Cintai Aku!

Cintai Aku!
Juragan Burhan


__ADS_3

"Ss-sakiiit!!" erang gadis berambut pendek itu. Seseorang menjambak rambutnya setelah menendang tubuh gadis yang sedang menyapu gudang penyimpanan barang.


"Kakakmu itu melecehkan dua orangnya Tuan Burhan!" Masih seraya menjambaknya.


"Kakak?" Matanya sedikit berbinar mendengar kata itu. Dia sungguh merindukan sosoknya. Namun, apa daya gadis itu tak cukup kuat mental untuk pulang menemui.


Vita, hanya bisa mengerang kesakitan di dalam gudang. Para pekerja tak berani melawan orang-orang Tuan Burhan. Mereka hanya terpaku, meringis melihat betapa kesakitannya gadis itu.


Dalam gudang itu terdapat banyak baju bekas yang didatangkan dari kota untuk dijual ke orang-orang desa dengan harga yang murah. Tuan Burhan mendapatkan baju itu sangat murah, bahkan terkadang gratis. Para pekerja bertugas untuk menyortir baju-baju, memilah kualitasnya untuk dikelaskan. Jika bermerk dan masih bagus, maka akan lebih tinggi harganya, tapi masih tergolong murah. Setiap hari, Vita membersihkan gudang yang selalu dipenuhi dengan benang-benang halus itu.


"Awas kamu, Tuan Burhan akan segera memanggil penghulu untuk menikahimu jika kakakmu itu bertingkah!" ujar mereka.


Orang itu melepaskan tarikan tangannya pada rambut Vita hingga gadis itu terhuyung. Demi uang seratus tujuh puluh juta, dia merelakan untuk berhenti sekolah. Memupus harapannya untuk bekerja seperti kakaknya. Harapan yang sederhana sekali. Bisa bekerja di kota.


Mereka meninggalkan Vita yang tersungkur kesakitan di lantai. Para pekerja baru mendatanginya untuk membantu, memberi gadis itu air minum agar lebih tenang.


"Sabar ya, Nak!" ujar mereka.


Vita hanya mengangguk, menyesap air dari gelas plastik, sedikit melegakan. Jika tak ada orang-orang kejam itu, dia merasa lebih tenang.


Para pekerja yang jumlahnya enam orang itu cukup membuat Vita terhibur selama bekerja di gudang. Jika tak diawasi, mereka sering berceloteh ala ibu rumah tangga. Terkadang, mereka bersenda gurau meski bekerja di bawah tekanan.


"Kakakmu pulang, Nak?" tanya salah satunya.


"Iya, Bu."


"Semoga ada penyelesaian masalah keluarga kalian, ya? Meski ... kita semua tahu cerita anak juragan Burhan yang menyukai kakakmu itu," ujar salah satu pekerja itu lagi.


"Iya, Bu. Saya lanjutkan memberesi kardus bekas itu dulu sebelum Tuan Burhan ke sini ya, Bu? Makasih atas perhatian kalian."


Gadis itu tersadar akan apa yang harus dilakukan. Jika gudang belum selesai dibereskan, akan ada lagi hukuman untuknya. Entahlah, sepertinya dia merasa telah masuk ke ambang pintu neraka.


"Oh, iya ... iya!"


Para pekerja itu menggelengkan kepala melihat anak yang cukup sabar di usianya itu dan merelakan dirinya bekerja di gudang ini. Mereka kembali bekerja memilah-milah pakaian. Setiap minggu, pakaian import bekas akan datang berkarung-karung. Jika pemilahan tak selesai dalam seminggu, maka gaji akan dipotong.

__ADS_1


Setelah selesai merapikan kardus-kardus tempat pakaian, Vita kembali menyapu gudang.


"Hey! Vita!"


Suara sang juragan menggelegar mengagetkan semua yang ada di gudang. Jarang-jarang pria gemuk yang ditakuti mereka, memasuki tempat itu.


Heningnya suasana menambah kecemasan Vita.


"Orang tuamu belum juga membayar kekurangan utang bulan kemarin-kemarin. Menumpuk utangnya! Kakakmu juga mengusir orang-orangku! Apa mau mereka? Apa mereka memang ingin kamu jadi tumbal?" tawa sinis sang juragan.


"Aku pun siap kalau hanya untuk menikah denganmu!"


Vita menunduk.


Apa benar takdir akan seperti ini? Apa aku akan benar-benar menikah dengan pria botak ini??


Mata Vita menghangat, lalu air mata bergulir di kedua pipinya.


"Kamu makin menyenangkan jika menangis seperti itu! Sudah, aku tak tahan lagi. Besok, aku akan menemui keluargamu untuk mempercepat tempo, pasti mereka akan dengan suka rela menyerahkanmu!"


*


"Sudah, semua akan terbalaskan mulai besok!"


Pria itu menatap anaknya yang sedang tidur. Dia teringat dua tahun yang lalu, saat anaknya berusia dua puluh lima tahun pulang dalam keadaan mabuk, dan hampir saja bunuh diri dengan menyayat nadinya di kamar karena penolakan cinta seorang gadis bernama Kimmy.


Kimmy yang cukup cantik di desa itu, menarik hati anak juragan Burhan, yang bernama Tio.


Gadis yang baru sekali dikenal dan memanggilnya kwetiao itu, malah membuatnya terpikat hingga mengungkapkan perasaannya.


Namun, Kimmy tak pernah sedikit pun menaruh hati padanya. Hingga penolakan itu hampir berujung maut. Rasa malu dan pikiran yang sempit serta iman yang tak cukup kuat membuat Tio ingin mengakhiri hidupnya. Untung saja dia masih bisa diselamatkan. Namun, pria berambut ikal itu sekarang lebih mengurung diri di kamarnya.


Juragan Burhan menunggu saat yang tepat ketika keluarga Kimmy membutuhkan bantuannya. Dia akan membuat keluarga itu terjerat utang yang tak akan lunas kecuali satu hal, pernikahan dia dengan salah satu anak perempuan mereka.


Pria tua itu menarik jas yang sudah dia siapkan di dalam lemari, serta baju pengantin wanita milik istrinya yang masih dia simpan.

__ADS_1


"Besok aku akan menikahi anak itu, hahaha, lumayan lah, aku bisa mempunyai istri lagi. Tenang saja, dia tak akan kekurangan lagi seperti saat ini!"


Anak lelakinya masih tertidur. Dua tahun dia menjadi anak yang pendiam, kulitnya pucat karena jarang terkena sinar matahari. Setiap hari dia hanya berkutat di dalam kamar yang pengap itu.


*


"Papa!!"


Teriakan Kimmy membahana melihat seorang pria datang dengan memegangi punggungnya yang pegal. Pria itu tersenyum melihat anak gadisnya.


"Papa!" Kembali gadis itu memanggil dan memeluk pria berwajah tirus di depannya. Bola mata berwarna abu dari pria itu menatap anaknya, memerah karena haru.


"Kimmy ...." Hanya itu yang dia ucap tanpa sanggup mengatakan hal lain.


"Papa, kenapa tidak bilang kalau waktu itu Papa kecelakaan?? Papa belum sembuh benar, kan? Andai waktu itu kalian bilang, aku akan mengusahakan biaya operasi, bukan lari ke juragan Burhan ...."


"Sudah, kami cukup merepotkanmu selama ini, biar kami ...."


"Ini juga akan menjadi lebih repot, Papa .... si Pita?? Apa dia akan di sana terus?"


Kimmy mengambil tas dari tangan pria paruh baya itu, membawakannya masuk serta memapahnya. Nyonya Amy membuatkan secangkir teh yang biasanya tanpa gula, kali ini dengan sedikit gula untuk suaminya. Kimmy telah membelanjakan semua kebutuhan untuk mereka dari warung ujung desa. Kedua adiknya telah berada si sekolah, rumah sepi, hanya mereka bertiga saja di dalamnya.


Pria itu menyesap minumnya.


"Papa berniat akan meminjam uang dari koperasi," ujar sang ayah memberitahukan pemikirannya.


"Apa, Pa? Koperasi? Papa tahu nggak batas pinjaman sebuah koperasi? Kita tak akan bisa melunasi seluruh utang kita ...." ujar Kimmy.


"Setidaknya bisa memperpanjang tempo peminjaman ke juragan Burhan, Kimmy. Agar dia mengulur waktu untuk berniat menikahi adikmu," jawab pria itu.


Baru sebentar mereka berbincang di ruang tamu, tiga orang pesuruh juragan Burhan terlihat mendatangi rumah mereka.


"Huh, mau apa lagi, mereka?" gumam Kimmy.


******

__ADS_1


Plagiarisme melanggar Undang-undang No. 28 Tahun 2014 tentang Hak Cipta.


__ADS_2