
Susan memakai jaketnya dan berjalan cepat keluar dari rumah. Pak Anton mencegatnya saat sampai di ruang tamu.
"Pakai jaket, mau kemana Susan?"
"Mau ketemu temen, Papa Anton."
"Di mana?"
"Di Green Cafe, pusat kota, Pa!" sahut Susan memutar kunci motornya.
"Laki-laki apa perempuan?"
"Laki-laki."
"Teman apa teman?" goda Pak Anton.
Susan membenahi letak kacamata dan mengerucutkan bibirnya. "Temen betulan, Pa!"
"Iya, percaya. Hati-hati, ya?"
Pak Anton terkekeh melihat wajah serius Susan. Dia melanjutkan membaca korannya, duduk di ruang tamu seraya meletakkam secangkir kopi di atas meja.
"Iya, Papa Anton!" sahut Susan.
Gadis itu bergegas ke garasi lalu menyalakan sepeda motornya. Memanasi sebentar lalu memutar gas.
***
Ozkan sangat gelisah. Keputusannya hari itu, dia harus bilang pada Susan yang sesungguhnya. Sesekali dia berdiri di ambang pintu cafe, diamati oleh orang-orang yang lewat keluar-masuk cafe, sesekali duduk di tempat VIP yang sudah dia pesan.
Lime belas menit terasa lama untuk orang yang menunggu. Ozkan melihat sepeda motor Susan datang dari kejauhan. Seorang pria biasanya akan dengan mudah menghapal jenis motor bahkan sampai mesinnya saat pertama kali melihat saja. Unik, memang.
Ozkan tersenyum kecut. Pada akhirnya hari itu akan datang juga. Dia berusaha menyambut kedatangan Susan dengan senyum lebar.
"Hai, Susan. Parkirkan di sana," suruhnya menunjuk ke parkiran motor.
"Iya!" teriak Susan dari kejauhan.
Ozkan tak berkedip menatap Susan dari datang, memarkir motor dan akhirnya berjalan ke arahnya. Ozkan berandai-andai mereka berkencan.
"Ozkan, senyum-senyum sendiri?" gelak Susan melihat raut wajah Ozkan.
Lelaki itu sontak terkejut dan bayangan tentang mereka berdua buyar sudah.
"Eh, ingat sesuatu," sahutnya menepis rasa malu. "Ayo, kita masuk. Sudah kupesankan tempat!"
"Kenapa mesti pesan tempat? Di sini cafenya tidak begitu ramai, 'kan?" cicit Susan.
"Mmm ... iya kalau nggak ramai, kalau ramai? Hanya jaga-jaga, Susan. Lagian aku mau kita berbincang di tempat yang nyaman."
"Ooh ...."
Ozkan berjalan di samping Susan. Dia menghirup bau parfum Susan yang khas, di semua gerai, dia cari tak juga menemukan bau seperti itu. Susan mendapatkannya dari Bianca sebagai kado saat ulang tahunnya terdahulu, hingga sekarang setiap kali habis, dia akan memesannya. Seorang pembuat parfum ternama merahasiakan racikannya khusus untuk keluarga Key.
"Sini," tutur Ozkan mempersilakan gadis itu untuk duduk di tempat VIP.
Seorang pelayan cafe dengan sigap mendatangi mereka dan menyodorkan daftar menu.
"Mau makan apa, Susan?"
__ADS_1
"Aku ... pasta saus keju saja, minumnya jus jeruk."
Ozkan mengerutkan dahi, eneg mendengarnya. "Kenapa para gadis menyukai keju, coklat, strawberry?"
Susan tertawa. "Ya, lidah ini hampir seragam dengan gadis-gadis di dunia. Takdir kita menyukai hal-hal yang kamu sebutkan tadi," ujarnya.
"Aku ... sirloin steak saja, minumnya ... kopi!"
Susan tersenyum. "Kenapa lelaki sukanya kopi?"
"Yaa ... sepahit kisahku, ups!"
Kedua bola mata Susan terbelalak mendengarnya. Bukankah dia itu lelaki tampan dengan kekayaan yang cukup banyak? Masih bilang pahit?
Seiring berjalan mundurnya si pelayan, mereka pun mulai mengobrol.
"Kenapa kamu bilang pahit?" tanya Susan penasaran.
"Mmm ... eh, kamu nggak melepas jaket dulu? Panas, 'kan?" sahut Ozkan mengalihkan.
"Eh, iya."
Susan membuka jaket lalu meletakkannya di sandaran kursi. Dia menatap Ozkan yang sedari tadi menatapnya.
"Gimana?" tanya Susan membuat Ozkan berkedip.
"Ah, iya. Ada yang mau aku bilang tentang ... Apa kabarmu, Susan?" goda Ozkan.
"Ozkan!" Susan mulai agak marah karena Ozkan mengulur-ulur apa yang akan dia utarakan.
"Iya, iya, jangan marah. Begini ... aku hanya ingin bilang apa yang terjadi sesungguhnya dengan ... Yoshua."
Mata Susan nampak tertarik dengan apa yang akan dikatakan oleh Ozkan. Ozkan sendiri menangkap sebuah semangat dari dua bola mata berwarna hitam pekat itu, yang terlihat di balik kacamatanya.
"Iya," sahut Ozkan sengaja menunggu reaksi Susan.
"Ada apa dengannya?" buru Susan, penasaran.
Benar 'kan? Jika nama itu disebut, dia akan bersemangat? Aku tidak akan salah.
"Begini. Awalnya, aku memang menyukaimu ..."
Sampai sekarang, sih!
" ... Tapi dulu Yoshua pernah pulang dalam keadaan mabuk dan bilang semua. Aku ... menyimpannya saja apa yang dia bilang."
"Dia bilang apa???" kejar Susan.
Lucu juga gadis ini saat penasaran. Ah, andai dia penasaran seperti itu padaku!
"Ozkan?" panggil Susan.
"Eh, iya .... Dia bilang bahwa dia merindukan adiknya yang di ...." Ucapan Ozkan terhenti.
"Apa sih??"
Ozkan melirik ke arah pelayan yang datang membawakan makanan dan minuman yang mereka pesan. Susan pun terpaksa menunda rasa penasarannya.
"Makasih, Mas!" ujar Ozkan saat pelayan selesai meletakkan semua yang ada di nampan.
__ADS_1
"Makan," titah Ozkan pada Susan.
"Ish, ceritakan dulu tadi apa lanjutannya ...." desak Susan.
"Mm ... dia itu merindukan adiknya yang ada di panti asuhan."
Mata Susan terbelalak. "Panti asuhan?"
Kenapa semua orang membicarakan tentang panti asuhan baru-baru ini??
"Maksudmu apa kok panti asuhan?" tanya Susan, penasaran.
"Sebenarnya Yoshua itu dulu anak panti asuhan yang mendapat beasiswa dan dia itu minder padamu! Akhirnya dia mendorongku untuk mendekatimu!" jelas Ozkan.
"Tunggu, tunggu. Adiknya itu seperti aku?" tanya Susan menunjuk ke dirinya sendiri.
"He'em," Ozkan mengangguk pelan. Meski sakit, tapi rasanya hampir lega.
"Lalu? Apa hubungannya denganku?"
Ozkan menarik napas dalam-dalam lalu mengembuskannya perlahan.
"Dia menyukaimu," ujarnya. Ada desir perih dalam hatinya saat mengucapkan kalimat itu.
Namun, ekspresi yang diharapkan Ozkan pada Susan, kenyataannya tak seperti yang dia mau. Susan malah pucat.
"Kenapa, Susan? Makan saja kalau kamu lapar!" Ozkan mendorong piring yang berisi pasta itu agak mendekat ke arah Susan.
Susan menggeleng. Rasanya campur aduk dalam hatinya. Dia menyeruput sedikit jus jeruk, membasahi kerongkongannya yang kering. Lalu menunduk kembali. Wajahnya sedih.
Dalam bayangan Ozkan, Susan akan gembira mendengar pernyataan bahwa Yoshua menyukainya tapi dia bertanya-tanya kenapa Susan malah sedih. Apa dia merasa sedih karena Yoshua hanyalah anak pantu asuhan? Sedangkan semula Ozkan merasa Susan bukan gadis yang suka membeda-bedakan status siapapun.
"Ozkan, di mana panti asuhan Yoshua dulu tinggal?" tanya Susan.
"Aduh, aku lupa namanya. Nanti akan kutanyakan!" sahut Ozkan menepuk dahinya.
"Bisa kamu tanyakan padanya sekarang?" desak Susan. Ini harus segera diketahuinya.
"Oh, emm ... baiklah, sebentar aku tanyakan."
Ozkan mengerutkan dahi melihat Susan malah mengejarnya untuk menanyakan panti asuhan tempat tinggal Yoshua dulu. Dia mengeluarkan ponsel dan memencet nomor Yoshua.
"Halo, Yoshua!" sapa Ozkan.
Pandangan Susan tak lepas dari wajah Ozkan. Ozkan sangat suka dipandangi seperti itu, tapi dia juga bingung bagaimana harus menanyakan pada Yoshua.
"Apa kabar? Masih di Singapura?"
"Baik, iya. Kamu di Indonesia, ya? Ozkan?"
"Iya ... Mmm ... Yosh, aku mau tanya panti asuhan yang kamu tinggali. Namanya apa? Aku mau ada acara sosial ini sama temanku," dusta Ozkan melirik pada Susan yang meneguk ludahnya mendengar kebohongan Ozkan demi dirinya.
Setelah beberapa saat, Ozkan menutup teleponnya lalu menatap ke arah Susan yang masih menatapnya, menunggu jawaban atas pertanyaannya itu.
"Panti Asuhan Sayang Bunda, jalan Mangga nomor sembilan. Daerah barat."
Deg!
Susan merasa sangat lemas mendengarnya.
__ADS_1
******