erry menahannya. Apalagi, Nyonya Erren pun ikut berbincang bersama mereka.
"Mas Dion udah datang? Ini, salah satu dokternya Adele. Dokter Susan ini lulusan Singapura, lho! Akhlaknya baik, pula!" ujar Bu Erry sengaja memperkenalkan mereka. Dia pun tahu bahwa Susan adalah lulusan luar negeri karena berbincang dengan dokter Diana. Bukan Susan sendiri yang bilang.
Susan hanya tersenyum, matanya menyipit, menunggu perkataan dari Dion yang makin terbelalak mendengar di mana Susan menamatkan pendidikan kedokterannya.
"Mm ... sebenarnya, kami sudah kenal, Tante!" sahut Dion menggaruk kepalanya yang tak gatal.
"Ah! Kalian saling kenal?" tanya Nyonya Erren dan Bu Erry takjub.
Susan masih diam saja saat itu. Hanya ingin menonton apa yang akan diucapkan oleh Dion. Dia sendiri malas untuk membahas masalah pertemanan atau hubungan mereka di masa lalu, karena sikap Dion yang sangat buruk.
"Iya. Dia teman sekolahku. Kami pernah ...."
"Satu kelas," lanjut Susan memotong kalimat Dion agar dia tak membicarakan hubungan mereka waktu sekolah dulu.
Dion terpaksa menghentikan kalimatnya karena dipotong oleh Susan.
"Oh, benar kalo dunia itu sempit! Selebar daun kelor!" tukas Nyonya Erren memperhatikan gadis itu dari atas ke bawah. Nampaknya dia sudah menyukai Susan.
"Dokter Susan, Dion ini sudah jadi manager lho di perusahaan kami sendiri? Di negeri ini, kami berada di urutan nomor seratus delapan! Bukankah itu bagus sekali?" oceh Nyonya Erren.
Dari situ, Susan tau Dion ini mewarisi sifat sombongnya dari siapa. Buah jatuh tak jauh dari pohonnya. Kecuali kalo ditendang. Susan ingin menendang buah Nyonya Erren pas di mukanya.
"Oh, ya, ya, Nyonya. Bagus sekali. Urutan ke seribu sekian pun sudah bagus sekali? Apalagi ke seratus delapan. Pasti kalian adalah orang-orang top yang bisa masuk ke jajaran pebisnis yang masuk ke rank dua ratus besar!" sahut Susan asal saja.
__ADS_1
Dalam hati, dia terkikik.
Masuk ke rank dua ratus besar? Aku saja belum pernah kena ranking sebanyak itu.
Nyonya Erren makin nampak bangga. Gemerincing rombongan gelang yang melingkari tangannya semakin terdengar.
Sementara itu, Bu Erry berpamitan akan menunggui Adele. Susan mengambil kesempatan untuk pergi ke ruangannya, yaitu ruangan dokter Putra.
"Saya juga permisi. Ini jam saya pulang," sela Susan menatap ke jam yang melingkar di tangan.
Dion melirik jam itu sebentar. Jam yang masih sama seperti dulu saat jaman sekolah, setelah mereka putus. Pria itu sedikit mengasihaninya. Belum tau kalo mengamati jam tangan Susan, dia akan terperanjat dengan harganya. Key membelikan jam seharga sebuah sepeda motor itu untuk Susan karena dia nampak sedih saat itu. Makanya jam itu awet dari masa sekolah, hingga sekarang. Hanya saja sering tertutup oleh lengan
baju Susan.
"Oh ya, dokter Susan. Kalian sudah bertukar nomor? Dion akan sering menghubungimu," ujar Nyonya Erren mengedipkan sebelah mata pada Dion.
"Err ... maaf, saya lupa nomor sa-..."
"Aku punya kok nomor dia di ponselku, Ma!" potong Dion.
Susan terbelalak. "Berapa tahun dia menyimpan nomorku? Sedangkan aku sudah menghapusnya," gumamnya.
Berhubungan dengan anak songong Anda, Nyonya? Huh! Amit-amit!
"Maaf, mari saya permisi dulu! Mari, Nyonya!"
Susan memasukkan kedua tangannya ke dalam saku baju dokternya. Dia berjalan cepat ke ruangan dokter Putra. Felix telah berjanji untuk menjemput Susan. Siang tadi, dia datang dengan taksi karena tak ingin gugup membawa sepeda motor saat teringat operasi pertamanya.
"Tunggu, dokter!" Nyonya Erren berteriak memanggil.
Namun, Susan tak mendengarnya.
"Dion! Kamu antarkan dokter Susan pulang! Biar tahu rumahnya. Kali-kali aja bisa dijadikan menantu Mama, Dion! Daripada si Rosa yang model majalah suka telanjang itu, Mama pilih dokter Susan!"
"Mama! Aku kan baru ketemu ini ..." Dion mencoba protes.
__ADS_1
Nyonya Erren mendorong anaknya untuk menyusul Susan. Mereka agak berdebat. Dion yang kepalang malu, ingin juga mendekati Susan, tapi rasa malu yang besar menahan dirinya.
"Sudah! Kamu tunggu di parkiran! Kan orang keluar dari rumah sakit pasti kelihatan dari tempat parkir! Cepat! Ini sudah mau malam, kasihan dokter Susan!" desak sang Mama yang menginginkan menantu seorang dokter.
"Iya! Iya!"
Dion yang sejujurnya ingin mendekati Susan karena penasaran, akhirnya mengempaskan rasa malu dan berjalan ke parkiran. Suasana parkiran mobil agak sepi. Dion dengan bangga menaikkan kerah bajunya saat melihat di deretan parkiran, mobilnya mentereng dan mengkilat sendiri ...
"Tunggu ... tunggu, itu selain mobil keluaran terbaruku, ada mobil sedan yang mewah, bernomor tiga sama! Kayaknya pernah lihat, punya siapa, ya?" gumamnya sendiri.
Matanya tak lepas memperhatikan mobil mewah itu. Hitam mengkilat dan elegan.
Dion tak sadar Susan telah berjalan di dekatnya dan celingukan mencari seseorang. Dion baru sadar setelah menengok ke kanan.
"Eh, Susan! Aku antar pulang, ya? Ini sudah mau gelap!" desak Dion.
"Nggak usah!" tolak Susan.
"Itu, mobilnya kuambil dulu. Kamu nggak usah naik angkot. Nanti ada jambret."
Dion membunyikan alarm mobilnya dari jauh. Memperlihatkan pada semua orang bahwa dialah pemilik mobil itu.
"Emm ... Nggak usah!" tolak Susan lagi.
"Eh, mobilku itu keluaran terbaru, kamu jangan menolak. Nggak akan macet! AC? Pasti jalan. Nggak akan gerah kayak naik angkot seperti kamu biasanya naik ...." ocehnya menatap mobilnya tanpa melihat bahwa Susan telah melambaikan tangan ke sebuah mobil yang dikemudikan oleh Felix.
Mobil Roll Royce itu melaju perlahan ke depan menunggu Susan di depan gerbang rumah sakit.
"Aku pulang dulu!" ujar Susan berpamitan pada Dion.
"Eh, tunggu! Aku akan mengambil mobil-...."
Dion terhenyak melihat Susan mendekati mobil mewah yang tadi dia perhatikan lekat-lekat. Apalagi sopirnya yang nampak familiar di dunia bisnis keluar dan membukakan pintu mobil untuk Susan.
Mobil mewah itu membawa Susan melaju keluar dari gerbang meninggalkan Dion yang terbelalak tak mengatupkan rahangnya seperti gaya sinetron warga plus enam dua.
__ADS_1
******