Cintai Aku!

Cintai Aku!
Mengantar Pengantin Baru


__ADS_3

"Aku tidur di mana?" tanya Felix malam itu di kamar Kimmy.


"Terserah Bos Pelix, mau di kamar apa di ruang tamu?"


"Maksudku di kanan apa kiri!"


Felix melihat Kimmy yang duduk bersandar di tengah-tengah tempat tidurnya yang sempit asyik menatap ke layar ponsel.


"Oh, bilang Bos kalau mau sebelahan sama aku," ujarnya, menggeser sedikit duduknya ke kiri.


"Siapa juga yang mau sebelahan? Awas ya besok kalau kamu pindah ke apartemenku!"


Felix berdecih, lalu duduk dengan menghentakkan pantat di tepi ranjang Kimmy yang keras. Ia lupa bahwa ranjang itu tak seempuk tempat tidurnya di apartemen.


"Ouch!! Ooh!!"


*


"Nampaknya sebentar lagi kita akan mendapatkan cucu, mereka sedang mencetaknya, Pa!"


Suara erangan Felix terdengar hingga kamar sebelah, kamar Pak Luki dan Bu Amy.


Mereka berdua tertawa geli mendengarnya.


"Jiwa muda, Ma. Seperti itu hal yang baru bagi mereka, maklum aja kalau kelepasan!"


Salah perkiraan lagi.


*


"Kenapa kamu memasang kayu di pinggiran kasur??" desis Felix.


"Bos, itu kayu ya dari kemarin dulu udah terpasang sedemikian rupa. Bos aja yang lupa!" sahut Kimmy.


Felix mencubit gemas si balai yang membuat pantatnya sakit. Dia merebahkan diri memunggungi Kimmy. Matanya terpejam, sebentar saja pria itu akan terlelap, tapi ....


Plak! Plak!


"Bos, banyak nyamuk, kupasang kelambu, ya?"


Felix mengucek matanya, lalu mendudukkan dirinya.


"Lalu nanti kita tidur di dalam kelambu?"


"Iya," ujar Kimmy turun dari tempat tidur.


Felix membayangkan hal yang tidak-tidak.


"Tidak! Nanti aku akan susah untuk melarikan diri kalau kamu berbuat yang tidak senonoh padaku! Tubuh ini masih suci!"


Kimmy melirik pada pria itu.


Harusnya kan aku yang merasa rugi kalau dia menyentuhku?


"Baiklah, aku pasang obat nyamuk, ya?"


Kimmy berdiri, lalu akan mengambil obat nyamuk di luar.


"Eh, tunggu, obat nyamuk asap??"


"Iya," sahut Kimmy.


"Aku tidak tahan asap! Ada alternatif lain?" tanya Felix.


"Ada, pakai lavender," jawab Kimmy.


"Ya sudah, pakai itu saja!"


"Ambil di hutan dulu, Bos!"

__ADS_1


"Ck! Kalau ke hutan ya besok baru dapat! Ya sudah, pakai kelambu saja!" ujar Felix.


Kimmy berbalik ke lemarinya, mengambil kelambu berwarna putih dan Felix memasangnya di tempat tidur.


Mereka kemudian terpaksa tidur di dalam kelambu untuk menghindari nyamuk. Salah satu cara yang aman.


"Jadi ingat baby Kin kalau tidur di dalam kelambu! Kita seperti bayi ya, Bos Pelix?" kelakar Kimmy.


"Kita? Aku tidak."


"Oh iya, Bos Pelix kan tua," jawab Kimmy.


Tua katanya? Ada kata yang lebih halus tidak sih?


"Huh ...."


Felix memunggungi Kimmy lagi dan memejamkan matanya. Tak lama dia terlelap.


Keesokan hari Felix tak lagi terlambat, tapi jalanan macet yang membuat mood-nya turun drastis tak terelakkan. Pak Luki pun telah mulai bekerja, dan dia berjanji nanti malam akan pulang mengantar mereka pindah ke apartemen.


"Felix, kenapa wajahmu ditekuk seperti itu??" tanya Bianca saat pria itu tiba di rumah mewah tuan Key.


"Jalanan macet, Nona."


"Macet? Tumben macet. Ada kecelakaan kah?" Key datang dari atas, mendengar apa yang kedua orang itu perbincangkan.


Felix mengelus bibir jujurnya yang sedang belajar untuk bohong.


"Eh, tadi ada nenek tua menyeberang. Lamaa ... Tuan! Jadi macet."


Key dan Bianca saling bertatapan mendengar penjelasan aneh Felix.


"Akhir-akhir ini dia aneh!" bisik Key di telinga istrinya.


Saya dengar bisikan anda, Tuan!


"Tidak, Tuan. Saya senang bekerja."


Daripada di rumah dengan gadis aneh itu.


Felix mengantar kedua tuannya dan bekerja sepanjang pagi hingga sore mengantar mereka pulang lagi ke rumah.


Tiba di rumah mewah, sebuah dentingan terdengar dari ponsel.


Dia membuka pesan di ponselnya. Sebentar kemudian terbelalak membaca isinya.


[Bos, di rumah kami sekeluarga sudah siap berangkat ke apartemen. Para tetangga juga bersikukuh mau mengantarku ke sana. Mereka sudah menyediakan dua mobil untuk transportasi.]


Astaganaga panjangnya bukan kepalang!


Felix menepuk jidatnya sendiri.


"Ada apa, Felix?"


"Eh, tak apa-apa, Tuan. Saya pamit pulang dulu," ujar Felix.


Key dan Pak Anton saling bertatapan. Dua hari ini mereka merasa pria itu sangat aneh. Namun, mereka membiarkannya.


"Ya sudah, hati-hati, Felix!" pesan Key.


"Siap, Tuan!"


Pria itu membungkuk kemudian segera memasuki mobil. Pikirannya tak karuan. Saat itu yang terlintas hanya membersihkan apartemen dan memberi tahu satpam bahwa akan ada beberapa saudara yang datang.


Beberapa? Aish, dua mobil!


Felix melaju cepat ke apartemen. Sesampainya di sana, dia menemui satpam yang sedang berjaga.


"Pak satpam, nanti aku ijin memasukkan beberapa orang ke apartemen. Mereka saudara dari desa."

__ADS_1


Pria muda itu nampak tersengal-sengal, terburu.


"O-oh, iya Tuan Felix. Tuan ada saudara di desa, ya?" Melihat Felix seperti dikejar maling. Eh, maling dikejar polisi.


"Iya," jawab Felix singkat lalu berlari ke ruang apartemennya.


Pintu terbuka, lalu dia membersihkan seluruh ruangan, memperkirakan semua bisa masuk ke dalam.


"Kira-kira satu mobil itu paling banyak muat delapan orang, kan? Berarti cukup lah enam belasan orang di ruangan ini," ujarnya.


Setelah itu, dia membersihkan diri lalu kembali masuk ke mobilnya, melaju ke desa.


*


"Mak, kita ke kota, Mak!" ujar salah satu anak tetangga Kimmy.


Hampir sebagian besar orang-orang desa itu jarang ke kota.


Dua mobil baru dilap berkali-kali oleh sopirnya supaya terlihat kinclong. Salah satunya malah mencoba mengembuskan udara dari mulut menganga untuk membuat kacanya terlihat mengkilat.


Sungguh bersemangat sekali semua orang yang berada di depan rumah Kimmy. Gadis itu pun telah memakai baju terbaiknya.


Semua memakai baju terbaik.


"Nanti setelah mengantar Mbak Kimmy, kita piknik, ya?" pinta seorang anak pada ibunya.


"Kalau pulangnya nggak kemalaman, ya?" jawab ibunya.


"Kepengen lihat emol."


Ucapan anak itu membuat geli semua orang.


"Ya nanti lihat saja ya, kan nanti lewat!" seru ibunya.


Anak itu mengangguk saja, menurut dengan senangnya.


Seketika rumah Kimmy ramai dengan celotehan anak kecil dan orang-orang. Keluarga Kimmy pun menyediakan makan untuk mereka. Berita penting sekecil apapun akan cepat tersebar di desa. Apalagi keluarga baik. Tak heran jika berita kepindahan Kimmy sudah diketahui para tetangga.


"Yuk, mari kita makan dulu sambil menunggu pengantin prianya!" ujar salah satu tetangga.


Mereka berebut mengambil makan di ruang tamu.


"Tunggu menantu saya ya, Pak, Bu!" seru Bu Amy tersenyum. Bangga juga memiliki menantu yang kerja dengan mobil di kota. Namun, tak ditunjukkannya kebanggaan itu pada semua orang. Biarlah dia dan keluarga yang merasakannya.


Felix mengendarai mobilnya dengan lambat karena saat itu banyak kendaraan berlalu lalang memasuki kawasan industri. Dia baru tiba di ujung desa saat semburat jingga di langit berpadu dengan warna abu dari awan.


Pria itu mengernyitkan dahi melihat ke dua mobil yang telah diparkir di samping rumah. Jantungnya berdegup kencang. Kemudian parkir di belakang kedua mobil itu. Dia turun dan benar saja dugaannya ....


Sekitar empat puluhan orang sudah berkumpul di depan rumah Kimmy.


Sepertinya semua orang itu sudah bersiap ikut.


Semua orang yang berkumpul, menyalami dan menyapanya. Usai melewati semua orang itu, Felix mencari Kimmy. Dia menarik lengan gadis itu dan membawanya ke dalam kamar.


"Kamu bilang dua mobil??" bisiknya.


"Iya ... dua mobil kan, Bos? Dua mobil pick-up!"


Felix melepas cengkeraman dan memijat keningnya.


******


Stop plagiarisme!


Melanggar hak cipta orang lain masuk dalam UU nomor 19 tahun 2002 pasal 72 ayat (1) yang berisi hukum pidana maksimal 7 tahun dan denda maksimal 5 Miliar Rupiah.


Visual Kimmy versi othor, kalo ga setuju, imajinasikan sendiri ya menurut kalian 😘


__ADS_1


__ADS_2