
Maaf dan mohon maklum ya gaes kalo update nggak teratur waktunya ....
******
Suara sendok dan garpu beradu di ruang makan mertua Key. Mereka menikmati masakan Bianca yang sederhana. Ya, dia memilih menu sederhana untuk belajar. Itu saja berpuluh kali bertanya pada ibunya.
Mereka menyudahi makan saat jam menunjuk ke pukul tujuh petang. Nampaknya, Kin sudah mengantuk. Bianca menggendongnya untuk ditidurkan. Sementara Brian yang membawa piring kotor ke belakang.
"Dia asyik main dengan Om-nya, tadi," ujar Bianca pada Key.
"Oh, bagus lah ada teman," sahut Key.
Bianca mengangguk, tersenyum.
"Udah petang, yuk kita pulang! Habis makan pulang!" ajak Bianca setelah Kin terlelap di dalam gendongannya.
Key mengangguk, lalu membawakan tas bayi berisi baju ganti dan peralatan bayi milik Kin masuk ke mobil.
"Papa, Mama, Brian, kami pulang dulu, ya?" pamit Bianca.
Raut wajah kecewa mereka agak terlihat. Namun, bagaimana pun Kin harus pulang dan beristirahat di rumahnya.
"Hati-hati, Nak!" seru Pak Danu dan Bu Sinta.
Key dan Bianca mencium tangan mereka.
"Brian, ini buat jajan," ujar Key.
Tiga lembar uang merah seperti biasa telah disiapkan oleh Key untuk si om kecil.
Brian menerimanya dengan berbinar. Sepertinya uang di celengan sudah terlalu penuh dengan dua ribuan.
"Huh, uang merahmu banyak, kenapa yang dimasukkan ke celengan hanya yang abu?" tanya Bu Sinta.
"Biar cepat penuh," sahut lelaki kecil itu.
Key tertawa mendengar kepolosannya, lalu masuk ke mobil.
Mobil melaju meninggalkan mereka bertiga di luar pintu.
*
Di sebuah cafe, berakhirlah juga suara aduan sendok garpu, bertandakan suara sendawa seorang gadis.
Felix merasa kesal mendengar suara sendawa gadis itu.
"Apa kamu tak bisa untuk tidak bersendawa?" tanya Felix mengelap mulutnya dengan sapu tangan yang biasa dia bawa.
"Nggak, Bos."
Felix memutar bola matanya.
"Ini, siapa yang bayar, Bos?" tanya Kimmy polos, menunjuk ke semua piring kosong yang bertebaran di atas meja.
Felix menyerahkan dompetnya ke Kimmy tanpa menjawab pertanyaannya. Sebagai seorang lelaki, dia punya gengsi untuk membayar makanan seorang perempuan. Walaupun perempuan yang membuatnya kesal sekalipun.
Kimmy menerima dompet itu lalu membawanya ke kasir. Kemudian mengembalikannya lagi pada Felix.
__ADS_1
Pria itu melihat uang kembalian diselipkan di dalam dompet beserta struk pembayaran.
Felix mengernyitkan dahi.
Apa seorang gadis bisa sejujur ini, bahkan uang kembalian pun dia selipkan di dompetku?
Felix memasukkan dompetnya ke saku, lalu mengambil kunci mobil dan beranjak keluar.
"Bos Pelix! Aku naik apa pulangnya?" pinta Kimmy.
"Kamu mau naik angkot malam-malam begini?" tanya Felix sambil berjalan, diikuti oleh Kimmy.
Kimmy mengerucutkan bibir sambil menggeleng cepat berjalan di belakang Felix.
"Masuk mobil!" titah Felix.
Senyum Kimmy mengembang seketika. Dia bergegas membuka pintu mobil dan masuk ke dalam.
Gadis itu kembali berdendang seolah hari itu tak ada kejadian yang menyebalkan.
Sesampainya di apartemen, Felix dan Kimmy berjalan ke ruangan mereka. Meletakkan ponsel di atas meja. Kapok dengan kejadian tadi.
"Jangan kamu ulangi lagi! Kencan dengan pria yang baru dua hari dikenal di media sosial! Untung itu aku!" ujar Felix memperingatkan.
"Iya, Bos! Kan aku bisa bela diri!"
"Jangan sok-sokan! Kalo dia bawa dua puluh orang, apa kamu mampu melawan?" tambah Felix sembari melepas jasnya melempar ke arah Kimmy.
"Iya, iya, Bos!"
Kimmy menangkap jas itu dengan sigap.
Kembali Kimmy menangkap dasi itu.
"Kalo Bos dikeroyok dua puluh wanita, gimana?" Kimmy balik bertanya, mengambilkan piyama untuk Felix dan balas melemparkannya.
"Iiiihhh ...." Felix menangkap sambil bergidik membayangkan. Satu wanita saja membuatnya risih, apalagi dua puluh.
Lelaki itu masuk ke kamar mandi, mencuci muka, berganti piyama, lalu melompat ke sofa bed-nya.
Krak!
Terdengar suara mengaduh saat Kimmy berada di kamar mandi.
"Kenapa, Bos?" tanya Kimmy.
"Sofanya rusak!" teriak Felix.
Kimmy menyegerakan kegiatannya di kamar mandi, lalu mendekati Felix yang sedang mengamati kerusakan sofa.
"Bos, tampaknya sofa itu punya dendam sama Bos!" ujar Kimmy tertawa.
Rusak. Sepertinya sudah lapuk karena lama tak digunakan sebagai bed.
"Kenapa Bos beli sofa kayu seperti ini? Gampang lapuk!" ujar Kimmy mengamati kayunya.
"Ah, tak tahu juga. Ini sudah berusia lima tahunan."
__ADS_1
"Mau diperbaiki apa gimana, Bos Pelix?" tanya Kimmy.
"Buang saja!"
Felix terpaksa menyingkirkan sofa itu. Mereka berdua menggotong sofa rusak itu ke luar apartemen, tempat di mana seorang tukang sampah akan mengambili sampah untuk dibuang.
"Fyuh!"
Felix mengibaskan tangannya yang terkena bubuk kayu. Dia menyesal telah melompat ke sofa, tapi jika tidak, mungkin nanti malam dia baru akan terjatuh karena kerusakan itu.
Mereka masuk lagi ke ruangan. Felix mengedarkan pandang melihat ke ruangan yang hanya ada karpet di atas lantai.
"Bos, tidur di dalam saja! Aku di karpet!" ujar Kimmy.
Felix berpikir sebentar. Tentu saja dia tak tega dengan gadis itu. Namun, untuk tidur di bawah, dia pun tak kuat dengan dingin.
"Aku tidur di sebelahmu saja!" katanya tiba-tiba, mengagetkan Kimmy.
Sejenak gadis itu mengerutkan dahi.
"B-baiklah, B-Bos!" jawab Kimmy terbata. Meski mereka pernah sekamar, tapi rasanya tetap aneh di dalam kamar, karena mereka tinggal di apartemen hanya berdua saja.
"Tapi, Bos di pinggir banget ya?" ujar Kimmy.
"Iya! Sudah tidak usah ribut, aku capek sekali! Kamu hadap utara! Aku hadap selatan, tapi jangan sampai kamu menendang mukaku!"
Felix menata tempat tidur, lalu berbaring di tempat tidur yang cukup lebar. Tidak seperti tempat tidur Kimmy di rumah. Sempit sekali.
"Baik, baik, Bos Pelix!"
Kimmy pun setuju dan menuruti untuk tidur bertolak arah dengan Felix.
Dia berbaring dan memejamkan mata. Namun, Kimmy tak bisa terlelap. Dia memilih untuk duduk bersandar dan memainkan ponselnya.
Seperempat jam, setengah jam, hingga satu jam dia tidak mengantuk. Matanya tertarik pada sebuah video penusukan seorang kakek tua di pinggir jalan.
Dia memencet video itu. Namun, gadis itu lupa memakai headset dan sangat terkejut saat mendengar suara teriakan yang cukup keras dari video itu, disusul oleh suara erangan dan lenguhan seorang gadis.
"Aah ... ah ... aaah ...."
Ternyata itu video prank. Visual dan audio tak sejalan.
Kimmy cepat-cepat menurunkan volume ponselnya. Namun, terlambat.
Felix terbangun dengan wajah penuh lekuk. Menatapnya, melotot tajam padanya. Wajah Kimmy memerah, sangat terlihat karena Felix tak mau lampunya dimatikan.
"Bos! Ini ... ini bukan seperti yang kamu kira! Aku nonton video preng!" bela Kimmy pada dirinya sendiri.
Namun, Felix tak mudah percaya begitu saja.
"Huh! Ternyata kamu suka video-video seperti itu! Mana ada prank! Aku tidak percaya padamu! Taruh ponselmu itu! Awas ya kalau menyentuhku sedikit saja malam ini!"
Felix menutup tubuhnya dengan selimut tebal dan memunggungi Kimmy.
Sialan! Hampir copot jantungku karena suara di video itu! Bos Pelix pakai nggak percaya lagi padaku!
******
__ADS_1
Stop plagiarisme!
Melanggar hak cipta orang lain masuk dalam UU nomor 19 tahun 2002 pasal 72 ayat (1) yang berisi hukum pidana maksimal 7 tahun dan denda maksimal 5 Miliar Rupiah.