Cintai Aku!

Cintai Aku!
Terpaksa Menikah


__ADS_3

Kimmy berjalan lemas menuju ke rumahnya, membawa sebuah plastik berisi baju pengantin. Keputusan dadakan yang dia buat untuk menyelamatkan adiknya. Namun, dari pada mengorbankan Vita yang pasti tak akan berani berbuat apa-apa saat pria botak itu mengancam atau bertindak padanya, dia memilih untuk menggantikan adik perempuannya itu.


Jalan desa lengang saat itu seolah ikut merasakan penderitaan si gadis bunga desa, Kimmy Anantari. Mereka pun merasa kasihan melihat keluarga yang biasanya ceria itu terlibat kesulitan dengan Tuan Burhan. Orang paling keji di desa mereka, tapi disegani karena hartanya.


Angin berembus menerpa tubuh Kimmy yang terasa gerah meski udara tak begitu panas saat pagi menjelang siang itu. Dia hanya berjalan lambat, berpikir dan berpikir, tak perduli keadaan sekitar. Besok ... ya, tak disangka tinggal besok masa lajangnya. Kecuali, keajaiban datang dari Tuhan. Namun, keajaiban itu pun terasa mustahil.


Urusan pekerjaan di Bos Nona dia pikirkan nanti, yang penting urusan penyelamatan adiknya dulu. Ini lebih penting. Dia lebih memilih menyelesaikan urusannya sendiri daripada bergantung pada bos nonanya. Tak enak hati rasanya. Walau uang dua ratus juta bagi nonanya itu hanya seujung jari wanita beranak satu itu, tapi Kimmy berpikir lama untuk mengembalikan uang itu. Ah, terlalu panjang pikirannya.


Apalagi, pria tua botak itu melakukan pemaksaan pernikahan demi membalas penolakan yang Kimmy lakukan pada Tio, hingga anak lelaki itu menjadi berubah sikapnya.


"Harusnya itu hakku menolaknya dan percobaan bunuh diri adalah kesalahan anaknya sendiri, si Kwetiau!" ujar Kimmy seraya menendangi batu kerikil yang dia temui di jalan. Kesabarannya selama ini habislah sudah. Sesabar apapun seseorang jika menghadapi orang yang mempersulit dan memaksa kehendak, kemungkinan besar akan habis kesabaran.


"Aku akan mencari kayu yang besar untuk menggetok kepala pria itu jika dia akan macam-macam!" tekad gadis itu.


Kimmy mulai mengedarkan pandang mencari sebuah kayu. Selama sepuluh menit, dia menemukan kayu yang cukup berat tapi bisa disimpan dalam tasnya.


"Ini cukup untuk senjataku di rumah itu," gumam gadis itu menenangkan diri. Pistol yang selalu dibawanya hanya boleh dipegang saat bekerja di rumah Tuan Key. Jadi, dia tak membawa senjata apapun saat pulang.


Sesampainya di rumah dengan menenteng plastik berisi baju pengantin dan sebuah kayu, Kimmy disambut oleh kedua orang tuanya. Mereka menanti dengan raut wajah cemas dan sedikit berbinar melihat anak gadis mereka pulang.


"Syukurlah, Kimmy! Kamu tidak diapa-apakan oleh mereka! Vita, bagaimana dengan Vita, Nak?" tanya Bu Amy.


"Aku tidak bisa bertemu Pita, Ma, tapi ... aku pastikan besok dia akan kembali ke rumah. Jika tidak, akan babak belur sudah pria itu!" Menepuk kayu yang dia bawa ke telapak tangan kirinya sembari berjalan masuk rumah dan duduk di kursi ruang tamu, disusul kedua orang tuanya.


"Aah ... Kimmy kesayanganku, bagaimana kamu bisa mengembalikan adikmu ke rumah, Nak?" Binar kebahagiaan terpancar dari mata keduanya.


Kimmy menghela napas, sesungguhnya dia tak ingin binar itu pudar jika mengatakan yang sebenarnya. Namun, semua harus dikatakan.


"Aku ... aku bertukar posisi dengan Pita, Pa, Ma," sahutnya lirih, menatap ke bawah.

__ADS_1


"Ya Tuhan ... kenapa bisa begini ...." ratap Bu Amy kembali terisak.


Pak Luki hanya menggelengkan kepala menepuki dahinya, menyesali kejadian yang menimpa saat kecelakaan itu.


"Sudah, Pa, Ma. Ini urusanku. Aku sedang menyusun strategi untuk besok. Besok pernikahannya dilangsungkan! Biar aku berpikir dulu," kata Kimmy sembari beranjak membawa plastik itu memasuki kamarnya.


Kedua orang tua itu makin menangis, meratapi semua yang terjadi, tapi mereka pun tak dapat melawan juragan.


Berjam-jam dia berpikir hingga pagi, tapi tak ada keputusan yang bisa dipilih selain dengan kekerasan. Dia membulatkan tekad untuk nekat menggetok kepala pria botak itu saat malam pertama.


*


Seorang penata rias datang untuk mendandani Kimmy. Penata rias cukup terkenal di kampung itu.


"Aku tak mau tebal-tebal! Tipis saja! Kalau perlu, tak usah pakai bedak dan lipenstip!" pinta Kimmy.


"Ooh, lipstik, tapi anda harus tampil cantik setidaknya agar tidak memalukan di depan orang banyak, Nona!" ujar si perias. Tentu saja dia tak ingin hasil riasannya jelek dan berakibat citra buruk juga nanti pada kelanjutan salonnya. Apalagi ini riasan untuk sang juragan tersohor, dia tak ingin mempertaruhkan nama baiknya.


"Oke, tapi tipis saja, jangan tebal-tebal! Natural, ya?" ujar Kimmy.


"Iya, baik, Nona."


Usai dirias, Kimmy mulai merasa resah, meski rancangan rencana sempurna dibuat di otaknya semalam. Namun, pagi ini dengan menggunakan kebaya putih dengan riasan sederhana, dia masih mondar-mandir di kamarnya. Satu jam lagi, pria itu akan datang dengan penghulu. Seketika dia merasa jijik, tapi ditepisnya mengingat adiknya juga akan dibawa kembali ke rumah.


"Sial sekali hidupku!"


Ponsel yang berada di atas nakas tak sempat dia lihat, pikirannya tak ke sana. Dia hanya berdoa pada Tuhan agar memberi jalan yang terbaik untuk dirinya dan keluarga.


"Semoga pembelaanku dimaklumi oleh Tuhan jika harus berlaku kekerasan!" gumamnya sendiri.

__ADS_1


"Kimmy, rombongan pak juragan sudah datang, Nak!" isak Bu Amy yang terpaksa memakai baju rapi. Kalau boleh memilih, dia tak ingin semua ini terjadi. Namun, tekad Kimmy membuat wanita itu percaya akan apa yang dia lakukan.


Para tetangga telah bersiap di depan rumah. Juga makanan yang disajikan untuk para tamu sudah dipersiapkan entah darimana. Keluarga Kimmy tak mengurusi hal itu. Semua dipersiapkan oleh juragan Burhan.


Kimmy bergegas maju ke ruang tamu, menemui sang juragan, memastikan apakah dia benar-benar membawa adiknya atau tidak.


Ternyata benar. Namun, anak perempuan itu masih disekap di dalam mobil.


"Kenapa kamu tak melepasnya??" tanya Kimmy pada pria itu, membuang rasa hormatnya. Menghormati atau tidak, toh sama saja, meski beberapa orang yang membawa seserahan berada di belakangnya. Kimmy tak perduli adat kesopanan lagi, yang dia pikirkan hanya adiknya.


"Kamu pikir aku bodoh? Aku akan melepasnya jika kita sudah sah menjadi suami istri."


Senyum licik tergambar dari wajah pria itu.


Kedua orang tua Kimmy masih memohon pada pria itu. Namun, tak digubris.


"Pak penghulu, ayo lakukan saja tugasmu!" ujar juragan.


Persiapan itu membutuhkan waktu yang agak lama, karena menunggu semua masuk. Beberapa wanita menata tempat yang memang baru dipersiapkan. Para tetangga memandang iba pada Kimmy dan keluarganya. Hanya karena uang, mereka harus seperti ini.


Kimmy menenangkan kedua orang tuanya.


"Sudah, Pa, Ma. Tenang saja, aku punya rencana. Semoga rencanaku berjalan lancar," ujarnya mantap di hadapan keduanya, meski tak yakin.


Pria dan wanita paruh baya itu masih meratapi nasib anak gadis mereka. Seharusnya gadis itu menikah dengan pria yang baik. Namun, takdir berkata lain.


******


Plagiarisme melanggar Undang-undang No. 28 Tahun 2014 tentang Hak Cipta.

__ADS_1


__ADS_2