Cintai Aku!

Cintai Aku!
Aku Mau!


__ADS_3

Felix menatap wajah Kimmy yang sedang tertidur di sampingnya. Mereka telah mandi di kamar mandi hotel berdua dan kembali mengulangi hal yang sama saat di dalam kolam renang.


"Ternyata dia suka air," gumam Felix merayapkan jemarinya di wajah istrinya itu.


Felix teringat saat pertama kali dia bertemu dengan Kimmy. Saat itu, perempuan ini masih sangat polos. Bahkan Felix sering jengkel padanya.


"Maafkan aku, Tuhan. Ternyata jodohku selucu ini," ujarnya lagi.


Giginya?


"Ah, besok akan kuantar dia ke dokter gigi untuk memasang behel kalau dia terganggu. Soal fisik, itu bisa diatur, yang penting hati dan sikapnya baik," gumam Felix bermonolog.


Felix dengan jantan berniat akan memberitahukan ke tuan Key soal pernikahannya dengan Kimmy.


*


Keesokan harinya, pagi-pagi sekali saat Kimmy telah bangun, dia mengendap untuk pergi ke kamar mandi agar tak membangunkan suaminya.


Tangannya dicekal ketika akan turun dari ranjang. Ternyata pria yang tidur semalaman memeluknya itu menahannya agar tidak masuk ke kamar mandi. Dia sudah akan meminta jatahnya lagi.


"Mau ...." ujar Felix seperti mengigau.


Kimmy memegang dahinya. Tak terasa panas.


Pria itu masih saja memegang tangannya.


"Mas Pelix, jangan gitu, sakit ...." ujar Kimmy melepaskan cekalan Felix.


Pria itu sontak melepas lalu membuka matanya. "Aku mau lagi ...."


"Mau apa?" tanya Kimmy terbelalak.


"Yang semalam dua itu, pokoknya harus genap sepuluh," ujarnya memelas.


Semangat Felix sedang berkobar saat ini. Pas sekali moment-nya, memang bulan madu untuk mereka.


Kimmy membulatkan mata.


"Sepuluh?" Dia merentangkan jemarinya, menghitung jumlah jarinya hingga sepuluh.


Felix tersenyum mengangguk.


"Di mana saja, Mas?"


Eh, nantang!

__ADS_1


"Di mana pun boleh!"


Kimmy menggaruk kepalanya, seolah berpikir.


"Di mana aja ya yang jual?" gumam Kimmy.


"Kok jual? Kamu anggap aku giggolo?" tanya Felix mengerutkan dahi.


"Lho, dua kan kata Mas? Yang dua semalam kan kelapa muda?"


Felix menepuk jidatnya. Gadis kepolosan ini sungguh harus diajari nakal sedikit biar tak sepolos itu.


"Kalau aku bilang mau, ya berarti itu yang semalam itu kita ciuman, lalu menusuk-nusuk itu, terus muncrat!" Felix menjelaskan sedetail mungkin pada Kimmy dengan dibantu kedua tangannya menguncup lalu membuka seperti gerakan menyemprot.


Gadis itu merona. Nampaknya dia paham.


"Oh, sepagi ini Mas mau?" tanyanya. Felix mengangguk cepat.


"Ya aku gosok gigi dulu ...." sahut Kimmy berjalan ke kamar mandi.


Felix mengikutinya. "Lho, kenapa Mas ikut?"


"Katanya mau sikat gigi, memangnya aku tidak boleh sikat gigi juga?"


"Oh, iya, nanti bau jigong semua!" sahut Kimmy tertawa.


Tak sabar, tangan Felix membuka penutup tubuh Kimmy lagi di dalam kamar mandi. Akhirnya mereka melakukan pelepasan di dalam kamar mandi lagi dan harus mandi sepagi itu.


*


Setelah sarapan di hotel, tour leader membawa mereka di hari ketiga ini ke pantai Tanjung Benoa. Mereka menikmati pantai dengan menaiki banana boat, lalu snorkling, kemudian menyeberang ke Pulau Penyu dan Hutan Mangrove.


Puas di sana sampai agak siang, mereka makan siang di sebuah restoran. Lalu melanjutkan perjalanan.


Siang menjelang sore, mobil van menuju ke Garuda Wisnu Kencana untuk melihat sendratari secara langsung.


Felix yang tak mengerti cerita dalam sendratari memilih untuk melihat dan memandangi Kimmy saja di sebelahnya. Sementara wanita itu menontonnya dengan serius.


Petang itu, usai pementasan drama, Kimmy ingin sekali membeli oleh-oleh untuk keluarganya.


"Pak, apa kita akan menuju ke tempat oleh-oleh?"tanya Kimmy pada tour leader.


"Iya, Nona. Besok pagi, supaya Nona puas belanjanya, kita datangi tempat yang luas dan murah untuk membeli oleh-oleh!" janji pria itu.


Kimmy semringah. Dia ingin membelikan baju untuk adik-adiknya. Apalagi ada Felix yang siap dengan dananya. Makin bersemangatlah wanita itu.

__ADS_1


"Mas, aku mau beli kaos putih yang tulisan alepiu Bali itu lima, kain Bali, pernak-pernik, dress Bali, terus makanan khas Bali itu buat tetangga-tetangga," ocehnya sambil menulis daftarnya di selembar kertas, petang itu setelah mandi dan berada di kamar hotel.


"Berapa tetangga di desa?" Felix mulai cemas.


"Sekitar ... enam puluhan rumah," jawab Kimmy.


Felix melotot. "Yakin mau dibelikan semua?"


Kimmy mengangguk, tak lama dia menggelengkan kepala.


"Eh, salah!" ujarnya.


Felix agak lega mendengarnya. Semoga berita baik untuk tabunganku.


"Jadinya ... Delapan puluh tigaan rumah."


Alahmak! Tambah banyak.


"Ya sudah lah. Belikan besok yang banyak. Sekarang aku MAU ...." pinta Felix.


Mendengar kata 'mau', Kimmy membuka kancing bajunya, kemudian Felix akan menyergap dua buah gundukan yang sebagian tertutup oleh renda hitam, tapi sayangnya, tak jadi karena ketukan seseorang di depan pintu. Hari belum malam, salah mereka sendiri sudah akan bertempur.


Felix berdecak kesal.


"Tutup lagi," pesannya pada Kimmy.


Dia beranjak untuk membukakan pintu. Seorang pelayan hotel menawarkan makan malam romantis di pinggir danau yang disediakan oleh hotel itu.


Felix dan Kimmy berjalan ke arah restoran pinggir pantai. Atmosfer keromantisan dan kemewahan terasa di restoran itu. Mereka sangat bersyukur bisa menggantikan liburan Tuan Key yang semewah ini.


Menu makanan laut dan sayur organik yang menjadi favorit dari restoran, disediakan lengkap di atas meja makan Felix dan Kimmy. Kerang, kepiting, lobster, jagung manis dan salad. Nasi merah organik juga tersedia.


"Woow ...." Felix dan Kimmy yang sudah lapar segera ingin menyantapnya.


Felix melihat menu yang menarik di depan meja Kimmy. Dia ingin mencicipi lobster itu sebagai menu awal.


"Kimmy, aku mau ...." Belum selesai mengucap, Kimmy dengan bingung meletakkan sendok garpunya lalu membuka kancing baju.


"Eh ...."


Felix meraih tangan Kimmy untuk tak melanjutkan buka-bukaan dan menepuk jidatnya.


******


Stop plagiarisme!

__ADS_1


Melanggar hak cipta orang lain masuk dalam UU nomor 19 tahun 2002 pasal 72 ayat (1) yang berisi hukum pidana maksimal 7 tahun dan denda maksimal 5 Miliar Rupiah.


__ADS_2