Cintai Aku!

Cintai Aku!
Kapan?


__ADS_3

Felix merogoh sapu tangan bermotif kotak dari saku celananya lalu mengusap wajahnya yang basah kuyup. Dia sebenarnya sangat jijik. Namun, ditahan demi melihat pria lemah di depannya.


"Sepertinya sudah pergi," ujar Felix mendahului sang dukun.


Entah yang pergi apanya?


Dukun itu melotot, geram mendengarnya. Namun, raut wajah berubah drastis saat Felix diam-diam mengeluarkan sepuluh lembar uang merah dari saku dan meletakkannya di depan lelaki tua itu.


"I-iya, memang sudah pergi!" ujar si dukun. Matanya lekat ke arah uang itu, lalu cepat-cepat memasukkannya ke dalam saku.


Kimmy yang tidak melihat hal itu, mendesah pelan, agak lega mendengarnya.


"Ini, Mbah!" ujar Kimmy menaruh selembar hijau ke tangan si kakek.


Namun, tak disangka pria tua itu menolak.


"Bawa saja! Bawa pulang! Nanti itu akan menghijaukan yang merah!" tolaknya keras.


Felix menahan tawa. Sedangkan Kimmy tak tahu maksudnya. Gadis itu hanya menurut, memasukkan selembar hijau tadi ke sakunya kembali sambil mengangguk-angguk tak mengerti.


"Makasih banyak, Mbah! Kami pulang dulu!" pamit Kimmy, kembali menarik tangan Felix dari situ.


"Aing macan!"


Felix berlagak mencakar Kimmy saat perjalanan pulang dari rumah dukun.


"Ih, apa sih Bos Pelix!" seru Kimmy kesal.


Felix terbahak. Hingga Kimmy merasa makin heran. Baru kali ini dia melihat pria itu tertawa sepuasnya. Akhirnya Kimmy membiarkan pria itu dengan kebahagiaannya sendiri.


*


Kedua orang itu sampai rumah, kemudian Felix membasuh wajahnya di kran depan rumah lalu menghempaskan diri di kursi teras. Lelah rasanya berjalan sepanjang itu. Sandal jepitnya terasa mau putus. Felix membenarkan sandalnya di depan sambil menghilangkan keringat.


Berbagai sayuran telah ditanam di depan rumah. Pria itu meletakkan kembali sandalnya lalu bersandar di kursi menikmati semilir angin desa, mengistirahatkan kaki-kakinya yang kecapekan. Sedangkan Kimmy berbincang dengan kedua orang tuanya di dalam.


"Nggak apa-apa, Pa!" jawabnya saat Pak Luki menanyakan keadaan Felix.

__ADS_1


"Oh, syukurlah."


Pak Luki mengambil sebuah ketela rebus di piring kemudian menggigitnya sedikit.


"Kelihatannya udah mau punya cucu belum?" gurau Pak Luki pada Kimmy.


Kedua anak lelaki, adik-adik Kimmy berlari ke depan, menemani kakak iparnya yang sedang duduk santai. Sebentar saja, mereka nampak akrab.


"Siapa?" tanya Kimmy.


"Ya Papamu ini!" jawabnya.


"Errr ... tunggu ya Papa!" tutur Kimmy menenangkan.


"Iya, itu tetangga pada nanyain, Kimmy, Mama malu ini kalo lama nggak punya cucu. Gimana kalo kalian ada masalah, terapi atau konsultasi ke bidan. Periksa kek!" ujar Bu Amy menambah daftar ketegangan Kimmy.


Terapi? Ke bidan?


Kimmy ingin amblas ke tanah.


Felix masuk ke dalam rumah. Kedua orang tua itu tambah memberondongnya.


Felix dan Kimmy saling berpandangan.


"Anu-anu?" tanya mereka bersamaan.


Pak Luki dan Bu Amy mengangguk-angguk senang. Felix menelungkupkan kedua telapak tangan saling bertemu dan membolak-balikkannya.


"Begini, maksudnya?" tanya pria itu.


"Fotokopi maksudnya?" tanya Kimmy berbisik di telinga Felix.


Felix mendengus dan berkecak pinggang mendengar tebakan Kimmy.


"F-fotokopi bolak-balik, kan?" ujar Kimmy lirih.


"Maksudnya enak-enak, Oncom!" desis Felix di telinga Kimmy.

__ADS_1


"Aah ... nggak ngerti!" bisik Kimmy.


"Nanti aku ajari!" sahut Felix jengkel.


"Memangnya Bos Pelix jago?" tanya Kimmy lagi tanpa tau yang dia tanyakan.


Felix menggeleng lemah. "Belum pernah juga sih ...." bisiknya.


"Ugh, belum pernah mau ngajarin! Aku mau belajar sama yang udah pro aja!" sahut Kimmy.


"Ehh!" tukas Felix mencubit lengan Kimmy. Mulut gadis itu menganga menahan sakit. Dia benar-benar tak tau yang dimaksud dengan anu-anu dan enak-enak. Mungkin dipikirnya seperti makanan. Sejenis ote-ote gorengnya dibolak-balik, gitu.


Ketukan di pintu membuat Bu Amy beranjak dari ruang tengah. Wanita itu cepat-cepat membukakan pintu.


Seorang wanita berbadan gemuk tengah membawa sebuah piring berisi gorengan panas. Sepertinya enak sekali.


"Bu Amy, tadi saya lihat Mbak Kimmy sama babangnya itu lewat depan rumah. Wah senang ya? Pada kumpul!" seru wanita tambun berdaster itu.


"Iya, Bu Wati ...." jawab Bu Amy menerima piring itu.


"Ini buat cemilan pas kumpul-kumpul. Nyicip ya, Bu! Maaf cuma dikit. Saya belajar bikin gabin tape!"


"Makasih, Bu! Ini banyak sekali!" jawab Bu Amy.


"Eh, Mbak Kimmy! Kapan?" tanya si tetangga itu saat Kimmy menyembul di balik tirai.


"Mm, kapan ... kapan apanya ya, Bu?" tanya Kimmy.


"Itu, jadiin cucunya buat Bu Amy," jawab wanita berdaster itu lagi.


"Eeeh ... nanti," jawab Kimmy asal.


Bu Wati mengerutkan dahi. Heran dengan jawaban Kimmy.


******


Stop plagiarisme!

__ADS_1


Melanggar hak cipta orang lain masuk dalam UU nomor 19 tahun 2002 pasal 72 ayat (1) yang berisi hukum pidana maksimal 7 tahun dan denda maksimal 5 Miliar Rupiah.


__ADS_2