Cintai Aku!

Cintai Aku!
Menunggu Chef


__ADS_3

Kimmy mengambil tas kertas warna coklat terang, kemudian menutup pintu mobil. Dia mengendap masuk membawa paper bag berisi ponsel baru, agar tak ada yang menanyainya tentang isi tas yang ia tenteng. Dia meletakkan tas itu di kamarnya sendiri, lalu keluar lagi menemui Kin. Gadis itu belum bisa menikmati ponsel barunya. Rencana nanti malam saat Kin sudah terlelap bersama kedua orang tuanya, dia baru akan mengutak-atik ponsel.


Tepat saat Kimmy keluar kamar, Bianca telah membawa Kin keluar dari kamarnya. Kin mengangkat kedua tangan meminta gendong pada Kimmy saat bangun tidur, bertemu asistennya itu.


Kimmy menyambutnya dengan gembira.


"Tuan Kecil, ayo kita jalan-jalan!" ajak Kimmy saat menggendong Kin.


Kin terlihat senang. Dia sering diajak Kimmy bermain di taman komplek. Gadis itu lalu mengajaknya keluar rumah.


"Tunggu! Aku ikut!" seru Bianca berlari sambil mengikat rambutnya.


"Ya, Bos Nona."


Mereka bertiga keluar dan berjalan ke taman, bercerita dan tertawa. Mereka bukan lagi seperti bos dan asisten, melainkan seperti teman.


Mereka duduk berbincang di taman yang rindang. Sore itu beberapa baby sitter sedang mengajak jalan-jalan anak majikan mereka juga di taman yang cukup luas itu.


"Bos Nona, apa Pak Bos Tuan marah pada anda?" tanya Kimmy.


"Soal chef?" Bianca menatap Kimmy.


"Iya, maaf kalo saya lancang menanyakan. Anda berdua tak seperti biasanya."


Bianca mengangguk.


"Huh, biasa lah lelaki! Masa untuk kemajuan istri, pakai cemburu segala? Eh, tapi memang keren sih chef Juno!" Bianca terkikik.


"Iya, Bos Nona!" sahut Kimmy. Mereka tertawa bersama.


"Mm ... gimana ya besok kursusnya, Kimmy? Masa kita barengan sama kedua pria itu?" lanjut Bianca, bingung juga menghadapi hari esok.


"Entahlah, Bos Nona. Kita ikut aja lah."


Tawa mereka berubah jadi cemas dan berdebar menunggu hari esok.


*


Malam itu, semua anggota rumah telah berada di singgasananya masing-masing. Begitu juga Kimmy yang telah duduk bersandar di atas tempat tidurnya.


Dia meraih paper bag yang diberikan oleh Felix. Membukanya dengan terburu karena gadis itu memang membutuhkan benda pipih yang baru, menggantikan ponselnya yang rusak di laci nakas.


Kimmy memindahkan kartu-kartu dari ponsel lama ke dalam ponsel yang baru. Dia segera menghidupkannya.


Satu nama yang ingin dia hubungi pertama kalinya.


"Bos Pelix," gumamnya menggulirkan daftar kontak yang masih tersimpan dalam kartu di ponsel barunya.


Sambil belajar menggunakan dan ternyata beberapa aplikasi telah diunduhkan oleh pegawai counter, hingga Kimmy tak perlu lagi mengunduh, gadis itu mencoba mengetik pesan rasa terima kasih untuk Felix.


Tuk ... tuk ... tuk!


[Bosan]

__ADS_1


[Bos]


[Felix, makasih ya hope barunya?]


"Ini kenapa ototek gini sih, gimana ngilanginnya?"


Kimmy mengerutkan dahinya. Rasa kantuk luar biasa mengalahkan rasa ingin mengutak-atik ponselnya itu. Dia terlalu lelah untuk berpikir setelah bekerja seharian. Gadis itu membiarkan ponselnya di atas nakas kemudian tidur.


*


Pria di apartemen yang hanya sedang berbalut kaus singlet bercelana pendek, menyetrika bajunya untuk dikenakan besok pagi. Dia sungguh kelabakan sampai apartemen. Ruangan itu terlihat berantakan.


Usai menyetrika sebuah baju, Felix mengambil ponselnya. Membaca sebuah pesan yang amburadul dari Kimmy.


"Bosan?"


"Hope?"


"Gadis itu, apa dia sudah bosan dengan ponselnya? Hope? Harap apa? Harapan ponsel baru lagi?" gumamnya pelan.


"Bukankah ponsel itu sudah lebih bagus dari miliknya? Huh, dikasih hati minta ampela. Mau diomelin anak kecil ini!" lanjutnya.


Felix mengabaikan pesan Kimmy, lalu merayap ke atas tempat tidur, merebahkan tubuh dan terlelap begitu cepatnya.


*


Keesokan hari, suasana rumah mewah begitu tegangnya. Pak Anton terpaku melihat keempat orang sedang berada di ruang tamu, membisu.


"Papa, berangkat duluan saja, aku menyusul."


Key akhirnya berbicara, membuat Pak Anton menganggukkan kepala dan memutuskan keberangkatan bersama sopirnya. Pria itu hanya tersenyum kaku pada semua orang di ruang tamu yang bertampang dingin bak keluar dari freezer, menunggu sang Chef datang.


"Hey, pakai baju yang tertutup!" ujar Key pada Bianca.


"Ini sudah selutut ...." protes wanita itu.


"Pakai yang lebih tertutup!" seru Key.


Bianca mendengus, tapi beranjak juga. Key mengikutinya untuk melihat baju yang akan dikenakan.


"Hey, ganti bajumu!" seru Felix berbisik.


Kimmy menoleh kanan-kiri dan menunjuk ke hidungnya. Meyakinkan diri karena tak ada siapa-siapa lagi selain dirinya di situ.


Aku?


"Iya! Siapa lagi, Oncom!" gertak Felix.


"Lho, urusanku kan sama Tuan Kecil Kin!" protesnya.


Lagian, Bos Pelix ngapain pakai ngatur-ngatur! Katanya urusan sendiri-sendiri ....


Felix melotot. Akhirnya Kimmy mengalah beranjak dan berjalan ke kamar.

__ADS_1


Biasanya juga diam aja tuh Bos Pelix, ikut-ikutan aja marahin!


Kimmy mengomel di dalam kamar. Dia meletakkan Kin di atas tempat tidurnya. Lalu mengganti celana dengan celana jeans panjang butut dan robek.


Dia keluar dari kamar, menggendong Kin dan kembali duduk di ruang tamu. Key dan Bianca melihat Kimmy dari atas ke bawah lalu menatap ke Felix, memberi pertanyaan isyarat, siapa yang menyuruh gadis itu ganti pakaian?


Felix mengangkat alis dan bahu, berlagak sok tidak tahu.


Setengah jam mereka duduk di sofa tamu. Hanya celotehan Kin yang dipangku oleh Kimmy membuat suasana agak sedikit berwarna.


"Nen ... nen ...." celoteh Kin.


"Iya, Tuan Kecil, kita menunggu Ncep ker ... en."


Gadis itu mengucap suku kata terakhir sangat pelan, karena ketiga mata memandangnya, melotot.


Pelototan itu artinya berbeda-beda, yang satu kesal, yang satu memintanya diam, yang satu lagi ... kalah saing, mungkin.


Kimmy meringis dan hanya menunduk memainkan kedua tangan Kin untuk bertepuk tangan sambil menyanyikan lagu pok ame-ame.


Akhirnya yang ditunggu-tunggu datang. Mobil Chef Juno tiba di depan rumah mewah.


Keempatnya berdiri serempak dan saling melirik. Akhirnya mereka duduk kembali, bersungut. Duo bos bahkan saling memunggungi dan menatap asisten masing-masing.


Tak ... tak ... tak!


Suara sepatu Chef Juno dan bau parfum khasnya mulai semerbak tercium.


"Huh, kayak makhluk astral datang, pake bau-bau duluan!" tukas Key.


Bianca mendengus.


"Selamat pagi!" sapa sang Chef.


Mereka berempat berdiri menyambutnya.


"Selamat pagi, Chef!" jawab mereka.


Keempatnya lalu berebut masuk ke dalam dapur khusus.


Chef Juno termangu memperhatikan tingkah mereka. Dia berjalan menyusul masuk ke dapur.


Di dalam, semua memakai apron, sayang sekali karena saling mendahului, apron yang diambil saling tertukar dan tak ada yang perduli.


Bianca dan Felix memakai apron warna hitam, sedangkan Key memakai apron bergambar doraemon.


Kimmy duduk manis bersama Kin, menyuapi balita itu sambil melihat tontonan yang sepertinya akan menarik.


******


Stop plagiarisme!


Melanggar hak cipta orang lain masuk dalam UU nomor 19 tahun 2002 pasal 72 ayat (1) yang berisi hukum pidana maksimal 7 tahun dan denda maksimal 5 Miliar Rupiah.

__ADS_1


__ADS_2