Cintai Aku!

Cintai Aku!
Tugas Akhir


__ADS_3

"Makasih, Ozkan!" ucap Susan saat berada di depan portal apartemennya. Ozkan mengangguk dan tersenyum. Dia memasukkan helm ke bagasi motornya lalu berpamitan pada Susan.


"Aku pulang dulu. Jangan lupa, nanti kirim alamat ya?" pinta Ozkan.


"Mm ... iya," sahut Susan.


Gadis itu berbalik dan berjalan masuk ke apartemen dengan perasaan yang lega. Otaknya terasa segar kembali setelah menonton bioskop.


Susan memasuki ruangan apartemen dan melihat setumpuk piring kotor di dalam kitchen sink.


"Ahhh ... mau malam tapi masih harus kerja," gerutunya. Dia terpaksa berganti pakaian lalu mencuci semua peralatan makan yang kotor. Jika ditunda, bau akan menyebar kemana-mana. Baginya yang calon dokter itu, bayangan bakteri yang beterbangan cukup mengganggu pikiran. Akhirnya dia mengalah untuk membersihkannya saat itu juga.


Sambil berdendang, Susan merapikan lagi rak piringnya.


"Hmm ... beres!" ujarnya puas.


Dia merebahkan diri di tempat tidur setelah semua selesai.


*


Keesokan hari dan hari-hari berikutnya, Susan mengikuti perkuliahan seperti biasa. Dia mengabaikan hati.


Kala itu, Susan telah menginjak semester akhir. Dimana banyak sekali tugas yang harus diselesaikan. Harapannya agar di semester akhir dia bisa menghabiskan waktu bersama Yoshua sebelum berpisah, kelihatannya nihil dalam kenyataan.


Ternyata aku memang harus kuliah dengan sungguh-sungguh! tekadnya dalam hati.


"Eh, Ozkan. Maaf, aku ada banyak tugas," tolaknya saat lelaki itu akan mendekat untuk sekedar berbincang.


"Oh, maaf Susan. Silakan. Kamu selesaikan tugasmu dulu," sahutnya.


Susan berterima kasih pada Ozkan lalu berjalan ke arah perpustakaan. Di mana dia pertama kali bertemu dengan Yoshua.


Susan menarik napas melihat bangku kosong yang biasa diduduki lelaki itu. Kemudian dia menghela napas panjang lalu membulatkan tekad untuk menyelesaikan tugasnya. Disusul oleh Jessie, mereka mengerjakan tugas akhir bersama.


"Susan, kita harus bisa menyelesaikan tugas dari Mr. Donald! Aku sudah rindu pada keluargaku di Australia!" ujar Jessie.


"Iya, aku pun rindu pada keluargaku!" sahut Susan mengingat mereka yang ada di kediaman Key. Sementara, ibunya hilang kabar. Terakhir, dia mendengar ibunya pergi melarikan diri ke luar negeri bersama Leo. Sepertinya dia tak lagi mengurusi Susan.


Pandangan Susan menerawang.


"Hei, Susan! Fokus!" ujar Jessie melihat temannya itu malah melamun.


"Eh, iya!"


*


Karin dan Jessie sangat berperan penting membawa Susan berhasil untuk melewati hari-hari sulit bagi mahasiswa. Mereka bertiga saling berpelukan menatap ke hasil tugas akhir.


"Kita dapat nilai A!"


Mereka berseru gembira. Namun, tanpa terasa, air mata mengalir dari kedua pipi Jessie. Dari ketiganya, gadis itu yang paling suka tersentuh jika melihat sesuatu atau merasakan sesuatu yang menyedihkan.

__ADS_1


"Kenapa, Jes? Bukankah kita mendapatkan hasil yang bagus?" tanya Karin.


"Iya, Jes ...." ujar Susan mengelus lengan Jessie.


"Dengan berakhirnya tugas kita, bukankah nanti kita akan wisuda, lalu ... berpisah?" ujar Jessie tak dapat lagi menahan air matanya.


Mereka menyadari hal itu, lalu larut dalam kesedihan. Karin tinggal di Singapura. Mereka berbeda negara.


"Kita bisa saling mengunjungi, 'kan?" ujar Susan.


"Iya, iya ... jangan lupakan aku," rengek Jessie.


Gadis itu mengeluarkan tiga buah gelang berwarna biru tua. Dia memberikannya satu-satu untuk kedua sahabatnya.


"Ini hanya pengingat bahwa kita pernah saling berjuang bersama di kampus ini. Terima kasih, teman. Karena mengenal kalian membuatku bisa sukses dalam kuliah. Bukan hanya bersenang-senang. Namun, kalian pun memberiku kebahagiaan di saat aku sedih. Menemaniku di saat aku rindu keluarga," isak Jessie.


"Jessie ...." ujar Susan dan Karin memeluk sahabatnya itu.


Seorang lelaki ikut merasa haru melihat ketiganya. Dia mengucapkan selamat di dalam hati untuk Susan.


*


Di kediaman Key.


"Susan mau wisuda!" teriak Bianca.


Saat itu anak kembarnya telah berusia enam bulan. Mereka sedang belajar merangkak dan menghamburkan mainan dari dalam kardus. Sementara Kin sedang hobi untuk memberi nasehat pada kedua adiknya, Celine dan Celena. Tambah lagi jika baby Lingga datang. Kin selayaknya kakak yang menjaga adik-adiknya.


"Janan hambul-hambulkan mainan!" teriaknya. Namun, di kala melihat Lingga membawa sebuah mainan robot baru, dia lupa akan kedisiplinan. Ikut berbaur untuk bermain bersama.


"Iya, dia mau wisuda bulan depan!" ujar Bianca mantap, memperlihatkan sebuah pesan ke wajah suaminya.


Sementara Felix menjelaskan tentang Susan pada Kimmy yang belum pernah bertemu dengan gadis itu.


"Bagaimana kalau kita ke sana, sekalian berwisata keluarga?" usul Key.


Tentu saja semua berbinar dan setuju mendengarnya.


Bianca melakukan video call dengan Susan.


"Halo, Kak Bi!" sahut Susan di layar.


"Apa kabar, Susan? Sehat?" tanya Bianca.


"Agak meriang, karena lembur-lembur tugas, Kak! Namun, sudah lega ...." jawab Susan.


"Minum vitamin, Susan! Masa calon dokter gampang sakit?" goda Bianca.


"Iya, Kak!" gelak Susan.


Bianca memperlihatkan keempat bocah kecil yang sedang bermain di atas playmate.

__ADS_1


"Aih! Mereka sudah segitu besarnya! Itu yang cowok kecil anaknya siapa, Kak?" tanya Susan mengacu pada baby Lingga.


"Felix sama Kimmy!" ujar Bianca.


"Ya ampun ... makin tak sabar aku untuk pulang!" seru Susan.


"Iya, kami akan menghadiri wisuda kamu."


"Kalian? Semua?" Wajah Susan berseri mendengarnya.


"Iya. Nanti aku bilang ke Papa. Dia pasti akan sangat bangga denganmu!" ujar Bianca. "Oh ya, tidak sekalian ambil profesi, Susan?" tanya Bianca.


"Aku ambil di Indonesia aja, Kak! Biar dekat dengan kalian!" seru Susan.


"Oh, baiklah! Apa yang menurutmu baik, kami ikut!"


Pembicaraan mereka berakhir. Bianca kembali bermain bersama anak-anaknya dan membahas rencana kepergian mereka ke Singapura.


*


"Mas, Nona Susan itu kasihan ya?" tutur Kimmy pada Felix.


"Iya, nasibnya memang tak baik menjadi anak nyonya Winda. Namun, karena Nona Susan baik, tak seperti ibunya, maka Tuan Key berbaik hati untuk menyekolahkan dia," jelas Felix saat mereka tiba di rumah.


Baby Lingga tidur di pangkuan Kimmy. Dia lelah bermain dengan anak-anak Bianca.


"Dia lucu saat tidur, Dek!" ujar Felix menatap ke wajah anak lelakinya.


"Bangun juga lucu, Mas!" sahut Kimmy.


"Ah, iya! Punyaku kalo bangun juga lucu, 'kan?" ujar Felix mengerjap-ngerjapkan matanya.


"Iya, lucu. Bisa nyembur-nyembur kalo dibekam!" tukas Kimmy.


"Ah, jadi mau, Dek!" pinta Felix memeluk istrinya dari belakang, sementara baby Lingga masih dalam gendongan.


"Geli ih, Mas!" seru Kimmy.


"Tidurkan dulu itu, anak lelakiku yang ganteng sendiri!" titah Felix.


"Iya ...."


Kimmy meletakkan baby Lingga di atas tempat tidur. Belum juga siap, Felix menyergap dari belakang lagi.


"Ish!" teriak Kimmy.


Baru saja Felix mau membalikkan tubuh Kimmy, terdengar tangisan baby Lingga dari atas tempat tidur.


"Maap, Mas. Kamu belum beruntung!" gelak Kimmy.


******

__ADS_1


Stop plagiarisme!


Melanggar hak cipta orang lain masuk dalam UU nomor 19 tahun 2002 pasal 72 ayat (1) yang berisi hukum pidana maksimal 7 tahun dan denda maksimal 5 Miliar Rupiah.


__ADS_2