Cintai Aku!

Cintai Aku!
Bos Nona Lelah


__ADS_3

"Gimana ini, Mas?" tanya Kimmy cemas, memegang tangan Felix.


Pria itu terlihat bingung, juga bahagia.


"Ayo, kita pulang ke desa dulu saja! Beri tahu Mama soal kehamilanmu ini! Soal Tuan dan nona, nanti aja, urusanku. Gampang!" jawabnya yakin.


Kimmy melotot.


"Ah, Mas ini, durhaka sama pak bos tuan sama bos nona!" gerutu Kimmy, turun dari ranjangnya. Pria yang dibilang hanya tersenyum menyentuhkan hidung ke hidung istrinya.


Rumah itu seketika sepi.


Felix akhirnya menggandeng mesra Kimmy, berjalan keluar dari rumah, lalu memapah Kimmy masuk ke mobil. Semua pelayan memandang mereka. Saat mereka memperhatikan balik, para pelayan berlagak tak melihat. Semua mengedarkan pandang ke lain arah.


Hingga mobil pergi dari halaman rumah, baru para pelayan itu kembali memandang ke mobil sampai menghilang dari gerbang.


"Kasihan, ya?" ujar Hana pada para pelayan.


"Ini pelajaran untuk kalian semua!" seru Hana menertibkan semua pelayan. Disuruhnya para pelayan berbaris di dapur. Hana berjalan mondar-mandir di depan barisan memegang sebuah spatula. Sambil menepuk-nepukkan spatula itu ke telapak tangan kirinya.


"Kalian sudah lihat, kan? Itulah akibatnya kalau bermain dengan sebuah pisang tanpa pernikahan! Hamil di luar nikah!" ujarnya lantang.


Semua pelayan menjadi ribut.


"Pisang?!" Mereka bersahutan.


"Iya, maksudku sosis!"


"Hana ... sosis atau pisang?" tanya mereka lagi.


"Hah, pokoknya alat penembak spermma milik pria! Jelas!" teriaknya.


"Betul kata Hana!"


Tiba-tiba Bianca telah berada di gawang pintu. Hana menunduk, malu.


"Kita, para wanita, tidak boleh mempermalukan diri sendiri! Harus ...."


Key menyodorkan sebuah megaphone ke istrinya agar mantap.


"... harus menjaga kehormatan! Kita, wanita timur, harus menjaga martabat sebagai wanita!" tegasnya di depan alat pembesar suara itu.


"Siaaapp!!" sahut para pelayan kompak.


*


"Mama akan punya cucu! Ya Tuhan!" teriak wanita yang telah melahirkan Kimmy dua puluh satu tahun yang lalu, bahagia.


Felix pun berkali-kali berjingkrak dan menggendong istrinya itu.


"Mas! Mas!" teriak Kimmy sekencangnya karena pria itu berputar-putar dan tertawa.


"Sebentar, aku telepon Papa dulu!" ujar Bu Amy meraih ponselnya di atas kursi.


Wanita itu memberi kabar dengan bahagia, sebahagia Felix yang terus menciumi Kimmy. Tak perduli wanita itu memucat wajahnya ketakutan karena digendong oleh suaminya.


Wajah Bu Amy berbinar saat mendengar respon dari suaminya di seberang.


"Iya! Wah, belum ...." ujar Bu Amy.


Sebentar kemudian, telepon ditutup.


"Kimmy, papamu itu menanyakan apa kamu ngidam! Baru saja garis dua kok udah ngidam, katanya mau belikan di jalan sekalian kalo pulang!" ujar Bu Amy terkekeh.


Begitu juga Kimmy tertawa dengan tak menyadari bahwa hal itu mungkin akan terjadi, tapi Felix memucat dengar kata 'ngidam'. Pria itu menurunkan pelan istrinya.


Duh, apa dia akan seperti Nona Bianca??


Felix tersenyum kecut.


Tawa dua wanita beda generasi itu seolah mengoloknya untuk bersiap menghadapi cobaan-cobaan orang ngidam. Padahal tidak sama sekali.


"Apa Tuan Key dan Nona Bianca tahu hal ini?" tanya Bu Amy.

__ADS_1


"Oh iya!" Felix menepuk jidatnya. Saking senangnya dia lupa jika akan mencari buku nikah mereka, sebagai pembuktian.


"Mereka marah, dikira kami belum menikah," ujar Kimmy.


"Lho, bagaimana bisa?? Apa selama ini kalian tidak bilang pada mereka?"


Felix dan Kimmy menggeleng.


"Nekattt ...." jawab Bu Amy singkat.


*


Sore itu, mereka sibuk di dalam rumah.


"Buku nikahku di mana ya, Ma?" tanya Kimmy pada Bu Amy.


"Eh, waktu itu Mama taruh di meja pas diambil Papa dari KUA!" teriak Bu Amy dari dapur.


"Di mana, ya?" tanya Felix pada Kimmy. Mereka telah membolak-balik tumpukan kertas dan buku.


Tapi nihil.


"Kamu sih, buku penting itu," ujar Felix.


"Kok aku sih?" cicit Kimmy protes. "Kan ini tanggung jawab berdua?" gumamnya lagi.


"Ck! Iya juga .... Waktu itu kukira tak akan sepenting ini ...." sesal Felix.


Mereka mengabaikan buku itu karena tak mengira akan benar-benar saling mencintai seperti saat ini.


"Maaf, Ibu hamilku ... jangan marah."


"Trus, bagaimana kita bisa membuktikannya tanpa buku itu?" ujar Kimmy mengerucutkan bibir.


Felix menghela napas.


"Kamu cari dulu di rumah sama Mama, ya? Aku mandi lalu ke rumah Tuan Key, memberikan penjelasan malam ini juga."


"Besok aku kerja, aku tidak bisa melepas pekerjaan yang kucintai hanya karena salah paham. Ya ... semoga saja malam ini bukunya ketemu," harap Felix.


Kimmy mengangguk. Rasanya lelah juga. Apalagi kondisi badannya lemah di awal kehamilan. Namun, dia masih bersyukur karena tak merasa mual seperti ibu hamil pada umumnya.


Hingga malam hari, buku itu tak ketemu juga. Felix memutuskan untuk pergi sendiri menghadapi Tuan Key.


"Semoga amarah Tuan Key dan Nona Bianca telah mereda," ujar Felix, berharap.


"Semoga ya?" harap Kimmy. Sebenarnya dia merasa iba dengan suaminya itu.


"Kira-kira kalau hamil boleh anu-anu, tidak?" tanya Felix menarik bibirnya sedikit.


"Kenapa tak ada rasa cemas sedikit pun! Sementara aku dag dig dug der membayangkan amukan Nona Bianca!" ujar Kimmy kesal. Mood ibu hamil yang naik turun ternyata memang benar dia rasakan.


"Ibu hamil jangan cemas. Tenanglah .... Tapi ada satu permintaanku."


Kimmy menaikkan alisnya. "Apa itu?"


"Jangan nonton drama Korea, Cina, Taiwan dan lain-lain."


"Kenapa?" tanya Kimmy.


"Pokoknya jangan."


Aku nggak sanggup mendatangkan artis luar negeri jika dia ngidam seperti Nona Bianca!


"Hmm ... iya!"


Meski tak mengerti, tapi Kimmy mencoba menurut.


Felix bersiap untuk berangkat ke rumah mewah Tuan Key.


*


Kediaman Tuan Key.

__ADS_1


"Bagaimana bisa si Felix menghamili Kimmy!" ujar Pak Anton.


"Entahlah, mereka katanya suka sama suka!" jawab Key.


"Suka sama suka?" Pak Anton menelungkupkan telapak tangan kiri di atas tangan kanan dengan menaik-turunkan dengan cepat jari kelingking dan ibu jarinya.


"Ish! Bentuk apa itu!" desis Bianca.


Bianca melirik ke Papa mertuanya. Namun, pandangan matanya terasa kabur setelah melirik. Badannya terasa panas malam itu. Tak enak badan rasanya. Sebenarnya sedari tadi pagi saat mempersiapkan ulang tahun Kin dia merasa tak enak badan. Tambah lagi mendapati kejadian Kimmy.


Sekarang serasa menumpuk rasa tak enak badan itu.


"Sayang, kenapa?" tanya Key.


"Sayang, aku merasa lelah sekali hari ini. Aku ...."


Bruk!


"Bianca!"


"Sayang!"


Bianca ambruk di dalam dekapan Key.


"Panggil dokter Gerry, Papa!"


Tak ada lagi yang dia mintai tolong. Biasanya Felix yang dia suruh, sekarang pria itu tak berada di sekitarnya. Terasa ganjil. Untung ada papanya yang bisa dimintai tolong.


Pak Anton segera menelepon dokter Gerry.


"Ah, iya, iya! Saya segera datang!" ujar dokter Gerry. Kali ini sepertinya lebih gawat.


Dokter Gerry kembali lagi ke rumah Tuan Key. Saat itu dia baru saja menutup tempat prakteknya.


Dia bergegas menyalakan mobil. Namun, yang terjadi mobil itu tak mau dinyalakan. Mogok. Pria itu menggigit bibirnya. Dia menekan nomor Tuan Key.


"Ada apa!" jawab suara di seberang.


"T-tuan, maaf mobil saya mogok. Mungkin saya harus menelepon ...."


"Tunggu di sana!" titah Key tanpa menunggu kalimat dokter Gerry.


Klik!


" ... taksi ...." Dokter Gerry menyelesaikan kalimatnya bersamaan dengan perintah Key dan ditutupnya telepon.


Key dengan sangat terpaksa menghubungi Felix-nya. Dia mengusir tapi dalam lubuk hatinya, Key sangat membutuhkan pria itu.


"Felix, urgent! Bawa dokter Gerry ke rumah malam ini juga!" ujar Key saat sang asisten mengangkat teleponnya.


"Baik, Tuan!"


Dengan datar, meski dalam hati kuatir tapi juga senang akan perintah tuannya kembali, Felix membelokkan kemudi ke rumah dokter yang hanya beberapa meter dari jalan tepat saat dia mengemudikan mobil.


"Sepertinya akan lebih mudah," gumamnya pelan.


Felix membawa dokter Gerry ke rumah Key hanya dalam lima menit. Dokter itu memegang kencang jok mobil.


"Lu-luar biasa ... kecepatan anda, Tuan Felix!"


"Terima kasih, tapi sekarang kita harus turun, dokter!"


Felix telah membukakan pintu mobil untuk sang dokter yang masih memegangi jok.


******


Maaf ya sayang-sayang, karena harus mulai real life lagi, maka agak tersendat.


******


Stop plagiarisme!


Melanggar hak cipta orang lain masuk dalam UU nomor 19 tahun 2002 pasal 72 ayat (1) yang berisi hukum pidana maksimal 7 tahun dan denda maksimal 5 Miliar Rupiah.

__ADS_1


__ADS_2