
Awal semester untuk Susan kembali melanjutkan pendidikan kelanjutan profesinya di sebuah universitas. Untuk menunjang studi dan mengisi waktu, dia pun menjadi dokter magang di sebuah rumah sakit.
"Kak, dokter Putra yang menjadi dokter pembimbingku, di mana ya ruangannya?" tanya Susan pada seorang dokter gigi di rumah sakit tempat dia magang.
"Sono!" jawabnya ketus, menunjuk ke sebuah ruangan.
Ugh, ketusnya. Padahal, dokter kan harusnya ramah ya? Apa dia dokter gigi paus ya, tak ada ramahnya sama sekali? batin Susan terkikik.
"Makasih, Kak."
"Hem," sahut pria itu melengos.
Susan berjalan membawa semua data yang harus dia serahkan pada pembimbingnya. Sembari mengedarkan pandang di rumah sakit dengan bangunan Belanda dengan ruangan dan pintu yang tinggi-tinggi. Bangunan lama membuatnya bergidik. Namun, dia menguatkan hati.
"Di sini niatnya aku menolong orang. Bukan macam-macam. Bangunan seperti apapun tak akan menghalangi niatku, kan?" gumamnya.
Saat sampai di sebuah ruangan bertuliskan nama dokter yang dia maksud, Susan mengetuk pintu ruangan.
"Masuk!" ujar suara dari dalam.
Susan mulai memutar knop pintu dan melongokkan kepala ke dalam. Seorang dokter pria yang agak tua menyorotnya dari celah kacamata tebalnya.
"Siapa?" tanyanya pada Susan. Dia menatap gadis itu dari atas ke bawah lalu tersenyum karena penampilan Susan termasuk sopan.
"Saya ... Susan, dokter Putra. Saya mahasiswa kedokteran yang bertugas magang di rumah sakit ini," jelas Susan seraya menyerahkan file yang dia pegang.
"Oh, sini, saya periksa file kamu," ujar dokter Putra mengambil data Susan. Dia membuka satu per satu lembar di dalam map. Nampak sang dokter itu adalah orang yang sangat teliti. Butuh beberapa menit dia mengecek semua data.
Susan menatap ke sekeliling ruangan. Dari ruangan itu, terbaca bahwa dokter Putra adalah orang yang sangat menyukai kebersihan. Tak ada sedikit pun tissue atau bungkusan tak penting di dalamnya. Tempat sampah pun kosong.
"Saya selalu meminta orang mengosongkan tempat sampah. Agar tak ada bau tak sedap di ruangan. Dengan ruangan nyaman, bekerja pun juga terasa nyaman."
Seolah membaca pikiran Susan, dokter Putra menjelaskan kenapa tong sampah selalu kosong. Bukan karena tak pernah ada sampah, tapi karena sang dokter tak mau ada bau tak sedap di ruangannya jadi dia menyuruh petugas untuk selalu membuangnya.
Susan hanya menyunggingkan senyum lalu mengarahkan bola matanya ke dokter Putra kembali. Dia masih saja meneliti semua data tentang Susan.
"Di mana ayahmu?" tanya dokter.
__ADS_1
Susan seketika bingung untuk menjawab. Dia mengangkat alis karena untuk mengangkat bahu dirasanya tak sopan.
"Err ... dari kecil saya belum tahu ayah saya, dok!"
Bola mata dokter Putra bergulir ke wajah Susan. Akhirnya dia tak melanjutkan pertanyaan. Dirasa itu bukan merupakan ranahnya. Dia hanya bertugas untuk membimbing pekerjaan gadis itu saja.
Dokter Putra membenahi letak duduknya. "Oh, maaf, Susan. Bekerjalah dengan baik agar nilaimu baik ya? Kulihat prestasimu juga bagus. Pertahankan. Semoga misi dan visi doktermu tercapai dengan baik."
"I-iya, dok."
Sudah itu saja? batin Susan.
Dia segera berdiri dan membungkuk lalu memohon diri untuk kembali bekerja.
*
"Papa, sebenarnya di mana papa asliku?" Iseng Susan menanyakan perihal ayahnya pada Pak Anton saat tiba di rumah.
"Itu ... mm ... begini Susan, ada hal yang akan kukatakan padamu sejujurnya. Kamu telah dewasa dan mulai akan mencari jati dirimu. Kamu siap mendengarnya?" tanya Pak Anton.
Susan mengerutkan dahi. Sebenarnya dia ingin tahu siapa ayah kandungnya. Namun, dulu mamanya selalu menutupi. Sekarang malah dia sepertinya akan mendengar sesuatu yang disembunyikan oleh Mamanya dari Pak Anton.
"Apa??" Susan hampir tak percaya mendengar semua itu.
Bianca yang mendengar semua di balik tembok menutup mulutnya menahan diri untuk tak menjerit mendengar kenyataan itu.
Pantas saja kasih sayang Nyonya Winda berbeda untuk Susan. Dia pun tega meninggalkan Susan ke luar negeri bersama Leo. Watak mereka pun sangat berbeda jauh.
"Winda hanya orang yang mengambilmu dari panti asuhan dan membawamu pergi jauh dari sana agar menjauhkanmu dari bahaya yang mengancam. Seseorang membayarnya untuk mengasuhmu. Setelah orang itu meninggal dan tak lagi membiayai kalian, maka Winda mulai menarik perhatianku hanya untuk menumpang hidup."
Pak Anton menarik napas, dan mengembuskan perlahan. Kemudian melanjutkan kalimatnya.
"Dia bilang sejujurnya saat akan berangkat ke luar negeri. Dia menitipkanmu padaku," ujar Pak Anton.
"P-panti asuhan? Kenapa hidupku sangat rumit?" keluh Susan. Air matanya hampir meledak mendengarnya. Ternyata, dia bukanlah anak Winda. Orang yang selama ini dia kira sebagai ibunya.
"Aku ... Ternyata aku bukan hanya tak punya ayah, tapi juga tak punya ibu ...." ratap Susan.
__ADS_1
"Iya, Susan. Sudah, itu masa lalu. Sekarang kamu adalah anak Papa Anton dan adik Key, pengusaha nomor satu. Kamu selamanya adalah bagian dari keluarga ini," ujar Pak Anton.
Pak Anton memeluk Susan. Pecahlah tangis gadis itu di pelukan ayah angkatnya. Pria itu merasa haru, juga sangat lega karena telah mengatakan semua pada Susan.
"Panti Asuhan apa namanya, Pa?" tanya Susan setelah tangisnya reda.
"Panti Asuhan Sayang Bunda. Dari lahir hingga usia tiga tahun kamu berada di sana," imbuh Pak Anton.
"Bisa aku berkunjung ke sana, Papa?"
"Ya, tapi kamu tak bisa mencari kedua orang tuamu. Mereka sudah tiada. Juga jangan membenci mereka, karena mereka hanya ingin yang terbaik."
"Apa aku lahir karena hubungan gelap?" tanya Susan.
"Itu ... entahlah. Yang jelas kamu memiliki sifat yang baik, Susan."
Susan menunduk. Dia masih belum percaya dengan apa yang dia dengar.
"A-aku ingin istirahat dulu, Papa Anton," ujar Susan.
"Tolong tenanglah, Susan. Ada kami sebagai keluargamu. Papa hanya tak ingin kamu mencari papa dan mama kandungmu lagi. Karena mereka sudah tiada."
"Iya, Papa Anton. Aku mengerti ... Aku hanya ingin menenangkan diri di kamarku," ujar Susan.
"Iya, Susan. Maaf ...."
Susan berjalan ke arah pintu. Bianca akan berlari menjauh tapi ternyata gadis itu telah menangkap basah dirinya di tembok.
"Kak ...."
"Aku ... telah mendengar semuanya Susan. Aku ... tau kamu sedih, tapi ada kami yang akan menjadi keluargamu."
"Kaak ...."
Susan mendekap Bianca erat. Dia kembali meluapkan tangisnya dalam dekapan Bianca.
"Dokter Susan harus memulai hidup dengan baik. Ingat Susan, beda batu dengan intan."
__ADS_1
Susan menatap Bianca dengan sangat lekat.
"Batu akan hancur jika mendapat tekanan berkali-kali, tapi intan akan semakin kokoh dan bersinar walau mendapat pukulan dan tekanan berkali-kali, Susan."