Cintai Aku!

Cintai Aku!
Tak Mau Parfum


__ADS_3

Hari Minggu itu, Felix dan Kimmy beserta keluarga Pak Luki bekerja sama menata ruang dengan perabotan dari apartemen. Baik itu yang lama maupun yang baru. Felix dan Kimmy membeli kursi makan, sofa, meja, peralatan makan, peralatan dapur yang baru dan lengkap.


"Superware di mana?" tanya Felix pada Kimmy.


"Di kardus kulkas itu, Mas! Sayang banget sama plastik-plastik!" ujar Kimmy.


"Itu plastik berkualitas tinggi ..." sahut Felix.


"Ah, ya tetep plastik, kan?" ujar Kimmy ngeyel.


"Iya, plastik ..." jawab Felix.


Biasanya dia membela 'plastik'nya itu. Namun, kali ini spesial untuk ibu hamil. Jadi dia mengalah.


Felix dan Rama menggotong meja, menatanya di ruang makan sesuai keinginan Felix.


"Dipojokkin sini, Ram!" titahnya sambil memojokkan meja.


Dia mematut lagi. Mengukur-ukur dengan jarinya, membentuk kotak.


"Ini belum instagramable, pindah ke tengah sini, Ram!" seru Felix lagi.


"Ok, Kak!"


Untung anak itu patuh. Sementara, Pak Luki dan Bu Amy sibuk menata ruang tamu, juga sesuai arahan Felix yang rewel.


"Hati-hati, Pa. Kurang satu centimeter saja pasti diprotes sama Felix ...." ujar Bu Amy mengingatkan.


"Ah, masa, sih? Coba kugeser sedikit," kekeh Pak Luki.


Sebentar kemudian saat dapur selesai, Felix mendatangi ruang tamu untuk mengecek.


"Kok agak miring, ya?" ujar Felix membenarkan posisi meja yang ditarik Pak Luki tadi.


"Bener 'kan, Pa?" desis Bu Amy menyenggol lengan Pak Luki.


Pak Luki hanya bengong melihat menantunya.


"Mata anak itu dipasangi penggaris apa, ya?" gumam Pak Luki heran.


*


Siang itu, rumah telah rapi. Kimmy dan Vita telah menyiapkan masakan untuk makan siang. Sedari pagi mereka hanya sarapan bubur ayam yang di jual di ujung jalan.


"Waaah, pecel, tempe bacem, kerupuk!" sorak Rama yang lelah menuruti kakak iparnya tapi tak juga mengeluh karena rasa sayangnya.


"Yuk, makan-makan!" ujar Kimmy.


Mereka semua bergegas mengambil piring dan nasi serta sayur lalu menyantap makan siang. Ada yang duduk di kursi makan, ada yang duduk di karpet, ada yang sambil nonton televisi. Pokoknya hore.


*

__ADS_1


"Kami pulang dulu, besok sudah beraktivitas seperti biasanya," pamit Pak Luki pada Felix dan Kimmy.


"Makasih, Pa, Ma!" ucap Kimmy.


"Iya, kalian yang akur, ya? Jaga kesehatan," pesan Bu Amy.


"Iya, Ma," jawab Felix dan Kimmy serempak.


Pak Luki diikuti oleh istri dan ketiga anaknya masuk ke mobil dan berlalu dari rumah baru itu.


Tinggallah Felix dan Kimmy sore itu, berdua. Setelah tadinya ramai oleh canda tawa keluarga Pak Luki, sekarang menjadi sepi.


Felix menata ulang perabotan yang nampak miring. Begitulah dia jika tak ada yang dikerjakan. Membuat segalanya rapi.


"Sepi ya, Dek?" ujar Felix saat menarik sofa sedikit menurut garis lantai marmer.


"Iya, Mas."


Kimmy mengelus perutnya yang mulai membuncit. Gerakan janin di perut sudah mulai terasa seperti gerakan halus.


"Berarti kita harus bikin anak empat, biar ramai!" seru Felix.


Kimmy tertawa. Sebentar kemudian dia merasa lapar lagi. Membuka lemari es dan tak menemukan apa-apa selain telur.


"Capek nggak, Mas?" tanya Kimmy menutup lemari es.


"Gimana? Kamu mau apa, Dek?"


"Mau belanja. Rasanya dari kemarin di rumah, capek juga," jawab Kimmy.


Sebenarnya agak lelah, tapi demi istrinya yang lapar, mereka memang harus menyediakan sesuatu di lemari es agar sewaktu-waktu bisa dimasak atau dimakan.


*


Felix memegang tangan Kimmy dan membukakan pintu mobil. Mereka akan berbelanja di supermarket sore itu. Maunya Kimmy sih belanja di pasar. Namun, tak ada pasar yang masih buka karena hari telah sore.


"Kita ke supermarket saja, ya?" ajak Felix.


"Iya, tapi besok tetap ke pasar," rajuk Kimmy.


Felix tersenyum. "Iya ...."


Pria itu bersyukur karena kehamilan istrinya tak begitu membuat pusing. Hanya satu ngidam anehnya.


Beda lagi dengan kehamilan istri pengusaha atasannya itu. Bianca masih merasa mual saat kehamilan masuk ke triwulan kedua.


"Minggir, Sayang."


Kedua tangannya mendorong Key agar menjauh darinya.


"Kenapa? Apa salahku, sih?" tanya Key.

__ADS_1


"Aku tidak suka bau parfummu! Bau-bau citrus dan kayu! Rasanya mual ...." Mulut Bianca sudah membentuk huruf o, seolah isi perutnya teraduk.


"Ck! Apa aku tak boleh wangi?" protes Key.


Bianca menutup hidungnya, hingga suara yang keluar menjadi lucu.


"Boleh, tapi jangan bau yang itu!"


"Lalu?"


"Pokoknya jangan yang mahal! Kalo perlu, pakai bau yang lembut. Bau bayi! Aku suka bau bayi!" celoteh Bianca.


Dahi Key berkerut.


Nak, sejahat itukah kamu pada Daddy?


*


Suasana kantor terasa ramai dengan kasak-kusuk para karyawan setelah bertemu dengan atasannya.


Seorang bos dengan penampilan yang menarik, terkesan dingin pagi itu menyebabkan semua orang tak merasakan hawa dinginnya. Biasanya mereka mencium bau harum khas pria itu. Tercium khasnya di hidung sedikit saja di ruangan, akan membuat para karyawan berubah rajin. Kali ini berbeda.


"Tuan Key bau bayi!"


Para gadis meletakkan telapak tangan mereka di pipi. Merasa gemas sendiri.


Felix meletakkan sesuatu di atas meja Tuan Key. Benda itu sekarang menjadi pengganti parfum. Sebotol minyak telon cap tiga roda selalu dia pakai agar sang istri tak mau jauh-jauh darinya.


"Tang kintung kintang kintuuung ...." dendang para karyawan jika mencium bau Tuan Key saat-saat itu.


Beda dengan Kimmy. Walau senada tak mau parfum si pria, keduanya beda sikap.


"Mas ... Sini," panggil Kimmy setiap malam.


"Ah ..." Felix serasa enggan setiap malam jika akan tidur.


Namun, karena kemauan istrinya, dia tetap mendekat lalu mengangkat tangannya. Kimmy mulai mendekatkan hidung.


Sniff!


Sniff!


Wanita itu mengendus ketiak sang suami lama sekali, menikmatinya hingga terlelap.


Setiap malam hal itu wajib dilakukan.


"Untunglah cuma mengendus, tidak sampai menjilat!" gumam Felix pelan-pelan menurunkan tangannya.


Terdengar suara rengekan istrinya lagi. Sontak pria itu mengangkat tangannya lagi dan membiarkan sang istri mengendusi ketiaknya hingga pulas.


******

__ADS_1


Stop plagiarisme!


Melanggar hak cipta orang lain masuk dalam UU nomor 19 tahun 2002 pasal 72 ayat (1) yang berisi hukum pidana maksimal 7 tahun dan denda maksimal 5 Miliar Rupiah.


__ADS_2