
"Mari, duduk."
Wanita tua itu mempersilakan Pak Anton dan Susan. Dia memperhatikan lagi wajah Susan. Kali ini lebih lama menatapnya.
"Saya mewakili keluarga, ingin berkunjung sekedar menyambung silaturahmi."
Pak Anton membuyarkan pandangan wanita itu.
"Eh, saya Bu Anna. Kepala panti asuhan. Saya yang mengurusi panti asuhan sejak berdiri dulu."
Seorang perempuan muda yang sepertinya juga anak panti asuhan nampak masuk dari balik pintu depan.
"Ibu," panggilnya ke Bu Anna.
"Ya, ambilkan beberapa minuman untuk tamu kita, Din!" titah Bu Anna.
"Tidak usah repot-repot, Bu!" sela Pak Anton.
"Kami tidak repot, Pak!"
"Mmm ... ini, Susan. Anak angkat saya. Jika Bu Anna mengurusi panti asuhan sejak awal, pasti ingat padanya." Pak Anton menepuk bahu Susan.
Bu Anna kembali mengamati Susan. Dia mencoba mengingat lagi. Namun, hanya samar-samar ingatannya.
"Mbak Susan dulu dari panti asuhan ini?" tanya Bu Anna. Dia tak ingat jika ada yang bernama Susan.
"Iya, Bu."
"Iya, dulu Susan dititipkan di sini sejak lahir sampai usia tiga tahun, lalu diambil oleh wanita bernama Winda. Dia diberi mandat oleh orang tua Susan agar merawatnya dan diberi upah. Winda menjadi istri saya beberapa tahun yang lalu dan kami bercerai. Dia pergi ke luar negeri dan meninggalkan Susan di rumah kami. Karena kami sayang pada Susan dan sudah menganggap Susan sebagai anak sendiri, maka Susan tinggal dengan kami."
Mata Bu Anna nampak berbinar.
"Ahh, benar! Kamu adalah putri pertama yang datang ke panti asuhan waktu itu ...." ujar Bu Anna. Dia berdiri lalu memeluk Susan. Mereka lama berpelukan.
Bu Anna melepas pelukannya dan menatap ke wajah gadis itu.
"Kamu sangat cantik, Nak!" Kedua bola mata Bu Anna mulai hangat. Tak menunggu lama, bulir-bulir hangat turun dari kedua matanya.
"Makasih, Bu."
Susan yang tak teringat sama sekali dengan Bu Anna hanya pasrah. Dia masih sangat kecil, jadi ingatannya tidak begitu jelas pada masa kecilnya di panti asuhan.
***
__ADS_1
"Daddy gantian!" rengek Kin pada ayahnya yang sedang menikmati ayunan dengan angin sepoi-sepoi.
"Bentar, Nak. Daddy baru PW."
Key memejamkan mata sambil menikmati udara sejuk. Taman itu cukup teduh dan menyenangkan. Saat siang, anak-anak panti akan bermain di sana. Namun, pagi itu mereka sedang bersekolah. Para bayi sedang berada di dalam gedung.
"Apa itu PW, Daddy?"
"Posisi Wuenak."
Akhirnya Kin hanya duduk di samping menunggui Daddynya yang sedang menikmati ayunan sedang dibantu mengayun oleh Felix. Dua pria tua yang kekanakan.
Bianca menunggui baby Celine yang inginnya turun dari gendongan dan mencabuti rumput-rumput taman.
"Celine sayang, bukankah di rumah juga banyak rumput? Apakah benar kata orang rumput tetangga lebih hijau?"
Bianca mulai mengomel saat melihat Celine memasukkan rumput ke mulutnya.
Kimmy menahan tawa melihat semua yang dilakukan para bos, begitu juga suaminya. Dia menonton sambil memangku baby Celena yang sedang tidur. Gadis kecil itu banyak tidurnya. Beda dengan baby Celine yang banyak kegiatan.
"Yuk, kita masuk ke dalam!" ajak Bianca agar baby Celine mau untuk tak mencabuti rumput dan mengalihkan kegiatannya.
"Eh, iya, yuk kita masuk! Kakek sama tante Susan juga sudah masuk! Kita lihat teman-teman Kin di dalam!" ajak Key saat melihat anaknya sudah begitu cemberut.
Bukankah Tuan harusnya bisa menghentikan sendiri dengan kakinya?
"Iya, Tuan!"
Kedua pria itu masuk mengikuti para wanita. Mereka sambil membawakan kardus-kardus yang dibawa dari dalam bus.
Bu Anna yang melihat mereka masuk, menunjukkan wajah cerianya. Wanita ini seperti tak punya beban. Padahal banyak sekali anak-anak yang butuh dia perhatikan. Bu Anna nampak begitu sabar dilihat dari wajahnya.
"Ah, mari silakan duduk, Tuan-tuan dan Nyonya-nyonya!" sambutnya.
Dia begitu gembira saat Bianca menyampaikan bahwa puluhan kardus yang mereka bawa untuk anak-anak panti asuhan.
"Terima kasih banyak, Nyonya!" ucap Bu Anna.
Kin melihat beberapa gelas di atas meja.
"Haus ...." rengeknya.
"Boleh, diminum adek ... Adek kecil namanya siapa?" tanya Bu Anna.
__ADS_1
"Kin, Nenek!" sahutnya lantang.
"Oh, bagus sekali ...."
Mereka bercakap-cakap dengan seru. Bu Anna terbelalak saat mengetahui bahwa Key adalah pengusaha terkenal di negeri itu. Sebuah kehormatan bagi panti asuhan.
"Mari, saya ajak berkeliling!" ajak Bu Anna. Dengan gembira, semua mulai berjalan-jalan mengitari panti asuhan.
"Memang sedang sepi, karena anak-anak sedang sekolah," jelas Bu Anna.
"Oooh ...." Mereka mengangguk-angguk.
Bu Anna mendekati Susan ketika mereka melewati sebuah ruangan.
"Susan, ini ruangan kamu saat kecil."
Susan memasuki ruangan itu. Ada beberapa tempat tidur bayi dan sebuah karpet warna-warni di dalamnya.
"Apa ini sudah direnovasi, Bu?" tanya Susan.
"Iya, Nak. Dulu keadaan panti tak sebagus ini. Hanya ada dua anak bayi yang diantar ke sini dan satu anak laki-laki berusia tiga tahun."
Susan ingat bahwa dia ingin menanyakan sesuatu pada ibu kepala panti.
"Bu, aku ingin menanyakan sesuatu. Apakah boleh?" tanya Susan.
"Tentu boleh!" sahut Bu Anna.
"Bu, apa ada yang namanya Yoshua di panti ini?"
Reaksi Bu Anna mengagetkan Susan. "Ya! Nama anak laki-laki itu adalah Yoshua! Bagaimana kamu bisa tahu, Susan? Kebetulan Yoshua dan Putri besar di sini. Yoshua sekarang kuliah di Singapura. Namun, sayang. Putri meninggal tiga tahun yang lalu karena sakit. Dia ... mirip denganmu, Susan! Sangat mirip! Makanya Ibu kaget waktu kamu datang."
"Iya Bu, aku kebetulan sekali bertemu Yoshua di Singapura. Panjang ceritanya."
Bu Anna sangat antusias. "Ah, sangat kebetulan sekali! Apa kalian bercakap-cakap mengenang panti asuhan ini?"
"Tidak, Bu. Waktu itu aku belum tahu jika aku adalah anak panti asuhan. Aku pun tahu dari seorang teman."
"Oh, kalau begitu, kalian bisa ketemu nantinya di sini!"
"Semoga Bu. Bu ... apa kemungkinan dua bayi yang mirip itu kembar?" tanya Susan hati-hati.
******
__ADS_1