
Sebuah kamar dipersiapkan untuk kelahiran bayi di rumah Felix dan Kimmy. Bu Amy juga telah selalu siap di rumah mereka. Sedangkan di rumah Key dan Bianca, Bu Sinta pun telah siap berada di sana.
Para ibu itu bersemangat untuk menyambut kelahiran cucu pertama dan cucu kedua mereka.
"Kimmy, harus lebih sering jalan-jalan," ujar Bu Amy sembari melipat baju-baju bayi.
Kala itu, Kimmy telah mendapatkan cuti melahirkan. Dia berada di rumah dengan sang ibu.
"Iya, Ma. Aku jalan-jalan dulu keliling komplek, ya?" ujar Kimmy melepas sandalnya.
Bu Amy mengangguk. Sebenarnya besok sudah hari penentuan lahir dan dia yang merasa cemas akan anaknya. Namun, sepertinya anak itu malah santai.
"Harusnya memang dia santai, bukan cemas sepertiku ini," gumam Bu Amy.
Kimmy berjalan pelan pagi itu. Menghirup udar segar di perumahan. Berbeda dengan warga perumahan elit Tuan Key yang dipenuhi oleh orang yang tak acuh pada sekitar dan hanya ada beberapa baby sitter yang berkumpul di pagi hari, perumahan di mana Kimmy tinggal, beberapa ibu-ibu sedang melakukan senam pagi.
"Halo, Mbak Kimmy!" sapa mereka ramah.
"Pagi, bu ibu ... Senam, ya?" balas Kimmy tak kalah ramah.
"Iyaa ...." sahut mereka hampir bersamaan.
"Saya boleh ikut? Udah bawa bola ini," kelakar Kimmy menunjuk ke perutnya yang besar, disambut gelak tawa ibu-ibu itu.
"Mbak Kimmy bisa aja!"
Pelatih zumba mulai melakukan gerakan pemanasan. Para ibu pun mulai mengikuti gerakan sang pelatih. Kimmy memperhatikan dari dekat. Tergelak saat melihat beberapa ibu tergesa sampai ketinggalan mengikuti gerakan Zin zumba.
Kemudian dia beranjak setelah matahari cukup lama menerpa kulitnya. Dia melanjutkan perjalanan mengitari komplek.
Sampai di depan, ada tukang sayur yang biasa berhenti. Biasanya dia menunggu para ibu selesai senam. Baru kali itu Kimmy membeli di tukang sayur, karena stok lemari es penuh. Pagi tadi, dia melihat isi kulkas hanya beberapa lembar keju dan buah melon saja.
"Pagi, Bang!" sapa Kimmy sambil memilih-milih sayur.
"Eh, pagi, Neng! Baru di sini, ya?" sapa tukang sayur.
"Iya, Bang. Baru beberapa bulan."
"Oh, pantes saya baru lihat Eneng di sini," sahut tukang sayur menyiapkan plastik.
"Iya, biasanya kerja. Sekarang baru cuti, Bang. Tolong tomatnya sebungkus, Bang!" pinta Kimmy karena tak mampu meraih bungkusan tomat di ujung.
"Eh, iya Neng! Kasihan si Eneng lagi hamil. Sini saya ambilkan! Nggak sekalian mangga mudanya, Neng? Pan biasanya orang hamil tu ngidam yang seger kecut?" tawar tukang sayur sambil mengulurkan tomat pada Kimmy.
"Ngidamnya udah duluan, Bang! Besok udah mau lahir, udah mikir ngeden. Bukan mikir kecut-kecut lagi!" Kimmy terkikik.
"Ohh, semoga lancar ya, Neng!" doa si tukang sayur.
__ADS_1
"Makasih, Bang! Nah, udah ini. Berapaan semua, Bang?" Kimmy mengeluarkan sebuah dompet kecilnya.
"Lima ribu, dua ribu maratus, delapan belas ribu, tujuh ribu jadi semuanya tiga puluh dua ribu maratus, Neng!"
"Ooh, nih Bang!"
Kimmy mengangsurkan uang tiga puluh lima ribu ke tukang sayur.
"Kembaliannya, dua ribu maratus ya, Neng!" ujar pria itu akan mengambil uang dari tas pinggangnya.
"Nggak usah, buat Abangnya aja!" tukas Kimmy seraya membawa plastik belanjaanya pulang.
Tukang sayur melongo, "Eh, makasih, Neng! Duh, baek banget yak. Biasanya juga pada nawar, lah ini malah nambahin, lancar-lancar lah persalinannya ...."
*
"Ma, kok ada bercak ya di celana?" tanya Kimmy pada bu Amy setelah buang air kecil yang kesekian kalinya hari itu.
Bu Amy beranjak dari duduknya di atas karpet, mendekati Kimmy.
"Kita ke dokter aja, ya? Mama takut jadwal kelahirannya maju," ujar Bu Amy.
Kimmy mengangguk. Mereka berdua lalu menelepon Felix yang sedang mengantar Tuan Key ke rumahnya sore itu.
"Ahh?? Mau melahirkan ya! Iya, Ma! Aku segera pulang! Lima menit aku sampai!" teriak Felix.
Bianca dan Key menengok ke arah pria yang kebingungan itu.
Semula Felix akan terharu, tapi menjadi datar karena ternyata Tuan Key mencemaskannya bukan karena apa-apa melainkan karena pekerjaan Felix yang masih banyak.
"Baik, Tuan."
Meski apapun yang keluar dari mulut Key, dia tetap patuh.
Sementara itu, wajah Bianca memucat. Dia mendengar bahwa Kimmy akan melahirkan. Walau ini merupakan kehamilannya yang kedua, tapi rasa cemas pun merayapi hatinya.
"Aduh!" raung Bianca sesaat setelah Felix keluar dari ruangan itu. Deru mobilnya pun baru saja terdengar menjauh.
Key segera menghampiri istri kesayangannya itu.
"Kenapa, Sayang? My Pure Honey? Forest Honey?" ujar Key cemas.
"Aahh! Jangan panggil aku madu murni, madu hutan! Aku bukan madumu, Sayang! Aku mulas!" sahut Bianca kesal. Dia memegang perutnya.
"Ini gimanaaa!!" teriak Key melihat istrinya mengeluarkan keringat dingin.
"Mama! Panggilkan ambulans!" titahnya pada sang mertua.
__ADS_1
"Hey, Key, bukankah kita punya Felix? Lebih efektif, kan?" usul sang Mama. Wanita itu lebih tenang menghadapi apa yang terjadi.
"Felix mengurus Kimmy yang juga mau melahirkan!" sahut Key.
"Tahan dulu, Bi. Mana kunci mobilnya?" Bu Sinta menengadahkan telapak tangannya.
Key yang sudah kehilangan akal sehat menyerahkan kunci mobil pada mertuanya itu.
"Ayo! Gendong Bianca ke mobil!" suruh Bu Sinta.
Key pun segera menggendong istrinya masuk ke mobil. Dia sama paniknya dengan saat Bianca melahirkan pertama kali.
"Daddy ...." panggil Kin seolah tak mengerti suasana.
"Kin ... makan candy dulu, oke??" ujar Key melewatinya.
Kin terbelalak tak percaya.
"Holeee!! Aku boyeh makan candy!" Anak yang sudah bisa berkata banyak itu berlari masuk dan meminta permen sebanyaknya pada pelayan.
Bianca meringis tapi sempat melotot pada suaminya.
"Aku melarangnya makan permen, tapi kau merusak aturanku, Sayang ... Aduh!" rintih Bianca saat duduk di jok belakang mobil.
"Sudahlah, aku punya nomor dokter gigi baru di ujung jalan itu, eh ... Ini siapa yang akan mengemudi?" tanya Key saat telah duduk manis di sebelah istrinya. Sok romantis memegang jemari tangan wanita itu.
"Aku!" jawab Bu Sinta membawa tas bersalin dan meletakkan di jok sebelahnya.
"Ma ... Ma, ser-serius??" ujar Key ketakutan.
Sebelum wanita itu menjawab, dia menyalakan mesin mobil dan memacu mobil itu keluar dari gerbang.
Tangan satpam sempat terangkat akan bermaksud menggantikan wanita itu, tapi sungguh keberaniannya di luar prediksi. Ngebut sekali.
"Serius, Key. Kamu lihat kan?" jawab Bu Sinta sambil konsentrasi di jalan.
Key melepaskan pegangan tangannya di jemari Bianca, lalu berpegangan sendiri di handle mobil dan jok bawah.
"Ma ... Mama, kapan Mama berlatih mengemudi?" tanya Key.
"Dua hari yang lalu," jawab Bu Sinta santai.
"Alahmak!"
Key mulai berkomat-kamit mengucap mantra ajaib pada Tuhan.
******
__ADS_1
Stop plagiarisme!
Melanggar hak cipta orang lain masuk dalam UU nomor 19 tahun 2002 pasal 72 ayat (1) yang berisi hukum pidana maksimal 7 tahun dan denda maksimal 5 Miliar Rupiah.