
"Anak muda, siapa kau dan apa yang kau punya untuk membayar utang mereka yang tak sedikit nominalnya!" ujar juragan Burhan mendekati Felix.
"Seratus tujuh puluh juta ditambah tiga puluh juta sudah cukup untuk anda tak mengganggu mereka lagi?"
Felix merasa bisa lebih angkuh dengan kata-katanya tak menjawab pertanyaan, menyaingi kesombongan pria tua botak itu.
Kimmy terbelalak.
"Bos ... kamu tak perlu seperti itu padaku, aku ...."
"No comment," desis Felix padanya.
Semua mata memandangnya keren. Pria berjas dan berdasi yang mampu menjadi pahlawan di ruangan itu, bahkan menambah jumlah nominal uang.
Kedua orang tua Kimmy menengadahkan kedua tangan bersyukur pada Tuhan atas keajaiban dan kebaikan pria itu. Ketiga adik Kimmy bersujud mengucap syukur karena kakak kesayangan mereka tak jadi menikah dengan pria kejam itu.
"Hari ini, sebelum jam dua belas malam, aku pastikan uang itu sudah berpindah ke rekeningmu!" lanjut Felix. Benar-benar keren. Padahal otak sedang berpikir dimana meletakkan ponselnya.
Juragan Burhan sedikit menyunggingkan senyuman mendengar ucapan pria muda di depannya. Senang, tapi sedikit kecewa karena hari itu tak jadi mendapatkan perawan. Namun, dia akan tetap bersikukuh suatu saat Kimmy berada di tangannya.
"Besok, jika utangnya lunas, anggap saja kelebihan tiga puluh juta itu adalah bunga dari utang, aku janji untuk tak mengganggu mereka, tapi entah untuk gadis itu!" tunjuk juragan Burhan pada Kimmy.
"Apa kesalahannya hingga kau seperti ada dendam?" tanya Felix.
"Dia telah membuat anakku menderita!" ujarnya.
"Bukan! Bukan aku!" teriak Kimmy.
"Siapa di sini yang bisa menjelaskan? Jika seorang pria menyatakan cinta pada wanita, lalu wanita menolak cinta dengan halus kemudian si pria akan melakukan percobaan bunuh diri, di mana letak kesalahan si wanita itu??" teriak Kimmy di dalam ruangan.
Tak ada yang menjawab.
"Begitukah ceritanya?" tanya Felix.
Belum juga ada yang menjawab, seorang lelaki berusia dua puluh tujuh tahun yang tampak lemah, kusut, dan pucat berlari sekuat tenaga menerobos kerumunan orang di depan rumah Kimmy.
"Ayah ...." panggilnya lemah.
Pak Burhan dan semua orang takjub melihat lelaki itu. Akhirnya setelah beberapa tahun pria itu kembali bersuara.
"Tio ...."
__ADS_1
Pak Burhan mendekati anaknya dan mendekapnya erat. Lelaki itu melepaskan dekapan ayahnya. Dia menatap ke arah Kimmy dengan nanar, lalu berkata pada ayahnya.
"Kudengar, Kimmy hari ini menikah. Aku ingin melihat pernikahannya. Aku sadar seketika mendengarnya. Jika dia bahagia, maka aku pun akan bahagia. Selama ini, aku hanya mengurung diri, merutuki nasibku. Setelah mendengar kabar pernikahan Kimmy, kusadari benar bahwa aku memang tak berjodoh dengannya, tak bisa bersamanya. Semua yang kuratapi sia-sia. Kimmy bahagia, kenapa aku tidak bahagia? Aku benar-benar mencintainya, maka aku akan senang jika dia bahagia dengan pernikahannya. Aku datang untuk menyaksikannya."
Entah kenapa lelaki kurus, berbanding terbalik dengan bapaknya itu bisa berbicara lancar sekali saat mendengar Kimmy menikah.
Semua orang berbisik-bisik membicarakan lelaki itu.
Dasar bodoh, apa dia nggak tau kalau bapaknya yang mau menikahiku?
Kimmy memijat atas hidung antara dua matanya.
"Ayah, kenapa nggak bilang kalau Ayah dapat undangan pernikahan dari Kimmy?" tanya lelaki itu menatap kecewa pada juragan Burhan.
Pria yang ditatap menyeringai kebingungan.
"Apakah aku terlambat untuk menyaksikan pernikahan ini?" ujarnya lagi ketika ayahnya tak menjawab.
"Tidak!" seru Kimmy.
"Kamu akan menyaksikan pernikahan kami, ya kan?" seru Kimmy sambil menatap ke Felix, tersenyum mencurigakan.
"Pura-pura, Bos! Tolong aku sekali lagi!" desis Kimmy melotot.
"Gimana ini? Jadi nikah apa nggak? Malah pada drama, tinggal bilang saya terima nikahnya si anu binti ini saja kok lama!" Suara penghulu yang sudah sejak pagi menunggu mereka berbicara sudah sangat kesal. Keringat sejagung-jagung meluncur di wajahnya. Peci yang dia pakai telah berubah menjadi alat untuk berkipas.
Kimmy menarik Felix ke hadapan penghulu, di depan kedua orang tua Kimmy.
Gadis itu berbisik, "Pinjam dompetmu, Bos!"
Pria yang dibisiki menurut saja. Dia merogoh kantong, memberikan dompetnya pada gadis itu. Dalam pikirannya, hanya bagaimana lelaki putus asa bernama Tio itu melihat sebuah pernikahan.
Toh ini bohongan, kan? Pikir Felix.
Kimmy menarik plastik dari tangan Felix.
"Maharnya ini saja!"
Felix melotot, sebelum dia menjelaskan apa isi plastik itu, Kimmy sudah terburu membawanya. Felix pasrah saja.
Pikiran Kimmy sudah buntu, hanya itu yang bisa dilakukan untuk menghindari anak Tuan Burhan. Jangan lagi otak dia kembali sakit jika tahu gadis pujaan akan menikah dengan ayahnya sendiri.
__ADS_1
Diletakkannya dompet dan plastik itu di meja seserahan Tuan Burhan yang sudah dibersihkan. Sementara itu Tuan Burhan sedang menuntun anaknya untuk duduk di kursi yang dekat dengan kedua calon pengantin agar terlihat jelas.
"Enak sekali, duduk di depan berasa nonton konser di kursi VVIP," omel Felix yang melirik, lalu dengan cepat berkonsentrasi setelah menatap ke penghulu yang menunggunya dengan tatapan mata yang tajam.
Penghulu itu terlihat menyeramkan. Sesekali dia melihat ke arah jam di dinding, padahal dia pun memakai jam tangan. Felix menatap jam tangan yang tak sesuai dengan waktu sekarang.
Jam tangan mati, masih dipakai. Apa gunanya?
Penghulu mendesiskan sesuatu, "Waktuku tak banyak, anak muda! Cepat hafalkan apa yang harus kamu katakan."
Penghulu mengajari Felix sebentar, lalu pria asisten itu mengikuti dengan lancar karena otaknya yang cemerlang.
Dimulailah upacara pernikahan. Tangan Felix menjabat pria berpeci dengan kumis tipis-tipis di depannya.
Usai pria itu sukses mengucap akad nikah dengan mas kawin sebesar dua juta rupiah dan sebuah dalaman berwarna biru dongker garis-garis putih, kemudian disusul sedikit gelak di dalam kerumunan orang yang sedang duduk di karpet mendengarnya. Sementara Kimmy terhenyak mendengar warna dalamannya telah diketahui orang banyak.
Ternyata isinya dalaman kotorku! Kenapa harus dideskripsikan juga sih??
"Sah?"
"Saaah!!"
Ucapan yang membuat Felix terperanjat.
"Selamat, kalian sudah menjadi suami istri sah. Nanti urusan surat pernikahan menyusul. Saya langsung ada acara menikahkan pasangan lagi di kampung sebelah," ujar penghulu itu berpamitan.
Felix tambah terperanjat lagi mendengarnya.
Jika seorang penghulu yang bilang begitu, apa masih dibilang bohongan?
Kimmy agak merasa lega melihat ke arah Tio yang terlihat bahagia juga, meski memegang erat tangan ayahnya. Namun, wajahnya tak lagi murung. Ini berarti kabar baik untuknya bahwa keluarga Pak Burhan tak akan lagi meneror keluarganya. Dia beralih ke pria yang sekarang di sebelahnya.
Sementara Felix sedari tadi menatap Kimmy. Gadis itu juga memutar kepalanya menatapnya. Pria itu melotot mengulangi ucapan yang terngiang di telinganya, "Sah??"
Kimmy mengangkat bahu. Felix kembali mengerutkan dahi mencoba mengerti kenyataan yang terjadi.
Kalimat pendek itu membuatku gusarr?? Apakah ini berarti aku sudah .... Aaarrrggghh!! Menyesal aku kesini!!!
******
Plagiarisme melanggar Undang-undang No. 28 Tahun 2014 tentang Hak Cipta.
__ADS_1