Cintai Aku!

Cintai Aku!
Pekerjaan Susan


__ADS_3

Enam bulan setelah kedatangan mereka di panti asuhan dan Susan yang menghabiskan waktu untuk bekerja dan studinya, kini dia dihadapkan untuk turun langsung menangani pasien yang akan dilakukan tindakan operasi transplantasi jantung.


Anak berusia delapan tahun itu, menurut para perawat, bertubuh sangat kurus dan berkulit pucat karena penyakit gagal jantung yang sudah hampir akut, berdampak pada nafsu makannya yang menurun. Dia dirawat jalan selama enam bulan dan kali ini dia masuk ke bangsal karena tiga hari lagi operasi akan dijalankan. Susan adalah salah satu dokter yang menanganinya. Baru kali itu Susan menangani pasien gagal jantung dan dia masih anak-anak. Dokter menunjuk Susan dengan melihat kemampuannya selama satu tahun ini.


Susan membenahi masker dan sarung tangannya. Kemudian kacamatanya. Dia berdebar saat akan memasuki ruangan khusus anak-anak. Biasanya, dia masuk mengikuti dokter Putra. Namun kali ini dokter Putra sedang bertugas di luar kota. Jadi, dia bersama empat dokter lain akan menangani pasien bernama Adele sampai pada tindakan operasi.


Susan memejamkan mata memegang slot pintu. Kemudian dia mulai memantapkan diri memutar slot dan membuka lalu menapakkan kaki masuk ke ruangan dengan pintu tinggi itu. Bangunan peninggalan belanda.


"Halo, Adele ya?" sapa Susan saat melihat gadis yang sungguh di luar dugaannya.


Susan pikir, dia akan menemukan seorang gadis dengan wajah muram. Namun, walau seperti yang digambarkan oleh para perawat, tubuhnya kurus dan kulitnya pucat tapi dia memiliki mata yang menunjukkan semangat hidup. Berbinar, meski sebuah alat bantu pernapasan terpasang, seolah sesak melihatnya.


"Sepertinya ini akan mudah," gumam Susan menatap gadis itu.


"Halo, Bu Dokter!" sapa Adele. Suaranya nampak sedikit lemah. Sepertinya sesak napas agak sangat mengganggu bicaranya.


"Oh, maaf. Kalo Adele lelah, jangan bicara terlalu banyak, ya?"


Susan melirik ke pintu yang berdecit. Seorang wanita dengan menunjukkan wajah lelahnya masuk ke ruangan. Susan yakin wanita itu adalah ibunya Adele.


"Oh, Bu dokter! Maaf, saya baru saja ke kantin. Adele minta roti manis," jelasnya.


"Oh, nggak apa-apa, Bu. Adele boleh makan roti kesukaannya. Besok, sebelum operasi baru puasa. Adele kuat, kan? Biar operasinya lancar!" ujar Susan meyakinkan.


"Iya, Adele udah lama nggak masuk sekolah, kepengen sekolah biar jadi dokter kayak bu dokter ... Susan," ujar Adele terengah-engah membaca name tag Susan.


Susan tersenyum lebar mendengarnya.


"Wah, bisa sekali! Yang pertama, Adele harus semangat melewati operasi. Nanti kalo udah sembuh, Adele bisa sekolah lagi yang giat! Biar jadi dokter ... apa, ya?"


"Gigi! Biar bisa nyabuti gigi orang," lanjut Adele polos.


Susan tertawa meski hatinya trenyuh. Gadis seusia Adele harus merasa tersiksa dengan keadaannya.

__ADS_1


Mama Adele hanya tersenyum miris. Dia sendiri sangat pesimis melihat keadaan Adele. Perlu banyak waktu menunggu orang yang mau mendonorkan jantungnya. Dan baru keadaan Adele seperti itu, baru ada orang dengan penyakit kanker yang parah dan tak bisa terselamatkan, mau mendonorkan jantungnya.


"Ibu juga semangatin Adele, ya? Kan nanti kalo ibu sakit gigi, Adele bisa ngobatin, ya?" ujar Susan.


Adele mengangguk-angguk. Sang Ibu tersenyum memegang tangan anaknya.


"Iya, bu dokter. Semoga Adele diberi umur panjang dan bisa mewujudkan cita-citanya," lirih sang ibu.


Susan tau ketika dia mengangguk dan memeriksa Adele, wanita itu berusaha menghapus air mata yang terlanjur bergulir di kedua pipinya.


"Kami tim dokter akan melakukan yang terbaik! Ibu bantu doa, ya? Kekuatan doa sangat dahsyat, Bu!" ujar Susan berbisik pada sang ibu.


Wanita itu mengangguk cepat. "Saya percaya, Bu!"


"Bu Susan balik dulu ke ruangan, ya? Adele makan yang banyak. Nanti bu Susan belikan mainan dokter-dokteran kalo Adele sembuh!" janji Susan.


Mata gadis itu berbinar lagi walau dia tak bisa mengucap apa-apa karena lelah.


***


Susan meletakkan jas dokternya di laundry bag sore itu saat selesai jam kerja. Dia merenggangkan otot-ototnya, lalu membersihkan tangan dan wajah di kamar mandi. Setelah dokter lain datang ke ruangannya sendiri, Susan berpamitan pulang.


"Bu Diana, saya pulang dulu," pamitnya.


"Iya, Mbak Susan. Silakan."


Dokter Diana adalah dokter senior yang sangat baik pada Susan. Tak seperti yang Susan takutkan pertama kali masuk ke rumah sakit itu, ternyata ada juga beberapa dokter senior bahkan dengan prestasi yang luar biasa, bersikap baik dan sangat membantu Susan.


Gadis itu meletakkan tas di bahu. Turun menggunakan lift khusus. Saat keluar, dia berjalan pelan melewati beberapa bangsal dengan beragam wajah orang. Lalu melewati lorong-lorong jalur khusus dokter untuk menuju ke parkiran khusus. Diantara para dokter, hanya Susan yang mengendarai sepeda motor, dan itu tak menjadi masalah baginya.


Susan menjalankan motornya sampai di gerbang rumah sakit. Tak sengaja rodanya sedikit menyenggol mobil putih yang baru saja masuk ke rumah sakit melewati pos tiket parkir.


"Hei!" omel pengemudinya.

__ADS_1


Susan merasa tak bersalah karena mobil berposisi agak ke kanan, hingga Susan harus berhenti.


Meski begitu, Susan mengatupkan kedua telapak tangan mengisyaratkan maaf pada pengemudi. Saat itu dia menyesal tak mengambil jalur barat untuk dokter karena dia ingin melewati pohon-pohon rindang di sekitar taman rumah sakit.


Susan menunggu reaksi sang pengemudi. Kaca mobil turun. Lalu si pengemudi yang wajahnya sangat familiar bagi Susan melongok melihat ke mobilnya yang tersenggol roda.


"Kotor! Kamu mau cucikan?" teriaknya congkak.


Susan membuka maskernya. Seketika wajah Dion tambah kesal melihat siapa yang menaiki motor.


"Oh, Culun! Ngapain kamu di rumah sakit? Cuci otakmu, ha? Kamu bisa apa, ganti cat mobilku! Masih untung kamu, mobilku nggak kegores! Apa kamu kuat nyuciin?" omelnya.


Susan mengambil satu kotak tissue basah dari dalam tasnya, kemudian melemparnya ke wajah Dion.


Syut!


Tepat masuk di dalam mobil, jatuh di atas paha Dion.


"Itu! Buat bersihkan mobilmu!" teriak Susan, melihat hanya sedikit noda debu di bawah pintu mobil karena tersenggol roda Susan.


"Heh! Kurang ajar!"


"Apa? Masih bagus aku kasih tissue basah! Coba aku kasih amplas! Kamu bakal kebakaran jenggot lihat mobilmu!" seru Susan. Tak perduli lagi gelar dokter yang dia dapat, menghadapi pria itu.


Diiin!


Suara klakson mobil membuat Dion harus segera menjalankan lagi mobilnya.


"Awas kamu! Kali ini kamu bersyukur karena selamat lagi!" gerutu Dion kesal.


Susan hanya tertawa dan menggelengkan kepala melihatnya.


******

__ADS_1



__ADS_2