Cintai Aku!

Cintai Aku!
Pencarian


__ADS_3

"Pak, di mana dokter Susan?"


Tergesa Yoshua mendesak seorang kepala rumah sakit yang kebetulan sedang berjalan di lorong, untuk memberikan jawaban yang tak dia ketahui. Dia pun heran kenapa ada seseorang yang mendesak masuk ke rumah sakit dan menanyainya tentang Susan. Dokter baru di rumah sakit itu.


"Maaf, saya tidak tahu. Di luar jam kerjanya, itu di luar wewenang saya."


Meski terkejut, kepala rumah sakit berusaha untuk tenang menghadapi orang asing yang datang. Nampak kekuatiran dari wajah Yoshua, dan kepala rumah sakit tak begitu mengenal lelaki berbaju hitam dengan simbol sebuah perusahaan rokok itu.


Apa yang ingin dia lakukan? Apakah dia tahu bahwa yang dia ajak bicara adalah kepala rumah sakit? Entahlah. Namun, dia tentunya sedang mengkhawatirkan keberadaan dokter Susan.


"Maaf ..." ujar Yoshua lirih.


"Kenapa dokter Susan? Anda siapanya?" tanya pria itu bersimpatik.


"Dia ... belum sampai rumah juga. Saya ... hanya temannya."


Suatu hal yang tak begitu berbahaya di telinga sang kepala rumah sakit. Jauh dari perkiraannya. Dia pikir dokter Susan diculik atau dibegal di jalan dan sebagainya seperti kisah dalam berita kriminal.


"Oh, mungkin dia mampir belanja, atau—"


"Saya permisi, saya akan mencarinya di luar rumah sakit."


Kepala rumah sakit hanya mengerutkan dahi dan membiarkan pria itu pergi dengan tergesa-gesa. Keheranan terjadi juga dengan tukang parkir di dalam pos parkir. Hanya sedikit petunjuk mungkin yang dia dapat.


"Tadi bu dokter naik motor, seseorang berbicara dengannya sebelum terlihat tergesa mengikuti mobilnya."


Kedua alis Yoshua menyatu. "Ciri-cirinya seperti apa?"


"Mmm ... kulitnya sawo matang, badannya agak gemuk, untuk wajahnya saya kurang memperhatikan. Kalo mobilnya, ada rekamannya. Sebentar ..." Si petugas parkir mencari rekaman di layar komputer dan memberitahukan plat mobil dan jenis mobil yang diikuti oleh Susan.


Yoshua mengangguk yakin. Dia telah hapal mobil Dion.

__ADS_1


"Terima kasih, Pak. Saya tahu orangnya!"


Petugas parkir menghela napas lega. Dia tersenyum saat Yoshua meninggalkan tempat itu.


"Nah, sekarang masalahnya, aku nggak tau di mana mereka bertemu. Ck! Aku takut ada apa-apa dengan Susan."


Yoshua mencoba menelepon ponsel Susan, tapi tak juga dapat tersambung. Dia mencoba memencet berkali-kali, sementara seorang pria menepuk pundaknya dengan agak keras.


"Daripada Anda menghabiskan waktu dengan menelepon Nona Susan, lebih baik ikut kami masuk ke mobil," ucapnya.


Yoshua tersentak. Pria yang tadi ditemuinya di pos satpam rumah Susan telah berada di belakangnya.


"Ah! B-baik!" Tanpa berbasa-basi, Yoshua segera masuk ke dalam mobil mengkilat itu. Dia terperanjat saat seorang pria lagi sedang duduk tanpa menatapnya di jok belakang. Auranya menyeramkan, seolah jika dia salah melakukan sesuatu, patahlah lehernya.


Felix membukakan pintu mobil bagian depan sesuai dengan aturan Key. Yoshua tak berkutik di depan. Namun, dia merasa kedua pria ini adalah bagian dari keluarga Susan. Jadi, mereka punya tujuan yang sama. Setidaknya, menemukan Susan dan sudah. Semua akan terlewati dengan kelegaan.


"Informasi apa yang kamu dapat, Yoshua? Benarkan namamu Yoshua?"


Degup jantung Yoshua yang agak mulai teratur kembali tersentak lagi saat pria di belakang membuka suara dan mengetahui namanya. Dia mengerti benar bagaimana membuat seseorang kaget berkali-kali.


Yoshua menyebutkan nama mobil dan plat nomor kendaraan yang ditunjukkan oleh petugas parkir.


"Namanya Dion, Tuan."


Key memegang dagunya. Dia bahkan belum memulai pikirannya, sang asisten sudah menemukan apa yang akan dia pikirkan.


"Dion, putra pengusaha perusahaan yang menempati urutan nomor seratus delapan, pasangan Jonathan dan Erren. Usia dua puluh enam tahun satu bulan lagi. Dia diangkat sebagai manager di perusahaan orang tuanya tiga tahun yang lalu, berperawakan agak gemuk, dengan kulit sawo matang—"


Yoshua menatap pria di sebelahnya tanpa berkedip dengan mulut yang menganga. Dia menggulirkan bola matanya dari atas hingga kaki. Bertanya-tanya benarkah ini bukan robot?


"Dia juga yang mengunggah berita tentang pemukulan di sebuah warung, Tuan."

__ADS_1


Key mengelus dagu. Matanya tersembunyi di balik kacamata hitam yang berharga puluhan juta rupiah.


"Jalan."


Mobil pun melaju ke arah sebuah rumah yang sangat diketahui oleh sang asisten.


Yoshua tak bisa menyembunyikan rasa kagumnya pada kedua orang itu. Mungkinkah mereka ini detektif? Atau polisi? Atau sejenisnya? Ah, entahlah. Jika dia masih berusia anak-anak, mungkin dia bercita-cita sekeren mereka.


Mobil berjalan tanpa sepatah kata pun terucap dari mulut ketiganya. Rasanya canggung sekali bagi Yoshua. Sesekali dia melirik ke spion, pria di belakang dengan santai memainkan ponselnya. Beberapa telepon penting, entah dari istri atau dari partner kerja diterima pria itu seolah tak ada waktu untuk berbincang dengannya.


Dari perbincangan pria di belakang yang kemungkinan dialah yang bernama Tuan Key itu, Yoshua tahu bahwa Susan belum juga sampai di rumahnya sepetang itu.


"Ini rumahnya, Tuan."


Pikiran Yoshua begitu penuh dengan keadaan Susan dan kekaguman pada kedua pria itu hingga tak sadar mobil telah berhenti di depan sebuah gerbang rumah yang agak besar juga tapi tak semencengangkan rumah Tuan Key.


Mereka mendapati motor Susan berada di dalamnya.


***


Kedua alis Susan bertaut. Dia menatap tajam pada Dion yang menggosok kedua telapak tangannya seraya menyeringai membalas tatapan Susan dengan menyebalkan. Dia telah menunggu selama satu setengah jam, tapi Nyonya Erren yang dikatakan sakit itu belum juga muncul.


"Tunggu lah, sebentar."


Nada santai keluar dari mulut Dion. Terasa gerah di telinga Susan. Ketidak percayaan mulaj menyusup dalam pikirannya tentang sakitnya Nyonya Erren. Jika memang sakit, tentunya wanita itu berada di rumah dan tak perlu menunggu terlalu lama.


"Kamu jangan bohong, Dion!" Kesabaran Susan telah habis. Dia membuang waktunya di rumah ini. Sebuah gelas berisi minuman tak disentuh oleh Susan, berikut cemilannya.


Memangnya aku sepolos apa, diberi minuman seperti itu, tau-tau aku tak sadarkan diri? Oh, terlalu mainstream.


"Tunggu aja." Dion masih menyeringai, melipat tangan di depan Susan sambil berharap Susan kehausan dan meminum air yang telah dia sajikan sendiri tanpa bantuan para pelayannya.

__ADS_1


******



__ADS_2