Cintai Aku!

Cintai Aku!
Pernikahan


__ADS_3

Keringat Yoshua mengucur di dahinya saat berhadapan dengan penghulu setelah sebelumnya dia kagum akan kecantikan calon istrinya dengan riasan pengantin ala Jawa.


Cantik, lembut, dan aura yang terpancar kuat. Itu kesan di mata Yoshua saat pertama melihat Susan keluar dari kamar rias.


Semua mata pun memandang bu dokter yang lembut itu dengan kagum. Biasanya penampilan Susan sangat sederhana tanpa riasan. Sekarang dia nampak begitu cantik. Kebaya putih bersih yang membalut tubuhnya pun makin membuatnya nampak anggun dan mewah meski dalam warna putih yang menyiratkan kesucian.


Seorang penghulu menjabat tangan tangan Yoshua dengan erat. Yoshua memejamkan mata, mengumpulkan segenap kemantapan jiwanya untuk mengucap kalimat ijab kabul di depan penghulu. Dia mempererat jabatan tangannya. Penghulu melotot berwajah seram membuat Yoshua sedikit terkejut saat membuka mata. Dia terus menatap sang penghulu, menatap bibirnya yang mulai membuka mulut dan mengeluarkan suara.


Aku harus mantap dan memperhatikan setiap perkataan penghulu.


"Longgarkan tanganmu," ujar sang penghulu membuat Yoshua terkesiap.


Ternyata pria paruh baya di depannya kesakitan karena Yoshua terlalu kencang menjabat tangannya.


Yoshua agak melonggarkan tangan dan menghela napas. Dia kira sudah akan mengucap ijab, tapi malah menyakiti tangan sang penghulu gara-gara grogi.


Semalam dia iseng membuka video ijab yang salah ucap, membuatnya tertawa terbahak-bahak. Namun, sekarang dia sendiri baru merasakan gugupnya berhadapan dengan seorang penghulu. Setelah ucapan itu, dia mempunyai seorang istri yang harus dinafkahi lahir dan batin!


Yoshua bersemangat saat teringat akan nafkah batin. Berdebar rasanya saat akan membuka apa isi kebaya Susan nanti malam.


"Mas? Sudah melamunnya?" tanya sang penghulu mendekatkan matanya ke mata Yoshua yang nampak menerawang.


"Eh, iya! Sudah, mm ... maksud saya, ayo, Pak!" Yoshua menyingkap bajunya dan menarik napas lalu mengembuskannya panjang.


Terdengar gelak tawa dari rombongan belakang. Yoshua tak berani menengok ke belakang, maupun menoleh ke Susan. Takut hilang hapalannya.


"Siap, ya?" tanya penghulu meyakinkan bahwa acara akan mulai.


Yoshua mengangguk. Dia mengatur napasnya yang makin naik-turun karena jantungnya tiba-tiba berdegup kencang. Berdebar-debar. Tanggung jawab besar menanti di depan mata.


Setelah kalimat yang meluncur dari mulut penghulu, dalam sekali tarikan napas, Yoshua berhasil mengucapkan ijab kabul. Semua orang mengucapkan sah! Dia berdiri dan mengucapkan syukur pada Tuhan, membuat semua orang tertawa, termasuk Susan.


Yoshua yang biasanya agak pendiam sekarang keluar sikap konyolnya. Lega karena telah mencapai kata 'sah'.


Semua orang bersyukur karena acara ijab kabul lancar tanpa halangan satu apapun. Yoshua mencium kening Susan. Matanya agak berkaca, ingat setelah berbagai masalah dan satu kejadian besar terjadi pada mereka. Akhirnya mereka bisa bersatu dalam ikatan pernikahan yang suci.


Sekarang kedua pengantin masuk ke kamar ganti. Susan berganti kebaya dengan kebaya untuk menyambut tamu di atas pelaminan. Sementara Yoshua pun sedang diganti jasnya dengan beskap yang serasi dengan kebaya Susan.

__ADS_1


***


"Tu, wa! Tu wa! Tu, wa!"


Si kembar berjalan ala pasukan baris-berbaris dengan baju karnavalnya mondar-mandir di depan pelaminan bernuansa merah dan biru kesukaan Susan. Bunga mawar merah dan biru menghias setiap sudut ruangan.


Semua tamu yang telah datang mengulum senyum melihat si kembar yang tingkahnya makin menggemaskan dengan baju dokter dan baju penyihir berwarna hitam, lengkap dengan topi dan sapu terbangnya.


"Mommy! Ena mau nyanyi! Boleh?" teriaknya saat melihat sebuah microphone di panggung kecil yang dipegang oleh penyanyi jazz.


"Anakmu itu!" geram Bianca menyenggol Key yang sedang menikmati sebuah kue.


"Anakmu juga, 'kan?" protes Key.


"Sini, Sayang!"


Penyanyi jazz itu mengajak Celena untuk berdiri di atas panggung dan dia mulai mendominasi microphone.


"Namanya siapa?" tanya si penyanyi.


"Celena!"


"Bukan adek! Yang adek itu, Celine!" tunjuk Celena ke Celine yang sedang duduk di kursi VIP mengamatinya.


"Oh, kalian kembar? Ya ampun lucu. Kakak Celena mau nyanyi apa? Balonku? Pelangi? Apa Kucingku Belang Tiga?" tanya si penyanyi.


Celena menggelengkan kepala mendengar pilihan-pilihan itu. Dia mendekatkan microphone ke mulutnya lalu menyebut judul sebuah lagu.


"Ena mau nyanyi Garuda Pancasila! Nada C!"


Bianca menepuk dahinya. Dia mengajarkan pada Celena bahwa nada C itu artinya inisial Celena dan mommy nada B karena inisial Bianca, karena sulit sekali menjelaskan pada anaknya itu tentang nada-nada. Namun, sang penyanyi takjub sekali, anak sekecil itu tahu meminta nada.


"Garuda Pancasila? Wah, nasionalis sekali!" puji si penyanyi.


Tanpa menunggu aba-aba, Celena menyanyikan Garuda Pancasila, Indonesia Raya, Halo-Halo Bandung dengan lantang. Tangannya mengepal dengan kaki berderap di depan para tamu. Mereka tertawa melihat kelakuan ajaib Celena. Terhibur sambil menunggu pasangan pengantin datang dari dalam.


Untung saja Celena yang cepat bosan menyerahkan microphone pada sang penyanyi lalu turun dari panggung setelah lelah bernyanyi.

__ADS_1


"Kak, sebaiknya microphone itu disemprot dengan desinfektan setelah dipakai orang lain," pesan Kin, membuat si penyanyi melongo karena setelah berpesan begitu, dia pergi mengikuti adiknya.


Beberapa saat kemudian, sang pembawa acara memecah suasana. Dua pengantin sudah siap berdiri di depan rumah berganti dengan busana yang nampak mewah.


Perhatian para tamu sekarang tertuju pada pasangan pengantin yang masuk dari depan menuju ke pelaminan dengan beberapa upacara adat sederhana. Beberapa hanyut dalam keharuan, karena kedua pengantin itu telah kehilangan kedua orang tuanya.


Bu Anna dan Pak Anton sesekali menangis sesenggukan melihat Susan dan Yoshua sejak acara ijab kabul, sekarang pengantin naik ke pelaminan pun, mereka menangis kembali. Mereka adalah dua orang saksi hidup Susan dan Yoshua. Bu Anna hanya bisa mendoakan dalam hati semoga keduanya bahagia. Begitu juga Pak Anton.


Lagu lembut mengalun mengiringi keduanya berjalan ke kursi pengantin. Dengan rasa bahagia yang membuncah, Yoshua dan Susan berjalan beriringan menuju ke sana.


Semua tamu berdesakan menuju ke pelaminan untuk menyalami Yoshua dan Susan. Teman dokter, bekas pasien, karyawan perusahaan Sinar Group mulai berdatangan.


"Kepengen lagi tidak, Sayang?" tanya Felix pada Kimmy yang menggandeng Lingga melihat ke panggung.


"Ah, udah sekali saja. Aku nggak bisa kalo cari calon pengantin pria lagi, Mas."


Felix membelalakkan mata. Sungguh wanita di sebelahnya perlu bimbingan belajar khusus untuk mencerna kalimatnya. Namun, tak ada yang salah juga dari jawaban Kimmy.


"Ish, sudahlah. Lupakan."


"Mas ini. Apa Mas Pelix yang mau nikah lagi seperti ini?" tuduh Kimmy.


"Bukan, Sayang. Astaga ...." Felix menepuk jidatnya. Salah sendiri menikahi wanita yang begitu polos. Namun, tak ada yang dia sesali.


Felix memegang tangan Kimmy, menggenggamnya, lalu menjelaskan.


"Maksudku, kalo lihat pernikahan seperti ini, ingat waktu kita dulu, kan? Trus kepengen lagi ...." papar Felix.


"Oh ... bilang dong, Mas dari tadi. Iya, kepengen, Mas. Emang boleh pesta nikah berkali-kali, Mas? Kalo boleh, tiap tahun kita rayakan, yuk! Kayak gini!" sahut Kimmy dengan semangat.


Astaga ... dia pikir ulang tahun, tiap tahun mau resepsi?


"Tak usah, lupakan. Yuk, kita makan sekarang."


"Ah, Mas ini gimana sih, bingung aku."


******

__ADS_1



__ADS_2