Cintai Aku!

Cintai Aku!
Persiapan Resepsi


__ADS_3

"Bilang, Mas .... Bilang!" seru Kimmy terisak-isak pada Felix.


Kenapa ibu hamil suka sekali mempraktekkan adegan sinetron?


Kedua orang tua Kimmy dan adik-adiknya tak berani mengganggu kericuhan yang terjadi di dalam kamar.


"Bilang apa?" tanya Felix yang baru datang sudah diberondong pertanyaan oleh Kimmy.


"Siapa gadis yang ingin kamu nikahi!" desis Kimmy.


"Lho, aku sudah menikah denganmu kan? Masa sih aku menikahi wanita lain lagi? Cintaku utuh buatmu, Sayang ...." rayu Felix.


"Gombiyal!" seru Kimmy melipat tangannya, membuang muka. Emosinya benar-benar ingin meledak.


"Lho kok gombiyal? Benar, Dedek Kim Lo ...."


Felix menowel dagu istrinya yang sedang ngembeg. Bau roti bakar isi pisang-coklat-kacang seharga tiga puluh lima ribu rupiah itu sebenarnya sangat menarik indra penciuman Kimmy. Perutnya tiba-tiba lapar saat angin membawa aroma lezat ke lubang hidung.


Namun, isi otaknya lebih penting.


"Buat apa aku di sini, Mas .... Pulangkan saja aku pada orang tuaku ...." omel Kimmy.


Lho, ini rumah siapa?


Ingin sekali Felix mengatakan batinnya, tapi tak jadi agar tak menimbulkan kericuhan yang semakin besar.


"Kamu ini kenapa, Sayang?"


Felix memasukkan roti bakar ke mulutnya. Sayang kalau dingin. Lebih baik yang hangat langsung masuk dinikmati oleh lidah.


Kimmy menelan ludah melihat mulut suaminya bergerak nikmat. Terbayang rasa roti bakar itu. Coklatnya lumer berpadu dengan pisang yang legit, tambah gurihnya taburan kacang. Apalagi saat Felix menyesap sisa coklat yang menempel di ujung-ujung jarinya.


Kimmy membuang muka. Sempat ia melirik bungkus roti bakar. Hanya baru berkurang satu!


Dia sedikit menyesal marah-marah tak jelas. Gara-gara itu, Kimmy hanya bisa mengendus bau roti bakar.


Masa sih, marah sambil ngemil? Gengsi lah!


Wanita .... Kadang sulit untuk menjelaskan duduk perkaranya dan langsung ingin dimengerti oleh pria.


"Tadi itu, milih-milih surat undangan buat apa! Nggak sekalian baju pengantin??" sewot Kimmy.


Kalimat itu seolah mengingatkan Felix.


"Oh iya, ini Dedek Kim Lo Sayang ...." Pria itu mengambil sebuah buku berisi foto gaun pengantin yang banyak sekali.


Kimmy melirik dan mengerutkan dahi melihat sampulnya.


ANEKA GAUN PENGANTIN ELEGAN BY ANNA AMATIR.


"Pilih tiga, Dek Kim Lo ...." ujar Felix.


Kimmy membelalak. "Tiga??"


Aku dimadu tiga!


"Iya ... tiga!" sahut Felix kembali mengambil satu roti bakar.


"Sialnya aku ... berkurang satu lagi, eh, ketambahan tiga lagi dalam rumah tanggaku ini! Emang kamu Nabi, Mas!"


Felix melotot. "Lho, kenapa bawa-bawa Nabi segala?"


"Ya itu, kamu tega, Mas!"

__ADS_1


"Tega apanya sih .... Ini lho, Tuan Key itu sudah mempersiapkan dua miliar untuk resepsi ...."


"Astaga! Tuan Key juga mendukungmu? Angkat aku jadi syuger bebimu aja, Mas!" sahut Kimmy kesal.


"Ck! Belum juga aku selesai bicara! Diam dulu, Dek Kim Lo ...."


Kimmy melipat tangannya kembali. Kali ini dia mendengarkan penjelasan Felix.


"Tuan Key itu mempersiapkan dua miliar untuk pesta kita," ujar Felix mengambil satu lagi roti bakar.


Kimmy melotot. "Dua miliar? Kita?" tunjuknya ke diri sendiri dan suaminya.


Felix mengangguk sambil mengangkat alis, karena mulutnya penuh.


"Astaga ...." Wanita itu mengelus perutnya.


"Lalu, tiga wanita itu?" tanya Kimmy lagi.


"Tiga wanita yang mana?" Felix balik bertanya.


"Yang mau kamu pilihkan gaun!" desis Kimmy, jengkel karena Felix tak paham-paham juga.


"Tiga gaun itu buat kamu, lah!" ujar Felix.


Kimmy memutar kepala hingga jelas menatap suaminya. Membuka mulut, tak percaya.


"Em? Kenapa? Jangan bilang kurang!" ujar Felix. Roti keempat dia masukkan mulut.


Seketika Kimmy tertawa nyaring. Semua orang di luar kamar mengelus dada lega karena suara tawa Kimmy.


Oalah ... ternyata!


"Jadi aku salah kira?" tanya Kimmy mendekat ke Felix.


"Maap .... Amsori ...." ujar Kimmy menyatukan kedua telapak tangannya di dahi dan memejamkan mata.


"Hmm ... Mungkin tidak untuk saat ini ...."


Kimmy melotot mendengar kata-kata Felix.


" ... dan selamanya ...." lanjut Felix terkekeh.


Kimmy tersenyum kembali dan merangkul lengan Felix. Lalu melepasnya dan mengambil kotak roti bakar.


"Sisanya buat aku, ya?"


Tanpa menunggu jawaban Felix, dia melahap sisa roti bakar yang sedari tadi membuat air liurnya seakan menetes.


Felix hanya menggelengkan kepala melihat istri yang tengah hamil itu makan. Mengelus rambut Kimmy yang lurus, panjang terurai. Membiarkannya menghabiskan roti itu. Konon, katanya tri semester pertama ibu hamil itu susah makan, tapi tak berlaku untuk Kimmy.


Gadis itu sepertinya malah doyan makan.


*


"Resepsi?" tanya Bu Amy pada keduanya saat bercakap di ruang makan, malam itu.


"Iya, Ma," jawab keduanya.


"Udah lama sekali pernikahannya. Kalian juga udah mau punya anak ...." sahut Bu Amy.


"Ini bukan keinginan kami berdua, Ma ...." jawab keduanya lagi.


"Lah lah ...."

__ADS_1


"Pak Bos Tuan sama Bos Nona yang mau ...." jelas Kimmy.


"Oh, masa sih? Mereka tak hanya berkharisma, tapi juga sangat baik ...." ujar Pak Luki.


"Oh iya, Pa, Ma. Ini kain untuk sekeluarga. Tadi juga sudah dipilihkan. Disesuaikan dengan baju pengantin pilihan Kimmy," ujar Felix menyerahkan lima set kain untuk kelima orang rumah.


Bu Amy segera membuka tas besar itu.


"Waah ... kain berkualitas sangat bagus!"


"Besok ada penjahit khusus yang akan datang untuk mengukur tubuh kalian dan menjahitkan kain itu," jelas Felix lagi.


"Wah ... persiapannya matang sekali, ya? Berapa juta itu kira-kira kok sudah persiapan baik sekali?" ujar Bu Amy seraya membolak-balik kain yang diberikan Felix.


"Juta?" tanya Kimmy.


Bu Amy dan Pak Luki menatap Kimmy saat pertanyaan gadis itu bernada remeh mendengar kata 'juta'.


"Miliar, Ma. Sekitar dua miliar ...." jawab Kimmy meneguk air putih di depannya.


Lemas rasanya kedua paruh baya itu mendengar nominal uang yang disebutkan.


"Astaga ... astaga ... jangan bercanda, Kimmy!" ujar Bu Amy.


Pak Luki pun terbelalak mendengarnya. Untung ketiga adik Kimmy telah masuk ke kamar. Jika tidak, akan tambah heboh lagi.


"Aku nggak bercanda, Ma!"


Bu Amy mengelus dada.


"Enolnya berapa? Itu kalau buat belikan cilok orang sekampung bisa buat mandi cilok!"


"Tangan tukang ciloknya bisa ketuker kanan-kirinya kalo bikin cilok seharga dua miliar sehari! Mama ini, ada-ada aja!"


Kimmy mengerucutkan bibir, sementara Felix menahan senyum.


Pak Luki? Bu Amy? Tentu saja menyayangkan uang itu dalam hati.


*


"Cukup?" tanya sang penata rias pada Kimmy saat fitting baju pengantin di kamar rias tuan Key.


Kimmy meringis. "Terlalu kenceng," ujar Kimmy.


"Oh, maaf ... maaf," ujar gadis yang membantu Kimmy memakai baju pengantinnya. Dia segera agak melonggarkan bagian dada Kimmy.


Di dalam kamar itu terasa sibuk, memilih gaun dan memilih hiasan yang pas dan simple untuk Kimmy.


Tambah lagi Kin yang sudah bisa berjalan, meraih-raih hiasan yang berbahaya jika menusuk tangannya.


Seorang pelayan tergopoh menggendong Kin keluar ruangan itu, membawanya ke taman belakang yang ada marmut-marmut Bianca, mengalihkan perhatian balita itu meski sesekali memanggil nama Kimmy.


"Nah, kita sudah mendapat ukuran anda dengan pas, Nona!" ujar sang penata rias puas.


"Tiga hari lagi persiapan pernikahan. Jangan lupa untuk makan makanan bergizi tinggi dan bervitamin agar fit saat resepsi nanti," pesannya.


"Iya, terima kasih," ujar Kimmy.


******


Stop plagiarisme!


Melanggar hak cipta orang lain masuk dalam UU nomor 19 tahun 2002 pasal 72 ayat (1) yang berisi hukum pidana maksimal 7 tahun dan denda maksimal 5 Miliar Rupiah.

__ADS_1


__ADS_2