Cintai Aku!

Cintai Aku!
Lahir


__ADS_3

"Sakit, Dek?"


Raut wajah Felix berubah pucat saat melihat istrinya mulai mengerang tak karuan.


"Iya ... ini karena kamu kan, Mas?" ujar Kimmy cemberut dan meringis.


"Eh, kamu juga mau 'kan?" sahut Felix tak mau kalah.


Kimmy hanya mendengus. Dia mulai merasakan kontraksi yang lebih sering. Karena itu, dia meringis kesakitan. Felix yang melihat istrinya tak lagi berbicara, jadi kuatir lagi.


"Rasanya gimana?" tanya Felix.


"Kepengen buang air besar, tapi nggak boleh mengejan ...." keluh Kimmy.


"Suster! Tolonglah istriku ...."


Tak pernah dia terdengar merengek seperti ini. Baru kali ini dia memohon dengan amat sangat pada seseorang.


"Sebentar, Tuan. Sabar ... memang itu yang dirasakan setiap ibu yang mau melahirkan ...." ujar suster menenangkan Felix.


Pria itu mendesah kasar.


Tak berapa lama setelah berkali-kali mengaduh, istrinya memanggil agar menyuruh perawat yang akan menanganinya untuk mendekat.


"I-iya ...." Felix bergegas memanggil para perawat yang telah siaga di ruangan itu.


"Saya panggilkan dokter," ujar salah seorang perawat.


"Iya, cepat!" titah Felix tak sabar. Sementara perawat yang lain mempersiapkan bed bersalin Kimmy untuk bersiap akan persalinan.


Dokter pun datang sesaat setelah perawat itu memanggilnya. Mereka bergegas mendekat ke Kimmy yang sedang mengatur napas.


"Sudah bukaan sepuluh," ujar dokter.


Felix menggigit bibir. Sesaat dia menyesal kenapa berada di situ tak tahu harus berbuat apa sementara istrinya seperti sedang berjuang menantang maut demi buah hati mereka. Namun, matanya tak lepas dari Kimmy.


"Yuk mengejan sekuat tenaga ya?" titah dokter begitu tenangnya.


Kimmy mengejan setelah dia mengambil napas dalam-dalam, lalu setelah mengejan cukup kuat ....


Suara tangis bayi yang keluar dari perut Kimmy membuat Felix melepas kedua tangan yang menutup wajahnya. Dia melihat istrinya sudah berwajah lega, memeluk si bayi yang masih merah itu di dada. Bayi mereka berhenti menangis saat telah menempel ke dada Kimmy.


"Laki-laki ...." ujar dokter.


Felix merasa haru, melihat sendiri si bayi mencari tombol yang suka dia cari juga dan si bayi mendapatkannya. Menyesap benda itu sebagai inisiasi menyusui dini. Tanpa terasa air matanya mengalir di kedua pipi.


"Aku jadi ayah buat si jagoan ...." gumamnya haru seraya menghapus air mata yang menetes.


Sementara dokter sedang berdiskusi dengan para perawat mengenai kesimetrisan jahitan jalur keluar bayi.

__ADS_1


"Berapa jahitan, dok?" tanya Kimmy.


"Banyak!" sahut dokter tersenyum.


Felix terbelalak saat mendengarnya. "Masih bisa dimasuki 'kan, dok?" tanyanya lugas.


Semua perawat tertawa mendengarnya.


"Mau berapa kali pun masih bisa, saya sisakan sedikit lubang kok, Tuan Felix!" ujarnya menahan senyum.


Sementara itu, Kimmy bersungut-sungut mendengarnya. Tak berapa lama, setelah semua selesai, pintu sudah boleh dibuka.


Semua anggota keluarga telah berkumpul di depan ruang bersalin. Mereka memberi selamat pada Felix dan Kimmy.


Bayi itu diletakkan di box kaca sebelah Kimmy.


"Waah ... kita punya keponakan laki-laki! Namanya siapa ini, Kak?" tanya Vita.


Kimmy berpandangan dengan Felix.


"Lingga Abbas Hartono," jawab Felix menyatukan usul keduanya saat sebelum melahirkan.


Pak Luki dan Bu Amy yang mulai pulih meski lemas, tersenyum juga mendengar nama itu.


Sementara itu di rumah sakit bersalin lain, Key masih mondar-mandir.


"Lama sekali!" omelnya, baru lima belas menit menunggu.


"Gimana, Key?" tanya Bu Sinta. Wanita itu membawa Pak Danu dan Brian sekarang.


Key mengangkat bahunya.


"Dokter sedang menanganinya, Ma."


Hanya itu saja yang bisa pria itu ucapkan. Bu Sinta menepuk pundak Key dengan lembut, menunjukkan sisi keibuan yang berbeda saat tadi memacu mobilnya.


"Tenang. Mereka pasti melakukan yang terbaik. Kita berdoa saja, ya?" ujarnya.


Key mengangguk. Dia lalu mau duduk dengan tenang. Berdoa dalam hatinya.


Tak berapa lama, dokter keluar dari ruangan.


"Tuan Key, ada yang ingin saya bicarakan. Mari," ajak dokter ke ruangannya.


Key bergegas mengikuti sang dokter ke sebuah ruangan.


"Ada apa, dok! Cepat katakan!" ujar Key tak sabar.


"Tuan, sepertinya kita butuh sebuah operasi. Salah satu bayi Nyonya Bianca terlilit tali pusar," ujar dokter.

__ADS_1


"Salah satu?" ujar Key. Matanya menyipit, meminta penjelasan atas perkataan dokter.


"Iya, bayi kalian kembar," jelas dokter.


Key tak dapat berkata-kata selain hanya mendengar penjelasan dokter tentang adanya hidden twins, yang tak terdeteksi saat USG. Itu bisa saja terjadi karena teknologi pun tak sesempurna yang kita harapkan.


"Iya, lakukan apapun dokter! Pokoknya aku mau mereka selamat semua! Kembar lima sekalipun!" ujar Key tegas.


"Ke-kembarnya hanya dua, Tuan."


"Iya! Cepatlah dokter! Mana yang harus aku tanda tangani??" ujar Key.


"Baiklah ... tunggu sebentar. Asisten kami akan menyiapkannya."


"Ya, sana cepatlah dok! Lakukan operasi!"


"Baik, Tuan Key! Saya akan menghubungi dokter anestesi untuk segera melakukan operasi. Anda tak perlu kuatir. Kami akan melakukan yang terbaik!" sahut dokter cepat-cepat keluar dan memberi arahan kepada para perawat untuk menyiapkan ruang operasi. Sementara Key sedang berurusan dengan pihak administrasi rumah sakit.


"Gimana, Key?" tanya Pak Danu, Pak Anton dan Bu Sinta bersamaan setelah Key keluar dari ruang administrasi. Sementara itu Brian bermain ponsel.


"Bi-Bianca perlu operasi, dia ...."


Ketiganya melototi Key. "Dia apa??"


"Dia ...."


"Ck! Apa!!" Teriakan ketiganya membuat Key terjingkat.


"Dia akan melahirkan kembar ...."


"Wuaaah!" Ketiganya bersorak. Sungguh berita yang mengagetkan karena Key dan Bianca pun tak tahu hal ini.


Mereka sekarang sibuk membicarakan keturunan siapa hasil kembar itu. Lupa akan operasi kelahiran cucu kembar mereka.


Key masih saja mondar-mandir seperti semula. Dia melirik ke jam tangan setiap lima menit. Rasanya begitu lama. Dia menunggu dengan cemas sambil sesekali menelepon kantor untuk mengecek jalannya perusahaan. Dia yakin Felix pun melakukannya, tapi demi membuang rasa cemas, Key berusaha mengalihkan ke pekerjaannya. Sekaleng minuman yang disodorkan oleh Brian saja hanya dia pegang. Belum juga dibuka.


Beberapa jam kemudian, terdengar suara bayi bersahutan dari ruang operasi. Para penunggu berpegangan tangan. Menanti keluarnya seseorang dari dalam ruangan. Setidaknya ada yang bilang kalau ketiganya, ibu dan kedua anak sehat.


Tak lama, seorang perawat membuka pintu. Semua mata memandangnya, seolah semua sedang menuntut berita bagus.


Perawat tersenyum. Itu sudah artinya berita baik. Para keluarga juga tersenyum melihat wajah perawat.


"Sudah lahir, bayi kembar perempuan dan semua sehat dengan berat masing-masing tiga kilogram dan yang satu dua koma sembilan kilogram," ujar perawat itu.


"Syukurlaaah ...." ucap syukur semua penunggu itu. Mereka kembali tak sabar menunggu agar bisa melihat sang ibu dan kedua bayinya.


******


Stop plagiarisme!

__ADS_1


Melanggar hak cipta orang lain masuk dalam UU nomor 19 tahun 2002 pasal 72 ayat (1) yang berisi hukum pidana maksimal 7 tahun dan denda maksimal 5 Miliar Rupiah.


__ADS_2