
Yoshua melirik ke arah Susan saat duduk di kantin rumah sakit dengan kagum. Gadis itu nampak lebih dewasa daripada satu tahun yang lalu. Pekerjaan membuat seseorang nampak lebih dewasa.
Lelaki itu kelabakan ketika tiba-tiba Susan mendongakkan kepala padanya. Yoshua mengambil cepat ponselnya hingga meluncur sukses dari tangannya ke bawah.
"Aduh!"
"Ish, gimana sih Yosh?" omel Susan melihat ponsel dengan phone case biru tua itu terkapar di tanah.
"Nggak apa-apa," sahut Yoshua.
Suara denting ponsel mengagetkan Yoshua. Dia menatap layar ponsel dan membuka sebuah email. Dengan dahi berkerut dia membaca isi email itu. Wajahnya seketika semringah saat menyadari bahwa email itu datang dari perusahaan rokok terkenal di kota.
"Susan! Aku diterima kerja di perusahaan rokok yang kemarin kamu bilang itu!" teriaknya sambil sesekali menatap Susan, sesekali menatap layar ponsel meyakinkan bahwa apa yang dia lihat itu benar.
Susan tertawa kecil melihat wajah Yoshua yang nampak lucu ketika merasa gembira.
"Kok cepat banget, ya?" ujar Yoshua heran.
Gelak kecil tanpa sengaja terdengar lagi oleh Yoshua. Pria itu melirik Susan lagi.
"Ih, aneh deh ketawa terus ...." ujarnya mencolek hidung Susan hingga kacamata gadis itu hampir melorot. Susan menutup mulutnya dengan sebelah tangan, teringat bahwa dia yang merengek pada kakaknya agar Yoshua yang nol pengalaman dalam pekerjaan bisa diterima di perusahaan yang dikenal oleh Key.
"Lucu aja, nggak ngerokok tapi kerja di perusahaan rokok," gelak Susan menutup apa yang sebenarnya terjadi.
"Aku batuk kalo merokok. Pernah nyobain di kampus, tapi tak lama batuk rejan. Kapok deh!" sahut Yoshua.
"Berarti aku nggak perlu memperingatkanmu 'kan Yosh!" ujar Susan tersenyum saat tawanya mereda.
"Nggak perlu, aku juga nggak perlu bayar dokter Susan buat obati batukku, karena—"
Susan mengerutkan dahi menunggu apa kalimat selanjutnya dari Yoshua.
"Nggak," lanjut Yoshua menyeruput jusnya.
"Ih, sok misterius," gerutu Susan.
__ADS_1
Karena kamu akan kujadikan istriku.
Yoshua menyimpan kalimat itu dalam benaknya. Ini belum saatnya dia menyatakan cintanya.
***
Sementara itu di rumah Kimmy, Mama Amy menceritakan soal Vita yang telah lulus dari sekolah. Sebenarnya Vita ingin bekerja saja agar tak menghabiskan banyak biaya. Namun, sang Mama ingin agar Vita bisa melanjutkan pendidikan.
"Gimana, Kimmy?" tanya Mama Amy.
"Ya aku sih terserah Vita, Ma. Kalo dia mau kuliah lagi ya kubantu bayar kuliahnya, tapi kalo dia mau kerja ya silakan."
Mama Amy menghela napas. Vita sebenarnya anak yang cukup pandai. Namun, apa daya dia pun tak bisa memaksakan kehendak anaknya untuk kuliah karena Vita pun diam-diam telah mengirimkan lamaran ke beberapa perusahaan di kota.
"Nanti dia bisa tinggal di rumah ini, kalo mulai kerja," ujar Kimmy.
"Iya, kita lihat gimana nanti, Kimmy!" pungkas Mama Amy.
"Ma ... ma." Lingga kecil melemparkan botolnya ke lantai.
"Abis ...." ujarnya terdengar lucu.
"Ipi," pintanya lagi. Kimmy tersenyum lalu menghidupkan televisi dan memilihkan film kembar botak.
Lingga berjoget di depan televisi saat ada nyanyian di acaranya.
"Haha dia udah bisa berjoget ya, Ma?" tanya Kimmy.
"Iya, masa mau gelindingan terus?" tukas sang Mama.
"Sepertinya baru kemarin dia lahir," celetuk Kimmy memandangi anaknga yang mulai aktif.
Seluruh ruangan berserakan mainan. Coretan-coretan memenuhi tembok kamar. Namun, dibiarkan saja oleh Kimmy. Dia ingat kata-kata suaminya.
"Kalo cat masih bisa kita beli, tapi kalo kreativitasnya tak bisa kita beli di mana pun."
__ADS_1
Jadiz selama tak membahayakan, mereka membiarkan kegiatan anaknya itu. Begitu juga dengan Celine dan Celena.
"Ena mau ...." pintanya saat melihat Bianca mengoleskan lipstik ke bibir.
Celine yang lebih lembut daripada Celena memilih untuk bermain boneka di dekat mamanya.
"Ini buat orang dewasa, Ena?" ujar Bianca.
"Ena ewasa," sahut Celena menunjuk-nunjuk dadanya lucu. Dia merengut karena ditolak oleh Bianca.
Akhirnya, Bianca luluh pada anaknya yang super itu. Dia harus mengalah memberikan lipstik limited edition yang baru saja diterimanya dari seorang kurir.
Celena berbinar saat memegang benda itu. Dengan lucu dia mencoba membuka lipstik. Anak kecil itu terbiasa membuka sesuatu dengan menggigit. Alhasil gigi depannya sedikit terkikis. Beda dengan Celine yang kalem. Dia lebih memilih untuk memberikan barang yang ingin dia buka pada orang yang lebih dewasa di rumah.
"Aduh, astaga. Ena! Sayang 'kan, gigi Ena, Nak?" ujar Bianca.
Bianca mengambil kembali lipstiknya kemudian ditukarnya dengan yang lama, memberikan pada Celena, lalu kedua alis Celena menyatu melihat lipstik itu.
"Eda ...." celetuknya.
"Sama," sahut Bianca menahan tawa.
"Eda!" ujar Celena.
Bianca menepuk jidat menghadapi anaknya satu itu.
"Coba dipakainya gimana itu?" tanya Bianca.
Celena mengoles lipstik yang lama itu ke bibirnya hingga melebihi kapasitas bibir, sampai ke pipi. Bianca tertawa melihat kelakuan Celena. Namun, dia tak lagi bisa tertawa saat Celena juga tertawa memegang lipstik dan dicoretkannya ke bibir boneka Celine.
Celine hanya terisak melihat bonekanya dicoreti Celena. Sedangkan Celena lari ke tembok dan mencoreti tembok dengan lipstik hingga tak bersisa.
"Grrrrr! Celenaa .... " Bianca hanya bergumam seraya mengacak rambut kepalanya mendapati kekacauan di rumah yang hampir setiap menit dilakukan kedua anak kembar itu, terutama si Celena.
******
__ADS_1