
Makasih buat sayang-sayang yang udah kasih tip, like, komentar manis-manis, kasih othor hadiah juga. Pokoknya lop yu dah ah!
******
Kimmy merasa bosan lagi setelah mengirimkan permintaan pertemanan, tapi yang diminta entah lama sekali tak menunjukkan keberadaannya.
"Hmm ... stoking aja!" gumam Kimmy.
Dia menscroll ke bawah dan mengamati semua aktivitas pria bule yang bernama Jodi itu di akun media sosialnya. Nampaknya si pria tak suka memposting kata-kata apalagi quotes. Hanya ada beberapa foto berwajah sama dengan gaya berbeda.
"Aku yakin, dia pasti pakai foto asli. Nyatanya, ada lebih dari sepuluh foto yang sama."
Tuk ... tuk ... tuk!
Gadis itu nekat mengetik pesan lewat message, berpikir sebentar untuk memakai nama bukan aslinya.
"Gampanglah kalo dia protes nantinya. Kan belum tentu ketemuan juga! Bilangnya di akun dia tinggal di luar negeri. Iya lah, muka bule banget gitu, masa sih rumahnya di desaku!"
[Hi, I'd like to introduce myself. My name is Kim So.]
"Konon katanya sih orang bule nggak suka ditanya-tanya lagi apa, di mana, mau apa," gumam Kimmy masih melototi layar ponselnya yang sudah agak buram.
"Ah," gerutu gadis itu meletakkan ponsel di atas meja lalu kembali mengerjakan sesuatu, merapikan buku-buku di rak.
Ting!
Tiba-tiba notifikasi akun tadi berbunyi. Kimmy berdiri meninggalkan setumpuk buku yang sedang dia rapikan, lalu mengambil ponsel dari atas meja, berjalan sambil membuka pesan kemudian duduk di depan rak buku lagi.
[Hi Kim So, I'm Jodi. Are you Korean?]
Kimmy terkikik, "Dia kira aku orang Koreah!"
[I live in Indonesia.]
[Can you speak Indonesian?]
[Yes]
Kimmy agak mengerutkan dahi.
[Kim So, kamu bisa bahasa Indonesia? Sudah berapa lama tinggal di Indonesia?]
Ternyata dia bisa bahasa Indonesia. Sedikit berpikir, Kimmy berniat membohonginya.
[Tentu bisa, tiga tahun aku di sini.]
__ADS_1
Percakapan di akun itu berlangsung selama satu jam, dan Kimmy harus menunggu pria itu membalas dengan sangat lama setiap chat. Dalam waktu singkat, mereka sudah sangat akrab.
Kimmy merasa terbuai dengan kata-kata si Jodi. Dia bukan pria yang dingin, bahkan selalu hangat menyambut gadis itu di chat.
Dua hari ini, setiap malam di kamar, Kimmy selalu rajin chat dengan pria itu.
"Kenapa gadis aneh itu suka tersenyum-senyum sendiri sekarang?" gumam Felix heran melihat Kimmy berseliweran di belakang pria yang sedang memegang ponselnya, duduk di sofa depan televisi.
Ceklek, bam!
Ceklek, bam!
Berkali-kali Kimmy membuka tutup pintu kamar, entah mengambil minum lah, pipis lah, bahkan dia mengendap membawa cemilan ke kamar. Hobi sekali berdiam di kamar dua hari itu.
Suasana sepi sih tanpa ocehan Kimmy, agak damai tapi Felix merasa kesal karena keasyikannya bermain ponsel dan menonton televisi harus terganggu oleh suara pintu.
"Bisa tidak sih, kamu tenang? Tak usah mondar-mandir begitu!" tegurnya.
"B-bisa, Bos!"
Hampir saja keripik satu kaleng terjungkal karena kaget.
"Hey ... hey .... Itu keripik mau kamu bawa kemana? Kamar? Jangan bilang kamu mau menyebar undangan buat para hewan kecil, ya?"
Kimmy meringis. Baru kali ini dia merasa jatuh cinta melihat pria tampan di layar ponsel membuatnya berbuat gila, tak ingin keluar kamar. Jika keluar pasti tambah runyam kalau ketahuan Felix, chattingan dengan seseorang. Bisa-bisa disemprot tak boleh bawa pria ke apartemen.
Kimmy berbalik tanpa suara ke dapur. Meletakkan kaleng itu di tempatnya lagi lalu kembali ke kamar. Benar-benar aneh.
"Huh, apa sih yang dia perbuat di kamar?? Ah, biarin saja! Diam begitu juga bagus, dengan itu aku tak terganggu oleh celotehannya!"
Mata Felix kembali asyik ke ponsel. Sekarang, dua-duanya asyik dengan benda pipih di tangan mereka masing-masing di antara sebuah tembok.
"Dia ajak ketemuan!" seru Kimmy.
Gadis itu segera mengetik pesan untuk menyetujuinya. Toh jika macam-macam, dia bisa bela diri. Itulah gunanya.
Kimmy pun mengirimkan pesan lagi.
Fix! Ketemuan besok jam lima sore di cafe Dream.
"Ah, itu kan katanya cafe untuk pasang-pasangan! Dia romantis juga ternyata!"
Hati Kimmy berbunga-bunga. Rayuan pria itu sungguh membuatnya melambung tinggi sekali. Semoga tak jatuh karena akan sakit sekali.
Malam itu Felix dan Kimmy hanya bertemu di meja makan. Itu saja, mereka asyik menatap layar ponsel sambil menyantap makan malam. Tak ada kicauan Kimmy, begitu pun Felix merasa ramai sendiri di ponselnya.
__ADS_1
Kimmy menatap langit-langit setelah mengucapkan selamat malam pada Jodi, dia tak sabar menanti hari esok tiba, membayangkan dan mempraktekkan rancangan kata-kata yang akan diutarakan pada pria itu, hingga terlelap melupakan semua tugasnya. Ponsel kadang membuat beberapa orang suka lupa diri.
Sementara di ruang lain pada tempat yang sama, setelah puas bermain ponsel, terdengar suara kecipak air di dapur. Ternyata Felix sedang mencuci piring, karena dia memanggil-manggil Kimmy tapi tak digubris oleh gadis itu.
"Dia itu! Keasyikan apa sih, sampai lupa mencuci piring, gelas dan panci! Menumpuk di tempat cuci piring!" omel Felix kesal.
Padahal, jika bersih-bersih, Felix akan menggosok peralatan dapur hingga kinclong seperti baru. Sedangkan Kimmy memakai banyak peralatan dapur jika memasak. Alamat lama sudah.
Bersamaan itu, Kimmy telah melalang buana ke tempat yang indah di mimpinya bersama Jodi.
Keesokan harinya, Kimmy bangun pagi-pagi benar untuk mencari tukang sayur.
"Bang, ada bengkoang?" tanya Kimmy.
"Oh, ada. Kebetulan ada, Neng. Mau berapa kilo?" tanya si Abang Sayur.
"Setengah kilo aja, Bang!"
"Oh, ya, boleh."
Dengan sigap tukang sayur membungkuskan apa saja yang diminta oleh Kimmy. Selain bengkoang, gadis itu juga membeli beberapa sayuran untuk dimasak.
Sampai apartemen, gadis itu bersemangat untuk menghaluskan bengkoang dan mengambil endapannya lalu menempelkan di wajah. Dia mengamati wajahnya. Tak ada sedikit pun celah yang terlewat. Terkecuali bagian sekitar mata.
"Biar cerah," gumamnya sendiri, tersenyum melihat ke cermin.
Usai mengoles wajah dengan sari bengkoang, dia melanjutkan kegiatan dapur. Lima belas menit kemudian masker itu mulai mengering.
"Hooamm ...."
Felix menguap keluar dari kamar.
"Kenapa kamu tidak membangunkanku??" murkanya pada gadis yang sedang berdiri di depan kompor, memakai baju putih semua. Felix protes sembari melihat jam di dinding. Semalam dia kelelahan mencuci piring kelamaan, sampai malam hingga tidurnya terlelap terlalu dalam dan bangun agak kesiangan.
Seketika Kimmy berbalik tanpa menjawab karena wajahnya telah kaku, membuat Felix terperanjat. Jantungnya berdegup kencang. Otomatis ingin menimpuk wajah putih menyeramkan itu.
"Kamu! Mengagetkanku saja!"
Jantung Felix masih berdetak kencang dan napasnya tersengal. Dia langsung menyambar handuk dan masuk ke kamar mandi. Sementara Kimmy menahan tawa agar maskernya tak rusak.
"Huh, kukira kuntilanak!" geram Felix di dalam kamar mandi. Dia segera mengguyur tubuhnya, menenangkan diri dengan aroma sabun yang diusapkan ke tubuh.
******
Stop plagiarisme!
__ADS_1
Melanggar hak cipta orang lain masuk dalam UU nomor 19 tahun 2002 pasal 72 ayat (1) yang berisi hukum pidana maksimal 7 tahun dan denda maksimal 5 Miliar Rupiah.