
Yoshua menelan salivanya. Berkali menatap ke arah cincin dan wajah Susan. Gadis di depannya itu ternyata diasuh oleh keluarga yang sangat kaya. Apa cincin sederhana itu akan mampu meluluhkan hatinya?
Susan menekan remote tempat tidur agar dalam posisi duduk. Dia tak bisa mengintip sedikitpun apa yang ada di balik kotak, walau dia menebak isinya adalah sebuah cincin.
Klek.
Yoshua menutup kotak dan memasukkannya ke dalam saku baju. Meninggalkan rasa penasaran Susan.
"Apa itu, Yosh?"
Senyum tipis terbingkai di wajah Yoshua. Dia menertawai dirinya yang tak mampu memberanikan diri menyatakan sebuah kata cinta, walau sudah sampai hampir mengorbankan nyawanya.
"Ini bukan apa-apa," sahutnya lirih, terasa tak bersemangat.
"Lihat ...," rengek Susan.
Ada sebersit rasa iba melihat gadis itu penasaran, tapi juga ada sebuah ketakutan jika dia tahu apa yang disembunyikannya.
"Sue, ini hanya—"
"Cincin?"
Raut wajah Susan yang imut menuntut penjelasan dari Yoshua tentang benda berbentuk lingkaran itu. Desah mengalah terasa hangat dari hidung Yoshua. Dia menyipitkan bibir lalu merogoh kembali kotak yang disembunyikannya tadi.
"Ini," ujarnya menunjukkan kotak kecil itu.
"Buka," pinta Susan.
Yoshua mengangkat alis lalu membuka kotak yang membuat Susan penasaran itu.
"Cuma cincin biasa, 'kan?"
Susan menatap cincin itu sedikit berbinar senang. Namun, sebentar kemudian, masih menjadi pertanyaan cincin itu untuk siapa, binarnya kembali surut.
"Untuk siapa? Pacar?" desak Susan.
Yoshua menangkap ada sorot harap di mata Susan. Dia menarik napas dan mengembuskan lagi sebelum mengatakan tentang cincin itu. Yoshua mengambil cincin dan memutar-mutarnya sambil bercerita.
"Begini, ini untuk seorang gadis. Seseorang yang aku sayangi. Cincin ini kubeli dengan usahaku selama bekerja. Hanya cincin kecil yang murah bagi gadis itu sih. Karena dia mungkin bisa membeli lebih mahal dari ini."
Agak kecewa, Susan tak serius mendengar perkataan Yoshua. Dia menahan desir kecewa di dada.
"Matre dong, ceweknya?"
__ADS_1
Susan menatap ke jendela. Rasanya sangat rindu dengan angin luar. Dia sedikit menyesal menanyakan tentang cincin itu. Perkataan Ozkan pun mungkin hanyalah prediksi pria itu saja. Ada rasa perih di hati Susan.
"Kurasa nggak, dia gadis termanis yang kukenal. Selama berapa tahun aku mengenalnya, tak nampak dia itu matre. Bahkan sering sekali membantuku."
Susan tersenyum kecut. Itu artinya ada seorang gadis lain yang sering membantu Yoshua dalam hal keuangan. Chika? Atau siapa?
"Ya ... kenapa tak kamu berikan saja cincin itu padanya?" ujar Susan ketus.
Baru kali itu Yoshua mendengar Susan berkata agak keras dan terdengar penekanan yang menyiratkan sebuah ... kecemburuan, mungkin? Pria itu tersenyum tipis.
"Aku takut dia menolak."
Yoshua merespon omongan Susan sambil menahan senyum. Susan nampak sekali cemberut, tak fokus padanya. Menebar pandang ke segala arah. Paling jelas, terlihat genangan air tipis di kedua matanya.
"Suruh dia nerima kamu."
Walau kesal, Susan masih saja menjawab perkataan Yoshua. Lelaki itu tambah iba melihatnya.
"Sue, aku minta pendapatmu. Kalo misal kamu yang jadi gadis itu, apa kamu mau nerima cincin yang tak berharga ini?"
Yoshua memutar lagi cincin yang sekarang tak lagi dia permasalahkan. Yang jadi masalah, hati gadis itu sekarang.
"Ya kalo aku sih tergantung niat lelakinya. Dia serius tidak sama aku? Semahal apapun cincinnya, kalo niatnya tak ikhlas, sama saja, 'kan?" lirik Susan pada Yoshua. Dongkol.
Susan mendengus. Sudah punya gebetan, kenapa merayunya. Bilang bahwa tak semua gadis sepertinya. Apakah ini yang namanya rayuan gombal?
"Ya ... wajah orang tuh kan tak sama, apalagi isi otaknya, apalagi isi hatinya."
Susan mulai menghela napas kasar. Dia berpikir banyak sekali gadis yang lebih cantik, yang mungkin memikat hati Yoshua hingga membuat lelaki itu membeli sebuah cincin. Tanda pengikat?
"Cincin itu kan tanda pengikat? Apa kamu mau mengikat gadis itu, Yosh?" selidik Susan. Bingung sendiri dengan pikirannya.
"Kalo dia mau, ya seperti itu lah. Cuma masalahnya, pekerjaanku belum mapan. Aku maju mundur ingin melangkah. Mau maju, tapi ingat kerjaan, mau mundur takut kehilangan."
Yoshua menatap wajah Susan yang mulai merah padam, kesal tingkat Saturnus mungkin. Lelaki itu bukan ingin mempermainkan, tapi ingin melihat sikap Susan saja.
"Mapan ya sambil jalan. Mungkin kamu salah satu lelaki yang butuh proses untuk kata mapan. Bisa dihitung jari untuk orang yang langsung kerja mapan. Jadi ya kamu jangan pesimis. Justru pas habis menikah kamu akan dapat jalannya. Sana! Nikah!" cerocos Susan.
Sumpah. Yoshua ingin tertawa terbahak-bahak melihat sikap Susan. Ingin mencubit hidungnya, tapi pasti dia akan mengamuk dan menangis. Bisa saja dia akan mengusir Yoshua keluar.
"Baiklah Sue, aku ingin memberikan cincin itu di jari manisnya. Enaknya kanan apa kiri?" goda Yoshua lagi.
"Terserah!"
__ADS_1
Nada kesal makin melengking, menjadi-jadi. Susan bahkan tak perduli pada apa yang akan dilakukan Yoshua. Pria itu memegang tangan Susan dan memasang cincin di jari manis Susan. Raut kaget nampak di wajah gadis itu.
"Kamu ... nyobain cincin ini di jariku? Apa jari gadis itu sama rampingnya dengan jariku? Kenapa cincin ini pas sekali?" lirih Susan memandangi cincin yang nampak manis di jarinya.
"Itu ... untukmu."
Suara Yoshua tercekat di tenggorokan. Dia telah memberanikan diri untuk mengatakan dua kata itu saja. Yoshua menatap wajah Susan dengan senyum yang paling manis.
"Untuk ... ku?" ulang Susan menunjuk dirinya sendiri.
"Iya. Apa perlu aku ulang? Kenapa dokter sepintar kamu harus dijelaskan lebih dari satu kali?" Kali ini Yoshua mengomel.
Susan menutup mulutnya dengan satu tangan. Dia nampak haru, kaget, senang, ah campur aduk rasanya. Akhirnya dia hanya terharu sampai menangis sesenggukan.
"Eh, kok malah nangis sih, Sue ...." Yoshua memegang jari tangan Susan dan mengelusnya perlahan dengan ibu jarinya.
"Jangan nangis ... kamu nggak seneng?" tanya Yoshua.
"A-aku seneng ...." Susan terisak lagi.
Yoshua mengangkat dagu Susan dan menghapus air mata yang mengalir dari kedua matanya.
"Susan, maukah kamu—"
Ceklek.
"Tante Susan!" panggil seorang anak laki-laki masuk ke dalam ruangan dengan senyum lebarnya, tak mengerti situasi. Yoshua melepaskan genggaman tangan karena anak itu mulai mendekat.
Anak lelaki itu benar-benar merusak suasana. Moment dimana Yoshua akan melamar Susan.
"Kin!" gumam Susan geram. Ingin rasanya dia mencubit pipi Kin yang malah memamerkan sederet gigi putih dan rapinya. Namun, senyum itu pudar saat melihat bekas air mata di mata Susan.
"Tante Susan nangis?" tanya Kin.
Belum juga dijawab, dia sudah menatap tajam ke arah Yoshua.
"Om yang bikin Tante Susan nangis ya! Iihh!!"
Yoshua menjerit saat dengan cepat Kin menarik tangan pria itu dan menggigit punggung tangannya dengan sangat kesal.
******
__ADS_1