
"Baiklah, kami mohon diri dulu kalau begitu, Pak Bos Tuan dan Bos Nona," pamit Kimmy pada kedua bosnya.
Bianca memeluk lagi asistennya itu. Dia menangis sesenggukan.
"Maafkan aku, Kimmy .... Kenapa kamu tak cerita padaku soal utang keluarga ... kami bisa membayarnya," ujar Bianca.
"Mungkin garis takdir kami harus seperti itu, Bos Nona," jawab Kimmy dengan lapang dada.
"Saya pun bersyukur karena itu, saya mendapatkan pria yang baik dan bertanggung jawab."
Kimmy melirik pada Felix yang termangu melihat mereka. Bukan hanya Felix, tapi Key dan semua lelaki yang berkumpul, melihat drama ikan terbang kedua wanita itu, bos dan asistennya.
"Yaa ... mungkin memang itu takdir kalian."
Bianca memupus kesedihannya.
"Kimmy ... apa kamu masih tetap mau menjadi asistenku?" tanya Bianca masih terisak. Ada rasa kehilangan menyusup di hatinya. Dia pun merasa tak bisa menemukan asisten sebaik Kimmy.
Kimmy mengangguk. "Mau, Bos Nona!"
Senyum Bianca mengembang. Dia kembali memeluk asistennya itu. Para pelayan yang mengintip terharu melihat keduanya.
Felix, Kimmy, Pak Luki serta Pak Lurah masuk ke mobil Felix, sementara Pak mantri sebagai sopir, pak RT dan Pak RW duduk di jok samping. Bangku belakang mobil satpol PP dibiarkan kosong.
*
"Sayang ... aku merasa bersalah pada mereka," ujar Bianca.
Key menaruh mantel tebalnya di gantungan, lalu menyusul istrinya tidur di atas tempat tidur.
"Kita kan tidak tahu, Sayang. Tenanglah ...." sahutnya menenangkan Bianca.
Bianca mendesah. Membayangkan betapa takutnya Kimmy dan adiknya saat akan berkorban untuk keluarganya.
"Kalau aku jadi Kimmy, kutendang burung si juragan itu!" desis Bianca mengepalkan tangan, memukul ke telapak tangan satunya.
"Katanya kan bawahannya banyak. Sudahlah, Sayang. Semua berakhir baik, kan? Lagian mereka sudah tak seperti Tom and Jerry lagi. Kita pikirkan isi perutmu itu saja, ya?" ujar Key mengelus perut istrinya.
Bianca tersenyum lega, lalu mengangguk tenang.
*
"Ga-garis dua!" pekik Bianca di dalam kamar mandi pagi itu.
Key tergopoh-gopoh ingin melihatnya.
"Mana ... mana?" tanyanya.
"Ini ...." Bianca menunjukkan alat pendeteksi itu.
Kembali Key bersorak gembira. Dia memeluk istrinya itu.
"Sayang, buat anak sebanyak-banyaknya!" ujarnya senang.
Bianca mengerucutkan bibirnya.
Pria ini seolah lupa kalau saat pertama kali aku melahirkan dia bilang tidak tega dan berjanji untuk tidak mempunyai anak lagi agar aku tak sesakit itu ....
"Dua anak saja cukup," ujar Key beriklan. Membuat Bianca tersenyum senang.
__ADS_1
"Eh, aku bareng ya hamilnya sama Kimmy?" celetuk Bianca, seperti baru menyadarinya.
"Ah iya!"
Key menepuk jidat. Apakah mereka akan kompak atau bersaing dalam perngidaman?
"S-sayang, jangan minta aneh-aneh ya ...." desis Key lirih, tapi sayangnya ... Bianca tak mendengar hal itu.
Ngidam ya ngidam aja. Ibu hamil mah gitu.
*
Key sedang sibuk menghubungi beberapa klien saat Felix berkonsentrasi ke depan layar.
Sesekali sang asisten melirik bosnya yang begitu sibuk. Biasanya dialah yang sibuk seperti itu. Namun, entah kenapa kali ini berbeda.
Key tidak meminta Felix menghubungi siapapun hari itu. Pria itu seperti membuat kesepakatan. Di mana, kapan dan tentu saja dengan harga luar biasa bagi rakyat jelata.
Setelah selesai, dia menutup telepon dan tersenyum.
"Felix, tulis siapa saja yang ingin kamu undang."
Key keluar dari ruangan begitu saja meninggalkan pria yang bengong karena bingung apa yang harus dilakukan.
"Undang? Apanya? Maksud Tuan Key apa ya?"
Felix menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Namun, dia pun tetap menuliskan juga.
Hingga saat Felix keluar untuk mengambil kopi di pantry, celetukan-celetukan heboh terdengar di telinganya.
"Wah ... pria kulkas mau mengadakan resepsi!"
"Siapa ya yang mau sama dia?"
Swing!
Hening tiba-tiba saat angin menerpa para karyawan yang bercuit itu. Anginnya beraroma khas pria kulkas.
Mereka bubar seketika. Ada yang menutup wajah dengan kertas, ada yang berlari ke toilet, ada yang pura-pura menatap layar ponsel, ada yang membuka koran terbalik. Pokoknya menghindari pria itu.
Felix mengerutkan dahi.
Ada apa mereka ini? Resepsi? Apa berhubungan dengan undangan yang diperintahkan oleh Tuan Key?
Felix menggelengkan kepalanya. Melanjutkan langkah untuk mengambil kopi panas.
*
"Wah ... selamat ya?" ucap seorang kepala divisi.
Dahi Felix berkerut untuk kesekian kalinya hari itu.
"Akhirnya, link ah uh oh itu anda praktekkan juga!" bisiknya jelas di telinga Felix.
"Apa sih maksud kalian!" hardik Felix meradang.
Dia masih menebak apa yang akan terjadi, tapi belum bisa memastikannya.
"Ck! Tuan Felix, jangan sok innocent. Kita pria dewasa, tahu lah!"
__ADS_1
Kepala divisi itu menonjok lengan Felix. Hingga gelas kopi panas sedikit tergoncang.
Bug!
"Aw!"
Sialan! Cincin akiknya besar! Pantesan sakit!
"Heh, aku tidak tahu maksud kalian! Permisi!" ujar Felix membawa gelas kopi panas ke ruang kerjanya sendiri.
Mata Felix melotot saat melihat sudah ada beberapa design kartu undangan di atas mejanya.
"Apa beneran ya?" desisnya pelan.
Sebuah tepukan mengagetkannya. Ternyata Tuan Key telah berada di belakang Felix.
"Felix mana design undangan yang paling bagus menurutmu? Kirim juga ke Kimmy!" ujar Key.
Dia sudah seperti bapak menikahkan anaknya. Sibuk.
"I-iya, Tuan!" jawab Felix.
Dia mengambil gambar-gambar design yang dibuat tak main-main bagusnya oleh pembuat undangan ternama.
"Maksudnya apa ya, Tuan?" tanya Felix menanyakan semua itu pada Key setelah selesai mengirim gambar.
"Ya ... ikut aja lah."
Hanya itu yang terucap dari mulut Tuan Key. Menyebalkan bukan?
Felix pun pasrah. Dia telah menebak apa yang akan dilakukan. Namun, betapa percaya dirinya apabila dia tak menanyakan pada sang sutradara.
Namun, si sutradara malah seolah membuatnya menurut saja.
*
"Sayang, apa tidak keterlaluan kalau mereka tak tahu rencana kita?" tanya Bianca.
"Biarkan saja. Kalau tahu, pasti dia hanya akan memilih pesta yang sederhana. Aku menghabiskan budget dua miliar untuk mereka."
Bianca tersenyum. "Ah, iya ... kalau diberi tahu, mereka akan menolaknya!"
"Iya. Biar mereka hanya tahunya pakai dan dipajang saja," ujar Key terkekeh.
*
Kimmy memandangi design-design kartu undangan itu. Wanita hamil itu kebingungan karena semua bagus baginya.
"Cap cip cup kembang kuncup, pilih mana yang mau di ... cup!" ucapnya menutup mata sambil menunjuk gambar-gambar di layar.
"Nah! Merah dengan garis emas! Bagus sih, tapi abu garis perak ini juga bagus ... eh, kuning gading dengan emas ini kesannya sederhana tapi elegan. Ahh bingung! Cap cip cup lagi ah!"
Dia kembali mengulang pilihannya. Kali ini jatuh pada hijau tua dengan tepi ukir emas.
"Ih, terserah Mas Pelix lah mau yang mana! Bingung aku ... eh, kenapa dia menyuruhku memilih kartu undangan?? Apa dia mau menikah? Dengan siapa lagi? Aku baru hamil, dia mau menikah lagi?? Aaarghh!! Masa orang hamil dimadu??"
Kimmy mengerutkan dahinya. Kesal.
******
__ADS_1
Stop plagiarisme!
Melanggar hak cipta orang lain masuk dalam UU nomor 19 tahun 2002 pasal 72 ayat (1) yang berisi hukum pidana maksimal 7 tahun dan denda maksimal 5 Miliar Rupiah.