
Setengah jam kemudian, Felix telah berjalan cepat masuk ke ruang apartemen dan langsung menuju ke pintu kamar. Pria itu mengetuknya. Di tangan telah ada plastik berlogo sebuah nama apotek berisi botol cairan penurun panas.
"Buka!" seru Felix.
Tak ada jawaban maupun suara yang menandakan akan dibukanya pintu kamar. Felix mulai merasa cemas setelah tiga menit mengetuk pintu.
Akhirnya dia membuka pintu yang ternyata tidak dikunci. Kimmy terlihat sedang berselimut dan mengigau tak jelas. Nampaknya dia demam.
"Ini perempuan tidak tahu ya kalau panas harusnya tak berselimut tebal seperti ini, nanti tambah ... Arrrgh!!" teriaknya saat membuka selimut.
Sebuah pemandangan gadis yang hanya memakai baju dalam.
Felix cepat-cepat menutup mata dan kembali menutup tubuh Kimmy. Dia mengembuskan napas. Jantungnya berdetak lebih kencang. Dia meraba tembok dengan tangan kiri, sementara tangan kanan memegang plastik dan dadanya sendiri.
"Mataku! Dosa aku, dosa!" pekiknya pelan.
Setelah agak tenang, pria itu kembali mendekat dan mengguncangkan bahu Kimmy, membangunkannya, dengan menutup mata kembali.
"Aduh ...." ujar Kimmy lirih mengucek matanya dan memegang kepala.
Felix menyerahkan botol penurun panas itu pada Kimmy. "Diminum lima mili," ujarnya lalu bergegas ke kamar mandi, mengguyur wajah dengan air dingin di wastafel.
"Dua ... ish!"
Dia menampar pipinya sendiri, tak melanjutkan kata benda yang dilihat barusan, dalam kalimatnya. Kembali mengucurkan air dari kran dan mengguyur wajahnya. Berkali-kali dia melakukan hal itu, tapi bayangan tadi tak kunjung menghilang.
"Lebih baik aku tidur di karpet saja malam ini," gumamnya pelan. Walau dingin, tapi Felix tetap tidak ingin tidur dengan Kimmy malam itu. Dia berjalan ke depan televisi lalu merebahkan diri di sana. Masih memakai jaketnya.
*
"Bos! Bos Pelix!"
Kimmy mencolek-colek lengan Felix pagi-pagi benar. Dia nampaknya sudah siap untuk berangkat kerja. Dua tas, motif bunga-bunga dan pink kucel telah siap di atas lantai.
"Kenapa tidur di sini?" tanya Kimmy.
Felix mengerjapkan mata dan menarik tubuhnya agar duduk, melihat ke arah Kimmy lalu teringat semalam.
"Dua ... eh!"
Felix terkejut sendiri dengan gumamannya. Dia bergegas berdiri sampai terhuyung, menyambar handuk dan masuk ke kamar mandi tanpa menghiraukan Kimmy.
__ADS_1
"Bos Pelix kenapa sih?"
Kimmy menggelengkan kepalanya. Rasa demam semalam telah menghilang. Begitulah Kimmy, kalau sakit, badannya begitu panas tapi tak lama.
Kimmy menggosok rambutnya memakai handuk, kemudian berjalan ke arah dapur masih dengan rambut terurai acak-acakan. Dia membuka lemari es yang kosong melompong. Gadis itu melihat ke jam dinding.
"Lima menit lagi, biasanya tukang sayur datang."
Kimmy menyisir cepat rambutnya lalu berlari ke depan untuk menghadang tukang sayur.
Sementara itu di dalam kamar mandi, Felix yang telah melepas semua bajunya, terbayang-bayang dua bukit yang ditutup dengan kabut warna hitam. Bayangan di kepalanya, mode tiga dimensi, bisa tergambar bentuk sampingnya.
Terasa ada yang mengencang di bawah pusar.
"Duh! Kenapa Pelix sekarang jadi piktor! Pikiran kotor!" omelnya sendiri, menepuk-nepuk jidat.
Felix mengguyuri sesuatu yang mengencang tapi bukan ikat pinggang itu hingga melemas. Hanya itu yang bisa dilakukan. Kemudian mengguyur kepalanya agar melupakan gambaran gundukan kembar tadi. Namun, sekarang yang terbayang malah penutupnya.
"Hitam berenda ... ish!"
Pria itu mengulangi dari awal untuk mengguyur tubuhnya dengan air dingin, menyesal kenapa ingatannya sungguh encer dalam semua hal.
Kimmy memilih-milih sayuran bersama ibu-ibu dari luar apartemen. Mereka hanya tersenyum pada Kimmy yang seringkali terlihat saat tukang sayur datang.
Tukang sayur menepuk jidat.
"Ealah, Neng, lupa! Sebentar, mamang belikan di seberang sana, ya?" tunjuknya ke sebuah minimarket.
"Mmm ... nggak usah lah, Bang! Aku bawa aja. Lagian sedikit, kok! Berapa ini semua?"
Tukang sayur mengangguk, lalu menghitung harga semua barang yang Kimmy beli. Gadis itu mengangsurkan uang ke tangan pria hitam yang bergegas memberikan kembalian uang padanya.
"Kembaliannya, makasih, Neng."
"Sama-sama, Bang!"
Sebentar, Kimmy tersenyum dan menganggukkan kepala pada dua ibu yang ikut berbelanja. Mereka pun membalas senyuman gadis itu.
Felix melihat Kimmy yang datang menyangga terong di tangannya. Lagi-lagi, pikiran pria itu bertravelling kemana-mana. Kali ini, terbayang miliknya sendiri, melihat sayur berwarna ungu itu.
"Kenapa Bos menatapku seperti itu?" tanya Kimmy heran.
__ADS_1
"Eh, itu terong kenapa warnanya ungu?" ujar Felix.
"Bos ketularan demam, ya? Ya terong warnanya ungu apa hijau, lah!"
Kimmy menggelengkan kepala lalu masuk ke dapur, sambil mulutnya membentuk kalimat 'gimana sih' tanpa suara.
Felix memegang dahi.
"Iya, mungkin benar kalau aku demam."
Kimmy memotongi sayur kemudian memasaknya. Menumis duo bawang saja membuat bau wangi di ruangan apartemen Felix, apalagi saat menambahkan udang rebon. Dia memasak dengan cara diberi kuah santan encer.
Felix mengendus-endus baunya yang semerbak. Tiba-tiba perutnya terasa lapar pagi itu. Satu jam kemudian, semua telah siap di atas meja. Kepulan asap nasi dari pemasak nasi, sayur, dan semangkuk kecil sambal.
Kimmy sedang membersihkan semua peralatan dengan cekatan, ketika Felix masuk ke dapur karena perutnya telah meronta-ronta.
"Eh, Bos, makan dulu. Aku sudah makan."
Kimmy meletakkan semua yang telah dia cuci kembali ke tempatnya. Felix mengambil nasi hangat dan dikucuri sayur dan sesendok sambal. Segera dia menyendokkan sesuap ke mulutnya. Sebentar dia kepanasan, tapi ketika hangat masuk ke mulutnya dan membuat perutnya terasa hangat. Tambah lagi secangkir besar teh panas pagi itu sungguh membuat Felix merasa istimewa meski hanya sayur ala kampung.
"Aku mau ganti dulu, Bos. Aku udah pesan taksi, sebentar lagi datang. Aku mau bersiap untuk berangkat ke rumah Bos Nona, bertemu Kin!"
Setengah berlari, gadis itu masuk ke kamar untuk berganti pakaian.
Mendengar itu, Felix menghentikan suapan kelimanya. Dia terdiam mengunyah sangat pelan.
Dia pergi dengan taksi, begitu tiba-tiba.
"Hey, bukankah kita sejalan!" seru Felix agar gadis itu mendengar dari kamar.
"Nanti semua curiga kalo aku bareng sama Bos Pelix!" jawabnya dari dalam.
Felix menggelengkan kepala. Dia kembali menyendok nasi dan sayur tersisa, memasukkan lagi ke mulut. Rasanya sudah berbeda, campur dengan pikiran pada gadis itu.
Di depan, sebuah taksi telah siap menjemput Kimmy. Sepertinya sang sopir sudah mengkonfirmasi kedatangannya pada aplikasi. Kimmy segera merapikan sprei yang sedikit berkerut karena dia duduki barusan. Lalu, dia mengambil tas-tasnya.
"Bos! Aku berangkat dulu, ya!" teriak Kimmy berjalan ke depan pintu dengan tergesa sambil membawa dua tas tanpa memberi kesempatan Felix untuk kembali menahannya.
Pria itu hanya mengekori bayang Kimmy dengan kedua bola mata.
******
__ADS_1
Stop plagiarisme!
Melanggar hak cipta orang lain masuk dalam UU nomor 19 tahun 2002 pasal 72 ayat (1) yang berisi hukum pidana maksimal 7 tahun dan denda maksimal 5 Miliar Rupiah.