Cintai Aku!

Cintai Aku!
Tidur Sekamar


__ADS_3

"Kamu mau menggoda setelah menjeratku ke dalam tali pernikahan??" desis Felix kesal.


"Bukan ... buat apa aku menggoda Bos Pelix! Aku hanya minta tolong, tanganku tak sampai!" jawab Kimmy.


Felix menghela napas. Dia menggelengkan kepala mendekati Kimmy lagi lalu dengan satu tangan, diturunkannya resleting baju itu.


"Makasih, Bos. Kenapa memejamkan mata?" tanya Kimmy seperti tak ada dosa.


"Kenapa, katamu? Apa aku akan membiarkan kedua netraku ternoda melihat tubuhmu itu jika aku melebarkan mataku yang suci ini?" omel Felix seraya berbalik memunggungi Kimmy.


"Huh, si Bos Pelix. Aku pakai kaus juga kali!" ujar Kimmy melepas sendiri semua baju pengantinnya.


"Hah? Pakai kaus?" Felix memicingkan mata dan berbalik.


"Iya! Kaus .... Biar si juragan mesum itu tak mudah membuka pakaian pengantinku," ujar Kimmy.


"Oh, jadi kamu sebenarnya mau berlama-lama pemanasan jika jadi menikah dengan Pak Burhan?"


Felix membuka kedua matanya.


"Bukan begitu Bos Pelix! Maksudku aku bisa menggetoknya dulu dengan kayu sebelum dia berhasil membuka semua pakaianku!"


Kali ini Kimmy menurunkan bawahannya. Ternyata gadis itu memakai celana jeans yang tebal dan sebuah ikat pinggang yang kuat.


Felix menahan tawa melihatnya. Dia menggelengkan kepala dan meneruskan niatnya untuk mandi.


Semua keluarga mulai makan. Mereka sudah sangat lelah dengan hari tadi. Saat Felix keluar dari kamar, mereka sedang menikmati makan malam.


"Makan, Bang!" seru Rama.


Felix mengacungkan ibu jarinya ke arah anak lelaki itu.


"Iya, ayo makan!" ajak Pak Luki dan Bu Amy hampir bersamaan.


"Iya, Pa, Ma. Nikmati saja makan malam kalian. Saya mau mandi dulu ...." ujar Felix.


Hmm ... pengantin baru yang tak sabar menunggu malam pertama, sampai mau malam baru mandi!


Bu Amy tersenyum sendiri dengan pemikirannya.


Felix segera masuk ke kamar mandi. Untunglah dia selalu membawa sebuah baju ganti dan peralatan mandi di dalam mobilnya. Jadi, untuk malam itu dia tak kesulitan mencari baju ganti.


Setelah dia selesai, Kimmy sedang antre di depan kamar mandi.


"Bos, sudah kusiapkan teh hangat untukmu, Bos!"


Dia bergegas masuk ke kamar mandi dan membersihkan wajah serta tubuhnya yang berkeringat. Kimmy lalu memakai daster hijau mudanya.


Ruang makan telah sepi. Semua penghuni rumah telah masuk ke kamar masing-masing. Hanya Felix yang duduk di kursi dalam ruangan itu. Pria itu mengamati ruangan bernuansa putih itu, lalu mengambil secangkir teh yang telah disiapkan oleh Kimmy.


Pelan-pelan Felix menyesap tehnya. Teh itu terasa segar di kerongkongan. Rasa teh itu pun berbeda dengan teh di kota. Entah apa yang membedakannya. Namun, mampu membuat Felix sangat menikmatinya. Hingga tanpa disadari Kimmy datang memakai daster dan handuk di rambutnya.


"Ahh ... makin wangi saja teh ini!" ujar Felix mengendus-endus bau semerbak sekitarnya.


"Eh, masa baunya seperti sabun!"


Felix menutup mata mengendus sampai ke daster Kimmy. Dia melotot saat menyadari hal itu.


"Kenapa kamu tak bilang kalau sudah selesai mandi!" serunya kaget.


"Bos sedang mengendus-endus! Jadi aku tak mau mengagetkan," jawab Kimmy.

__ADS_1


Felix mendengus. Kimmy duduk di sebelah pria itu dan mengambilkan makan selayaknya suami istri.


"Jangan banyak-banyak, eh jangan terlalu sedikit, tambah sedikit lagi, kurangi sedikit!" ujar Felix saat Kimmy mengambilkan nasi.


Rewel! Ini baru nasi, gimana dengan lauknya??


"Lauknya, mau sedikit apa banyak atau sedang-sedang?" tanya Kimmy masih sabar.


"Sedang."


Kimmy mengambilkan sayur dan lauk.


"Tambah kuahnya sedikit. Iya, sedikit lagi. Tempenya kurang kering. Bisa digoreng lagi?"


Sumpah, apa aslinya Bos Pelix serewel ini?


Kimmy beranjak tanpa bicara dari duduknya lalu membawa sepiring tempe itu untuk digoreng kembali.


Usai Kimmy selesai menggoreng tempe, dia membawanya ke ruang makan yang ternyata sudah tak ada lagi orangnya, sementara nasi dan sayur sudah habis tak bersisa di piring pria itu.


"Ya Tuhan .... Emosi jiwa."


Kimmy meletakkan piring berisi tempe di atas meja kemudian makan sendiri malam itu.


*


"Mau kemana, Bos?" tanya Kimmy saat melihat Felix melewati ruang makan.


"Memindahkan mobil ke depan rumah. Tadi pagi aku memarkirnya di sebelah rumah ini," jawab Felix malam itu.


Dia sudah memakai celana santai dan kaos. Baru kali ini Kimmy melihat Felix memakai baju rumah. Terlihat berbeda.


"Oh, ya sudah."


"Hey, nanti aku tidur di mana?" tanya Felix.


"Ya di kamar kalian, lah!" Suara Bu Amy mengagetkan Felix.


"E ... eh, Iya, Ma. Lupa saya kalau sudah menikah!"


Felix pura-pura menepuk jidatnya. Dia tak menyadari kehadiran Bu Amy, sang mertua.


"Gimana Felix bisa lupa? Jangan-jangan nanti kalau di keramaian lupa istri?" seloroh wanita itu.


Buat apa juga aku mengingatnya!


"Tentu tidak, Mama. Baiklah, saya akan memindahkan mobil dulu, Ma."


"Oh, iya."


Felix keluar dari rumah itu. Merasakan hawa dingin pedesaan menyeruak masuk ke dalam pori-pori kulitnya.


Menyenangkan juga berada di desa, suasananya begitu tenang dan sejuk.


Felix berjalan pelan, tak seperti biasanya. Sengaja untuk menikmati suasana temaram desa. Dia menarik napas dalam-dalam.


Ahh ... udara seperti ini yang murni segar! Tak ada polusi, tak ada kebisingan! Aku merasa nyaman di sini .... Nyaman?


Felix menggelengkan kepala lalu mempercepat langkah ke mobil dan masuk ke depan rumah. Tak lupa dia mengambil ponsel yang ternyata ada di dalam dashboard.


Dia menerima beberapa panggilan tak terjawab dan pesan dari nomor asing yang menyebut sebuah rekening.

__ADS_1


Felix memencet nomor itu.


Di ujung sana, seorang juragan tua sedang mengangkat telepon.


"Halo!" sambutnya.


"Benar nomor Bank ini XXXX-XXXX-X-XXX adalah nomor anda, Pak Burhan?" tanya Felix.


"I-iya, anak muda!" Nadanya begitu senang akan mendapat uang ganti.


"Baiklah. Ini pukul sepuluh malam, aku transfer sekarang."


Klik. Telepon ditutup.


Felix mengetikkan beberapa angka sesuai dengan apa yang dia janjikan, lalu mengirimnya. Tak lama, laporan uang terkirim sudah masuk ke ponsel.


Dia mengetikkan pesan dan bukti pengiriman ke juragan. Pria itu lalu menguap lebar.


"Kenapa baru jam segini kalau di sini aku sudah mengantuk? Ahh ....!"


Dia melangkah masuk ke dalam. Sepi. Felix ingin berbaring di atas kursi tamu. Namun, sial, Bu Amy keluar lagi.


"Eh, kenapa tidur di luar, Felix! Ayo masuklah ke dalam kamar! Di luar sangat dingin!" ujarnya.


"Eh, iya, iya, Ma!"


Sialnya aku!


Felix segera melangkah ke kamar. Dia mendengus di depan pintu, lalu membuka pintu itu dan mendapati Kimmy sedang duduk membuka ponselnya.


"Bos Pelix! Mau apa??" tanya Kimmy.


"Mau tidur, lah! Dasar aneh!"


"A-aku mau tidur di luar!" ujar Kimmy nampak kebingungan.


"Ya sana!" sahut Felix merebahkan diri di kasur Kimmy.


Ah, nanti mama pasti bingung, kenapa baru saja menikah, aku malah tidur di luar, tapi gimana ini ....


Kimmy pelan-pelan meletakkan tubuhnya di samping Felix.


"Hmm ... katanya tidur di luar!" ujar Felix.


"Ya nggak enak sama orang rumah! Bos! Guling ini jadi batas ya! Kamu tidak boleh melewati guling!"


Kimmy membuat benteng di atas tempat tidur. Felix hanya mendengus dan memunggungi gadis yang sibuk menumpuk bantal-bantal di tengah mereka.


Tak lama, mereka mulai terlelap. Tidur beradu punggung.


*


Pagi-pagi benar, Felix mengerjapkan matanya.


"Kenapa berat sekali?"


Felix mencoba bangun di batas kesadarannya, "Heleh! Gadis bodoh ini menindihku sendiri! Apa gunanya benteng yang dia buat semalam??"


Kimmy sedang tidur terlentang dan sebagian badannya menindih Felix. Bantal-bantal dan guling yang dia susun semalam telah berhamburan entah kemana.


******

__ADS_1


Plagiarisme melanggar Undang-undang No. 28 Tahun 2014 tentang Hak Cipta.


__ADS_2