
Mobil van tiba di desa Kimmy sore itu. Ketiga adik menyambut mereka. Menyalami tangan Felix dan Kimmy lalu membawakan masing-masing sekantong plastik besar oleh-oleh.
"Makasih ya, Pak!" ucap Kimmy pada si tour leader.
"Dengan senang hati apabila anda mau melakukan perjalanan kami selalu siap sedia untuk dihubungi," ujarnya seraya mengulurkan sebuah kartu nama.
"Baiklah," sahut Felix menyerobot kartu nama itu.
Jangan sampai tangannya menyentuh istriku sedikit pun!
Tatapan mata tajam Felix membuat si tour leader enggan melanjutkan untuk bersalaman dengan Kimmy.
"S-saya permisi dulu, Tuan, Nyonya!" pamitnya lalu berlari ke mobilnya. Takut.
Mobil van berbalik pulang dengan kencang sore itu.
Semua orang di dalam rumah senang sekali membuka oleh-oleh berupa kaos, kain Bali, makanan-makanan dan cemilan khas sana.
"Kaos kita sama semua!" ujar Raka pada kedua kakaknya.
"Iya, aku pilihkan yang alop Bali!" ujar Kimmy.
"Ah, Kak Kimmy, kalo bilang Inggris-inggris kok nggak bisa fasih!" celetuk Raka, anak paling bontot.
Kedua orang tua, Pak Luki dan Bu Amy duduk di kursi dan hanya tersenyum-senyum menonton kelakuan mereka berempat di atas tikar depan televisi.
Felix pun duduk di tikar, tapi hanya sibuk dengan ponselnya. Duduk agak memojok. Sementara keempat anak Pak Luki duduk mengitari gundukan oleh-oleh, sambil membagi-bagi makanan ke kresek kecil untuk para tetangga.
"Alah, kamu udah bisa bahasa Inggris, kah? Ada pelajarannya di sekolah dasar?" tanya Kimmy pada Raka.
"Ada katanya, Kak!" sahut Vita.
"Iya, tapi nilainya jeblok!" tambah Rama.
" Enak aja! Pernah aku dapat bagus!" protes Raka.
"Berapa?" tanya ketiganya memandang anak lelaki yang sekarang menciut karena pandangan seolah dihakimi oleh ketiga Kakaknya.
Dia menaikkan seluruh jarinya. Jari tangan kanan saja.
"Aaah!! Lima kamu bilang bagus??" teriak Kimmy.
"Tapi aku bisa! Hanya tulisannya yang salah!" bela Raka pada dirinya sendiri.
"Itu tetap salah!" sahut Vita, menoyor kepala adik bontotnya itu.
"Ya kan yang penting ngomongnya! Coba Kak Kimmy, tulisannya bener, tapi ngomongnya nggak bener, kan nggak ngerti tuh bulenya yang diajak ngomong!" tukas Raka.
Felix melirik ke arah Kimmy yang juga berinisiatif melihatnya karena mendengar kata-kata Raka. Pria itu melemparkan uang sepuluh dollar ke atas, kemudian menangkapnya lagi. Sengaja, meledeknya.
"Iya! Paham!" Kimmy mendesis dan melotot pada pria yang menahan tawa itu.
__ADS_1
"Nah, kalo kamu ngaku pinter, jawab pertanyaanku!" ujar Kimmy memberi pertanyaan pada adiknya yang paling bontot itu.
"O-oke!" jawab Raka terbata. Takut juga dia.
"Apa bahasa Inggrisnya ayah?"
"Father!"
Gampang!
"Ibu?"
"Mother!"
Raka menjentikkan jarinya.
"Kakek?" tanya Kimmy. Anak lelaki itu mulai berpikir.
"Kather!"
"Nenek?"
"Nether!" Dengan percaya diri, Raka menjawab.
"Salah!"
Meledaklah tawa di ruangan itu. Suasana hangat terasa di dalam. Hingga saat pembagian oleh-oleh untuk para tetangga.
Karena lelah, pasangan suami-istri yang baru saja berbulan madu itu tak melakukan apapun selain tidur berpelukan di tempat tidur Kimmy yang sempit.
"Besok kalo aku punya uang, aku beli lah tempat tidur yang lebih besar," ucap Kimmy saat berada di kamar paginya saat bangun.
"Tidak usah! Aku lebih suka tidur mepet padamu!" sahut Felix mengerling.
Kimmy hanya tersenyum mendengar penuturan suaminya. Dia menyiapkan baju Felix untuk berangkat kerja, lalu membenahi dasi pria itu usai selesai mandi dan bersiap.
Sekarang, mereka sudah suami-istri normal.
"Daaah, Papa, Mama!" ucap keduanya setelah makan pagi dan sekarang telah berada di dalam mobil. Mereka mengangkut ketiga adik Kimmy sampai di jalan raya.
Dua orang tua itu melambaikan tangan pada mereka sambil berpesan agar mereka berhati-hati di jalan.
"Inget Raka, grenpader sama grenmader, ya? Kakek sama nenek ...." ujar Kimmy dalam perjalanan, mengingatkan sambil tersenyum.
"Iya!" jawab Raka.
Mobil melaju hingga ke jalan. Ketiganya turun dan mereka berpisah.
*
Suasana kantor terasa sangat sibuk. Bahkan Tuan Key pun sibuk. Semua karyawan sedang mengerjakan pekerjaan kantor masing-masing dengan sangat serius. Ya, ini akan terjadi beberapa bulan ke depan.
__ADS_1
"Tuan ...." desis Felix. Tak jadi karena dia melihat tuannya sedang menerima telepon penting.
Lalu malah menyuruh Felix untuk pergi ke perusahaan terkait lain.
Felix pun harus berkonsentrasi penuh pada pekerjaan. Jika tidak, runyam masalah kerja, dia akan dipecat oleh Tuan Key.
Hingga, pernikahan Felix dan Kimmy belum tersampaikan di telinga Key dan Bianca.
*
"Belum bisa," ujar Felix pada Kimmy di ruang kerja.
"Apanya?" tanya Kimmy pelan.
"Bilangnya sama Tuan Key. Kami sedang sangat sibuk ...."
Belum selesai pembicaraan dengan Kimmy, Tuan Key sudah memanggil Felix untuk berangkat lagi ke kantor siang itu.
Cup!
Felix mengecup kening Kimmy di dalam ruang kerja.
"Aih! Ada CCTV!" jerit Kimmy.
"Psst ... tenang saja!" sahut Felix mengerlingkan mata.
Siapa yang sempat mengecek CCTV kalau tak ada kejadian penting?
Pria itu meninggalkan Kimmy di ruang kerja sendiri.
*
Benar saja, proyek itu masih berjalan dalam beberapa bulan. Felix pun tak sempat menyampaikan apa yang ingin dia sampaikan, hingga terlupa.
Dalam bulan-bulan itu, yang paling penting sekarang hanyalah perusahaan bagi Key. Didukung oleh Kin yang makin sehat dan pintar, semuanya berjalan lancar untuk mengurusi perusahaan.
Nampaknya memang belum ada celah untuk Felix mengatakan yang sebenarnya. Pria itu harus bersabar dan tetap bekerja dengan baik.
Semua berjalan seperti biasanya, Felix dan Kimmy tetap pulang seminggu sekali, sementara Key dan Bianca pun juga melakukan kegiatannya seperti biasa. Semua mengalir bagai air hingga tanpa terasa bulan ke sembilan, saat itu usia Kin telah menginjak dua tahun.
"Aah ... ulang tahun kamu dirayakan sama Mommy dan tante Kimmy saja ya, Sayang? Daddy lembur di kantor," ujar Bianca pada anaknya.
"Yang aun!" jerit anak itu senang. Melihat acara ulang tahun yang meriah di televisi, dia merasa senang dengan kalimat 'ulang tahun'.
Kimmy membawakan sebuah kue taart berwarna biru muda dengan hiasan beberapa mobil di atasnya, dengan lilin angka dua di atasnya. Para pelayan menyanyikan lagu ulang tahun pada Kin. Semua bertepuk tangan hingga Kin merasa sangat bahagia.
Kin meniup lilin dibantu oleh mommy-nya, lalu memotong kue berdua. Kin mencolek dan memoles whipping cream ke wajah Bianca. Kin tergelak saat itu. Video call sebentar dengan daddy-nya, lalu kembali bertepuk tangan dan minta lilin dinyalakan lagi. Para pelayan tertawa melihat kelucuan Kin.
Beberapa kado telah disiapkan untuk dibuka oleh Kin sendiri. Kimmy menyiapkan sebuah mobil-mobilan untuk Kin, begitu juga pelayan lain. Tanpa diminta, mereka pun membelikan kado untuk balita nan lucu itu. Namun, kegembiraan itu tersendat karena tiba-tiba ada yang limbung dan tersungkur.
******
__ADS_1
Stop plagiarisme!
Melanggar hak cipta orang lain masuk dalam UU nomor 19 tahun 2002 pasal 72 ayat (1) yang berisi hukum pidana maksimal 7 tahun dan denda maksimal 5 Miliar Rupiah.