
"Kenapa kamu ikut-ikutan, Felix?" desis Key.
Felix tergagap. "E ... eh, s-saya mendukung Tuan Key!" jawabnya membusungkan dada, menunjukkan kesetiaan.
Huh, dia bisa mengerjakan tugasnya di ruang kerja, malah ikut memasak! Ya sudahlah!
Key memijat keningnya.
"B-baik, Tuan-tuan. Besok akan saya jadwalkan untuk kursus masak kalian. Untuk Tuan-tuan, mau pagi, siang atau sore?" tanya chef Juno setelah mematikan kompor.
Key dan Felix saling berpandangan. Kemudian mengangkat alis.
"Pagi!" jawab mereka bersamaan. Kompak.
"Oh, baiklah." Chef Juno terlihat membuka ponsel pintanya dan mencatat jadwal di layar.
"Lalu, untuk Nona-nona? Siang atau sore?" tanya Chef.
Bianca dan Kimmy saling berpandangan, seperti yang dilakukan Key dan Felix.
"Siang," jawab mereka tak kalah kompak.
"Ya, ba-...."
Ucapan Chef terpotong oleh dua pria.
"Kami juga siang!" ujar mereka.
Chef mengangkat alis, mengerutkan dahi.
"Maaf, kita tak bisa belajar bersama ...."
Chef memutar badannya menatap ke seluruh ruangan.
"Harus bisa!" desak Key yang diikuti anggukan Felix.
"I-iya, baiklah. Bisa."
Akhirnya sang chef harus mengalah. Kedua perempuan pun tak bisa berkata apa-apa lagi, selain mengikuti kemauan dua pria itu.
Acara belajar masak telah usai. Key masuk ke kamar dengan Bianca. Pria itu meminta penjelasan padanya.
"Jadi itu yang buat kamu ingin kursus setiap hari?" tanya pria itu kesal.
"Eh, itu ... apa?" Bianca balik bertanya.
"Itu ... Si Chef! Umur berapa dia?" tanya Key.
"Ya ... mana kutahu, bagiku yang penting kan bisa masak!" balas Bianca.
"Huh, bilang saja dia keren!"
"Kamu yang bilang, bukan aku!" ujar Bianca lagi.
Pria cemburu di depannya ini begitu ngeyel. Namun, yang dikatakan Key memang ada benarnya. Chef itu keren.
"Ugh, aku buktikan kalau aku tidak kalah keren di dapur!"
Key menjentikkan jari kelingkingnya. Mereka saling memunggungi, sepertinya perang akan dimulai.
*
"Bos Pelix! Pak Bos Tuan sama Bos Nona baru marahan, ya?"
__ADS_1
Felix hanya mengangkat bahu.
"Bos Pelix tadi lihat Ncep Juno, kan? Keren deh atraksinya!" oceh Kimmy.
"Wajahnya itu seperti kebule-bulean gitu, rapi sekali cara menyisir rambutnya. Dia pandai memasak juga!" tambah Kimmy lagi.
Kedua alis Felix bertemu. Entah kenapa dia merasa kesal ketika gadis itu membicarakan sang Chef.
"Berisik!" sahut Felix.
"Bos kenapa sih? Jangan bilang Bos seperti Pak Bos Tuan! Bos sendiri yang bilang kalau kita boleh menyukai orang lain, ya kan?"
Felix mendengus.
"Iya, tapi mulutmu ngoceh terus soal pria itu! Mengganggu pekerjaanku!" ujar Felix menutup akun media sosialnya.
Sekarang Kimmy yang mendengus.
"Jujur aja, kenapa Bos Pelix ikut kursus masak?" sela Kimmy dalam pekerjaan mereka.
Felix membulatkan mulutnya, meniupkan udara banyak-banyak.
Kenapa gadis ini cerewet sekali, sih!
"Ya ... Tuan Key ikut masak, aku pun juga mau! Asisten kan setia! Lagian di apartemen, semua tukang sudah kamu usir! Baik itu tukang laundry, tukang catering, tukang bersih-bersih! Aku harus memasak sendiri, kan?" kilahnya.
"Mmm ... begitu."
Kimmy hanya mengangguk-angguk sambil menatap komputer.
"Bos Pelix, mana handphone-nya?" ujar Kimmy mengalihkan pembicaraan, masih menatap ke layar komputer.
Felix menepuk jidat. Gara-gara Tuan Key minta pulang awal dan di rumah melihat acara kursus yang ternyata chef-nya seorang pria, membuat pikirannya buyar.
"Eh, Bos Pelix! Mau kemana?" tanya Kimmy.
"Katamu nagih handphone!" jawabnya tetap membuka pintu dan keluar ruangan.
"Aiya! Aku ikut!!" teriak Kimmy.
Mereka berdua sebenarnya telah selesai bekerja dan hanya mengutak-atik akun media sosial saja. Jadi, sore itu bebaslah tugas mereka. Namun, untuk Felix, dia masih harus menjalani hukuman lembur di ruang kerja dalam rumah mewah tuannya.
Kimmy mendahului Felix masuk ke mobil. Bahkan setelah pria itu membuka pintu dari kejauhan.
Felix menggelengkan kepala melihat kelakuan gadis itu.
"Hey, apa kamu sudah pamit pada Nona Bianca?" tanya Felix.
"B-belum," jawab Kimmy pelan.
Dia turun dari mobil pelan kemudian berjalan masuk lagi. Gadis itu berjalan ke atas, mendapati kamar Pak Tuan Bos dan Bos nonanya masih tertutup. Tentunya Kin masih di dalam.
Kimmy menggigit bibirnya, takut untuk mengetuk pintu kamar itu, tapi juga ingin ikut dengan Felix. Akhirnya dia hanya mondar mandir saja di depannya.
Ternyata, mobil Felix meluncur tak lama setelah Kimmy masuk tadi.
"Nah, bagus lah dia tidak ikut! Dia akan sangat rewel jika ikut memilih ponsel! Dasar gadis bergigi tak rata!" Felix menutup mulutnya yang meringis.
Dia meluncur ke gerai handphone langganannya untuk membeli ponsel merk ternama keluaran terbaru.
Sesampainya di sana, Felix memilih sebuah ponsel baru berspesifikasi cukup lumayan untuk Kimmy.
"Ini memang lumayan, Tuan. Ram-nya besar, untuk foto juga bisa dipercantik, memory pun besar untuk menyimpan!" dukung sang penjual.
__ADS_1
Dia pun memilihkan gadis itu sebuah phone case berwarna pink dengan gambar hati berwarna merah.
"Untuk pacarnya ya, Tuan?" tanya si penjual, mencoba berbasa-basi karena tak mungkin lah pria itu memakai untuk ponselnya.
"Eh, ganti, ganti!" ujarnya menyadari gambar itu terlihat romantis.
"I-iya, Tuan, yang mana?" tanya si penjual ponsel kaget.
"Garis-garis hitam putih saja!" ujar Felix. Pikirnya gambar itu netral.
Akhirnya, ponsel seharga lima juta rupiah itu, dirasa cukup bahkan jauh lebih baik dari ponsel Kimmy sebelumnya, berhasil dibeli oleh Felix. Dia menenteng paper bag coklat dengan tulisan toko cellular itu dengan puas.
*
Kimmy yang kecewa karena mobil Felix telah pergi dan bos kecil sepertinya tidur bersama mommy-nya. Sedangkan untuk berpamitan pada Pak Bos Tuan yang keluar dari kamar pun dia tak berani karena tampang pria itu sedang buram sekarang ini. Gadis itu menghela napas.
"Kimmy, di mana Felix?" tanya Key.
"B-bos Pelix katanya ke konter, Pak Bos Tuan!" jawab Kimmy lalu menutup mulutnya.
Ah, keceplosan.
"Counter? Tahu kenapa dia ke sana?" tanya Key lagi.
"Emmm ... mungkin beli cesing, Pak Bos Tuan!" sahut Kimmy asal.
Key mengelus dagunya. Sementara dahi berkerut dan bola matanya kemana-mana, berpikir.
"Permisi, Pak Bos Tuan," ujarnya lirih, berjalan merambat membelakangi tembok dan bergegas ke kamar Kin agar pria itu tak banyak bertanya lagi.
Kimmy mengelus dadanya yang berdegup kencang karena takut ketahuan jika Felix membelikannya ponsel baru karena rusak saat menerima telepon dari sang papa yang merupakan mertua dari pria itu.
Akhirnya Kimmy hanya menyeterika baju dan merapikan kamar bos kecil sore itu.
Setelah setengah jam berlalu, Kimmy keluar lagi untuk mengeluarkan vacuum cleaner dari kamar bayi.
Ternyata Felix sudah sampai di rumah dengan muka masam.
"Kamu bilang apa ke Tuan Key?" tanyanya.
"Kapan?" Kimmy balik bertanya.
"Tadi!" sahut Felix.
"Pak Bos Tuan kan tanya, Bos Pelix ke mana, ya aku jawab ke konter!" bisiknya pelan agar orang rumah tak mendengar.
"Gara-gara kamu, aku harus pakai casing handphone ini!" omelnya menunjuk ke ponselnya sendiri. Sebuah phone case bergaris gambar Teddy Bear.
Phone case itu nampak tak pas letak lubang kameranya dengan ponsel Felix. Namun, seperti dipaksakan.
Kimmy menahan tawa.
"Maap, Bos Pelix! Aku tadi keceplosan!" bisiknya lagi.
"Huh, itu ponsel barumu di dalam mobil! Ambil sendiri!" ujar Felix melempar kunci mobilnya.
"Iya!" jawab Kimmy menangkap kunci itu kegirangan.
Dia mengambil ponsel baru sebelum seisi rumah tau.
******
Stop plagiarisme!
__ADS_1
Melanggar hak cipta orang lain masuk dalam UU nomor 19 tahun 2002 pasal 72 ayat (1) yang berisi hukum pidana maksimal 7 tahun dan denda maksimal 5 Miliar Rupiah.