Cintai Aku!

Cintai Aku!
Memilih Brosur


__ADS_3

"Aku tidak tahu, kalau si Momoy itu punya rumah di sini!" gerutu Felix.


Kimmy terkekeh melihat suaminya yang langsung pucat pasi setelah mendengar siapa pemilik rumah itu.


"Lebih baik kita pulang dulu, Mas. Biar kamu nggak terlalu tegang. Yang bawah itu tegang juga?" tanya Kimmy polos.


"Kamu bercanda? Kalo kamu telanjang sekarang, baru yang bawah itu tegang!" omel Felix.


Kimmy menutup wajahnya, malu.


Punya istri kok tidak jelas begini.


Mobil melaju pulang di jalan menuju ke apartemen. Kimmy berdendang lagu-lagu barat yang mengalun di mobil. Sekarang bahkan Felix selalu menantikan nyanyian Kimmy yang tanpa tertata bahasanya bin fals itu.


Felix ikut menyanyi dengan menepuk-nepuk pahanya, mengikuti alunan lagu.


"Mas Pelix, mau nggak mampir ke warung senerek langganan papa dulu?" tanya Kimmy.


Dia teringat saat kecil suka dibelikan senerek di sebuah warung kecil pinggir jalan oleh Pak Luki.


"Boleh," jawab Felix.


"Mas nggak malu makan di warung?" tanya Kimmy.


"Yang penting bersih. Tuan Key saja yang tajir melintir mau makan di warung, kok!" ujar Felix sambil mengemudi pelan.


"Ah, iya kah?" tanya Kimmy tak percaya.


"Iya, setelah Tuan Key menikah dengan Nona Bianca, dia jadi sering makan di warung," sahut Felix.


"Iya, masakan warung nggak kalah enak dari restoran-restoran, lho! Cuma ya harus pilih yang terjaga kebersihannya!" ujar Kimmy.


"Nah, trus ini warungnya di mana? Masa belok ke warung bakso?" tanya Felix sambil menunggu titah Kimmy.


"Eh, iya! Di jalan A. Yani, Mas!" jawab Kimmy.


Felix menepuk jidatnya menghadapi istri uniknya itu.


"Lho, kok berhenti, Mas?" tanya Kimmy saat mobil menepi.


"Iya, mau putar balik. Jalan A. Yani sudah kelewat jauh!" sahutnya.


Kimmy meringis.


"Aku dulu pas kecil cuma baca labelnya, kan dibawain Papa, bukan diajak makan di sana. Nah yang kuapalin jalannya, Mas!" jelas Kimmy panjang lebar.


"Oh, lalu kamu hapal nama warungnya?" tanya Felix saat selesai memutar balik mobil.


"Nggak," sahutnya cepat.


Bagus. Alamat aku bawa dia keliling jalan itu. Sabar Felix, ini demi menghambat ences jabang bayi.


"Gimana, Mas?" desak Kimmy melihat pria itu diam.


"Ya, kita cari saja," jawab Felix.

__ADS_1


Mata Kimmy berbinar.


Akhirnya enam bungkus sup kacang merah mereka beli dari warung sepanjang jalan A. Yani karena di jalan itu ada enam warung sup kacang merah.


"Kok dibeli di tiap warung, Mas?"


"Nanti kamu seleksi sendiri," jawab Felix.


Kimmy mengangguk-angguk. Mobil melesat kembali pulang ke apartemen.


Sesampainya di apartemen, Kimmy segera membuka semua bungkus.


"Mas ...." rengeknya.


"Apa lagi?" sahut Felix.


"Ini kok dibungkus plastik semua? Apa nggak ada yang dibungkus plastik trus masuk ke kotak mika?" tanya Kimmy.


Rewel!


"Kamu mau makan sup apa bungkusnya?" tanya Felix mulai kesal setelah menahannya.


"Mas ... yang dibeli Papa dulu itu, ada kotak mikanya!" sahut Kimmy merengek.


"Ck! Iya, iya. Aku carikan," ujar Felix.


Kimmy kembali tersenyum setelah hampir saja ada adegan mewek.


Felix segera menyambar jaketnya lalu berjalan keluar. Mencari permintaan istrinya. Sebentar kemudian, dia kembali dengan cepat.


"Lho, kok cepet, Mas?" tanya Kimmy heran. Enam bungkus sup masih utuh di depannya.


Kimmy tertegun saat Felix memasukkan semua plastik berisi sup kacang merah ke dalam enam buah mika.


"Nah, udah kan? Beres?" tanya Felix.


Mata Kimmy membulat menatap keenam mika yang memang rapi itu.


"Trus Mas, yang mana sup yang dimaksud kalo semua sama?" tanyanya. Benar tapi menjengkelkan.


"Cicipi saja semua," jawab Felix menahan kesalnya pada ibu hamil.


Kimmy berdecak, lalu membuka semua sup dan mencicipinya.


"Rasanya enak semua, Mas! Aku masukkan jadi satu ke dalam mangkuk, ya!" ujarnya girang.


Kenapa tidak dari tadi, sih?


Felix membiarkan istrinya untuk memasukkan semua sup ke dalam mangkuk besar, lalu membawanya ke atas meja makan.


"Ayo, makan, Mas Pel!" ajak Kimmy.


Felix mendekati istrinya kemudian mereka mulai makan bersama.


"Mas ...."

__ADS_1


"Apa?" tanya Felix saat mulai akan memasukkan satu sendok nasi ke mulut.


"Tahu sama tempe bacemnya kok nggak dipesan?" tanya Kimmy tanpa merasa bersalah.


"Astaga! Ya bentar aku pesenin saja lewat **-food, istriku yang pinter bin ajaib ...."


Menjepit hidung Kimmy dengan gemas.


*


Keesokan harinya saat mulai bekerja.


"Felix, menurutmu bagus dan nyaman di mana jika aku membeli rumah?" tanya Key menyodorkan beberapa brosur perumahan.


Felix mengamati beberapa brosur itu dengan teliti. Semua brosur tertera penjelasan type rumah yang hampir sama, jarak ke pusat kota, hingga material yang dipakai dalam pembuatannya. Semua memakai material yang bagus.


"Bagus semua, Tuan. Jaraknya pun dekat dengan pusat kota semua," jawab Felix.


"Hmm ... aku butuh pendapatmu, bukan malah dengar kamu ikut promosi semua brosur itu!" ujar Key.


Terpaksa Felix mengamati lagi ketiga brosur itu.


"Tuan, ini kan selera masing-masing. Saya takut pilihan saya tak sesuai dengan keinginan Tuan. Apalagi soal rumah," ujar Felix ragu akan memberikan pendapatnya.


"Jangan cerewet, pilihkan saja!" sahut Key.


"I-ini, Tuan!"


Felix menunjuk sebuah brosur yang nampaknya lebih unggul dan lebih mahal dari ketiganya.


Key mengambil brosur yang ditunjuk oleh Felix, lalu ikut mengamatinya.


"Type berapa yang bagus?" tanya Key.


"Semua type bagus, Tuan!" jawab Felix.


"Kamu suruh aku membeli semuanya!"


"Bukan ... maksud saya, Tuan tinggal pilih sana karena semua bagus. Saran saya, pilih yang paling besar, Tuan!" jawab Felix takut dimarah lagi.


"Baiklah, aku pilih type yang paling besar, type 120 ya," tanggap Key.


Dia memberikan kembali brosur itu pada Felix kemudian menyuruhnya menghubungi kantor pemasarannya.


Sebentar kemudian, Felix selesai menelepon.


"Ada, Tuan. Masih bisa nego dan kita bisa melihat-lihat dulu," ujar Felix.


Key mengangguk-angguk.


"Nanti sore kita ke sana, ajak para ibu hamil itu juga ke sana," ujar Key.


Felix ikut mengangguk tanpa ada rasa curiga.


******

__ADS_1


Stop plagiarisme!


Melanggar hak cipta orang lain masuk dalam UU nomor 19 tahun 2002 pasal 72 ayat (1) yang berisi hukum pidana maksimal 7 tahun dan denda maksimal 5 Miliar Rupiah.


__ADS_2